Kau Matahari dan Pelangiku


Kulihat jam ditanganku menunjukan pukul 1 siang.Saat itu aku juga menunggu Rianiy didepan rumahnya.Ini cewek kok lama banget ! kulitku bisa gosong nunggu dia disini ! kesalku dalam hati. Sepertinya Tuhan mendengar kekesalanku karna setelah menggerutu tadi Rianiy telah keluar dari rumah dan menghampiriku yang berada di luar pagar.
                “Sudah lama ?” tanyanya padaku
                “Lumayan sampai membuat kulitku gosong” kataku sambil menunjuk lenganku yang agak menghitam
                “Hahaha maaf ya say” katanya sambil mengusap lenganku.Aku hanya mengangguk iya padanya.
                “Sudahlah cepat, hari semakin panas” kataku sambil menggunnakan helm.
Ia mengangguk dan menaiki motorku.Aku menyalakan motorku dan segera menuju Taman tepian tempat komunitasku berkumpul.Tak lama aku dan Rianiy telah tiba di Taman.Aku memperhatikan sekelilingku seraya mencari Dzaki dan Irfan dan akhirnya aku menagkap dua orng yang aku cari tadi, ternyata mereka berada di gazebo yang berada tepat di pinggir sungai.Aku dan Rianiy segera menghampiri mereka dan melihat Irfan yang sedang memainkan laptopnya sedangkan Dzaki sedang membersihkan kamera.Mereka menyadari kedatanganku dan Rianiy.
                “Sudah lama?” tanyaku pada mereka.
                “sempat memfoto seratus lima belas foto” kata Irfan sambil memperlihatkan hasil foto kepadaku dan Rianiy.
                “Intinya satu jam sudah kami disini” kata Dzaki melanjutkan dengan nada yang cukup tinggi.
                “Maaf yaa” jawab Rianiy kali ini memotong ucapanku yang ingin lebih dulu meminta maaf.
                “Yah , mau gimana lagi.Rianiy kalo dandan kan lama” kata Irfan padaku dan Rianiy.Rianiy memukul pundak Irfan.Sebenarnya saat melihat keakraban mereka, rasa cemburu ada di dalam hatiku tapi mereka satu keluarga.Aku pikir itu adalah hal yang biasa.
                “Fan, gak jemput Tania ?” tanyaku pada Irfan.Sedangkan Rianiy memandangku tajam dengan mata indahnya.Aku segera menenangkan Rianiy.
                “Katanya lagi sibuk ngerjakan Skripsi” jawab irfan sambil kembali memandang laptopnya.Aku hanya mengangguk dan segera mengeluarkan kameraku dari dalam tas jinjing.Aku meminta Rianiy untuk menjadi model Huntingku seperti  biasa dan iapun mengangguk.Aku akhirnya memfoto Rianiy yang cantik dan anggun itu.Setelah mengambil beberapa foto,aku segera mengeluarkan laptopku dan menekan tombol “on” pada laptopku.Rianiy kini berada disampingku yang tengah duduk di pinggir sungai.
                “mau kamu apakan fotoku, say?” tanya Rianiy padaku.
Aku hanya tersenyum penuh arti padanya.Rianiy bingung melihat tingkahku.Setelah laptopku on sepenuhnya aku langusung memasukkan memory camera lalu mengambil foto kekasihku,Rianiy.Setelah itu aku membuka PhotoScape dan mengeditnya dengan menambahkan beberapa efek pada foto tersebut.Setelah ku save foto itu,aku langusungg membuka aplikasi Microsoft Publisher.Lalu memilih Greeting Cards dengan tema Miss You.Setelah itu aku memesukkan foto Rianiy di Greeting Cards dan jadilah Greeting Cards tanda Rinduku selalu pada Rianiy.Rianiy yang melihat itu langsung tersenyum manis padaku.Aku menatapnya dan menggemggam erat tangannya.Aku berjanji tidak akan melepaskannya begitu saja dan akan mencintainya untuk selamanya.
                Tiba-tiba, tetesan air jatuh dari langit.Semakin lama tetesan air itu turun dengan derasnya.Aku segera menutup Laptopku dan menaruhnya ke dalam tas.Lalu aku mengenggam tangan Rianiy dan mendatangi Dzaki dan Irfan di Gazebo yang lebih dulu berteduh.Hujan akhirnya turun di bumi Etam.Setelah itu  angin dingin mulai menerpa ditemani dengan hujan yang semkin menjadi.Aku melihat ke arah Rianiy yang menggigil kedinginan.Saat melihat Rianiy seketika aku melepas jaketku dan menaruhnya di tubuh Rianiy.Rianiy yang sadar langusung menoleh kepadaku.Aku menatapnya dan hanya tersenyum.Ia yang ingin menolak hal itu tapi aku melerainya.
                “Aku gak papa kok, kamu aja yang pakai jaket ini” kataku pada Rianiy.Rianiy menatapku dengan menggeleng kecil padaku.Tapi aku tetap memaksanya.Aku mengkhawatirkan keadaannya.Aku tak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada Rianiy.Aku menyayanginya setulus hatiku.Aku akan selalu menjaganya siang dan malam.
                Aku yang tengah menunggu hujan reda sambil merangkul tubuh Rianiy dipundakku.Berusaha membuatnya hangat didekatku.Kubelai lembut rambutnya dan iapun semekin dalam berada dalam rangkulanku.Tiba-tiba ia menatapku.
                “Deni” kata Rianiy.
                “Ya, kenapa sayang?” tanyaku pada Rianiy.
                “maukah kau berjanji untuk terus mencintaiku tanpa ada rahasia antara kita, tanpa ada pengkhianatan, dan tanpa ada yang tersakiti?” pintanya padaku.
Aku terdiam beberapa saat tepat saat hujan mulai berhenti dan mentari mulai menyinari.Dan pada saat itulah pelangi turun ke Bumi.Akupun dengan tulus menjawab janjinya.
                “tentu sayang.Aku berjanji kan mencintaimu tanpa ada rahasia, pengkhianatan, dan tanpa ada yang tersakiti.Tapi apakah kau juga mau berjanji padaku?”
                “Apa itu say?”
                “Maukah kau menjadi Matahari yang selalu menerangi hatiku tanpa henti seperti Matahari menerangi bumi dan menjadi Pelangi yang mewarnai hidupku seperti pelangi yang mewarnai langit di bumi?”
                “Aku akan menjadi Matahari dan Pelangimu sayang” kata Rianiy tulus.Aku tersenyum padanya iapun membalas senyumku dan entah apa yang dipikirkan olehku.Aku mengecup kuningnya, iapun semakin dalam merangkulku.Ditengah Kisah cintaku berlangusng diatas Matahari dan Pelangi tiba-tiba saja aku dan Rianiy dikejutkan dengan sebuah teriakan.
                “WOY ! JANGAN MESRA-MESRAAN DISINI ! GUE JADI SANGKAL TAU !!” teriak yang tak lain adalah Dzaki yang selalu kesal jika melihat orang sedang bermesraan.Irfan hanya menertawakan sikapnya, begitu juga aku dan Rianiy.

Komentar

Postingan Populer