Kasur
Ada sedikit cahaya yang muncul dari balik pintu kamar mandi yang mengganggu malamnya. Dengan malas, perempuan itu bangkit dari tempat tidur yang besar itu, lantas merapatkan pintu kamar mandi yang memunculkan cahaya lampu dari dalam. Kamar itu telah gelap, namun perempuan itu masih bisa melihat ke atas kasur seolah-olah ada cahaya yang membantunya untuk melihat. Lelaki itu masih ada di sana, menyambutnya dengan sedikit paksaan. Setelah perempuan itu berada di atas kasur, tidak ada kehangatan kulit yang ia rasakan. Hanya dingin dari kain yang sedari tadi didinginkan oleh AC kamar hotel. Tidak ada siapapun di atasnya.
Perempuan yang menamai dirinya Ansa
itu mendengus pelan ketika tersadar ada cahaya yang mengganggu matanya yang
terpejam. Sebelum tidur semalam, ia yakin seluruh lampu kamar telah ia matikan
dan horden kamar telah ia tutup rapat. Cahaya yang mengganggu itu bukan muncul
dari lampu atau matahari pagi, tapi dari layar ponsel yang sedang dimainkan
oleh lelaki disampingnya.
Ansa memperhatian punggung lelaki
tanpa baju itu, meski ada selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, mata Ansa
masih bisa melihat lebar punggung lelaki itu dengan jelas. Perempuan itu sudah
tersadar dari tidurnya, namun tidak sedikitpun bergerak seolah-olah masih
terlelap. Ia hanya memperhatikan jari lelaki di hadapannya yang masih memainkan
layar ponselnya, mengetik sesuatu, membalas pesan seseorang. Tiba-tiba lelaki
itu menaruh ponselnya di samping bantal dan berbalik menghadap Ansa. Perempuan
itu memejamkan mata seketika, berpura-pura lelap. Tidak juga lelaki itu
menyentuhnya, tidak juga menggesekkan kulitnya ke tubuh Ansa.
Ansa menduga, ada masalah, namun ia
lebih baik berpura-pura daripada harus turut andil dalam masalah lelaki yang ia
sayangi itu. Berat rasanya untuk terlibat mengingat posisi Ansa yang hadir
sebagai bom waktu dalam kehidupanya. Perempuan itu berada di posisi salah namun
ia tidak bisa menampikkan betapa hidupnya menjadi penuh cerita bersama lelaki
itu.
Ansa memutuskan untuk membuka
matanya secara perlahan, mencoba sadar secara penuh atas ekspektasi yang
mengganggu pikirannya. Perempuan itu tidak menemukan siapapun, tidak ada bahu
yang lebar dari lelaki yang ia sayangi. Ansa mencoba meraih sesuatu yang tidak
pasti di depannya hingga akhirnya tangannya merasakan kulit yang hangat dengan
pancar dingin dari pendingin kamar. Seketika sosok lelaki yang sedari tadi ada
di pikirannya muncul dan menoleh padanya, tanpa ucapan dan sentuhan apa pun,
seperti yang Ansa pikirkan ketika terpejam. Tidak ada apa pun, hanya wajah
lelaki dengan penuh kalut di hadapannya.
Masalah itu mungkin akan mengganggu
hari ini, hari Ansa bersama lelaki yang telah meranumkannya dengan sangat baik.
Tanpa basa-basi yang berlebihan, lelaki itu tinggalkan kasur mereka dan
menghilang masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan keluar dengan
sangat rapi. Ansa bergelut malas di atas kasur dan memejamkan matanya sekali
lagi. Berharap semua hanya mimpi,
namun ketika ia membuka mata, ia kembali menghilangkan sosok berpunggung besar
itu. Cahaya matahari mencuri masuk dari balik horden kamar dan akhirnya Ansa
bangun, duduk di tepi kasur dan melihat kembali ke kasur. Mengingat-ingat mimpi
apa saja yang sudah ia lalui di atas kasur yang berganti-ganti dan tak pernah
pasti.
Ansa bangkit dan membersihkan
tubuhnya, mengganti pakaian dan kembali duduk di tepi kasur. Di depannya
terdapat kursi sofa yang sudah menghadapnya. Ansa menunduk sejenak, menggenggam
kedua tangannya sendiri. Ketika ia menengadah, ia melihat seseorang dengan
wajah paling menyebalkan dalam hidupnya namun selalu ia rindukan. Sosok di
depannya bercerita hal-hal tidak jelas, namun Ansa suka. Beberapa pertanyaan
menyudutkan yang tidak bisa Ansa sanggah. Lelaki yang duduk di seberang kasur
itu adalah seorang psikolog, satu-satunya manusia yang mampu mengendalikan ego,
emosi dan kejiwaan Ansa.
Ansa membenci pertemuan ini, karena
secara tidak langsung, pertemuan mereka menandakan bahwa dia tidak baik-baik
saja. Sedang lelaki itu mendengarkan Ansa dan meluruskan ceritanya, Ansa hanya
berharap lelaki yang ia gelari dengan sebutan “psikolog” itu yang akan menjadi
bagian hidupnya hingga ia mati. Lelaki yang selalu minum shakerato
setiap mereka bertemu itu Ansa harapkan akan menjadi lelaki yang ia buatkan shakerato
tiap hari. Bahkan ketika Ansa mengenali rutinitas wajib psikolognya, perempuan
itu jadi sangat menyukai shakerato. Lelaki itu mencintai perempuannya,
perempuan yang sudah tenang di alam yang belum bisa Ansa gapai. Alam yang
sangat Ansa raih tapi Tuhan masih belum izinkan Ansa untuk sampai ke Alam itu.
Padahal malam sebelumnya, Ansa yakin
bahwa hingga pukul dua malam, kasur ini berantakan dengan tenang. Tidak
tergesa-gesa meski dikejar waktu yang semakin malam. Lelaki itu hanya
menumpang, Ansa tahu jelas. Lelaki yang hanya hadir di kesempatan-kesempatan
yang dapat lelaki raih untuk sekedar menikmati tubuh Ansa. Padahal, bukan hal
itu yang Ansa inginkan dari lelaki. Ansa hanya ingin merasakan perasaan yang
telah mati bertahun-tahun lamanya.
Sayang.
Cinta.
Ketinggian, kan? Tapi hanya itu yang
ingin Ansa hidupkan kembali meski caranya harus berada di atas kasur dan saling
menggesekkan kulit yang hangat menjadi panas. Jika dibandingkan dengan lelaki
yang memainkan ponselnya ketika pagi datang, lelaki semalam tidak ada
apa-apanya. Dengan lelaki yang memainkan ponsel, Ansa benar-benar merasa
hidupnya berguna untuk segala aspek dan Ansa menyukai hal itu hingga berani
menyatakan bahwa ia takut kehilangan.
Ansa membutuhkan lelaki yang
memainkan ponsel itu, karena Ansa mencintainya.
Namun, dalam waktu-waktu yang
singkat, Ansa sadar hanya di atas kasur ia bisa mewujudkan hal-hal yang selama
ini ia mimpikan tanpa tidur sepenuhnya. Tapi ia muak dengan segala mimpi-mimpi
yang tidak pernah abadi dan terwujud dengan baik di dunianya. Hanya perasaan
yang ingin dia dapatkan namun hal itu hanya sampai ke angannya saja.
Ansa membalutkan tubuhnya di atas
kasur dengan selimut tebal yang entah telah menutupi berapa tubuh, ia
membenamkan wajahnya di bawah bantal. Berdoa sebelum ia tertidur panjang.
Semoga ia merasakan perasaan sayang yang tulus dari lelakinya.
***
Beberapa mobil polisi dan ambulans
berada di depan hotel yang ternama. Dikabarkan seorang wanita tertidur panjang
dan tidak dapat bangun kembali dalam keadaan lemas. Tidak ada satupun bekas
makanan dan minuman, diduga perempuan itu sengaja tidak mengkonsumsi apapun
hingga ia lemas. Badannya basah dan matanya sembab parah, keningnya memar dan
ada bekas hantaman di kamar mandi yang basah seperti baru digunakan.
Self-injury yang dilakukan
perempuan ini dengan sangat rapi dan cantik, bahkan yang menemukan tubuhnya pun
mengaku bahwa dia adalah mayat tercantik yang pernah ia lihat di berita selama
ini. Ia seperti tertidur namun sebelum tidur dengan lelap, perempuan ini
menyakiti dirinya tanpa ia sadari.
Ansa berdiri di depan pintu yang
telah bergaris polisi, ia melihat lelakinya membatu melihat mayat perempuan
itu. Ansa terheran-heran, mengapa lelakinya sebegitu membatunya tanpa ekspresi
apapun. Namun Ansa tahu, dari dalam diri lelakinya, ia hancur berkeping-keping.
Ansa masih terpaku dengan wajah lelakinya hingga mayat perempuan itu lalu di
hadapannya ketika dibawa petugas untuk diamankan. Terbuka kain di bagian
wajahnya dan Ansa melihat wajah perempuan itu.
Ansa akui, wajah mayit itu begitu
cantik seperti tertidur. Ah, ia sudah bermimpi indah. Sekilas Ansa
menatap ke sebuah cermin yang ada di lorong hotel, terpana sejenak, dan
tiba-tiba mengejar mayat perempuan itu dan melihat wajahnya. Lelakinya terus
mengikuti kemana mayat itu dibawa bahkan hingga di mayat itu dikuburkan. Ansa
memperhatikan lelakinya dengan baik, yang bahkan Ansa tidak tahu bagaimana bisa
ia selalu ada di sisi lelaki itu tanpa harus ada di atas kasur.
8 tahun berlalu semenjak kejadian
itu, seorang lelaki berpunggung besar mengunjungi sebuah kuburan yang
didalamnya terbaring mayat perempuan cantik itu, Ansa ada disana menyaksikan.
Tidak jauh dari lelaki itu, seorang anak kecil perempuan berlari dan memanggil
lelaki berpunggung besar itu dengan sebutan “ayah”. Tidak lama, setelah seorang
perempuan mengelus punggung lelaki itu, punggung yang Ansa lihat ketika lelaki
itu memainkan ponselnya ketika bangun tidur, lantas kembali sambil menggendong
anaknya.
Beberapa jam kemudian, seorang
lelaki datang dengan seikat bunga yang Ansa tidak tahu untuk apa. Bunga itu
bukan jenis bunga yang Ansa sukai tapi kenapa ia peduli? Bukankah bunga itu
bukan untuknya? Lelaki itu duduk di samping makam perempuan cantik itu, dan
menaruh bunga itu diatasnya. Menengadah tangan, berdoa panjang untuk perempuan
itu. Kemudian mengusap nisan dan bergumam meminta maaf. Tidak jauh darinya,
Ansa melihat seorang perempuan menunggu lelaki itu selesai mengunjungi makam.
Tidak berselang lama, lelaki itu pergi dan mendatangi perempuan yang
menunggunya. Ansa dapat melihat dengan jelas gerutu perempuan itu, seolah-olah
perempuan itu tidak suka lelakinya mendatangi makam itu dan memang seperti itu
faktanya.
Menjelang senja, di waktu yang
sangat Ansa suka. Seorang lelaki datang dengan pakaian yang gayanya Ansa ingat.
Membawa segelas shakerato dan menaruh kopinya di atas batur.
“Makanya, jangan ketiduran. Jadi gak
bisa minum shakerato lagi kan kamu?” katanya seperti menyapa seseorang
padahal ia berbicara dengan batur nisan. Lelaki itu bercerita banyak tentang
hidupnya yang telah terjadi setahun belakangan ini. Ansa memperhatikan dan ikut
mendengar. Tentang kaktus-kaktusnya, perangko yang ia miliki semakin banyak,
organisasinya, pekerjaannya dan tentu saja kegiatan lari yang selalu ia lakukan
setiap sore. Bahkan ia mendatangi makam itu tepat setelah ia lari sejauh 12,8
kilometer. Lelaki itu bercerita sambil menyeruput kopinya. Hingga tersisa
sedikit, lelaki itu kemudian menumpahkannya ke tanah di dalam batur.
“Lain kali kalau mau tidur,
bilang-bilang ya. Biar aku bisa temani kamu dari kamu tertidur hingga kamu
bangun kembali. Hingga sekarang, aku masih membuat kopi untuk diriku sendiri.
Tidak ada yang bisa menemani obrolan kopiku selain kamu” Ucap lelaki itu masih
duduk bersantai di samping batur. Hari mulai menggelap dan lelaki itu bersiap
meninggalkan makam itu. Kemudian, ia tundukkan kepalanya hingga keningnya
menyentuh nisan dengan lembut seraya berbisik. Bisikan yang Ansa bisa dengar
dengan sangat jelas.
Komentar
Posting Komentar