Beristirahatlah di Pulauku yang Suram


            Aku selalu mengingatkan kepada orang-orang yang baru kutemui. Bahkan aku mohon, jangan meremehkan aku. Aku paling tidak suka diremehkan. Semua orang mungkin begitu. Di pulauku yang tampak kecil bagimu, aku persilahkan kamu untuk menepi dan singgah. Menetap juga tak apa, aku tidak pernah ambil pusing.
            Hutanku terlalu lebat, mungkin saja kamu akan tersesat. Dari luar sangat indah, wajar kalau kau terpana. Tapi jangan coba masuk ke dalam, sudah ku peringatkan sejak awal, kan? Lalu kenapa masih mencoba untuk membabat habis rumput-rumput liar berduri kecil yang menghalangi jalanmu? Bisa saja ada ular atau laba-laba beracun menggigit lehermu. Aku sih senang saja.
            Teruntuk kamu yang telah berlayar menjelajahi samudra. Terima kasih kepada Tuhan, kamu hanya pelayar bukan penyelam. Kalau tidak mungkin kamu akan terjebak di Hadopelagic Zone, bagian tergelap di lautan. Aku adalah pulau sekian yang kau singgahi, dan sekali lagi aku tidak mau ambil pusing. Sepertinya kamu senang menjelajah, jadi buat apa aku melarang? Kamu yang punya kapal, kamu yang menghantam badai, kamu yang merasakan angin laut yang terkadang kejam, jadi buat apa aku peduli?
            Ketika kamu datang ke pulauku, aku rasa sudah gayamu memindahkan kabut tebal yang menutupi pulauku dengan gampangnya. Aku percaya, aku bukan yang pertama kali pastinya. Mengingat pulau yang pernah kau singgahi kini banyak yang telah ditempati pelayar lain, yang berhasil membangun peradaban. Kau tersingkirkan dan kembali berlayar sehingga di tahun kesekianmu, kau menemui pulau tersuram.
            Setelah aku persilahkan kau singgah di pulauku, izinkan egoku menghantuimu. Aku ingin kamu menetap dan membangun peradaban di sini. Jangan berlayar lagi!
            He still want to wondering far to the end of a journey until he want to settle down. Well, I’m in that state right now. I’m still in a journey with my ship. Wondering in this raging sea until I found an island to land on it.
            Sebuah pernyataanmu membuatku terpana beberapa hari. Lautku mulai bergelombang resah, angin mulai gelisah. Hutanku mulai gersang entah kenapa, yang suram makin suram. Padahal sudah kututupi habis-habisan sebelum kamu berpijak di pulauku. Biar aku jelaskan sedikit kenapa bisa kamu singgah ke pulauku. Sangat kau sedang berlayar, kau melihat kabut putih yang sangat tebal. Mungkin kau terpana, mungkin juga sekedar penasaran. Kabut itu berbeda dari yang sebelumnya, atau kau hanya ingin mencoba petulangan baru?
            Pantaiku sangat indah, lautnya tenang dan pasirnya putih bersih. Pohon kelapa masih berbuah banyak dan sangat mampu untuk memuaskan dahagamu. Ada bukit kecil di tengah pulau, biasa saja tapi berhasil menarik perhatianmu. Sisanya adalah hutan lebat yang belum terjamah. Sekali lagi aku peringatkan, jangan masuk ke hutan itu.
            Tapi kalau kau ingin membangun peradaban, tentu kau harus siap masuk ke hutan. Menghilangkan beberapa pohon agar membangun sebuah tempat, kan? Semua butuh lahan. Kalau kau berani, coba saja. Aku disini diam mengamati saja. Tapi faktanya, ada sebuah inti yang masih saja gelisah tidak jelas. Didukung dengan perubahan cuaca yang tidak terprediksi. Tapi kamu sepertinya sangat menikmati hal itu. Kau memboikot ini adalah pulaumu. Pulau yang sebenarnya menyimpan banyak rahasia. Kamu tidak mau tahu, intinya kamu ingin berkepemilikan atas pulauku. Silahkah, tanganku terbuka lebar.
            Entah dari mana, kelak aku akan membiarkanmu mengatur pulauku yang kubangun dan kujaga selama ini. Percayalah, kamu bukan pertama yang singgah dan mencoba untuk menetap. Beberapa ada yang lari, segelintir aku usir. Ya, aku masih punya hak atas pulauku yang suram. Kamu pikir kenapa ada kabut yang mencoba untuk menyembunyikan pulauku di tengah lautan yang sangat luas? Kabut itu tidak datang dengan sendirinya, sayang. Semuanya, kabut, hutan, pantai, bukit, hasil penjarahan yang tidak meninggalkan bekas.
            Beristirahatlah di pulauku yang suram, sayang. Semoga kau betah, semoga kau kuat, semoga kau paham, semoga kau menua, semoga kau menjaga, dan semoga-semoga yang luasnya sama dengan lautan yang sudah kau arungi.
           

Komentar

Postingan Populer