Kita Usahakan Rumah Itu

             Dua orang itu sedang duduk bertatapan dalam diam. Tidak satupun dari mereka yang mengeluarkan kata-kata melalui mulutnya. Ada bekas seduhan kopi dan teh di wastafel dapur mereka. Aroma kedua minuman itu saling beradu di dalam rumah yang perabotannya masih belum tertata. Mereka masih menerka hingga sekarang, sebenarnya rumah ini milik siapa?

            An tertawa penuh terka dan Aw tersenyum menimpali An. Mereka berdua adalah dua makhluk yang bahkan tidak bisa didefinisikan sebagai manusia. Mereka ada, tidak fana, tapi terjebak dalam angan. Sehingga mereka hanya bisa berdebat dalam pikiran. Jika ada yang mengeluarkan kata-kata, maka akan terjadi pelanggaran. Rumah ini tidak memiliki aturan, tapi mereka bisa saling melanggar.

            “Pertama, aku ingin rumah sederhana,” Aw berbenak dalam kepalanya.

            “Aku sudah punya desain rumah yang kamu maksud,” An menimpal tanpa bersuara.

            “Aku bahkan tidak mengetahuinya.”

            Begitu cara mereka berkomunikasi, An pendam semua yang ia rasakan dengan harapan dapat ia ceritakan sedikit demi sedikit ke Aw. Namun lelaki itu mengisi waktu berharga mereka dengan cerita-cerita dan obrolan yang sebenarnya tidak penting tapi An sangat dapat menerimanya tanpa berat hati.

            “Kapan lagi aku bisa egois?” timpal An sejenak setelah dialog panjang.

            “Kamu egois terus, ae.”

            “Kan cuma bisa sama kamu.”

            Perempuan itu bukan main manjanya kepada Aw. Sifat yang selalu ia sembunyikan dari banyak orang karena sebagai anak pertama, ia tidak pantas memiliki sifat itu. Namun An bersaksi hanya kepada Aw ia bersikap manja. Selain berguna untuk menutupi apa-apa yang ada di kepala dan hatinya, itu juga berguna untuk menahan dirinya agar tidak bercerita hal yang seharusnya ia sembunyikan dari Aw.

            “Si paling, kan?” tukas Aw di tengah perdebatan ringan mereka mengenai kemampuan. “Si paling pramuka, si paling kaktus, si paling jogging, si paling jam, si paling…”

            “Si paling bajingan gak ada?” tanya An tiba-tiba.

            Aih, paling pertama sudah itu.” dan mereka tertawa sambil berperang memperebutkan rumah.

            Tidak ada yang tahu pasti, siapa yang sebenarnya pertama kali membangun rumah itu. An punya kekuatan untuk membangunnya, dan Aw punya material bangunannya. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, yang benar-benar menginginkan rumah itu adalah An. Aw hanya melengkapi apa yang An butuhkan, kan? Jika kita terus bertanya-tanya mengenai kehidupan mereka berdua. Maka kita akan mengenal Al diantara Aw dan An.

            Rumah yang mereka usahakan itu sesungguhnya dibangun untuk Al. Aw memperkenalkan Al pada An di awal perkenalan mereka dan An benar-benar jatuh cinta setelahnya. Meskipun tidak ada yang tahu pasti kepada siapa An jatuh cinta, kepada Aw atau Al, namun perempuan itu selalu mengisi kehidupannya bersama Al dan menghadirkan Aw di beberapa kesempatan yang sulit di dapatkan.

            Rumah itu tidak besar, namun tidak juga kecil. Rumah itu adalah rumah tumbuh, bangunannya membesar dan berubah sesuai kebutuhan. Entah sebesar apa kelak bahkan mereka berdua tidak tahu, khususnya Aw, karena ia yang paling tidak mau tahu. Di halaman depan, ada dua batu yang besarnya sama. Bedanya, salah satu batu mulai terkikis sisi-sisinya. Jika ditanya, batu itu terkikis karena benturan. Masih dengan batu yang sama, atasnya juga terkikis. Kalau di atas, karena tetesan hujan yang mengalir dari atap dan jatuh tepat diatas batu itu.

            Batu di sebelahnya masih utuh, tidak terkikis sama sekali. Karena materialnya berbeda. Batu yang terkikis itu adalah batu buatan. Dibuat karena keadaan yang mengharuskan batu itu menjadi batu. Sedangkan yang satunya, adalah batu asli dari alam. Bahkan alampun heran, bagaimana bisa alam menciptakan batu sekeras itu. Batu yang tahan dari benturan dan kikisan dan tidak berpindah dari tempatnya bahkan sejak batu itu ada di halaman rumah mereka.

            Orang-orang yang melewati rumah itu, selalu terpikat untuk melihat secara seksama. Selain dua batu dengan dua kondisi yang berbeda di halaman rumah, ada sederet rak putih besar tersusun kaktus-kaktus yang dibawa Aw dari rumah orang tuanya. Barang-barang yang sudah tersusun rapi hanya barang-barang yang memang ditaruh di luar rumah. Sehingga orang-orang melihat betapa anggunnya rumah itu. Sedangkan di dalam rumah, sungguh masih banyak hal-hal yang harus dirapikan.

            Selain meja makan yang panjang yang sudah tersusun rapi, sebuah pigura berisi miniatur karakter Jirachi dan liontin kupu-kupu hitam sudah terpajang dengan indahnya. Tidak ada kesepakatan antara mereka berdua, jelas bahwa pigura itu dipajang atas dasar egoisnya An. Perempuan itu bersikeras untuk memajang hal yang tidak ingin dilihat Aw setiap hari. Jirachi selama ini hanya dikeluarkan setahun dua kali oleh Aw. Di satu hari di bulan Juli dan September. Sedangkan liontin kupu-kupu hitam itu hanya An pakai ketika ia merasa perlu ditemani oleh Al. Ya, Dua benda itu adalah perwakilan dari wujud Al. Perempuan yang sangat Aw sayangi bahkan hingga detik ini.

            An dan Aw tidak pernah membahas Al semenjak An membangun rumah untuk mereka. An pernah mencoba untuk memulai membahas Al, tapi Aw dengan senang hati menolak pembahasan itu yang membuat An takut setengah hidup. Hingga banyak kira-kira di dalam isi kepala An yang kecil. Yang bahkan tidak pernah dibelai oleh Aw meski hanya untuk sekedar menenangkan. Pernah An menarik tangan Aw dan menaruhnya di atas kepalanya sendiri, bukan usapan lembut yang ia dapatkan, justru rambutnya menjadi berantakan.

            Aw sesungguhnya adalah manusia yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan perempuan dan An sebagai perempuan terus memaksa Aw agar mampu berkomunikasi dengan baik kepada An melalui media apapun yang mereka berdua bahkan tidak tahu untuk apa. Rumah itu terkadang kosong tidak berpenghuni, mereka berdua ada di rumah bahkan hanya sebulan sekali. Pernah rumah itu mereka huni seminggu sekali, dan itu rekor terbaik yang pernah mereka berdua ciptakan untuk bertemu dan bercerita.

            Itulah kenapa, perabotan di dalamnya belum tersusun sempurna layaknya rumah. Mereka berdua masih sibuk berkelana melalui jalannya masing-masing. An dengan pekerjaan dan pertemanannya, Aw dengan pekerjaan dan rutunitas hariannya yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun bahkan orang tuanya. An memakluminya dan tidak keberatan, namun hal yang paling tidak An sukai adalah ketika Aw tidak hadir di rumah itu ketika ia membutuhkan Aw. Perempuan itu benci setengah mati ketika harus memohon agar Aw hadir. Tapi ia juga tidak bisa memaksa hal itu. Aw tidak suka dipaksa dengan cara apapun.

            “Bagaimana bisa aku menemuimu ketika aku sedang jauh dari rumah?” ujar Aw dalam hatinya.

            “Aku ingin cerita.”

            “Tidak bisa hari ini.” Jawab Aw sembari memperbaiki sesuatu di tempatnya berkelana.

            Ya, mereka berdua masih asik berkelana. Tapi An yang paling sering singgah ke rumah itu. Rumah yang sangat ia usahakan setelah bertahun-tahun ia tanpa naungan. Perempuan itu takut kehilangan, sangat. Itu juga yang membuat An memajang Jirachi dan liontin kupu-kupu hitam di rumah mereka. Hanya agar mereka ingat untuk menamai tempat ini adalah rumah mereka. Ada yang mereka berdua cintai di dalamnya meski cara mereka mencintai Al sangat berbeda satu sama lain.

            Mereka masih duduk dalam diam dan saling meminum minuman yang masing-masing mereka buat. Aw dengan kopinya dan An dengan tehnya. Setelah tegukan kopi terakhir, Aw bersiap untuk pergi kembali berkelana. An mengambil gelasnya dan mencucinya di wastafel, ia tidak suka melihat Aw mencuci alat makan karena An tahu caranya yang lebih baik dan lebih baik seperti itu jika Aw tidak ingin mendengarkan omelan An.

            Mereka berdua sudah siap meninggalkan rumah itu, merancang perjalanan selanjutnya ke arah yang tentu saja berbeda. Mereka sekarang ada di teras rumah, Aw mengunci pintu dan An memastikan dari luar bahwa jendela dan lainnya sudah terkunci sebelum mereka meninggalkan rumah.

            “Kita usahakan…” An bersuara sebelum mereka ke garasi dan mengambil kendaraan maisng-masing.

            “Rumah ini?” jawab Aw sambil mengulurkan tangan dan An menerima tangannya dan mengecup punggung tangan Aw sebagai tanda pamit.

Komentar

Postingan Populer