Untuk Perbedaan yang Indah
Untuk perempuan berjilbab yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku sedih. Saat aku membuka Alkitab, teringat kamu membaca Al-Quran.
Saat aku berjalan menuju Gereja, tujuanmu menuju adalah Masjid.
Saat aku memakai kalung Salib, engkau menggenggam Tasbih.
Saat aku menyanyikan Pujian, kamu justru melantunkan Shalawat.
Saat kita harus berjarak hanya karena perbedaan agama. Aku sedih, karena kita berjarak walau kenyataan kita dekat.
Aku sedih, saat semua orang menggunjing perbedaan kita.
Mengapa? Mengapa Tuhan menyatukan kita jika sebenarnya kita hanya untuk dipisahkan?
Mengapa? Mengapa Tuhan menyatukan kita jika sebenarnya kita hanya untuk dipisahkan?
Orang lain menatap kita seolah-olah ingin berkata bahwa kita telah salah menjalani hubungan yang lebih dari sebatas teman. Aku juga tahu kalau berpacaran dengan orang yang beragama Islam tidak ada ajurannya, dan aku cukup paham bahwa kamu tidak bisa menikahi pria yang berbeda keyakinan. Lantas, apa salahnya kita bersama untuk sementara ini? Kadang aku benci orang-orang yang memandang hubungan kita dengan sebelah mata. Aku tidak ingin keluar dari agama megahku. Aku tak ingin mengambil keputusan yang seharusnya tak ku ambil. aku tak bisa mengorbankan Yesus-ku demi duniaku. Aku tak bisa mengingkari janjiku. Aku tak bisa jauh dari Tuhanku dan Gerejaku. Aku tidak akan terbiasa jika hidup tanpa semua itu. Namun ketahuilah, kamu adalah hal terindah dari semua yang terindah. Dan kamu akan tetap menjadi yang terindah diantara yang terindah.
Tuhanmu menciptakan engkau sangatlah indah. Sekarang bila aku jatuh cinta, bilaku terlanjur sayang, apalah dayaku? Apakah Tuhanmu akan marah jika aku menyayangi dan mencintaimu? Bisa tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umatNya, mencintai hambaNya?
Untuk lelaki yang kutemui saat kau hendak Ibadah.
Sama halnya dengan diriku. Aku lara saat aku hendak membaca Al-Quran, namun teringat kau yang sedang membaca Alkitab.
Saat aku hendak mengambil wudhu untuk sholat Magrib, terbayang kau yang sedang Ibadah Sore di Gereja.
Saat aku berdzikir dengan tasbih, engkau menggenggam kalung salib.
Saat aku bershalawat, kamu justru menyanyikan pujian-pujian.
Dan sungguh, aku tak pernah mengira bahwa kau hadir dalam hidupku dalam kasih sayang dan cinta. Kita hidup dengan toleransi tanpa kekerasan. Itu sangat indah.
Selalu teringat ketika kau menegurku jika aku malas sholat dan meminta izin untuk bersabar menunggumu selesai ibadah. Aku sangat menghargai semua itu
Allah tidak menciptakan kita untuk disatukan lalu dipisahkan. Sadarkah kau jika kita sedang diuji oleh cinta. Terkadang kita harus sadar bahwa ini pilihan kita berdua. Namun Allah selalu mengawasi dan menegur jika kita sudah kelewat batas.
Tahukah kamu? Aku tidak peduli terhadap apa kata orang tentang kita. Mereka hanya tidak tau rasanya terjebak dalam kasih sayang walau dalam perbedaan.
Tak ada salahnya kita bersama untuk sementara ini. Akupun kadang membenci orang-orang yang memandang hubungan kita dengan sebelah mata. Namun sekali lagi kukatakan, mereka hanya tidak tau rasanya.
Sama halnya dengan dirimu, aku tak bisa meninggalkan Allah SWT. dan Nabi Muhammad SAW. Aku tak bisa mengorbankan Allah SWT. demi keegoisanku dalam cinta sesama manusia. Akupun tak bisa mengingkari syahadat yang telah bunda lafadzkan sejak aku dalam kandungannya. Aku tak bisa jauh dari Allah, Rosul, Al-Qur'an, dan Ka'bah sebagai kiblatku. Aku bahkan tidak bisa hidup tanpa semua itu.
Aku tak pernah sedikitpun memaksamu untuk meninggalkan Tuhanmu, demi aku.
Namun satu hal yang harus kamu tau, aku sangat takut kehilanganmu. Kau bagiku adalah keindahan yang Allah berikan padaku. Entah sampai kapan, namun aku akan selalu menjagamu agar kau tak hilang dari hidupku.
Allah tidak pernah melarang hambaNya untuk bergaul kepada siapapun. Namun sama halnya seperti dirimu, agamamu, selalu ada batasan agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Namun, apakah kau pernah berpikir, bagaimana Tuhanmu mengizinkan kau untuk mencintai aku? Bagaimana Tuhanmu mengizinkan kau menyebut namaku didalam genggaman doamu? Apakau kau tak pernah berpikir apakah Tuhanmu cemburu ketika dalam kalimat pujian yang kau lantunkan, kau malah teringat aku dalam sujudku pada Allah?
Setidaknya selagi kita punya waktu, selagi Tuhan kita masing-masing memberikan kita sedikit waktu untuk bersama, kita jalani sampai Tuhan menarik diri kita masing-masing.
Komentar
Posting Komentar