Saat “Curahan Hati” yang Menjawab
Sakit
hatiku dengan semua percakapan rekan kantor ayahku yang sekaligus novelis
itu.Rasa mencekam akan cita-citaku dalam dunia novelis seakan runtuh saat
diam-diam aku mendengar lulusan SMP yang menjadi novelis dengan tata bahasa
yang dewasa.Aku sudah menduga aku tak akan sampai ke level itu.Aku belum pernah
mengirimkan cerpenku ke media.Rasa percaya diriku hilang seketika jika
disarankan untuk mengirimkan cerpenku.Rasanya tak mungkin cerpen yang hanya
diminati di sekolah dan teman sesama FaceBookers bisa dimuat di media massa.
Kubaca lembar demi lembar Novel “Negeri
5 Menara” karya A. Fuadi, salah satu penulis favoritku.Semakin aku membacanya,
semakin aku merendahkan diriku sendiri.Bayangkan saja novel yang kubeli ini sudah
cetakan ke-13, Nasional Best Seller, bahkan sudah difilmkan.Semakin aku kagumi
semakin rendah juga bakat terpendamku ini.
Aku terdiam di tangga sekolah.Tangga
ini memang sepi karna tangga ini menuju balkon belakang sekolah yang hanya
digunakan untuk menumpuk meja dan bangku yang tak terpakai.Aku membolak
balikkan notes biruku.Notes yang berisi ide dadakan ini juga tidak berkembang,
hanya menjadi hiasan di notesku.Lama aku terlamun dalam hal ini sampai adik
kelasku menghampiriku.
“Ngapain kamu disini?” tanyanya dengan
nada santai padaku.Mungkin kata sapaannya itu tidak bermoral apa lagi mengingat
dia adalah adik kelasku.Tapi bagiku ini adalah hal yang biasa.Aku adalah siswa
kelas 9 termuda di sekolah ini, dan adik kelasku yang bernama Deni ini adalah keluarga
jauhku yang memang lebih tua dari aku, bahkan terkadang aku memanggilnya dengan
sebutan “mas”.Hal ini sudah biasa dalam kehidupanku.
“Biasa, melamun mikirin novel” jawabku
simpel.Dia memang tau kebiasaanku.
“AnyWay .. mana novelku yang
kamu pinjam ?” tagihku padanya.
“Oh iya .. aku lupa, ambil diatas”
katanya sambil menunjuk kelasnya di lantai 2.
“bareng aja” jawabku.
Dia akhirnya menuju
kelasnya disusul olehku.Kepalaku dan kepalanya saling menoleh kiri kanan seraya
mencari sosok yang paling disegani di sekolah ini.Guru seksi kesiswaan yang
super tegas yang selalu memantau kami saat jam istirahat karna pada jam
istirahat siswa dilarang berada di dalam kelas dan dilantai 2.Dianggap aman,
aku dan Deni masuk ke kelas dan mendatangi mejanya.Saat itu kelas sedang kosong
karna semua siswa sedang berada di kantin dan halaman sekolah.Deni membuka
tasnya dan mengeluarkan novelku dan mengembalikannya padaku.Setelah aku
mendapatkan novelku aku kembali memberikan novel dengan judul yang lain
padanya.Hal ini memang menjadi kebiasaanku dengannya.Saat aku hendak keluar
kelas.Deni memanggilkanku.
“Nis, sini dulu” panggilnya
“Kenapa ?”
“Mau curhat” jawabnya dengan nada
pelan malu-malu kucing.
Aku hanya
menggelangkan kepalaku dan mendatanginya.Aku memang menjadi tempatnya curhat,
apa lagi tentang pacarnya.Aku bersedia saja karna aku memang sanggup.
“Tentang cewekmu lagi ?”
“Pastinya ! eh menurutmu aku cocoknya
ma Rianiy atau Tania?
Aku terdiam sejenak,
dua gadis yang deni sebutkan tadi juga adik kelasku yang akrab denganku.Dan
mereka juga sering curhat ke aku, Rianiy dan Tania juga pernah curhat tentang
Deni tapi aku diminta untuk merahasiakannya.Rianiy, adik kelasku yang sempat
tak aku sukai karna sifatnya yang sombong, tapi aku berusaha untuk tersenyum
ramah padanya.Jika aku simpulkan dari curhatan tiga adik kelasku ini aku
memilih Rianiy yang lebih tepat menjadi kekasih Deni.Karna keserasian mereka
sudah sempat berjalan 5 bulan tapi kehenti karna watak mereka yang keras hati.
“sama Rianiy” jawabku simpel
“Kenapa?” balasnya bertanya
“Coba bandingkan masa-masa waktu kamu
pacaran dengan Rianiy dan Tania, bahagiaan mana coba ? Rianiy, ingat waktu kamu
ngantar dia pulang setelah acara Idul Adha disekolah, ingat semua kata sayangmu
ke dia, ingat saat kamu dan dia berjalan berdua di sekolah dan dimana saja,
ingan Rianiy adalah pasangan terlamamu selama pacaran yaitu selama 5 bulan.Kalian
bukan pacaran seperti anak remaja lainnya, yang hanya sekedar smsan dan mereka
sudah merasakan hal yang namanya berpacaran.Tidak. kalian saling perhatian,
menjaga, dan menyayangi.Tania, pernah kamu ngantar dia pulang ? pernah kamu
jalan berrdua dengan dia disekolah maupun dimana saja ? tidak kan ? kalian hanya
berpacaran melalui sms. Tapi dalam dunia nyata kalian bagai orang yang tak
saling mengenal.Kalian tak pantas !” tutupku dengan kata yang pedas
Dia menatapku tak percaya.Memang ia
tak tahu jika semua hal yang menjadi rahasianya itu berasal dari pacar pacarnya.Mungkin
dia heran, bagaimana aku bisa tahu semua hal itu.Baru dia ingin menjawab bel
masukan sudah berbunyi.Aku segera berlari menuruni tangga karna malas bersesak
sesakkan dengan adik kelas yang ingin kembali ke kelasnya masing masing.Aku tak
menghiraukan terikan Deni.Paling juga saat pulang sekolah dia sudah mengsms
aku.
***
Aku sandarkan tubuhku di kursi meja
belajar ini.Kukeluarkan laptopku dan ku aktifkan.Kubuka folder kumpulan Cerpen
dan novelku, kulihat setiap judul.Aku buka Microsoft Word dan mulai memasukkan
beberapa paragraf.Tapi tak lama layar Microsoft Wordku kembali memutih karna
kata-katanya kembali kuhapus karna menurutku tak sesuai.Lama aku terdiam
didepan layar laptopku sampai akhirnya aku putuskan untuk membuka Winamp dan
mendengarkan lagu Kangen Band dengan judul Aku,Kau dan Dia.Ini adalah lagu
favoritku.
Baru saja aku memutar lagu itu, HPku
sudah bergetar tanda ada SMS masuk.Segera kuambil HPku dan kubaca nama dilayar
itu.”Deni”, yah memang sudah kutebak dia pasti akan mengSMS aku mengingat
kejadian tadi.Ku buka SMSnya dan aku baca.
Andaikan ja waktu
tu aku ma dia aja ...
Pasti gk bkl bgini
!!!
*lwt
Kini aku kembali
terdiam, sepertinya ia mengerti maksud kata-kataku tadi.Aku tak membalasnya dan
kembali menatap layar laptopku.Tapi tak lma kembali HPku bergetar, pastilah SMS
dari Deni lagi.Dan benar dugaanku.Dari Deni
Kamu bisa bntu aku
?
Aku hanya terdiam dan
membalasnya.
Bantu apa ?
Tanyain Rianiy dia
masih suka pa gk ke aku ?
Tanya sendiri !
Kamu aja !!!
Iyya dah !
Ok, thank’s de’
Itulah isi SMS Deni
ke aku.Aku hanya terdiam dan kembali menghadap ke layar komputer.Kisah Cinta Deni,Tania,
dan Rianiy tak jauh beda dengan cerita yang dinyanyikan di lagu Kangen Band
“Aku, Kau dan Dia”.Lama aku terdiam dan mulai medekatkan jariku diatas keyboard
dan tanpa aku duga aku menulis sebuah kalimat dengaan Font Siza 24.Ukuran yang
selalu kupakai untuk menulis judul dari setiap cerpenku.Kalimat yang kutulis
adalah “Aku, Kau, Dan Dia”.Deni, Tania, dan Rianiy.Aku, Kau, dan Dia.Itu dia !
itu yang kucari.Dengan judul Aku,Kau dan Dia aku bisa menceritakan kisah cinta
Deni,Tani dan Rianiy.Dengan cepat aku menarikan jemariku dia atas keyboard
putih ini.Tiap kata,Kalimat, dan paragraf menjadi ringan karna curhatan
mereka.Dalam seling waktu 3 jam aku bisa menyelesaikan cerpenku dengan judul
“Aku,Kau, dan Dia”
Esoknya aku bawa naskahku
kesekolah.Ini menjadi kebiasaanku setiap membuat cerpen baru dan membiarkan
temanku membacanya untuk menerima saran dari mereka.Tak kusangka, Cerpen kali
ini lebih banyak diminati oleh teman-temanku.Aku akhirnya menyerahkan naskah
ini ke Deni, dan seperti kebiasaannya.Dia membawa naskah itu ke rumah.Hari ini
bibirku penuh dengan senyuman senang karna cerpen kali ini banyak diminati.
Saat kembali aku sandarkan tubuhku di
bangku meja belajar dan menghadap layar laptop yang tengah membuka naskah “Aku,
Kau, dan Dia”.Rasa senang tak perlu ditanya lagi walau baru temanku yang
mengakui cerpenku bagus.Tak lama HPku bergetar dan lagi-lagi bisa kutebak pasti
dari Deni.Dan benar saja dari Deni.
De’ cerpenmu
keren, coba aja ini betulan terjadi :D
Aku tersenyum
geli.Memang isi cerpen itu aku ceritakan bahwa awalnya Tania berpacaran dengan
Deni tapi tanpa Deni ketahui Tania ditunangkan dengan sahabatnya sendiri.Tapi
karna merasa bersalah, sahabatnya itu menjodohkan Deni dengan Rianiy yang ternyata
adik sahabatnya itu.Hal ini mungkin tak akan pernah terjadi pada dunia nyata.
Hahaha thank’s mas
J
Balasku dengan hati
gembira.Akhirnya aku memilih untuk memasukkan cerpen ini keblogku.Setelah aku
masukkan dan aku share di Facebook selang 3 hari cerpenku sudah di share
sebanyak 20 kali. Bagiku ini hal yang cukup memuaskan.
Siapa yang menyangka cerpen yang
berdasarkan kisah nyata lebih berkesan dari pada yang benar-benar menkhayal.Aku
yang dulu suka menulis diary kembali menulis diary.Siapa tau Curhatku bisa
menjadi cerpen yang diminati banyak orang dan aku dapat menggapai cita-citaku
sebagai penulis.Curahan hati yang menjawab semuanya.
Komentar
Posting Komentar