Notasi Hidup

Perempuan itu memarkirkan motornya. Ia tak ingin melihat jam pagi itu. Setengah berlari, sambil menyapa Pak Satpam yang selalu stay di atas salah satu motor yang terparkir, ia melesat ke Laboratorium Musik Kampus Fakultas Ilmu Budaya. Ia mengetuk pintu, lalu membukanya pelan, tak ada orang disana. Ia harus mengembalikan jimbe yang kemarin ia pinjam untuk mengisi acara.
            Orang-orang selalu memandang sebelah mata jurusan yang tengah Aria jalani. Etnomusikologi, jurusan yang masih sangat baru di Universitas Mulawarman. Sekarang saja baru memiliki dua angkatan, 2014 dan 2015. Aria sendiri berada di angkatan 2015 bersama sepuluh mahasiswa Etnomusikologi lainnya. Ya, di Semester 2 ini mereka hanya bersebelas, itupun sebagian besar adalah “Mahasiswa Pelarian” yang tidak lulus di jurusan idaman. Aria salah satunya, ia benar-benar tidak menyangka harus berada di jurusan yang selalu mempelajari tentang musik tradisional.
“Aria! Jangan melamun!” teriakan itu mengejutkan Aria.
            Chris, salah seorang temannya di Etnomusikologi. Satu angkatan, namun Chris jauh lebih menguasai mata kuliah dibanding Aria. Laki-laki gondrong itu sangat tidak terlihat seperti pemusik, malah terlihat seperti sastrawan. Tapi, berikan saja dia salah satu alat musik, ia akan memainkannya sehingga membuat anak jurusan sebelah rela menguping dari luar Lab.
            “Aku sedang memikirkan SBMPTN,” jelas Aria sambil menaruh jimbe ke tempat asalnya.
            “Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri? Kau mau pindah jurusan?” tanya Chris terkejut.
            Aria menghela nafas. “Aku ingin kuliah di Sastra,”
            Chris hanya diam, tangannya sibuk mengeluarkan gitar dari sarungnya. Setelah itu, ia duduk lesehan dan memangku gitar, siap memainkan lagu. Aria mengerutkan alisnya, ia berjalan ke arah piano, membuka penutupnya dan menempatkan jari di atas tuts. Saat petikan Chris terdengar, Aria langsung mengiringi permainannya. Lembut namun menggebu-gebu.
            “Oke, besok kita tampil akustik. Musik tradisional biar seniornya saja yang main,” kata Chris setelah mereke selesai memainkan sebuah lagu.
            “Maksudmu?” tanya Aria.
            Chris tidak menjawab, namun tangannya mengambil sebuah surat dari dalam tas dan memberikannya kepada Aria. “Baca saja,”
            Aria menerima surat itu, lalu membacanya. Mata perempuan itu menyipit, setelah itu mendengus kesal. "Baru kemarin kita mengisi acara. Sekarang diminta lagi?”
            “Jangan salahkan aku. Ini adalah salah satu keuntungan kita,” kata Chris tanpa menatap Aria. “Dengar, Aria. Awalnya aku sama sepertimu. Ragu karena telah memilih jurusan ini. Aku berpikir bahwa, lulusan Etnomusikologi mau jadi apa? Tapi setelah aku menjalani semua ini, aku mendapatkan hal yang luar biasa. Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun,”
            Aria memiringkan kepalanya, “Apa?”
            “Kita sudah dapat penghasilan hanya dari bermain musik,” jelas Chris kembali. “Jika uang bukan segalanya bagimu, maka kau bisa lihat dari sisi hatimu.” Chris mengakhiri pembicaraannya. Lelaki itu bergegas merapikan gitarnya dan keluar dari Laboratorium Musik.
            “Sial! Chris selalu menggantung perkatannya.” Umpat Aria setelah Chris meninggalkannya.
            Lihat dari sisi hatimu. Kalimat itu terus terngiang-ngiang dibenaknya. Musik dan hati memang bisa bersatu, tapi... Aria merebahkan kepalanya diatas tuts piano yang langsung mengeluarkan nada tidak beraturan.
***
            Aria, Chris, dan beberapa kakak tingkat dari Etnomusikologi tengah berada di Auditorium Unmul. Aria dan Chris telah tampil mengisi hiburan di pembukaan acara, sebentar lagi penampilan dari senior mereka. Mereka berdua duduk di teras Audit, tepat di samping gedung. Chris memainkan gitarnya pelan, Aria sibuk membaca soal-soal latihan SBMPTN.
            “Lelahnya harus ujian lagi,” kata Aria sambil menutup bukunya.
            “Ya, kalau begitu tidak usah pindah jurusan. Kau ini labil sekali,” Chris menjawabnya.
            “Etnomusikologi bukan idamanku. Aku lulus masuk Etno juga mungkin karena keberuntungan,” jelas Aria.
            Lelaki yang menjadi lawan bicaranya hanya diam. Lalu memamerkan senyum sinis yang jelas tak bersahabat. “Kau tau, Aria? Kamu itu bodoh. Bagaimana bisa kau meninggalkan suatu keberuntungan yang sudah kau jalani selama dua semester ini?” Chris menghentikan kalimatnya tepat saat permainan senior mereka selesai. Chris masuk ke dalam Audit dan membantu seniornya merapikan alat musik untuk dikembalikan ke kampus.
            Aria lagi-lagi hanya bisa mengumpat.
***
            Ujian SBMPTN sudah dilaksanakan empat minggu yang lalu. Tepat hari ini akan diumumkan peserta yang lulus SBMPTN. Aria tengah berada di kampus sore itu, bersama teman-teman pemusik yang selalu menghabiskan waktu di kampus. Berkumpul, mengobrol, memainkan alat musik, semuanya menjadi kesenangan yang dilakukan mereka hampir setiap hari.
            “Aku lulus di Sastra Inggris!” teriak Aria dengan senyum sumringah saat melihat pengumuman SBMPTN dari ponselnya.
            “Syukur lah. Bisa masuk jurusan idamanmu juga akhirnya. Kami yang juga pelarian bisa apa? Hanya bisa menjalani apa yang sudah dijalani,” kata salah seorang temannya.
            Aria mengangguk, ia ingin membagi kebahagiaannya bersama Chris. Namun lelaki itu tidak datang di hari terakhir kebersamaan mereka.
***
            Aria kembali ke Semester 1 dengan status Mahasiswi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya. Sayangnya, ia tidak bisa mengikuti perkuliahan dengan lancar. Grammar dan Pronuntiation-nya tidak sehebat di bangku sekolah. Setahun di Etnomusikologi telah membuatnya lebih mengingat notasi dan ketukan nada. Aria benar-benar kewalahan.
Tahun ini Malam Budaya kembali diselenggarakan, Aria datang hanya sebagai penonton. Tahun lalu, ia pasti mengisi acara ini bersama teman-temannya di jurusan Etnomusikologi. Diam-diam ia merindukan itu. Ia melihat Chris di samping panggung. Tanpa berpikir panjang, Aria menghampirinya.
“Anak Sastra Inggris ngapain kesini?” tanya Chris ketus setelah melihat Aria menghampiri mereka. Teman-temannya yang lain hanya terdiam.
“Tak bolehkah aku mendatangimu?” tanya Aria. “Kau tau? Aku merindukan masa-masa kita tampil bersama mengisi musik di setiap acara,”
“Lalu kenapa kau meninggalkan kami? Meninggalkan Etnomusikologi? Kau tanpa sadar telah mencintai jurusan ini. Bukan! Bukan jurusan ini, tapi hidup yang kau jalani sebagai pemusik. Aku tak peduli bagaimana bisa kau meninggalkan apa yang sebenarnya kau cintai. Kau terlalu munafik untuk mengakui bahwa kau mencintai ilmu yang kau dapat dari Etnomusikologi, teman-teman yang selalu ada dihari-harimu, musik yang selalu mengisi waktumu,” celoteh Chris panjang lebar.
Teman-temannya masih terdiam, namun ekspresi mereka mengiyakan apa yang Chris katakan. Aria hanya terdiam di tempat.
“Setelah apa yang kau pilih, apa kau bahagia? Kau malah terlihat seperti ‘Mahasiswa Pelarian’ di Sastra daripada di Etnomusikologi kemarin.”
Kalimat terakhir Chris membuat hati Aria terkoyak. Ia menyadari kebodohannya. Ia seharusnya menjalani apa yang sudah Tuhan pilihkan, bukan memaksa pilihannya. Lalu ia mengingat kata-kata ibunya.
Kau tau? Aria berarti Musik yang lembut.

Komentar

Postingan Populer