Buih Laut yang Memabukkan
“Tolong! Tolong!”
teriakan seorang perempuan yang tenggelam di Pantai. Orang-orang mulai panik,
beberapa diantaranya mulai memanggil penjaga pantai. Sedangkan dari jauh
seorang laki-laki yang tampak seumuran dengan gadis yang tenggelam itu berlari
dan mulai terjun ke air, mencoba menyelamatkan gadis itu.
“Hana!” Teriak
Beberapa temannya mencoba untuk menghentikannya.
Ombak sudah
terlalu besar dan keras. Tubuh perempuan itu semakin menjauh dari pantai dan
mulai tak terlihat lagi. Lelaki itu mencoba mengejarnya tapi angin dan ombak
tampak tak mengizinkannya. Tubuh lelaki itu malah hampir menjadi korban ombak
yang selanjutnya, namun seorang penjaga pantai berhasil menghentikannya untuk
mengejar perempuan itu dan menyelamatkannya dari ombak yang semakin ganas.
Sepuluh menit
kemudian, Tim SAR mulai turun ke laut untuk mencari korban. Namun hingga kini,
perempuan itu tak pernah ditemukan.
***
“Farsa, bisa minta
tolong arahkan adik kelasmu nanti di kegiatan berkemah? Saya tidak bisa membimbing
kalian nanti karna anak saya sakit. Beberapa alumni akan menemani kalian
disana.” Kata Pembina Organisasi kepadaku. Aku mengiyakan dan segera memberi
tau anak Organisasi.
Aku adalah seorang
siswa kelas XII SMA itu terkenal baik di sekolahnya. Selain itu, aku memiliki
jabatan inti di Organisasi sekolahnya. Aku dipercaya pihak sekolah dalam
menghadiri undangan seminar yang diadakan oleh Instansi. Bulan ini adalah
kegiatan rutin Organisasi, berkemah.
Kami berangkat
keesokan paginya, sebuah bis yang kami sewa melaju selama dua jam perjalanan. Sesampai
di sana, seorang alumni mengarahkan juniornya untuk memasang tenda, sedangakan
seniornya menyiapkan pelatiahn kepemimpinan untuk junior.
Jam 9 malam,
barulah semua kegiatan itu berakhir. Namun banyak yang memutuskan untuk duduk di
depan api unggun, beberapa orang yang memang lelah memutuskan untuk tidur di
dalam tenda. Mengobrol satu sama lain atau bercerita seram, itulah yang selalu
dilakukan orang berkemping.
Waktu menunjukkan
pukul 11 malam, semua junior sudah masuk ke tenda dan tidur. Alumni dan senior
laki-laki tetap berada di sekitar api unggun.
“Kalian mau tau
apa yang kami bawa?” tanya seorang alumni pada kami yang senior. Diantara kami
hanya menggeleng namun aku tau maksud dari alumni itu.
Seorang alumni
lainnya berdiri dan mengambil sekotak besar berisi dua belas botol minuman
keras. Kami semua tertawa melihat botol-botol itu.
“Sial! Kita mau
dibuat teler ternyata.” Kata seorang temanku yang paling tersenyum lebar
melihat botol-botol itu.
“Sudah lah,
nikmati saja!” kata alumniku kepadanya.
Kami minum,
bernyanyi, dan entah lah. Beberapa sudah mulai mabuk, lain bahkan ada yang
sudah teler. Aku tak luput dari kegilaan itu. Ya, aku bahkan kami semua yang
berada di sekitar api unggun malam ini menyembunyikan kegiatan favorit kami.
Bahkan sebenarnya kami tak segan untuk melakukannya di ruang organisasi
sepulang sekolah. Ini terlalu menyenangkan dan menggilakan.
Teman-teman
seniorku sudah teler semua, alumniku juga seperti itu. Mereka semua tidur dalam
keadaan mabuk di sekeliling api unggun. Hanya aku yang tersisa, sebotol anggur
masih berada di tanganku. Aku meneguknya sekali atau dua kali dengan sekali
telan. Aku benci sebenarnya mengakui hal ini, tapi entah kenapa mungkin karna
aku terlalu mabuk aku melihat seorang perempuan cantik yang berjalan menuju
kearahku.
“Sial! Kepergok
junior!” Gumamku sambil menahan nyeri di kepalaku.
“Kau bahagia
dengan keadaanmu seperti ini?” tanyanya kepadaku. Aku melirik padanya,
penglihatanku sudah kabur.
“Heh, kau! Berani
sekali memanggil seniormu dengan panggilan ‘Kamu’. Kau mau saya hukum?!”
teriakku padanya.
“Kau sudah bahagia
hidup dengan kepalsuan seperti ini?” tanyanya lagi padaku.
Disitu aku langsung berdiri, berjalan sempoyongan dan
menghampirinya. Kuremas bahunya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananku
masih memegang minuman keras. “Sekali lagi kau berani memanggilku ‘Kamu’.
Kupecahkan botol ini di kepalamu,”
“Lakukan jika kau berani. Setidaknya buih di laut itu menyaksikan
tindakanmu,” jawabnya.
Aku sudah kehabisan akal, sedangkan kali ini pikiran kotor yang
menghampiriku. Kudorong badannya dan kurebahkan di tanah, aku menduduki
badannya dan mulai bersikap nakal. “Banyak omong kau!” bentakku sambil meneguk
kembali botol minumanku.
Perempuan itu diam saja aku perlakukan seperti ini. Sampai ia
berkata “Kau sudah bahagian dengan kemabukkanmu? Kenapa kau seperti ini? Apa
semua karna cinta?”
Kutatap wajahnya. Sial! Mataku terlalu mabuk untuk melihat wajahnya
bahkan dari jarak sedekat ini. Kukerahkan semua usahaku untuk melihatnya dengan
jelas sampai akhirnya...
“HANA?!” teriakku sambil melompat jauh darinya.
Perempuan itu berdiri dengan anggun. “Aku tak pernah menginginkanmu
seperti ini.”
Aku masih menatapnya tak percaya. Sial! Terlalu mabukkah aku hingga
berhalusinasi separah ini. Tapi, kenapa harus Hana? Kenapa harus kekasihku yang
tak berhasil kuselamatkan dua tahun yang lalu?
“Kenapa kau harus meminum itu ketika aku menjadi buih di lautan?
Buih Laut tak dapat memabukkanmu.” Kata Hana lagi padaku.
Aku tersungkur didepannya, berlutut, dengan wajah mengadah padanya.
Aku tak percaya, masih tak percaya, namun suara ombak menyadarkanku bahwa ini
bukan sekedar mimpi atau bahkan efek mabuk semata. Mataku berlinang, Hana. “Aku
merindukanmu. Kau kemana saja?”
Hana tersenyum padaku, membelai pipiku lembut dan mengusap air mata
yang jatuh membasahi pipiku. “Aku menjadi Buih di Laut, tapi tidak memabukkan.
Farsa, kau tak perlu banyak penyesalan dan tekanan. Aku sangat berterima kasih
kau datang menolongku saat itu. Dan aku bersyukur kau tak turut menjadi
korban,” katanya padaku. “Berhentilah, karna aku juga merindukanmu.”
Dan saat itu juga bayangannya hilang dari pandanganku. Hana...
Kau Buih Laut
yang Memabukkan
uhuy nih, lanjutkan nak haha
BalasHapusHehehe thanks paman Herman :)
HapusSedih heh,tapi ada beberapa kata yang salah el. Suka
BalasHapusIya ni, maklum kemaren belum sempat di revisi langsung update aja di blog. Thanks yo sarannya
Hapus