Yang Insomnia itu Aku, Bukan Kamu
Aku
bisa menyadari banyak hal dalam satu waktu, tapi tidak mudah bagiku untuk
memahami semua yang telah kualami sekaligus. Mungkin juga bukan aku, tapi semua
manusia di muka bumi ini. Aku membencimu, sangat. Aku tidak punya alasan untuk
membuatmu senang atau sekedar menjadi pengisi waktu luangmu.
Tulisan
di gelas itu tidak membuahkan apapun. Kamu hanya mengambil gambar minuman itu
lalu kembali meracau hal-hal yang ingin kutahu tentang dirimu. Aku membenci hal
itu, selalu. Tapi aku suka juga mendengarmu meracau hal-hal tentangmu. Tentang
hal-hal yang membebanimu, hal-hal yang menurutku lucu dan sepele namun kau
terlalu membebani hal itu. Aku tidak suka memberikanmu saran-saran klise,
sangat tidak suka. Aku lebih suka menombakmu dengan lembut, kau sendiri yang
bayangkan bagaimana aku bisa menombakmu sehalus itu.
Tidak
ada malam bagimu, semua siang. Biar kata kakimu terkilir sekalipun, kamu tetap
bangun, entah pergi kemana dan meracau sesuatu yang tidak hanya didengar olehku,
tapi juga orang di sekitarmu. Waktu tidurmu aku tak pernah tau, mungkin kamu
tidak tidur dan akupun tidak peduli. Saat kau di depanku, manual brew menjadi
pilihanmu. Aku membenci itu.
Kata
orang, kopi bisa menghantarmu untuk terjaga semalaman atau sesiangan yang akan
menjadi kesialan untukmu. Kau butuh istirahat dan kopi tidak mengindahkan hal
itu. Yang aku tau kamu tidak insomnia, tapi hanya kurang tidur. Kamu masih bisa
tidur dari jam 5 subuh dan terbangun jam 8 pagi. Aku hapal jam tidurmu, aku tau
apa yang kamu lakukan di pertengahan malam dan kegiatan tidak pastimu di
pertengahan siang.
Sedangkan
alasanku memesan manual drew untuk menyakiti diriku sendiri. Aku tidak suka
kopi yang pahit, kalau teh masih bisa ku terima, tapi pahit kopi benar-benar menyiksa
dan aku tidak suka itu. Jadi aku memilih untuk menyakiti diriku sendiri dengan
meminum minuman yang kamu suka. Ini akan jadi tradisi menyakiti diri sendiri
yang kesekian. Tolong jangan tanya kenapa, seperti kamu, akupun tidak tahu.
Tradisi
menyakiti diri ini telah berhasil beradaptasi denganku. Bukan aku yg
beradaptasi, tapi rasa sakit itu yang harus beradaptasi denganku. Kenapa?
Sederhananya aku tidak pernah meminta diriku untuk menyakiti diriku sendiri,
tapi mereka yang datang kepadaku. Lagi-lagi kamu mengetuk pintu yang kemarin
sempat aku perkuat dengan beberapa rantai yang kuperolah dari teman-temanku.
Percayalah, temanku tidak cuma kamu, dan seperti biasa kamu punya hak untuk
tidak mempercayai itu.
Selamat
datang, lagi, manusia insomnia. Aku masih mempersilahkan kamu untuk masuk.
Silahkan terjaga, aku akan mendukungmu sesuai dengan egomu. Karena percuma jika
aku tidak mendukung egomu, kamu terlalu keras kepala. Syukurnya keras kepalamu
tidak membuatku hancur. Aku membenci keraskepalamu, tapi menyukai bagaimana
cara kamu mengontrol egomu itu. Jadi, silahkan masuk.
Kopimu
pahit seperti biasa, kalau mood-mu cukup baik, kopi manis akan jadi pilihanmu.
Sedangkan aku lebih memilih Matcha Latte,
dan pilihanmu sulit ditebak. Aku perkenalkan padamu Insomnia sebelum kamu
menjadi manusia insomnia bahkan sampai menjadi lebih insomnia lagi. Terjagalah,
aku selalu mendampingimu suka atau tidaknya kamu. Aku tidak terlalu peduli
dengan ukuran sepatumu, tapi aku paham isi kepalamu yang luar biasa rumit.
Rumit
bagimu, tidak bagiku. Itu yang selalu ku katakana padamu, faktanya akupun
selalu memikirkan setiap ceritamu dengan khidmat agar tidak salah tangkap dan
merespon. Kau mengetuk pintuku lagi, dan aku mempersilahkan kamu masuk. Rantai
dari teman-temanku tidak kupedulikan lagi, tidak kugunakan lagi untuk menyegel
agar kamu tidak masuk.
Karena
aku tahu, aku pendengar yang baik dan kamu manusia insomnia yang menjadikan
bicara sebagai tidurmu. Kitapun insomnia, dan ketika kamu menghilang seperti
biasa, aku yang akan insomnia. Aku yang terjaga, bukan kamu.
Komentar
Posting Komentar