Peyempuan dan Akhir
Perkenalkan, namanya Peyempuan. Makhluk berkelamin yang tidak berbatang namun memiliki lubang. Peyempuan berpendapat, hanya ada tiga jenis perempuan di dunia ini. Yang pertama, perempuan cantik tapi bodoh. Kedua, perempuan pintar tapi jelek. Ketiga, perempuan gila. Ah, ia selalu ingin menjadi perempuan gila. Karena ia begitu sempurna hingga bisa membuat laki-laki gila. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Peyempuanlah yang digilakan oleh laki-laki.
Soal
perasaan, beberapa manusia mencoba untuk mengelak perasaan mereka. Alasannya
beragam, ada yang tak berbalas ada juga yang tidak masuk akal. Yang Peyempuan
pahami, semua sama-sama menyakitkan. Perasaan sakit itu menjadi luka, lukanya
pun ada dua. Ada yang dapat dilihat, ada juga yang tidak bisa dilihat. Perempuan
biasanya memiliki luka yang tidak bisa dilihat.
Mereka
sangat pintar menutupi isi hati mereka. Mereka sembunyikan segala sesuatu dari
senyuman mereka. Bahkan untuk orang yang telah bertahun-tahun mencintai
perempuan, iapun masih tidak sadar kapan perempuannya berbohong atau tidak. Sedangkan
laki-laki suka blak-blakan. Ia akan berkata tidak suka jika ia tidak suka,
benci jika ia benci, tapi terlalu gengsi untuk menyatakan cinta atau sayang.
“Kapan
kamu sadar?” tanya Akhir padanya. Lelaki itu bertanya tanpa suara dan itu
selalu ia lakukan setiap ia berbicara dengan Peyempuan.
Tidak
pernah ada obrolan panjang dan padat antara Peyempuan dengan Akhir. Pertemuan
merekapun tidak ada yang istimewa. Peyempuan pada saat itu sedang menanam luka
untuk dirinya sendiri sehingga tidak terlalu mempedulikan Akhir. Seseorang
yang mengenal mereka berdua berkata, cara Akhir membuat kesal Peyempuan adalah
teknik lama laki-laki untuk memikat perempuan. Peyempuan tentu saja memahami
hal itu sehingga ia tidak lengah setiap Akhir mengisengi dirinya hingga
Peyempuan kesal.
“Laki-laki
itu aneh.” Kata Peyempuan berbicara pada Lalu.
“Anehnya
gimana?” tanya Lalu, lelaki pendengar Peyempuan yang sukses menjadi budak cinta
perempuan lain.
“Laki-laki
itu menciptakan luka,” jawab Perempuan.
“Setelah
itu?”
“Laki-laki
juga yang bisa menyembuhkannya.”
Ruangan
itu mendadak sepi, hanya suara kendaraan yang padat terdengar dari luar
bangunan. Peyempuan selau bercerita pada Lalu dan Dengar, tapi hari itu Dengar
tidak ada disana jadi mau tidak mau ia bercerita pada Lalu. Lelaki itu cukup
tahu soal Peyempuan, termasuk luka yang masih membekas pada Peyempuan yang
diciptakan oleh temannya sendiri. Syukur, makhluk itu tidak pernah muncul lagi
di kumpulan mereka. Semoga selalu terbuang.
Peyempuan
menyadari satu hal yang tidak akan pernah ia pahami dalam hidupnya. Ia lupa
bentuk cinta dan sayang dari laki-laki. Selama bertahun-tahun, Peyempuan
seperti seorang petani luka. Ia menumbuhkan luka lalu memanen luka itu untuk
dirinya sendiri. Ada banyak hal yang sebenarnya Peyempuan pahami kecuali dua
hal itu. Ia masih bisa memahami rasa suka, tapi tidak dengan cinta dan sayang.
Terobsesi,
bagi Peyempuan itulah yang ia rasakan sebagai pengganti cinta. Tapi Lalu dan
Dengar menyalahkan hal itu, terobsesi berbeda dengan cinta. Itu kata mereka,
Peyempuan mendengar tapi tak menggubris karena ia tidak mengerti bagaimana rasa
dari cinta dan sayang. Peyempuan tidak suka munafik, ia mengakui ingin mengerti
perasaan itu dari Akhir. Ia ingin merasakan cinta dan sayang itu dari Akhir.
Tapi Akhir tidak menggubris Peyempuan, dan Peyempuan lupa kapan persisnya.
Laki-laki
itu menyebalkan bagi Peyempuan, ia seperti menuai yang manis untuk Peyempuan
lalu memberikan yang pahit ketika Peyempuan sedang candu dengan kemanisan itu.
Akhir benar-benar lihai melakukan hal itu pada Peyempuan. Kalau saja Peyempuan
tidak memiliki luka, bisa saja Peyempuan tidak candu dengan kemanisan yang diberikan
Akhir padanya.
Ya,
Peyempuan harus menyerah. Mengingat Akhir, Peyempuan selalu berpikir bahwa ia
tidak pantas untuk Akhir. Lelaki itu lebih muda dari Peyempuan dan lebih
menyukai perempuan yang baik dan pendiam. Tidak seperti Peyempuan yang tidak
bisa diam. Setidaknya itu yang harus Peyempuan tanamkan dalam pikirannya hanya
agar ia tidak terlalu memikirkan Akhir. Peyempuan tidak ingin menjadi petani
luka lagi. Lukanya saja belum sembuh, bagaimana ia memanen luka lainnya?
Tapi,
ada satu hal yang tidak bisa Peyempuan pungkiri, Akhir adalah penawar dari
luka-lukanya. Tapi Akhir tidak menyadari hal itu, dan Peyempuan bersyukur.
Sesekali ia berdoa,
Komentar
Posting Komentar