Unmul Bersalju
Beberapa hari ini
hujan turun mengguyur Kota Samarinda. Orang-orang membalut tubuh mereka dengan
jaket. Juli datang memenuhi tahun, namun cuaca masih tak teratur. Siang panas,
tidak lama hujan. Para mahasiswa takut setengah mati jika berkas mereka basah
terkena hujan.
Gedung Rektorat Universitas Mulawarman belum terlalu ramai meski
telah menerima ribuan mahasiswa baru. Masih terlalu awal untuk mengurus sesuatu
di bagian Bidang Alumni dan Kemahasiswaan Universitas. Mahasiswa baru masih sibuk
mengurus Uang Kuliah Tunggal di Fakultas masing-masing. Aku mengusap kedua
telapak tangan, mencoba mengusir dingin.
Perempuan yang duduk di sampingku memakai kemeja putih dan memiliki
kulit yang putih. Matanya terbingkai oleh kacamata dengan lensa yang tebal. Ia
terus menunduk ke bawah, tertuju pada buku yang sedang ia baca. Lorong rektorat
tetap sunyi, hanya diisi oleh suara halaman yang dibalik oleh perempuan itu.
Tiba-tiba ia menjatuhkan buku yang ia pegang, aku terkejut.
Wajahnya menghadap lurus kedepan dan matanya membelalak lebar. Setelah itu
muncul binar-binar dimatanya, aku tidak tau apa yang terjadi pada perempuan
itu. Ia menoleh padaku, tampak meraba sekelilingnya. Aku mulai curiga, namun
aku yakin tadi ia sedang membaca buku yang dia pegang.
“Maaf, anda masih disini?” tanyanya dengan retina mata yang tak
jelas melihat ke arah mana.
“Ya, saya masih disini. Ada apa?” tanyaku sedikit panik.
“Mata saya berkabut,” ungkapnya. “Retinitis Pigmentosa. Saya
menderita itu, biasanya saya benar-benar tidak dapat melihat di malam hari,
tapi siang ini tepi penglihatan saya yang kabur semakin meluas. Saya memaksa
agar retina mata tetap fokus membaca agar tidak semakin kabur karena saya sadar
sewaktu-waktu saya bisa buta.” Jelasnya padaku.
Aku masih terdiam di tempat, aku tidak tau apa yang harus
kulakukan. Aku tidak tau apa-apa tentang kesehatan. Perempuan itu turun dari
bangku dan meraba lantai, mencoba mencari buku yang ia jatuhkan. Aku membantu,
mengambilkan bukunya dan memberikan padanya. Ia kembali duduk di bangku dan
mengambil tasnya. Ia meraba, seperti mencari sesuatu.
“Ah, maaf. Nama saya Yuki. Yuki Auraa. Mahasiswi Semester 5,
jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unmul.”
ia memperkenalkan diri sekaligus menemukan sesuatu yang ia cari di dalam
tasnya. Sebuah tongkat lipat, ia ternyata telah menyiapkannya apabila terjadi
sesuatu padanya.
“Aleka Nagendra, Alek. Semester 5, Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya,
Unmul.” jawabku. “Ada keperluan apa ke Rektorat?”
“Mengurus surat permohonan cuti kuliah,” jawabnya.
“Bukannya ngurusnya di Akademik Fakultas ya?” tanyaku lagi.
“Ya, tapi dengan kondisi seperti ini aku tidak tau. Bisa lanjut
kuliah atau tidak.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku tidak mengerti, bagaimana
bisa perempuan ini tetap tenang dengan kondisinya yang berubah tiba-tiba. Seorang
staf akademik keluar dari ruangan dan memanggil Yuki. Ia mulai berdiri dan
meraba tasnya. Aku langsung membantunya dan memasangkan tongkatnya.
“Keadaanmu memburuk Yuki?” tanya staf akademik itu padanya.
Kemudian dia menoleh ke arahku, “saya kakak sepupunya Yuki, maaf sudah
merepotkan.” Katanya padaku.
“Kak, aku tidak jadi cuti kuliah.” Jawab Yuki tiba-tiba.
“Maksudmu? Bagaimana kamu bisa melanjutkan kuliah?” tanya kakaknya.
“Aku bisa melanjutkan perkuliahan, aku cukup merekam penjelasan
dosen di kelas. Saat Ujian, aku bisa meminta Ujian Lisan kepada dosen. Unmul
pasti mau menerima mahasiswa disabilitas sepertiku” Jelas Yuki.
Kakaknya mengerutkan kening lalu menoleh padaku. Aku memasang
ekspresi tidak tahu apa-apa. Bahkan aku baru mengenalnya beberapa menit yang
lalu. Kakaknya menghela nafas. “Baiklah jika itu maumu, suratmu aku tarik lagi.
Kamu kesini naik apa?”
Yuki tersenyum lebar. Matanya tak melihat apapun, tapi aku tau
matanya menyiratkan kebahagiaan. “Diantar sama teman tadi, rencananya aku
pulang sama kakak,”
“Itu masalahnya. Aku tidak bisa mengantarkanmu pulang, ada rapat
akademik mendadak 10 menit lagi.” Jawab kakaknya.
“Jika berkenan, saya bisa mengantar Yuki pulang.” Tawarku spontan.
Kakak Yuki menoleh ke arahku, begitu juga Yuki yang menoleh ke
sumber suara. Kakaknya melihat Yuki sejenak lalu menoleh lagi ke arahku.
“Baiklah, kamu Aleka, kan? Surat Pernyataan Tidak Menerima Beasiswa-mu sudah di
tandatangani Wakil Rektor. Saya ambilkan sebentar.” Kemudian Kakaknya Yuki
masuk ke dalam ruangan.
Yuki berada di depanku, matanya kuyakin masih berkabut seperti
katanya. Suasana kembali sunyi, Yuki mencoba kembali ke tempat duduk dan aku
mengawasinya. Meski matanya tak dapat melihat, ia masih menggunakan kacamata
minus-nya. Kakaknya keluar dari ruangan sambil membawa map bertuliskan namaku
dan selembar kertas yang sepertinya milik Yuki.
“Ini berkasmu, dan ini berkas Yuki. Saya minta tolong ke kamu, ya.
Maaf merepotkan.” Katanya sambil memberikan map padaku.
Setelah pamit, aku mengajak Yuki untuk turun ke lantai dasar. Ku
tawarkan untuk membantunya, namun ia menolak. Maka aku berjalan tepat di
belakang Yuki, dan berada di samping Yuki ketika menuruni tangga. Aku tidak
ingin terlalu memaksa kehendak Yuki, jika ia ingin sendiri, maka kubiarkan
sendiri namun tetap kuawasi secara diam-diam.
Kami sudah berada di luar Gedung Rektorat. Aku mengarahkan Yuki
untuk ke parkiran, ia berjalan sesuai arahanku dan aku mengawasinya. Tak jauh dariku,
seorang mahasiswa berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengatur berkas-berkas di
tangannya. Tepat di depan mahasiswa itu terdapat dahan pohon yang rendah. Jika
ia tak memperhatikannya kemungkinan besar ia akan menabrak dahan pohon itu.
“Awas!” teriakku. Namun terlambat, mahasiswa itu menabraknya dan
berkas-berkasnya terjatuh. “Tunggu disini,” kataku pada Yuki. Aku langsung
membantu mahasiswa itu membereskan berkasnya setelah itu aku menghampiri Yuki.
“Maaf sudah meninggalkanmu.” Kataku.
Yuki mengangguk sambil tersenyum. Saat hendak mengeluarkan motor
dari parkiran, motor seorang mahasiswi terjebak di parkiran, aku segera
membantunya. Setelah itu aku kembali menghampiri Yuki.
“Aleka,” penggil Yuki ketika kami sudah di atas motor.
“Iya, Kenapa?” tanyaku dan mulai menyalakan mesin motor.
“Di Hawaii, Aleka berarti pelindung. Seperti namamu, kau melindungi
orang-orang di sekitarmu.” Yuki bercerita.
“Aku merasa bahwa aku memiliki kewajiban untuk melindungi sesama.
Sekarang aku bertanya padamu, kenapa namamu Yuki? Di Jepang, Yuki berarti salju
kan?” tanyaku padanya.
“Kata ibu, salju itu cantik, putih, banyak yang menyukainya, dan
membawa kebahagiaan. Kamu tahu? Sekarang aku melihat Unmul bersalju.”
“Hah? Unmul bersalju? Bagaimana bisa?” tanyaku sambil
tertawa. Aku mendengar suara tawa Yuki di belakang.
“Cuaca dingin dan aku melihat banyak kabut dimana-mana. Unmul
bersalju, saljunya merepotkan, mengacaukan penglihatanku, namun membawa kebahagiaan
buatku.”
Aku tersenyum, “aku juga melihat salju di Unmul,”
“Oh ya? Dimana?”
“Tepat di belakangku, sedang duduk di atas motorku.”
“Wah! Unmul hujan salju!”
“Aku akan melindungi salju!”
Komentar
Posting Komentar