Keyakinan
Sofia bergegas mengemasi barangnya, saat itu pukul 12 malam dan
yang pasti pagar rumah sudah dikunci oleh ayah dan bunda. Tapi saudaraku itu
tetap mengemasi barangnya dengan mata sembab dan kemarahan yang baru kali ini
kulihat. Ia mengambil beberapa pakaian dan tabungan yang ia simpan selama ini.
Kalaupun aku mencegahnya, itu adalah hal yang paling percuma. Ia tidak akan mau
berhenti atau berubah pikiran jika ia sudah bertekad untuk lari dari rumah.
“Kemana tujuanmu?”
tanyaku padanya yang baru saja menutup tasnya.
“Ke rumah temanku.
Aku sudah bilang akan datang kesana,” Pungkas Sofia padaku.
“Temanmu yang
mana?”
“Yang non is.
Chris,”
“Tak bisakah kau
pergi ke tempat lain? Kau tau bahwa keluarganya adalah orang yang ta...”
“Berhenti, Ay. Aku
bahkan sudah bisa memilih agamaku sendiri.”
Percakapan kami
ditutup oleh suara mesin motor yang berhenti di depan rumah. Sudah pasti itu
adalah ojek online yang Sofia pesan. Ia menatapku sekilas, lalu melepas kalung
notasi G di lehernya dan memberikannya padaku. Aku membuka kalungku yang
bernotasi Bass dan memberikannya padanya. Dan akhirnya, aku ada di urutan partitur
teratas di rumah ini.
***
Aku berlari dari
parkiran motor ke ruang kuliah. Tanpa melihat jam, aku masuk ke ruangan yang
dimana sudah ada pengawas dan seluruh teman kelasku. Siapa peduli? Aku bebas
untuk mengatur kapan aku bangun. Pengawas tidak menegurku, hanya membiarkan aku
duduk dan memberikan kertas soal serta DPNA yang harus kutandatangani. Academic
Writing bagiku adalah hal yang sepele. Sialnya, karena terlalu menyepelkan,
aku lupa bagaimana cara menentukan jawaban yang benar.
Persetan dengan
nilai, aku duduk di wifi corner dan bermain game bersama teman
lelakiku. Saat tengah asik berduel, seseorang duduk di sampingku. Sangat dekat
dan aku risih. Sangat jelas bahwa ia menatapku, memperhatikan layar game-ku
dan sesekali ke wajahku. Saat permainan berakhir dengan defeat besar
muncul di layar. Aku langsung menoleh dengan wajah dinginku.
“Sofia?!” teriakku
seketika.
“Tega kamu, Ay.
Aku gak diperhatiin dari tadi.” Jawab Sofia Agustina yang kabur dari rumah 2
tahun yang lalu.
“Kamu berbeda
semenjak... menghilang. Kemana saja kamu?” tanyaku.
“Aku kuliah di
Malang bersama keluarga baruku. Aku diangkat oleh seorang pastur di Gereja
temanku. Setelah itu aku dibawa ke Malang dan kuliah disana. Aku juga sudah
memiliki nama baru,”
Aku memotong
ceritanya. “Kau sudah di baptis?”
Ia menganggup lalu
mengeluarkan kalung salib yang digantung bersamaan dengan liontin notasi bass. “Nama
baruku Christina August.”
Aku menghela
nafas. “Siapa lagi yang akan bersanding dengan nama Soraya Agustina ini?”
“Tenang saja, aku
tetap memakai nama Sofia untuk urusan administrasi. Christina hanya nama untuk
di gereja atau di rumah saja,” jelas Sofia padaku.
Aku diam saja yang
akhirnya kembali memainkan game yang dari tadi kuabaikan. Sekarang
waktunya aku mengabaikan saudara kembarku yang keparat dan sialan ini. Dia
benar-benar mewujudkan semua keinginannya dengan keras kepala. Kebebasan dan
pendidikan ia tukar dengan agama. Ya, usia kami memang sudah pantas untuk
memilih keyakinan masing-masing. Hanya saja, apa ia benar-benar tidak memiliki
rasa sayang atau kasian pada aku, ayah, dan bunda yang benar-benar
mengkhawatirkan dia?
Orang-orang yang ada disekeliling kami memperthatikan Sofia dan aku
secara bergantian. Wajar saja, sebagian besar orang kampus mengenaliku karena
sifatku yang tak bisa diam. Mungkin sekarang mereka kebingungan bagaimana bisa
ada orang yang benar-benar mirip denganku sekarang duduk di sampingku, yang
tentu saja berbeda 180 derajat dari penampilanku.
Aku dengan baju
kaos, celana cowok yang aku ambil dari lemari adikku –yang otomatis adalah adik
Sofia juga, berjilbab dan bergaya tomboy ini sedang duduk dengan perempuan
dengan shortdress abu-abu, rambut panjang terurai, dan sifat yang girly.
Persamaan yang kontras di wajah kami adalah hal yang menarik perhatian semua
orang. Bahkan teman lelaki yang bermain denganku sampai mati berkali-kali
karena terkejut melihat Sofia.
“Aku harus pergi,
Ay. Sampaikan maafku ke ayah dan bunda.” Kata Sofia akhirnya pamit. Aku hanya
mengangguk dengan perasaan sebal yang luar biasa. Lalu saat itu juga, Sofia
pergi dari pandanganku.
Saat permainan
berakhir, teman lelakiku langsung bertanya padaku. “Kau sedang apa tadi?”
“Apanya sedang
apa?” tanyaku lagi sambil masih menatap layar HP-ku.
“Kau berbicara
sendiri,” temanku membuat pernyataan.
Aku melengus
lelah, “hanya perasaanmu saja. Mau main lagi gak?”
Temanku menolak
dan mengobrol dengan orang di sebelahnya. Aku menoleh kebelakang, Sofia masih
ada di dekatku dengan pakaian yang tadi ia kenakan. Saat dia berputar, aku bisa
melihat sebuah pisau tertancap tepat di punggungnya. Dasar anak bodoh,
keputusanmu lari dari rumah dan memesan ojek online hanya membuatmu mati
ditangan para pembegal. Di balik keras kepalamu, kau melindungi ojek tersebut.
Apa itu bisa kukatakan sebagai kemurahan hatimu?
Dan untuk apa kau
terus muncul di hadapanku? Mengarang cerita bahwa kau berhasil kabur dari rumah
dan memilih keyakinanmu sendiri. Dasar kakak bodoh, mau sampai kapan kau pikir
bahwa kau masih hidup?
Komentar
Posting Komentar