Entire

Mendekatlah padaku, namun jangan sampai kaliat melihat wajahku terlalu dekat. Karna aku bisa saja menjadi sosok yang menyeramkan bagi kalian. Tenang, aku bukanlah iblis yang berubah menjadi hantu dengan wajah yang hancur. Aku bukan terlahir dari gen seperti itu. Mendekat saja padaku, karna mataku, akan menceritakan tentangmu.
            Terlahir bukan dari tiga makhluk hidup dalam hukum Biologi. Tumbuhan, hewan, manusia. Aku tidak terlahir di antara tiga gen aneh itu. Let’s I tell somethink about, us. Jika kalian pernah mendengar kata “Dreamcatcher”, maka kalian akan mengerti mengenai kisah ini. Kisah dimana mimpi dan mata menjadi saksi. Tapi tugas kami bukanlah seperti arti kata dreamcatcher, kami tak punya tugas apapun ketika terlahir di bumi. Namun kami punya tuntutan ketika lahir.
            Sekarang mendekatlah padaku, untuk menggenapkan sebuah jumlah.
***
            Kami, bermula dari bulan purnama yang memancarkan sinarnya pada seekor serigala putih. Membuatnya mengaum panjang di pertengahan malam. Lari ke perkampungan suku Indian, menatap sebuah gantungan yang terbuat dari gelang dan tali yang dianyam seperti sarang laba-laba ditengahnya. Tiga helai bulu burung hantu selalu tergantung di bawahnya. Ornamen itu, selalu tergantung di setiap tepee atau tenda kerucut khas suku Indian.
            Serigala itu mendekat ke pemukiman, memperhatikan abu sisa pembakaran yang mulai padam dimakan api. Suara geraman khas serigala terdengar, namun semua tepee tetap heing, tak seorangpun yang keluar untuk memastikan keadaan atau mencoba mengusur suara geraman yang akan membuat seorang bayi diantara mereka menangis. Serigala itu semakin mendekat, ke sebuah tenda yang didalamnya terdapat seorang bayi. Mencoba untuk mengabaikan bulan yang mengintainya dengan cahaya.
            Si bayi ternangis keras saat sang serigala tepat berada di bawah dreamcatcher dan sinar bulan yang berhasil menangkapnya. Bayi itu semakin menangis walau sang serigala belum masuk ke dalam tepee. Serigala itu diam, dibalik matanya terdapat nanar sebuah aksara yang tak bisa dijelaskan. Sebuah tepee mengeluarkan cahaya, tanda sang empu terbangun dan menyalakan penerangan di dalam tepee. Sang serigala gelisah, bodohnya ia mengaum, membuat semua orang di tepee keluar sambil membawa tombak mereka.
            Namun saat mereka keluar dari tepee, seorang gadis berparas cantik yang mereka lihat. Tidak menyadari mata sang gadis.
***
            Kisah itu diceritakan oleh nenek saat usiaku menginjak dua puluh tahun. Kisah yang tak pernah tau akan keasliannya. Tapi budaya menggantung dreamcatcher di rumah, masih melekat dalam keluargaku. Aku masih tak mengerti apa yang menjadi topik menarik kisah yang nenek ceritakan. Bahkan nenek sempat memberiku kalung dreamcatcher dan menyuruhku untuk selalu memakainya. Aku hanya mengindahkan kata nenek namun tak kuturuti hingga sekarang.
            Aku menyukai malam, beruntungnya malam ini aku bisa bertemu dengan bulan purnama. Aku mencintainya dalam ligkup hidup yang tak terbatas. Aku duduk di balkon kamar. Menatap malam tanpa bosan walau waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Tinggal di sebuah pinggiran kota yang sangat sepi membuat kenyamananku betambah. Walau kadang, aku harus menahan sesuatu yang timbul dalam diriku. Hingga kini aku tak tau apa itu sebenarnya.
            Bulan purnama semakin terang dan jelas. Aku menikmatinya dengan mata telanjang, namun tak menyadari sesuatu mendekat ke arahku. Auman dari hutan yang berada di belakang rumahku membuatku tersentak. Namun hal itu tidak membuatku takut, aku malah turun menuruni tangga dan keluar menuju halaman belakang. Saat itulah aku melihat sepasang mata bercahaya menatapku dari balik pohon pinus yang besar.
            Serigala, seekor serigala yang ukurannya sangat besar mendekat ke arahku. Gertakan giginya sangat terdengan dan terlihat jelas mengarah padaku. Aku terdiam di tempat, kakiku santai namun mati rasa. Apa-apaan ini?! Saat serigala itu mendekat, aku berusaha untuk tetap tenang walau suara geraman serigala itu semakin jelas dan menakutkan. Apa lagi ukuran tubuhnya melebihi seekor kuda.
            Serigala itu, dengan secepat kediapan mata menyerangku tiba-tiba. Dan saat itulah, mataku berubah. Kecepatan gerakku melebihi kedipan mata, menghindari seranga yang diluncurkan tak kalah cepat dari seekor serigala. Sebuah cabikan hampir memotong-motong tubuhku jika aku tak menahan kaki depannya dan mencengkramnya kuat hingga aku bisa merasakan tulangnya remuk digenggamanku. Ia tersungkur seketika, merintih memelas belas kasihan padaku. Dan setelah aku memejamkan mata untuk beberapa detika, saat itulah aku melihat sosok lelaki didepanku tengan memegangi tangannya yang terlihat hancur dari dalam.
            “Siapa kau?” tanyaku. Mencoba untuk tidak terkecut dengan apa yang terjadi. Ia hanya terdiam sambil berjalan terhuyung mendekat pada ornamen dreamcatcher di pintu belakang rumah. Ia merampasnya dan menggenggamnya erat, membuat sebuah manik besar di tengahnya bersinas namun tak begitu terang. Tangannya yang rusak seketika sembuh tak berbekas. Aku terheran-heran melihatnya.
            “Dark Spark, Dark. Serigala dari suku Sioux. Kau?” jawabnya sambil mengusap tangannya yang baru-dengan sangat cepat- sembuh.
            “Serigala? Dari suku Sioux? Maksudmu?” kataku balik bertanya dengan sejuta pertanyaan.
            Ia tersenyum dan tiba-tiba menghampiriku dengan gerakan yang sangat cepat. Menggenggam tanganku erat dan ia menarikku ke dalam kamarku dengan sekejap. Ia mengambil kalung dreamcatcher pemberian nenek. Aku heran, bagaimana ia bisa tau mengenai itu? Ia mendekat ke arahku dan memakaikan kalung itu.
            Seketika otakku seakan kosong tanpa isi. Namun ada sebuah energi yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Ia menarik tangaku kembali ke halaman belakang. Dan saat aku mulai merasakan perubahan pada tubuhku, ia mendekat padaku hingga aku bisa melihat pantulan tubuhku di matanya. Saat itulah aku melihat lensa mataku berubah, kuning hitam.
***
            “Kau harus bisa mengendalikan energi itu Lean. Kau itu manusia serigala, ingat pada ‘manusia’ jika kau tak mau tersakiti,” Dark menahan dengan mencengkram leherku kuat. Aku tengah menjadi seekor serigala yang mencoba untuk mengendalikan sebuah perubahan. Tubuhku kembali manjadi sosok manusia, mulai saat ini aku selalu memakai kalung pemberian nenek untuk mengendalikan dan mengumpulkan energi ajaib itu.
            “Hei, apa yang akan kau lakukan jika aku menjadi manusia serigala sejati?” tanyaku iseng pada Dark. Ia hanya terdiam sambil memimun botol air mineralnya.
            “Menikahimu, membawamu pergi dari sini. Menyelesaikan satu misi penting,” katanya serius. Mataku menatap wajahnya tajam dan ia langsung memunculkan taring serigalanya, aku terbungkam.
            “Kau tau berapa jumlah spesies kita?” tanyanya padaku. Aku hanya menggeleng. “Hanya tersisa lima. Aku, kau, Jack, Kina, dan anak mereka Ferisa. Aku mengetahuinya walau tak pernah bertemu mereka,” jelas Dark kembali melanjutkan.
            “Kau ingin melanjutkan gen manusia serigala?” tanyaku hati-hati, ia menatapku tajam dan aku spontan membalas tatapannya. Ia kalah telak jika harus berhadapan dengan mata.
            “Itu tuntutan kita, kau adalah manusia serigala sempurna, Lean. Kau juga Indigo, kau sebenarnya mengetahui kami namun kau mengabaikan itu. Kau tidak akan mengakui dirimu jika aku tak ‘menerkam’mu malam itu,”
            “Aku mengerti, jadi setelah ini kita akan mengasingkan diri ke hutan? Aku harus bertaruh nyawa, bersamamu? Tanpa didasari cinta?”
            Ia terdiam, berdiri dan berjalan menjauhiku. “Kau harus mewarisi mata itu. Pikirkan itu baik-baik,” katanya sebelum berubah menjadi serigala dan masuk ke dalam hutan dalam waktu kedipan mata.
***
            Malam ini aku tak bisa tidur sama sekali, bisa ku jelaskan bahwa aku merasakan sebuah energi yang asing datang mendekat. Hal itu mengejar-ngejar Dark, membuat lelaki itu kewalahan karna terus memakai energi dari taringnya. Menerkam suatu hal yang hendak mengambil nyawanya.
            Lean, tolong aku. Gunakan matamu, sekarang!” kalimat tanpa suara itu terdengar jelas di telingaku. Sekali kedipan mata aku sudah berada di halaman belakang, sambil berlari berubah menjadi serigala dan masuk ke hutan mengejar Dark sebisa waktu tanpa per detik.
            Dimana kau? Tanyaku sambil terus mencoba mencari sumber energi yang ada. Dark, jawab aku! Hentakku panik karna tak menemukannya.
            Gunakan matamu! Balasnya seketika, aku berhenti berjalan. Aku mencoba mataku dengan sebuah tatapan yang sebenarnya tak pernah ku mengerti. Namun aku melakukannya, aku berhasil mendapat sebuah energi hitam dan menyerapnya.
            Lean! Berhenti menghisap! Cukup! Kau juga menghisap energiku. Kalimat tanpa suara itu membuatku berhenti melakukan kegiatan itu dan mendatangi sumber energi yang ku dapat. Dark terlihat sambil mengenduskan hidungnya pada sosok manusia yang tengah terbujur lemah. Ia menatapku sambil memamerkan taringnya.
            Siapa mereka? Tanyaku tanpa suara, aku dan Dark masih dalam tubuh serigala.
            Retorv, manusia pembaca pikiran, waktu, dan segala hal. Jawabnya.
            Apa yang kau lakukan hingga mereka mengejarmu?
            Karna aku melindungimu.
***
            Sekarang, kembalilah mendekat padaku. Mungkin kalian akan takut kepadaku karna telah mengetahui siapa aku. Tak perlu kujelaskana apa yang terjadi selanjutnya. Intinya, Retorv mengejarku karna sebuah masa depan yang sudah terjadi dalam hidupku.
            “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Dark mendekatiku di balkon rumah,
            “Kenapa kau melindungiku dari Retorv?” tanya balik tak ingin berbasa-basi.
            “Mereka ingin mengambil kekuatanmu, semua yang ada di dalam dirimu, dengan memakan darahmu,” jelasnya.
            “Bohong!”
            “Ya aku memang berbohong. Retorv mengincarmu untuk menyampaikan pesan dari masa depan. Aku pikir mereka mengincar kekuatanmu, ternyata hanya meminta agar kau mau memberikan keturuna manusia serigala...”
            “Agar dreamcatcher tak lenyap,” potongku melanjutkan. Ia hanya tersenyum, mengusap perutku yang mulai tampak membesar. Di dalamnya, ada sebuah gen menusia serigala sempurna siap terlahir, menggenapkan jumlah manusia serigala.
            “Kau beri nama apa pada anak ini?” tanyaku
            “Deren Entire.”


Komentar

Postingan Populer