Hitam dan Putih
Di sebuah basement tampak sedikit mobil yang terparkir di
dalamnya. Di tengah-tengahnya tampak seseorang dengan tas rensel bergantungan dreamcather
berdiri sambil memegang erat handphone ber-case biru muda. Ia
memandangi setiap sudut yang ada di dalam gedung itu. Lalu merendah hingga
terduduk sambil mengarahkan kamera ponselnya. Ia berdiri lalu berjalam sambil
menunduk, jarinya menggesek-gesek di atas layar ponsel tanpa mempedulikan
sekitar. Ia naik menuju cahaya keluar dari basement.
Kini ia ada di
sebuah meja cafe bernuansa hijau kuning. Sebuah gelas berisi buah yang segar
ada di hadapannya. Matanya masih saja menatap layar ponselnya, sesekali ia
memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot. Seharian ini dia tak pernah lepas
dari pandangan seseorang. Tunggu, Aku akan mendapatkannya.
***
Sendari tadi Gege
asik saja mengedit hasil foto yang ia dapat di basemant tadi pagi.
Bahkan room chat di Line saja ia acuhkan. Dengan permainan Black
and White, ia menghasilkan gambar yang tampak menarik walau hanya memiliki
dua warna. Matanya yang terlapisi oleh kacamata berlensa bening itu menyadari
sesuatu. Ia menaruh ponsel di telinganya, setelah beberapa menit dengan mulut
yang bergerak seolah mengeluarkan kata, ia menatap layar ponselnya kembali.
Senyum tipis penuh kepuasan tergambar di wajahnya.
Minuman yang ada
di atas mejanya telah habis. Setelah puas dengan editannya dan meng-upload-nya
di Instagram, ia beranjak dari meja sambil merangkul tas renselnya di
bahu. Gege berjalan melewati trotoar, ia tak tau harus kemana setelah ini.
Kakinya yang dibalut oleh sepatu sport berwarna biru muda akhirnya
membawanya ke sebuah Stadion yang terdapat sebuah taman dengan rumputnya yang
hijau.
Gege menaruh renselnya di bawah pohon, lalu berbaring di atas
rerumputan dengan membelakangi tasnya. Ia menatap awan-awan putih di langit
biru yang cerah. Tak puas, ia mengangkat kakinya dan mengambil gambar dari
kakinya dengan latar awan tersebut. Setelah puas mengedit gambar tersebut, ia
kembali meng-upload-nya di Instagram. Ia duduk dan menoleh ke
belakang. Ia memperhatikan tasnya dan menangkap sesuatu yang ganjil. Ia kembali
tersenyum tipis dengan mata tajamnya.
Gege berjalan melintasi tengah stadion. Di dalam stadion dia
memotret deretan-deertan bangku penonton yang dibuatnya menjadi minimalis.
Sebuah Sekolah Sepak Bola sedang mengadakan latihan di sisi kanan stadion.
Beberapa pelari juga tampak di lingkaran stadion itu. Gege terus menangkap Angel
yang dapat disimpannya di dalam Galery Instagram hingga seseorang
menghampirinya.
“Permisi,” sebuah sapaan membuat Gege membalikkan punggung.
“Hemm, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya adalah pendatang di sini dan saya terpisah dari rombongan.
Bisakah anda membantu saya mencari mereka?” tanya lelaki tu pada Gege. “Dan
nama saya Gio.” Lanjutnya.
“Baiklah akan saya bantu, dimana terakhir kali anda terpisah dengan
rombongan anda?” tanya Gege.
“Hemm, untuk memudahkan gimana kalau panggilannya aku-kamu saja,
Gege?” tanya Gio
Gege mengangkat sebelah alisnya, dan akhirnya mengangguk. “Dimana
terakhir kali kamu terpisah dari rombongan?”
“Di dalam stadion ini, aku kebelet ingin ke toilet saat kembali aku
terpisah.”
“Kamu yakin?” tanya Gege saat mereka akhirnya berada di tempat yang
sepi.
“Maksudmu?”
“Kamu yakin kamu terpisah dari rombongan setelah melihat seorang
perempuan berada di sebuah basement?” tanya Gege dengan posisi berada di
depan, membelakangi Gio.
“Aku tak mengerti
apa maksudmu?”
“Setelah aku pergi
dari Basement kau mengikutiku hingga ke cafe yang bernuansa hijau kuning
bahkan sampai di taman stadion ini,” Kata-kata Gege semakin terdengar tak masuk
akal oleh Gio. “Atau perlu ku panggil kau dengan nama Elqo?” tutup Gege dengan
memperlihatkan foto Gio di cafe tadi. Di foto itu mata Gio tertangkap sedang
melihat ke arah lensa ponselnya seolah-olah memperhatikan Gege.
Gio hanya
tersenyum dengan memejamkan matanya. Menaruh tangannya di kantong celana dan
menatap wajah Gege yang terlihat licik terpuaskan. “Ya, aku Elqo.”
Gege semakin
tersenyum puas setelah mendengar pengakuannya.
“Bagaimana kau
mendapatkan fotoku dengan jelas? Bahkan aku tak menyadari kau memfotoku padahal
aku terus memperhatikanmu,” tanya Gio yang bernama asli Elqo.
“Pura-pura
menelpon.” Jawab Gege yang membuat sebuah peristiwa terlintas di otak Elqo
ketika ia melihat Gege tengah menelpon, namun ternyata gadis itu tengah
memfotonya.
“Apa buktinya aku
mengikutimu di taman stadion?” tanya Elqo lagi.
“Sebuah bulu
berwarna biru berada di dalam sepatumu saat ini,” jawab Gege.
Elqo terkejut dan
sontak memeriksa sepatunya, sehelai bulu berwarna biru tersangkut di sekitar
mata kakinya di dalam sepatu. “Bagaimana bisa?”
“Sehelai bulu di dreamcatcher-ku
memang ada yang hampir terlepas dari talinya. Saat aku berbaring kau berdiri di
samping tasku dan menyenggol dreamcatcher itu dan bulunya terjatuh di
dalam sepatumu.” Jelas Gege terhadapnya.
“Bagaimana kau
tahu namaku Elqo?”
Untuk beberapa
saat Gege terdiam, tersenyum simpul sambil mengeluarkan ponsel dari kantongnya.
Jarinya tampak mencari seseuatu di layar ponselnya. Setelah beberapa saat Gege
menghadapkan layar ponselnya ke arah Elqo. “Seseorang gadgetgraher
mengomentari posting-anku di Instagram dan berkata bahwa ia akan
melihatku. Dan nama akun itu adalah @ElqoVimana, seorang gadgetgrapher
sekaligus detektif yang memiliki jutaan followers. Wajahmu tanpa
kacamata itu sangat mirip dengan avatar di Instagram-mu. Dan satu
lagi, aku tidak mengenalkan namaku namun kau mengetahui namaku. Suatu kehormatan
bisa bertemu denganmu.”
Elqo tersenyum
lebar, “Sepertinya akan ada seorang gadgetgrapher sekaligus detektif
baru di dunia Instagram.”
Gege hanya tersenyum dan menggeleng.
“Ciri khasku adalah Young Black and White, apa yang lebih baik dari
itu?”
Komentar
Posting Komentar