Butiran Pasir
Telapak kakiku tak bisa merasakan
butiran pasir, cukup bodoh jika kepantai namun tak sedikitpun untuk melepaskan
sepatu sendal yang telah basah terkena hempasan ombak. Kakiku hanya merasakan
air laut yang lengket, hanya itu. Tak ingin aku menelanjangi kakiku, tidak.
Menunggu, tak jelas memang kenapa
aku bisa rela jauh-jauh keluar kota hanya untuk menginjakkan sepatu sendalku di
pantai ini. Dengan pakaianku yang kelewat ramai ini, aku menunggu dengan sebuah
kepasrahan. Rasanya percuma saja aku menulis entah apa berkali-kali di pasir
pantai, karna dalam sekejap tulisan itu akan hilang disapu ombak.
“Apa yang kau lakukan disini?” suara
itu membuyarkan lamunanku. Tak sedikitpun aku menoleh, aku tak tau siapa yang
bertanya padaku barusan.
“Kau bisu ya! Aku bertanya padamu”
jawabnya mengeras. Aku akhirnya menoleh, dan yang kutemukan adalah ekspresi
yang tak karuan.
“Kau siapa?” tanyaku santai, pada
orang gila yang kini berada disampingku. Orang itu malah menjitak kepalaku
keras. Aku hanya diam seolah-olah tak merasakan apa-apa. Aku membuang muka,
enggan untuk menatapnya. Sedangkan ia, langsung memelukku. Terasa air mata
mengalir di pipinya.
***
“Kekasihku hilang ingatan disini, ia
tersapu ombak dan kepalanya terbentur karang. Saat itu aku ingat bahwa air laut
disekitarnya menjadi berwarna merah darah. Mengerikan, namun aku tak takut
untuk menolong gadis malang itu. Dan karna benturan di kepalanya, ia hilang
ingatan. Bahkan telah melupakanku” terangnya padaku seolah-olah dia kenal baik
denganku. Aku tak terlalu mengherani penjelasannya mengenai gadis yang hilang
ingatan itu.
“Lalu? Apa urusannya denganku?”
tanyaku balik pada orang yang tak sedikitpun memberikan waktu untuk mengenalkan
namanya. Ia hanya diam, dan kini ia menggenggam tanganku erat. Berdebar,
tiba-tiba saja hatiku jadi deg-degan. Kepalaku yang dibalut kupluk biru itu
tiba-tiba terasa berat dan pusing.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya
padaku. Ahh, pertanyaan itu terlalu bodoh, apakah ia tak dapat melihatku
sehingga bertanya begitu.
“Menurutmu?” jawabku sambil menahan
sakit yang semakin jadi. Ia akhirnya menggendongku, menaruh badanku
dipunggungnya. Dan pandanganku gelap.
***
Aku menendang-nendang pasir dengan
kakiku. Butiran itu terasa di sela-sela jariku. Aku berlari menuju air, tak melihata
ada bendera merah yang tertancap di pinggir pantai. Aku tak peduli dengan semua
itu, aku ingin merasakan butiran pasir di air laut. Tak terasa aku semakin jauh
dari pinggiran, sedangkan ombak yang perlahan semakin besar masih tak
kepedulikan.
Sampai akhirnya kakiku tak dapat
merasakan pasir lagi. Mengambang, aku tertarik oleh gelombang besar yang
semakin membawaku menuju luasnya lautan. Air asin itu semakin masuk kemulutku.
Dan yang akhirnya terlupa olehku bahwa aku tak bisa berenang. Satu kata “Tolong”
keluar dari mulutku dengan cukup keras, berharap semoga ada yang mendengarnya.
Untuk berteriak yang kedua kalinya, cukup, tenagaku sudah terkuras. Air laut
itu semakin masuk ke perut bahkan mungkin ke paru-paruku.
“Assina!” nama itu terdegar dengan
nada panik sebelum akhirnya pandanganku kembali gelap. Kepalaku terbentur
sesuatu.
***
Seketika aku terbangun. Aku langsung
memegang kepalaku saat itu juga. Kupluk biruku masih terpasang dikepalaku. Aku
menarif nafas lega, semua hanya mimpi. Tapi, kenapa aku memimpikan seolah-olah
akulah perempuan yang diceritakan oleh lelaki gila yang merasa bahwa dia telah
kenal lama denganku.
Aku masih dipinggiran pantai, hanya
berpindah tempat, dibawah pohon kelapa muda. Lelaki yang menurutku gila itu ada
disampingku, tengah memainkan kalung yang tak jelas. Aku menggerakkan kakiku,
ada yang aneh, telapak kakiku seolah-olah kosong tanpa pelindung.
“Dimana sepatu sendalku?!” teriakku
pada lelaki itu. Ia hanya terkejut sambil memberikan sepatu sendalku. Aku
langsung merebutnya dan memakainya kembali. Ia menatapku penuh keheranan.
“Ini pantai, bukan pegunungan. Pasir
itu lembut, tidak sekeras batu. Kenapa tak kau lepas saja sepatu sendalmu?
Apakah kau terlalu bodoh untuk merasakan halusnya pasir?” tanyanya begitu saja.
Aku menatapnya, tatapanku kini terpusatkan oleh satu hal.
“Mengapa aku tak ingin menginjakkan
kakiku di pasir?” tanyaku pada diriku sendiri. Kini ia yang berbalas menatapku,
matanya entah mengapa berkaca-kaca. Aku membuang muka, mengingat sebenarnya apa
yang terjadi. Namun, kepalaku kembali berat dan pusing.
“Jangan kau paksa untuk mengingat
semua itu” tahannya mencegahku setelah melihatku memegang kepalaku. Aku
berhenti berfikir, yang kuingat selama hidupku hanyalah kalung yang liontinnya
terbelah dua. Na, itulah ukiran yang ada di liontinku sekarang ini. Sisanya
aku tak tau, bahkan aku tak tau kenapa aku tak berani merasakan pasir. Aku tak
tau.
“Aku rindu gadis itu” lelaki itu
kembali bercerita yang tak jelas. Aku acuhkan dia. Tak peduli dengannya. Tapi
saat kutatap matanya yang coklat muda. Aku seolah-olah pernah melihatnya, entah
dimana.
“Hey! Kau terlalu banyak berbicara
tapi aku tak tau siapa namamu” hentakku sambil meninggalkan orang gila itu. Ia
mengejarku dan menangkapku, saat aku berbalik menghadapnya kutemukan kalung
yang ia pakai. “Assi”, kata itulah yang ada dikalungnya.
“Assi?” tanyaku padanya. Ia melihat
kalungnya dan melepasnya lalu memberikannya padaku.
“Liontin di kalung itu aku temukan
setelah menolong gadis itu. Kalung yang ia pakai terbelah menjadi dua dan aku
mendapatkannya. Lalu kusimpan siapa tau gadis itu ingin mengetahui siapa dia
yang sebenarnya” jawab lelaki itu. Kini matanya menatap ke kalungku yang
tersemat di leherku.
“Namamu Na?” Tanyanya. Aku
mengangkat bahu, selama ini hanya itu yang ku tau.
“Mungkin, selama ini aku hidup
sendiri. Menjadi fotografer berkupluk yang menyukai pantai namun membenci pasirnya”
“Kalungmu terbelah dua?” tanyanya.
Aku hanya mengangkat bahu. Ia mengambil kalungnya dari genggamanku dan
menyatukannya dengan kalungku. Belahannya menyatu. Sempurna. Tanpa cacat. Aku
dan dia terbungkam, sebuah kata bertuliskan “Assina” mengingatkanku akan
mimpiku. Sebuah drama alam bawah sadar yang sama persis dengan dongeng dari
lelaki gila. Kepalaku kembali berat, aku memejamkan mata dan langsung
terbelalak setelah melihat seorang lelaki menggendong seorang perempuan yang
kepalanya bercucuran darah. Sebuah teriakan terdengar di telingaku “Assina!
Demon!” lalu seketika aku menyadari sesuatu.
“Demon?” Tanyaku pada lelaki gila
yang dari tadi mengikutiku.
“Ya?” Tanyanya balik padaku.
“Aku Assina?”
“Kau gadis yang aku cinta. Kau gadis
dengan kepala terbentur karang. Kau gadis yang menyukai pasir pantai. Kau
Assina”
Aku melepas kuplukku, menyentuh
bekas jahitan yang selama ini aku sembunyikan dari kuplukku. Apa karna ini
kepalaku memiliki luka yang tak kutau bagaimana sejarahnya? Aku membuka sepatu
sendalku dan menyentuhkan telapaknya pada pasir pantai. Syaraf-syarafku
seketika lepas begitu saja. Tubuhku serasa melayang, untuk pertama kalinya
setelah aku menyadari sesuatu. Aku menginjakkan kakiku di butiran pasir.

Komentar
Posting Komentar