Aku di Selasar Hatimu
Ini adalah hari
Selasa dan aku selalu berusaha untuk melupakannya. Namun hari ini ada reka
ulang dari kejadian empat minggu yang lalu. Bedanya, kita canggung dan tak akan
sanggup untuk mereka ulang semua itu. Akan ada perubahan skenario hari ini.
Tidak semua, tapi akan merubah keadaan yang tidak kutahu akankah lebih baik
atau lebih buruk dari sebelumnya.
Kita bertemu saat
hujan, aku kecewa padamu saat gerimis, kau meninggalkanku saat hujan deras, dan
kita bertemu lagi saat gerimis yang mulai cerah. Di hari Selasa ini, dengan
kalimat yang sama seperti hari selain Selasa sebulan yang lalu. Dengan alibi
yang sama, bedanya aku tidak berani menatap matamu lebih dari lima detik. Dan
kita tidak berani saling bersentuhan seperti sebelumnya.
Aku tidak berani menghindarimu dengan pergi ke dalam kamar, aku
memilih diam tanpa tahu harus bagaimana. Semenjak aku mengetuk pintu, aku
mendengar suara gitarmu. Tidak istimewa, sangat tidak ada yang istimewa dari
permainanmu. Aku mengetuk pintu lagi dan aku mendengar suara gitar di taruh.
Aku berharap abang yang membuka pintu, ternyata itu kamu. Dengan wajah yang
tidak bisa aku maknakan.
Aku masih tidak tahu perasaanmu saat ini. Kau yang sedang duduk di
depanku, bermain gitar dan terus bermain tanpa henti. Adakah rasa bersalahmu,
adakah rasa engganmu, atau adakah ada sedikit rasamu untukku. Yang kutahu
pasti, tidak ada masa depan untuk kita. Kau terdiam beberapa saat, sebelumnya
aku iseng bertanya padamu.
“Gak kerja kelompok lagi?” tanyaku, mengingat kejadian Selasa yang
sebelumnya. Dan sepertinya kau sedikit tersinggung dengan pertanyaanku. Aku pun
tidak sadar bahwa pertanyaan seperti itu bisa menyindirmu.
“Habis dzuhur,” katamu singkat. Ah, aku berharap ada
perubahan yang berarti siang ini. Aku tidak ingin ada skenario yang sama. Dan
sekarang prosesnya hampir sama dengan apa yang telah kita lalui empat minggu
yang lalu. Tidak ada percakapan yang berarti, kau masih sibuk dengan gitarmu
dan aku diam-diam menulis cerita ini di depanmu. Hatiku masih baik-baik saja,
retakan yang kemarin masih terasa.
“Aku kuliah jam 2,” katamu padaku akhirnya. Aku menghela nafas. Ada
perubahan skenario.
“Tidak jadi kerja kelompok?” tanyaku memastikan bahwa tidak ada
Selasa yang sama.
“Gak jadi.” Katamu memastikan.
Selanjutnya hanya percakapan biasa mengenai negoisasi, aku baru
bisa pergi pukul 4 sore sedangkan kamu harus pergi. Akhirnya keputusan telah di
tangan, kamu mengizinkan aku untuk tetap di kontrakan selama kamu dan abang
pergi. Tidak masalah aku sendiri, aku hanya butuh tempat beristirahat meski
hatiku tak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang.
Kita sepi, tidak ada percakapan apapun. Kamu hanya bermain gitar.
Berbicara tentang gitar, kamu tidak sebaik cintaku yang dulu. Cukup! Berhenti berbicara tentang masa lalu yang sudah-sudah. Hari Selasa ini aku
ingin bercerita mengenai kita yang menjadi aku dan kamu. Permainanmu kuiringi
dengan suara ketikanku, hingga suara motor yang tidak familiar namun ku nantikan
kehadirannya terdengar oleh kita.
“Dika datang,” katamu padaku. Dan seketika, aku berlari ke luar dan
menghampiri Dika, sahabat Gre yang kini menjadi wadah curhatku mengenai lelaki itu.
Aku bertingkah seperti anak kecil yang luar biasa senangnya,
seperti adik yang kedatangan seorang kakak yang selama berbulan-bulan tidak
pulang kerumah. Aku memamerkan layar laptopku pada Dika, cerpen baru, kataku.
Gre di dalam tidak kupedulikan, walau aku selalu memikirkannya. Suasana ruangan
yang kecil ini kembali hidup setelah kedatangan Dika, tidak ada suara ketikan
laptop dan tidak ada suara gitar. Hanya ada percakapan acak yang dibalut tawa.
Meski ada sindirin mengenai patah hati, siapa peduli? Aku hanya ingin menghibur
diri di tempat yang penuh memori.
Dua anak kucing datang menghampiri kontrakan dan aku yang pertama kali
menyadarinya. Anak kucing itu sangat mirip padamu dan abang. Mereka kembar,
bulu dan wajah hanya berbeda sedikit seperti kau dan abang. Kamu pergi ke
belakang untuk mengambil makanan kucing, aku yang awalnya sedikit jauh dari
Dika, seketika melompat mendekati lelaki itu.
“Aku bingung, aku salah,” kataku sambil tertawa namun menahan
perih.
“Kok bisa kamu disini?” tanya Dika padaku seolah tak percaya bahwa
perempuan lemah ini masih berani datang ke tempat terlarang untuk hatinya.
“Aku mendadak kesini karena tidak ada tujuan. Kalau ada abang,
selamat hidupku meskipun ada Gre, tapi tiba-tiba abang pergi ke rumah Nenek,”
setengah aku bercerita dengan kata patah hati dan aku mendengar suara makanan
kucing di mangkuk kaleng. Kamu sudah ada di belakangku. Aku salah tingkah
seperti anak kucing dan kamu hanya tersenyum klise. Senyum yang kuharapkan tak
akan pernah meretakan hatiku lagi.
Anak kucing itu masih ada hingga kamu dan Dika pergi kuliah.
Skenario hari ini berubah dan aku tak tahu harus bahagia atau sedih. Aku
bahagia bahwa kita masih bisa tertawa meski aku tau tawamu sangat hambar. Dan
aku sedih karena hatiku masih retak dan bertambah retak. Mendung masih saja
mengabu, tapi hujan tidak turun lagi menemani kita.
Ada maaf yang tidak terucap dari kita berdua meski aku masih ragu,
sudahkah kau memaafkanku seutuhnya. Aku tidak menyukai Selasa sejak itu, dan
aku tidak suka hujan setelah hujan selalu menyimpan memoriku. Tapi aku suka
Selasa yang memberikanku pelajaran akan cinta dan hujan yang mengingatkanku untuk
jangan jatuh meski aku ingin terjatuh. Hari ini kau mengingatkanku akan dua
puluh satu rumus rubik yang rumit. Dan aku akan mengingat bagaimana rumitnya untuk
tidak terjatuh lagi padamu.
Aku bukan perempuan kuat, tapi aku selalu belajar untuk kuat. Aku
bukan perempuanmu, tapi aku selalu ingin ada di sampingmu. Aku terjatuh, dan
kamu tempat aku terjatuh. Aku terluka, dan aku tak ingin luka ini lekas sembuh.
Aku adalah bagian dari kita di masa lalu. Dan kamu adalah selasar yang tak akan
lagi kukunjungi.
6 Maret 2018
6 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar