Menatapmu dari Layar Terang
Ini malam yang terlalu sunyi untuk
sendiri. Menjadi rutinitas setiap malam jika kita akan video call setiap
jam 10 malam hingga aku tertidur atau kamu yang tertidur duluan. Biasanya tak
lama kau akan menyusul untuk segera mengistirahatkan tubuhmu dalam balutan
mimpi, hingga akhirnya video call mengakhiri dirinya sendiri.
Tapi malam ini berbeda, kau tidur lebih
dulu dari aku. Setelah beberapa hari ini kau bolak-balik Rumah Sakit untuk check
up atau sekedar meminta rujukan dokter menjelang oprasi tulangmu yang
patah. Aku tau rasa lelahmu, rasa sakitmu yang kau tahan jika didepanku. Ingin
rasanya aku minta pada Tuhan untuk membagi separuh penyakitmu padaku sekedar
agar kau tak menderita karna sakitmu.
Menatapmu dari layar terang, betapa
sedihnya hatiku ketika aku berfikir dan selalu berfikir apa gunaku dalam
hidupmu. Sudahkah aku membahagiakanmu? Setidaknya ada untukmu ketika kau
membutuhkan aku? Apakah aku sudah menemanimu ketika kau sakit? Mendukungmu
ketika kau jatuh? merawatmu ketika kau terluka? Menjadi sahabat yang setia
padamu? Melebihi siapapun yang ada disampingmu kecuali keluargamu? Apa gunanya
aku dalam hidupmu?
Menatapmu dari layar terang, kau
membelakangiku malam ini seolah-olah tak ingin melihat wajahku. Kau selalu
bilng "Aku gak papa." padahal aku tau itu tandanya kau kenapa-kenapa.
Terlalu banyak rahasia yang masing-masing kita sembunyikan. Seolah-olah tak
saling percaya satu sama lain. Dua bulan memang bukan waktu yang singkat, tapi
kenapa tidak pernah kita mencoba untuk saling percaya?
Menatapmu dari layar terang, hal yang tak
pernah aku pikirkan selama ini adalah kenapa aku begitu takut kehilanganmu?
Apakah kau sudah pasti menjadi teman hidupku hingga akhir hayatku? Apakah kau
tidak akan melukai hati ini seperti yang lain? Apakah kau benar-benar bersedia
untuk selalu berada disampingku? Kau susah, akupun susah. Kau senang, akupun
senang. Kau duka, akupun duka. Kau bahagia, akupun bahagia. Kau bertarung,
akupun ikut bertarung. Dan jika suatu saat nanti kau mati, akupun ikut mati
bersamamu. Pertanyaannya, apakah kau akan melakukan hal yang sama padaku?
Menatapmu dari layar terang, kali ini kau
tampak gelisah. Aku bukan seorang anak Indigo yang bisa begitu saja melihat
mimpimu. Jikalau aku Indigo, apakah kau takkan marah jika aku menerobos masuk
ke dalam mimpimu? Bisakah aku merubah mimpi burukmu menjadi indah untukmu?
Melepas jiwa dari ragaku, pergi menuju rumahmu, lalu dalam diam aku membelaimu
dalam tidurmu. Apakah aku bisa melakukan hal itu? Tidak. Sedangkan itu yang
selalu aku harapkan. Bukan hanya sekedar jiwa yang membelaimu ketika tidur,
tapi juga ragaku yang berada disampingmu. Apa harapanku terlalu tinggi?
Menatapmu dari layar terang, bagiku kau
sempurna. Rambut, wajah, dan seluruh ragamu. Ingin aku melindungimu, berada
disampingmu walau sebentar saja ketika kau tidur. Meletakkan kepalamu diatas
pangkuanku hingga kau tertidur pulas dan bermimpi indah. Membiarkan tanganmu
menggenggam tangan kiriku diatas dadamu dan kuusap keningmu dengan dengan
tangan kananku. Membiarkan dan membiarkanmu damai dalam istirahat setiap
malammu. Bahkan aku berharap, ketika kau terbangun, kau tak ingin mengangkat
kepalamu dari pangkuanku. Membiarkan rasa nyaman itu melekat pada tubuhmu.
Sedangkan matamu menatap lembut mataku yang kelewat panda karna begadang
menjagamu.
Menatapmu dari layar terang, menimbulkan
sebuah kisah dan harapan. Menciptakan sebongkah rasa bahagia dan ketakutan yang
menjadi satu. Aku bersyukur kepada Tuhan, terima kasih atas cinta yang telah
menyatukan kami dalam perbedaan. Terima kasih atas kebahagiaan untuk saling
melengkapi dalam sementara ini. Dan terima kasih karna telah menciptakan rasa
takut untuk kehilangan diriMu dan dia. Yang tengah tertidur dibalik layar
terang.
Line Video Call,
23:24 WITA,
Samarinda, 29 Juni 2015.
Komentar
Posting Komentar