Ini Aku Yang Kamu
Aku berdiri di
tengah hujan, di halaman Gedung Rektorat. Wajahku terangkat, membiarkan tetesan
itu melukai wajahku dan setiap desiran nafasku. Bola mataku tertuju pada lelaki
di atas baliho, memasang banner yang besarnya cukup untuk dilihat dan
dibaca para mahasiswa yang lewat di depannya.
Aku menahan perih
bahkan sebelum aku jatuh cinta padanya. Sebenarnya aku tak tahu apakah aku akan
jatuh cinta padanya. Seketika itu, Tuhan berpihak pada firasatku, dan aku jatuh
cinta padanya yang jatuh. Iya, aku jatuh cinta pada lelaki yang jatuh cinta
pada perempuan lain. Pedih? Tidak, karena aku percaya ini baru permulaan yang
belum seberapa.
Dia berbicara
seadanya, bersikap seadanya. Aku dimatanya hanyalah perempuan gila, yang
tergila-gila padanya. Aku mungkin murahan, karena aku dibutakan oleh cinta. Di
ruang Sekre, aku terpaku di depan laptop dan dia juga begitu. Aku menarik
tangannya yang sedang sibuk mendisain dan meletakkan telapaknya yang besar ke
atas kepalaku.
Ia tertawa, “Kenapa?”
tanyanya.
“Aku butuh
ketenangan.” Jawabku.
Lalu wajahnya
kembali menghadap laptop, mencoba mendisain dengan tangan kiri yang ternyata
tidak mudah. Setelah ia mengacak jilbabku, ia melepas tangannya dari kepalaku
dan kembali melanjutkan desain photobooth. Pipiki menghangat, hatiku
hangat. Tanpa tahu ada retakan-retakan kecil saat tanpa sengaja seorang teman
sekampusnya, Dika, berkata,
“Hati-hati, lho,
Gre sudah punya pacar,”
Gre, lelaki yang
kujatuhcintakan, membalas, “baru gebetan.”
Aku tersenyum.
Hanya tersenyum. Lalu tertawa, ha ha ha.
“Kalau perempuan
itu nyakitin kamu, aku selalu ada buat kamu.” Kataku spontan padanya. Gre
hanya tersenyum sambil menyenggol bahuku. Dia tak pernah tahu bahwa aku serius
dengan kalimatku.
***
Aku semakin jatuh
cinta padanya, sangat jatuh dan masih terjatuh. Aku belum sampai ke tanah,
belum, aku belum terhantam tanah akibat jatuh terlalu dalam. Aku belum sakit,
tapi aku sudah bersiap untuk sakit. Malam tahun baru kali ini berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya. Sampai jam 12 malam, aku maupun dia masih terjaga.
Malam itu aku masih ingat, ia bercerita dengan terang-terangan. Perempuan yang
ia cintai menyakiti hatinya. Aku iba, namun bahagia. Akhirnya jalan terbuka
lebar, dan malam itu juga kami sudah punya panggilan spesial. Gila kan?
Liburan semester
masih terasa indah. Meski ia jauh, 279 kilometer dari rumahku, kami masih
sering berhubungan dan menghangatkan hati satu sama lain. Bahkan sebelum dia
pulang ke kampungnya, ia sempat mengajakku ke kota tetangga, berjalan-jalan
sambil menabur luka yang diam-diam aku rasakan. Aku suka saat dia bercerita
mengenai Ibu dan Bapaknya, aku suka ketika kami video call dan ia memamerkan
foto masa kecilnya dengan saudara kembarnya, aku suka bagaimana
perhatian-perhatiannya yang seolah ia janjikan tidak akan pernah hilang. Tidak
ada yang tidak aku suka darinya. Aku bahkan rela melakukan apapun untuknya.
Bahkan membiarkan ia bahagia meski aku sakit bahkan aku siap. Kenapa aku harus
sakit?
“Dari awal juga
sudah kelihatan, Gre Cuma jadiin kamu pelampiasan,” kata Fre padaku. Saat itu
aku di kontrakannya dan ia pergi sholat.
“Keliahatan banget
ya, Bang?” tanyaku memastikan.
“Dia cerita ke
kamu masalah perempuan yang dia kejar sejak Semester 1, lalu tiba-tiba dia
bilang sayang ke kamu setelah tidak lama perempuan itu nyakitin dia. Kamu yakin
dia beneran sayang setelah semua itu?” Bang Fre mengoceh. Aku hanya tersenyum. Tuhan,
tolong jangan lagi.
“Kalau memang aku
jadi pelampiasan Gre, kenapa dia menjanjikan banyak hal ke aku? Apa Gre tipe
orang yang suka mengumbar janji?” tanyaku pada abang, tanganku mulai gelisah
dan memutar rubik abang tanpa tahu cara menyelesaikannya.
“Gre janji apa ke
kamu?” tanya abang.
“Dia bilang dia
bakal nikahin aku setelah dia lulus S2. Enam tahun lagi katanya,” jawabku
sambil mulai putus asa.
“Enam tahun lagi?
Berarti saat umur dia 26 tahun. Dia bilang ke aku umur 22 atau 23 sudah mau
nikah. Entah sama siapa,”
Ruang depan
kontarakan seketika sepi, hanya ada suara kipas angin dan suara motor yang lalu
lalang. Aku tak tahu harus menjawab apa, karena aku sendiri sadar akan posisiku
namun aku selalu mencoba untuk membantah itu.
“Karena aku sayang
Gre,” gumamku.
“Dia hanya jadikan
kamu pelampiasan,” kata abang.
“Lihat saja
bagaimana ending-nya. Sekarang aku hanya ingin percaya padanya.”
Tiba-tiba
seseorang masuk ke dalam kontrakan sambil mengucap salam. Itu dia lelakiku yang
menjadi bahan obrolanku bersama saudara kembarnya. Ah, sial. Tamengku tidak
cukup kuat.
***
Setelah libur
pergantian semester, akhirnya seluruh mahasiswa Unmul kembali beraktifitas
seperti biasa. Mengurus jadwal kuliah dan kuliah, Semester 6 sudah harus
mempersiapkan judul Skripsi, dan minggu pertama sudah diberi berbagai macam
tugas. Jeda kuliah, aku pergi ke kontrakan. Gre gelisah semenjak aku datang.
Aku tidak sadar, aku sadar ketika dia akhirnya berbicara padaku.
“Teman-temanku mau
kesini, kerja kelompok,” kata Gre.
“Ada dia?”
tanyaku, menanyakan kehadiran perempuan yang menyakiti hati lelakiku.
“Aku sekelompok
sama dia,” kata Gre. Mulai gelisah dan emosi.
“Aku sama abang di
dalam aja nanti,” jawabku sambil melirik abang.
“Aku habis ini
kerja kelompok di kampus,” kata abang, yang sepertinya sengaja tidak ingin ikut
campur.
Perasaanku campur
aduk, aku goyah. Sampai akhirnya perempuan itu datang dan yang bisa aku lakukan
adalah pergi ke kamar Fre dan Gre, sendirian. Akhirnya hatiku hancur. Aku
adalah tamu yang tidak tahu etika bertamu dan dia adalah tuan rumah yang tidak
tau cara melayani tamunya. Dua jam aku mencoba bertahan sendirian di dalam
kamar sambil mendengar canda tawa mereka di ruang depan. Aku menyerah, aku
pulang tanpa berkata apapun padanya.
Aku bisa merasakan
aura kemenangan dari perempuan itu.
***
Semenjak itu aku
maupun Gre tidak melakukan kontak khusus, kami mengirim pesan jika hanya ada
hal penting saja. Aku masih tidak tau akhir dari hubungan ini hingga akhirnya
di hari ketiga setelah kejadian itu,
“Temani aku ke
Pekan Raya, nah,” ajakku melalui chat.
“Aku masih ngurus
KRS, ini nunggu dosen,” balas Gre.
“Tidak masalah,
aku ke kampusmu dulu. Aku tunggu di Taman Pahlawan. Aku bosan,” bujukku.
“Tapi aku gak tau
sampai jam berapa nunggu dosennya,” balas Gre.
“Gak masalah, aku
tungguin,” kataku.
“Aku ke kampus
sama Lusi, motornya ada di kontrakan. Kalau aku jalan, gak ada yang ngantar Lusi
pulang.” Akhirnya Gre mengaku.
Saat membaca pesan
itu, hatiku lebur. Sangat hancur. Tamengku yang sudah kupersiapkan sejak awal
tidak bisa menghadapi serangan akhir. Kini aku tanpa senjata dan kalah. Aku
pulang, menahan air mata. Ini sudah akhir, aku harus cepat sampai ke tanah. Aku
sudah jatuh terlalu dalam.
***
Butuh waktu yang cukup
lama untuk melupakan semua tentang Gre. Aku cukup bersyukur karena kenangan
yang aku dan dia buat hanya sebulan lebih setengah. Aku sangat bersyukur ia
tidak terlalu banyak membuat aku terluka meski aku sudah benar-benar mati di
dalam lubang miliknya. Setelah itu aku tahu, ia menjalin kembali hubungan
dengan Lusi. Perempuan yang ia cintai sekaligus menyakiti hatinya.
Dika dan Abang
sudah tidak bisa membantuku. Mereka sudah jelas menerangkan bahwa aku hanya
pelampiasannya tapi aku selalu mencoba untuk mempercayai Gre. Aku semakin takut
untuk jatuh cinta semenjak itu. Aku takut terjatuh lagi. Aku tidak sudi untuk
terluka lagi. Aku sekarang tidak percaya akan apapun mengenai cinta, terutama
dari lelaki. Tidak ada lelakiku lagi.
Salah satu
kepatahhatian yang tidak bisa ditunda adalah jatuh cinta kepadamu.
Komentar
Posting Komentar