Mari Aku Perkenalkan

             Setidaknya, aku tahu bahwa kita masing-masing memiliki makna kebebasan tersendiri. Kamu dengan bebasmu dan aku dengan bebasku. Kamu sebut itu keegoisan, lalu aku sebut itu cita-cita. Soal pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Seperti perbincangan kita setiap 3 bulan sekali, 6 bulan sekali, hingga seminggu sekali. Kamu yang bersikap “bodo amat” dan aku bersikap “menerka-nerka”.

            Setidaknya lagi, aku mencoba untuk menyelamatkan diriku sekarang. Alivia masih ada di benakku, ada namanya di setiap doaku, untuk dia dan kamu. Teramat dalam aku haturkan kepada manusia-manusia yang kisahnya menjadi pelajaran dan bekal hidupku dan tentu saja kamu dan Alivia menjadi salah satunya. Bagaimana Alivia memperlakukanmu dulu dan bagaimana kamu memperlakukan Alivia sekarang.

Kisah kalian tidak indah, semua orang yang mengenalmu tahu kisah itu. Tentu saja mereka tahu semua itu dari kamu. Kalau ternyata pun mereka tahu dengan sendirinya, kamu dengan “senang hati” akan memperlengkap cerita setengah matang itu. Lalu semuanya menjadi sebuah template yang melekat dalam hidupmu. Lucunya, kamu pikir semua orang tidak menyadari itu. Namun aku, menyadari itu dan terlalu cuek untuk memperdulikan itu.

Pertanyan “are you okey?” selalu menjadi pertanyaan kesukaanku kepada semua orang yang ingin bercerita padaku (meski tak sebanyak dulu). Lalu kamu bercerita betapa “tidak pentingnya” keadaanmu sekarang yang ternyata aku pedulikan. Pernah aku mengutuk diriku sendiri atas dasar “kepekaanku” terhadap beberapa hal yang sebenarnya aku tidak ingin peka terhadap perasaan-perasaan itu.

Soal bagaimana orang lain memandangku

Soal bagaimana orang lain memelukku

Soal bagaimana orang lain mendengarkanku

Soal bagaimana orang lain menatapku

Soal bagaimana orang lain mempedulikanku (yang didasari rasa penasaran kemudian berubah menjadi bodo amat atau bahan gosipan)

Ceritamu sesungguhnya cerita klise, tapi aku menyukai keklisean itu. Aku seperti mendengarkan aku dan menghadapi aku ketika sedang bersamamu. Itu yang aku suka semenjak pertemuan 6 bulan sekali menjadi seminggu sekali atau “hubungi aku ketika kamu butuh”. Mau tahu hal lucu lagi? Aku menganggapmu tidak lebih dari terapisku. Terima kasih atas gelar Sarjana Psikologimu yang membuatku tidak terlalu ingin menganggapmu sebagai temanku dan ini dia lucunya, kamu tidak pernah mengakui bahwa kamu memiliki teman.

Sikap denial-mu itu kamu nyatakan di pertemuan mingguan kita (yang membuatku merasa bahwa kesehatan mentalku benar-benar dalam kondisi kritis, sial!, umpatku berkali-kali dalam hati setiap kita bertemu di pertemuan mingguan itu). Aku tidak terkejut, bukan karena terbiasa, tapi lebih tepatnya karena aku gampang menerima. Itu dia! Rasa itu (yang katamu) harus diatur sebijak mungkin. Sikap gampang menerima itu adalah bagian dari rasa tidak enakan (yang lagi, katamu) membahayakan dan kamu tahu hasil dari rasa itu.

Lagi, hingga detik inipun aku masih menganggapmu sebagai terapisku. Bukan temanku. Kau hanya jadi pendengar bagiku dan orang-orang yang ingin menjadikanmu pendengar mereka yang ulung. Lagipula, (katamu) kamu menyukai hal itu dengan menjadikan cerita mereka sebagai pelajaran hidup. Lalu, (sahutku) kebanyakan teori jadi gak asik, ah! Entah kamu terdiam atau terkikih pada saat itu. Aku tidak memperhatikan.

Dan sebagai pasien yang baik. Terapisku, kamu, akhir-akhir ini suka jogging tiap sore di Gor Sempaja, untuk pengalihan dari mentalmu yang juga terganggu (dan kamu denial seperti biasa). Jarang (atau bahkan tidak pernah lagi) membeli dan meminum Nii Milk Tea karena formula baru mereka membuat rasanya menjadi sangat aneh (aku menyadari itu juga di awal tahun ini. Rasanya berubah, sangat!). Tidak lagi memakan nasi (yang aku juga tidak tahu mengapa dan apa pentingnya memberi tahu itu ke aku yang belum bisa memasak) dan bisa hidup hanya dengan memakan pecel (tanpa nasi tentu saja) yang dijual di Jalan Anggur atau ikan tongkol, sambal terasi, dan sayur bening.

“Aku berani jamin, aku bisa makan itu seumur hidup.” Katamu dengan pedenya padahal hidupmu baru 27 tahun.

Kamu menyukai cuaca mendung, berawan dan berangin, tapi tidak hujan (dan saat itu aku timpali dengan kalimat “aku lebih suka kalau ada matahari kalau lagi banyak cucian.”). Beberapa tempat yang kamu suka (atau lebih tepatnya nyaman untuk kamu kunjungi) adalah Satu Kata, Voorvo, dan Sebelas. Fun fact, beruntungnya aku selalu memperhatikan story IG-mu. Sehingga aku selalu mampu untuk menghindari pertemuan kita diluar jadwal terapi. Fuck fact, aku jadi mengetahui rutinitasmu dan templatemu yang sudah mulai kuhapal mati (apa untungnya?).

Jadi setelah membaca beberapa paragraf tulisan ini. Sebenarnya kesimpulannya hanya satu. Sembuh.

dan segala semoga untuk kesembuhan dan ketidakkambuhan kita.

Salam dariku untuk Alivia Syifa Arini,

aku menyayangi terapisku yang adalah sahabatmu.

Komentar

  1. Selalu berpikir sembuh, padahl mati rasa sepertinya sekarang lebih nikmat dari pada kesembuhan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer