Kembang Api dan Hujan

            Desember. Akan ada dua hari besar yang dinanti, Natal dan Tahun Baru. Kebahagiaan bagi umat yang merayakan dan kebahagiaan bagi seluruh dunia. Tapi tidak dengan kembang api yang kehujanan, yaitu aku.
            Aku dibeli oleh seorang anak kecil yang cantik. Dia membeli sekotak kembang api yang berisikan aku dan kelima temanku. Aku berbeda dari yang lain, panjang tubuhku lebih pendek. Saat dia membuka kemasan, dia mengeluarkanku dari dalam plastik yang ada didalam kotak, dan tersenyum senang kepada ayahnya. Sayangnya saat dia memasukanku kembali, dia lupa menaruhku ke dalam plastik. Teman-temanku menartawakanku,
            “Lihat! Si Pendek tidak dimasukkan kedalam plastik bersama kita!” sahut yang tertinggi.
            Aku sedih, mencoba tidak menghiraukan kata-kata mereka namun tak bisa. Walau kami terpisah, suara ledekan mereka dapat terdengar jelas. Aku marah, pada anak kecil yang salah menaruhku kembali ke dalam kotak. Tak lama badan kami tergoncang kuat. Anak kecil itu berlari sambil menggenggam kotak kembang api yang berisikan kami.
            Aku mulai merasakan hal aneh, di dalam kotak terasa lembab, beberapa bagian sudah tampak basah. Sial! Hujan! Jika kembang api basah, ia tak dapat menyala. Teman-temanku yang berada di dalam plastik semakin mengejekku.
            “Si Pendek kehujanan! Habislah dia. Hahaha!” ejek mereka bersahut-sahutan.
            Aku hanya diam, menunduk pasrah. Nanti malam mungkin aku akan di buang karena aku tak dapat menyala. Aku semakin marah kepada anak kecil itu. Aku tak ingin melihat senyumannya saat teman-temanku mengembangkan percikan api untuknya. Aku membenci itu.
***
            “Sayang, kenapa tak kau ambil sekotak kembang api yang kau beli tadi?” suara berat itu menyadarkanku bahwa hari sudah malam. Teman-temanku bersorak senang memikirkan mereka akan terpakai malam ini. Membayangkan teman-temanku dapat membuat anak kecil itu senang dengan percikan api dari tubuh mereka hanya dapat membuatku kesal.
            Tubuh kami terguncang, aku rasa kami sedang berada di genggaman anak kecil itu. Dia mengeluarkan kami semua, kelima temanku masih berada di dalam plastik sedangkan aku yang terpisah dari mereka dalam kondisi yang basah.
            “Ayah, aku lupa menaruh yang satu ini ke dalam plastik. Kembang api ini kehujanan. Bagaimana ini, ayah?” kata anak kecil itu kepada ayahnya.
            “Kau mainkan saja yang berada di dalam plastik itu. Kelimanya pasti akan menyala,” jawab sang ayah.
            Anak kecil itu bergelonjak senang. Ia mengambil teman-temanku yang berada di dalam plastik sedangakan aku hanya dibiarkan di atas tanah. Aku kesal dan sedih. Ingin marah tapi tak tau harus bagaimana. Aku melihat teman-temanku bersorak senang sedangkan aku hanya bisa membayangkan hal yang tak akan aku rasakan.
            Kembang api pertama dibakar oleh anak kecil itu di atas lilin. Setelah beberapa saat, kembang api itu memancarkan percikan apinya.
            “Wow! Rasanya menyenangkan sekali jika seperti ini. Aku terlihat lebih cantik!” teriak kembang api yang terbakar itu. Teman-temannya yang lain bersorak tak sabar menanti giliran. Makin lama, ternyata percikan itu semakin kebawah dan hanya menyisakan batang kecil yang terbakar hitam diatasnya.
            “Oh tidah! Apa yang terjadi dengan ujung kepalamu?” tanya kembang api yang lain.
            “Aku tak tau. Tapi aku rasa tubuhku juga memendek.” Jawab kembang api yang sudah terbakar. Tak lama percikan dari kembang api itu habis dan hanya menyisakan tangkai kembang api yang menghitam.
            “Hei hei! Ada apa denganmu? Apa kau bisa mendengar kami?” teriak temannya yang masih berada di dalam plastik. Namun tak ada sahutan dari kembang api yang sudah habis tersebut. Ia telah menjadi bara yang tak akan pernah terpakai lagi.
            Teman-temanku yang tak kehujanan mulai panik, mereka tak mau menjadi seperti kembang api yang sudah terbakar itu. Tapi itulah takdir mereka, mereka akan terbakar, memercikan cahaya api sebentar, dan setelah itu akan mati menjadi bara dan dibuang. Semua kembang api yang ada di dalam plastik itu tak menginginkannya.
            Satu persatu aku melihat teman-temanku menjadi kembang api dengan percikannya. Tubuh mereka terbakar dari atas, mulai memendek, dan mati menjadi hitam. Aku melihat mereka dengan pikiran dan tatapan kosong. Aku tak mengerti, apakah ini takdir sekotak kembang api atau apa?
            “Yah, kembang apinya sudah habis. Aku mau lagi,” kata anak kecil itu setelah kembang api terakhir mati. Plastik di dekat lilin itu kini hanya menjadi plastik biasa yang kosong tak berisi. Aku memperhatikan ayah dan anak kecil itu.
            “Sayang, hari sudah terlalu malam. Besok siang saja kita beli lagi ya?” tawar sang ayah.
            “Tidak mau! Aku mau satu lagi kembang api, ayah!” ronta anak kecil itu. Lalu ia berlari kearahku dan mengambilku. “Lihat ayah! Aku menemukan kembang api ini!”
            “Bukankah kembang api itu yang kehujanan? Ia tak akan bisa menyala, sayang.” Jawab sang ayah. Tapi sepertinya anak kecil ini tak mempedulikan kata-kata ayahnya. Ia tetap membawaku mendekati lilin dan membakar ujung kepalaku yang masih terasa basah. Tubuhku tak menyala seperti teman-temanku, padahal anak kecil itu sudah membakarku cukup lama.
            “Ayah, kenapa yang ini tak mau menyala?” shaut anak kecil itu sedih.
            “Kembang api itu kan tadi basah, sayang. Ia tak akan pernah bisa menyala.” Jawab sang ayah.
            “Aku tak mau! Aku ingin dia menyala seperti teman-temannya!” teriak anak kecil itu. Ia terus membakarku dan membakarku. Aku hanya terdiam, aku sudah salah memandang anak kecil ini. Ternyata ia tak bermaksud untuk membuatku basah. Ia hanya tak sengaja saat menaruhku kembali ke dalam kotak.
            Teman-temanku seharusnya bersyukur. Mereka mati dalam keadaan telah membuat jutaan orang di dunia ini senang dan bahagia melihat keindahan kembang api. Sedangkan aku, tak dapat membuat anak itu senang, malah hanya dapat membuat ia sedih. Ayahnya menghentikan usaha anaknya untuk menyalakanku. Tapi ia memberontak dan terus memberontak ingin aku menyala. Aku tak tega melihat anak kecil itu yang awalnya bahagia malah harus marah kepada ayahnya hanya karna aku.
            Aku sekuat tenaga mencoba untuk membuat diriku sendiri terbakar dan menyala, aku tak tau bagaimana caranya tapi aku harus membuat anak kecil ini senang. Dan berhasil!
            “Lihat ayah! Kembang apinya menyala!” teriak anak kecil itu kegirangan. Aku senang karna sudah berhasil membuat anak kecil itu senang. Aku tak mengapa walau harus mati menjadi bara dan dibuang. Aku selalu bahagia terlahir sebagai kembang api. Karna membuat orang lain itu senang dan terhibur, membutuhkan sesuatu yang harus kita korbankan. Dan saat percikan dari tubuhku berakhir, aku tetap bahagia.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer