Aku,Kau,dan Dia
Aku segera memarkirkan motorku di
tempat parkir yang telah disediakan.Setelah memakirkan motorku aku langsung
mendatangi Komunitasku.Kulihat sudah ada Irfan dan Dzaki di bawah pohon sambil
membersihkan lensa kamera mereka.Irfan dan Dzaki satu keluarga besar mereka.Irfan
dan Dzaki menyadari kedatanganku dan hanya diam saat melihatku dari jauh.Aku
segera menghampiri mereka dan duduk dihadapan mereka.Sedangkan pandangan mereka
tak berhenti melihat lensa kamera masing-masing.
“Rianiy
belum datang ?” tanyaku pada mereka.
“Belum,
kamu gak jemput Tania Den?” tanya Dzaki padaku
“Males”
“Loh,
kenapa?” tanya Irfan padaku.
“Soalnya
ada Rianiy.Kalo Tania tahu ada Rianiy di Komunitas kita bisa digampar aku sama
tuh cewek.Untung-untung minggu lalu Rianiy gak datang pas Tania maksa aku buat
ikut aku ke Komunitas” jawabku pada mereka berdua.
Irfan dan Dzaki hanya tertawa saat
mendengarkan jawabanku.Akupun ikut tertawa melihat dua sohibku ini.Tak lama
orang yang kami tunggu akhirnya datang juga,Rianiy.Irfan dan Dzaki
memperhatikan Rianiy dari jauh sedangkan aku hanya membersihkan lensa kamera.
“Hey,
sudah lama?” tanya Rianiy yang kini sudah berada di depan kami.
“Lumayan”
jawabku pada Rianiy.
“Ya
sudah, langsung aja foto-fotonya.Aku harus cari bahan tugas lagi habis ini”
pinta Rianiy padaku,Irfan, dan Dzaki
“Ok,
bisa diatur” jawab Dzaki.
Aku,Irfan, dan Dzaki bangkit dari
tempat duduk dan menuju jalan setapak di Taman Tepian ini.Rianiy mengekor dari
belakang.Aku memperhatikan sekelilingku.Taman ini sangat bersih sedangkan di
samping taman ini terdapat lapangan bola yang digunakan salah satu SSB (Sekolah
Sepak Bola) di Samarinda.Pohon-pohon disini sangat rindang dan beraneka
ragam.Disini juga disediakan Gazebo dan lahan kecil berkeramik yang menurutku
tepat untuk Streat Dance dan semacamnya.Untunglah hari ini cuaca di Kota Tepian
sedang cerah.Arus sungai Mahakam juga sedang tenang.
“Deni,
aku boleh tanya?” kata Rianiy mengejutkanku dari belakang.
“Eh,
iya boleh.Mau nanya apa?”
“Emm
... kenapa selalu aku yang selalu menjadi model foto Hunting kalian?”
Aku terdiam sesaat.Didalam benakku
aku berfikir mengapa Rianiy bertanya seperti itu.Jujur, yang memilih dia untuk
jadi model foto Hunt kami bukanlah aku tapi Irfan.Irfan pernah berkata
padaku bahwa ia sangat mencintai Rianiy dan ia menyuruhku berjanji untuk
merahasiakan hal ini kesiapapun dan akupun mengiyakan janjiku padanya.Sedangkan
Irfan tak tahu bahwa Rianiy adalah mantanku.Jika Irfan tahu entah apa yang akan
terjadi padaku,Rianiy,Irfan, dan tentu saja Komunitasku.Lagipula siapa yang tak
akan jatuh cinta pada gadis satu ini.Tingginya 165 cm,Cantik,Bermata
indah,Berkulit putih,baik,dan rajin.
“Den,
jangan bengong ... jawab dulu pertanyaanku” kata Rianiy yang menyadarkanku dari
lamunanku.
“Eh
iya, karna kamu tepat untuk model foto Hunt kami. Kenapa memangnya ?
kamu keberatan jadi model foto Hunt kami ? Lagipula kami tak pernah
memintamu menjadi model yang tidak-tidak kan?” alasanku pada Rianiy.
“Eh
enggak kok.Aku gak pernah keberatan Cuma ..”
“Cuma
apa?”
“Gak
papa, eh dipanggil Dzaki tuh” kata Rianiy sambil menunjuk Dzaki yang
meneriakkiku dan Rianiy dari kejauhan.Sedangkan Irfan, Ia melihat diriku dengan
mata sinis.Irfan maafkan aku, ini tak seperti yang kau tahu ungkapku
dalam hati.Aku benar-benar menyesal telah berjalan berdua dengan Rianiy dan telah
membuat Emosi Cemburu Irfan meluap padaku.Rianiy mendatangi Dzaki yang ingin
memfoto dirinya sedangkan aku mendatangi Irfan yang sedang memfoto Sungai
mahakam yang tenang.Baru mulai mendekati Irfan aku sudah dikejutkan dengan
kata-katanya,
“Apa
yang kamu bicarakan tadi dengan Rianiy?” tanya Irfan padaku dengan nada tinggi.
“Dia
tanya kenapa dia selalu menjadi model foto Hunt kita?”
“jangan
bohong! Aku melihat semua yang engkau lakukan dengan Rianiy tadi!” jawab Irfan
setengah berteriak padaku.
“Irfan
aku mohon,dia hanya bertanya hal itu padaku.Lagi pula tak mungkin aku melukai
hati sahabatku sendiri”
Irfan hanya terdiam sambil melihatku
sinis.Aku hanya terdiam dan mencoba meyakinkan Irfan mengenai hal ini.Kami
hanya terdiam sambil memperhatikan arus Sungai Mahakam yang tenang.Tak lama aku
dan Irfan mendengar teriakan Rianiy.
“Hey
! siapa lagi nih,Cepat ! Aku buru-buru”
Aku dan Irfan saling berpandangan.Aku hanya mengangguk
kecil pada Irfan dan akhirnya setelah Dzaki yang memfoto Rianiy giliran Irfan
yang aku suruh lebih dulu.Aku akhirnya menyimpan kameraku setelah memfoto
beberapa gambar Taman Tepian dan sungai Mahakam.Aku memutuskan untuk pulang
lebih dulu.
“Aku
pulang duluan ya!” teriakku pada mereka bertiga.
“Kok
cepet?” tanya Dzaki padaku
“Gak
papa” jawabku simpel
Aku akhirnya meninggalkan mereka dan
mendatangi motorku dan pergi.Kini aku tak tahu harus kemana.Pikiranku masih
melayang pada Irfan dan Rianiy.Sebenarnya hingga saat ini, aku masih sangat
mencintai Rianiy.Dulu hubungan kami berjalan selama 5 bulan.Suka dan Duka kami
lalui bersama.Masih kuingat saat Idul Adha, aku mengantarkannya pulang setelah
acara Idul Adha di sekolah selesai.Cintaku ke Rianiy melebihi cintaku pada
gadis lain yang dari dulu hingga kini singgah dihatiku.Aku pernah mengajaknya
balikan tapi ia menolaknya karna pada saat itu aku tengah menggenggam gadis
lain.
Aku
akhirnya memutuskan untuk singgah ke rumah Tania.Kulihat rumahnya penuh dengan
mobil.mungkin ia sedang kedatangan sanak saudaranya.Awalnya aku ingin balik
saat tau ternyata ada sanak saudaranya sedang berkunjung ke rumahnya tapi hal
itu terhenti saat aku melihat Tania keluar rumah.Aku yang berada di depan pagar
tentu dilihat oleh Tania.
“Deni
?!” Tania berkata saat melihatku
Aku melepas helmku, Tania menghampiriku.Kulihat dari wajahnya
seperti ia tengah bimbang.
“Loh,
kamu kenapa bimbang gitu, Say?” tanyaku pada Tania.
Ia hanya terdiam dan menunduk.akupun semakin tak
mengerti dibuatnya.Aku terus mendesak Tania agar menjawab pertanyaanku dan
akhirnya setelah mendesak dengan susah payah ia akhirnya berkata.
“Hemm
Yank, aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dengan keluarga jauhku” katanya
takut aku akan marah.Aku menatapnya tak percaya.Hubunganku dengan Tania baru
berjalan 1 bulan tapi kenapa secepat ini hubungaku berakhir karna masih ada
orang tua yang menganggap jaman ini adalah jaman Siti Nurbaya.Aku hanya terdiam
seribu bahasa, antara tak percaya dan marah menyatu dalam hatiku.Aku tetap
menatap mata Tania.
“Siapa
yang berani mengambil kekasihku?” tanyaku dengan suara tegas setelah beberapa
saat terdiam.
Ia
hanya menunduk sambil berkata pelan padaku dan membuatku tersentak luar biasa
setelah Tania menyebut nama “Irfan”.Aku hanya terdiam semakin tak percaya dan
akhirnya bola mataku menangkap seseorang yang keluar dari dalam rumah Tania dan
tak lain adalah Irfan.Dia menghampiriku dan Tania lalu terdiam dihadapanku.Kami
saling terdiam.
“Maaf
Den, ini bukan kemauanku lagi pula aku ingin mengakui sesuatu padamu.hanya kita
berdua yang boleh tau” kata Irfan padaku.Aku terdiam lemah saat melihat Irfan
telah menggenggam tangan Tania yang sesungguhnya belum resmi aku lepas ia dari
hidupku.Aku akhirnya turun dari motorku dan mengikuti Irfan.Kini aku berada di
halaman belakang rumah Tania dan siap mendengar pengakuan Irfan yang entah tak
aku ketahui perihal apa yang ingin dia akui.
“Deni,
aku mau jujur padamu tapi berjanjilah setelah kau tahu apa yang sebenarnya
terjadi jangan kau marah padaku” kata Irfan mengawali pengakuannya
“Iya
Fan, iya”
“Sebenarnya
Rianiy itu ...”
Aku cukup terkejut karna pengakuannya ini membahas
tentang Rianiy.
“Sebenarnya
apa Fan?”
“Sebenarnya
Rianiy itu .... Keluarga Dekatku” kata Irfan padaku
Kini hatiku bergelonjak marah,Kecewa dan sedih.Aku tak
tahu harus berbuat apa tapi yang pasti aku ingin sekali memukul keras wajah
Irfan tapi hal itu terhenti saat Irfan langsung melanjutkan pengakuannya itu.
“tenang
den, semua ini aku lakukan bukan karna kemauanku tapi karna orang tua Rianiy
yang meminta tolong padaku untuk menjaga Rianiy agar tidak berpacaran pada
siapapun.Itu sebabnya juga aku berbohong perihal aku mencintai Rianiy agar
Rianiy tak berpacaran lagi denganmu karna orang tuanya takut terjadi hal yang
tidak diinginkan pada Rianiy.Tapi kini Rianiy telah beranjak dewasa, iapun
bebas ingin melakukan apapun kecuali yang memang dilarang.Deni, jika kau
mencintai Rianiy, cintailah ia.Jangan buat ia tersakiti, aku sekarang memilihmu
sebagai pendampingnya jika kau benar-benar serius menjalin Cinta dengan
Rianiy.Tapi izinkan aku untuk mengambil kekasihmu, Tania.Karna permintaan orang
tuaku dan Tania”
Aku
kembali menatap hal ini tak percaya.Bukan tak percaya karna Tania kan
meninggalkanku, Tapi karna Rianiy akan menjadi kekasihku kembali.Sebenarnya aku
juga tak sungguh-sungguh untuk mencintai Tania.Tak lama berseling dari semua
itu.Aku kembali menangkap dua sosok gadis yang keluar dari pintu belakang,Tania
dan Rianiy.Tania menghampiri Irfan,Irfan menggenggam tangan Tania dengan erat
di depan mataku.Tanpa perlu kuucapkan di depan Tania, hari ini aku resmi
berpisah dengannya.Rianiy tak jauh berada di.Aku memperhatikan tingkah Tania
yang membisikkan sesuatu pada Irfan,Irfan membalasnya dengan senyuman cengir.Tak
lama Tania masuk ke dalam dan Irfan mendekatiku dan Rianiy dan membawa kami ke
ujung kolam renang yang ada dirumah Tania.
“Den,
sebenarnya kamu itu cocok sama Rianiy loh” kata Irfan cengar cengir.Aku sudah
tahu ia pasti telah membuat rencana untukku.Rianiy yang berada di sisi kanan
Irfan hanya menunduk dengan wajah memerah.Aku yang berada di sisi Kiri Irfan
hanya tertawa kecil mendengar kata-kata sahabatku ini.
“Dan
biar kalian makin romantis ..” kata Irfan sambil berjalan mundur beberapa
langkah ia melanjutkan kata-katanya.
“Silahkan
nyebur berdua di kolam!!!” katanya berteriak sambil medorongku dari
belakang.Rianiy juga didorong oleh Tania yang muncul dari dalam rumah dan
akhirnya jatuh ke kolam renang yang dalamnya 2 meter.Tania tiba-tiba teringat
bahwa Rianiy tak bisa berenang dan Tania berteriak.
“Astaga
! Aku baru ingat Rianiy gak bisa berenang !” teriak Tania
Aku yang mendengar teriakan Tania tentang itu langsung
mendatangi Rianiy yang sudah lemas.Aku memegangnya dan membantunya untuk naik
ke atas kolam.Setelah tenang aku segera menoleh pada Irfan dan Tani dan
berkata.
“Kalo
mau ngerjain orang ingat-ingat dulu donk orangnya seperti apa!” teriakku pada
mereka karna panik melihat Rianiy yang lemas.Meraka hanya tertawa sedangkan
Rianiy yang sudah agak baikan menghampiriku.
“gak
papa Den, aku senang kamu bantu aku tadi.Thank’s ya” kata Rianiy padaku sambil
tersenyum.Seketika mukaku memerah karna melihat wajah Rianiy yang manis
sekali.Sedangkan kata-kata “Ciee” mengalir dari teriakan-teriakan Irfan dan
Tania.Dan tak lama terdengar teriakan dari pintu belakang.
“ENAK
YA MESRA MESRAAN DISINI ! SEDANGKAN GUE BELUM PUNYA GEBETAN !!!” teriaknya yang
tak lain adalah Dzaki yang juga ikut dalam acara keluarga ini.Kami berempat
hanya menertawainya, Sedangkan ia semakin menggerutu kesal.
Komentar
Posting Komentar