Bukan Semoga yang Jenaka
Ada
banyak alasan orang-orang memohon atau berdoa kepada Tuhan. Manusia biasanya
hanya memohon kebahagiaan untuk dirinya sendiri, wajar dan seperti biasa. Tetapi
lelaki itu hanya melantunkan semoga-semoga yang tidak ingin kudengar.
Bisikan-bisikan harapan itu bukan yang pertama, bukan juga yang keseribu kali.
Ia hanya melantunkan semoga tiga kali selama 2 tahun ia mengenalku. Semoga yang
Jenaka.
Saat
pertama kali bertemu, ia mengharapkan agar aku tidak terperangkap dalam
imajinasi kebahagiaanku sendiri. “Semoga kamu tidak pernah bahagia.” Kataya padaku
saat kami berjalan menuju kantin kampus. Aku memperbaiki kacamataku, pura-pura
tidak mendengar dan berjalan lebih dulu. Aku tidak pernah menanggapi kalimat
permohonannya itu meski aku bertanya-tanya mengapa ia mengharapkan hal itu
terjadi kepadaku.
Setelahnya
aku merengut seharian, tidak ada senyum. Tetap bersamanya tapi aku tidak
bahagia seperti harapannya. Lelaki itu sesekali memagang kepalaku agar menahan
laju jalanku. Aku tidak pernah menoleh ke belakang atau memelankan langkahku
meski ia melakukan hal itu berkali-kali. Membawa buku dan laporan yang harus
dikumpul sangatlah berat, dan ia sama sekali tidak membantuku membawakannya. Ia
benar-benar tidak ingin aku bahagia.
“Semoga
hari ini hujan.” Katanya setelah setahun mengenalku. Sungguh, akan sangat
menyebalkan ketika kamu seharian di luar dan tiba-tiba hujan dating. Membuat
pakaian baruku basah dan kacamataku berembun. Padahal lelaki itu sangat tahu
aku sangat tidak menyukai hujan. Hujan hanya membuat gerakku menjadi lambat dan
pekerjaanku tertunda. Aku harus segera merevisi laporan yang sama sekali tidak
ia bantu.
Pernah
aku berpikir mengapa Tuhan mempertemukanku dengan lelaki menyebalkan ini.
Lelaki yang tidak pernah aku harapkan akan hadir selama aku hidup. Dibilang baik
pun tidak, dibilang jahat bukan tidak. Sifatnya terlalu dingin dan sialnya dia
hanya dapat berteman denganku karena sifatnya telah membuat ia dijauhi oleh
teman-teman sekampus. Bukan perkara mudah juga kalau aku meninggalkan dia.
Beberapa dosen selalu memasangkan kami dalam tugas kelompok, alhasil sekeras
apapun aku menjauh, tetap saja ia hadir dalam hidupku.
Syukurnya
ia masih menjadi manusia yang tahu diri. Ia sering menjemputku dan mengantaku
pulang ketika kuliah, membelikan aku makan dan minum disaat kami mengerjakan
tugas kelompok, sesekali membantuku membujuk dosen agar menyetujui penelitian
kami. Tapi tetap saja, tugas kelompok tidak pernah dia sentuh dan ia akan hanya
duduk sendari menunduk. Sedangkan aku tepat di depannya mengerjakan tugas.
Tepat
dua tahun setelah kami saling mengenal, setelah kami sama-sama memperoleh gelar
Strata 2. Ia mendatangiku setelah prosesi wisuda selesai, ia mengambil topi togaku
dan kembali memohon hal yang tidak ingin ku dengar.
“Semoga
aku tidak mencintaimu dan kamu juga begitu.”
Setelah
satu kalimat harapannya itu, ia meninggalkanku dan membawa pergi topi togaku.
Tanpa ucapan lain, ia hanya berlalu lalu mendatangi seorang perempuan renta
yang aku yakini itu adalah ibunya. Hanya mereka berdua yang kulihat, sedangkan
di belakangku riuh suara keluargaku masih terdengar jelas. Kemudian ayah dan
ibu mengajakku untuk pergi, tidak ketinggalan kedua adik lelakiku.
Kini
aku mengajar sebagai dosen Etnomusikologi, dan ini tahun keempat aku mengajar.
Bulan lalu seorang lelaki datang melamarku, ia juga seorang dosen yang sama
denganku, hanya berbeda perguruan tinggi tempat kami mengajar. Orang tuaku
menyambut baik dirinya dan tanpa menunggu lama, bulan depan aku akan menikah.
Aku tidak terlalu mengenal baik lelaki itu, tapi aku memang mengenal dia
sebagai teman seangkatanku saat kami sama-sama menempuh pendidikan Strata 1.
Katanya ia sering memperhatikanku saat aku berkuliah hingga saat aku
melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
“Waktu
kuliah S2, kamu sering sama laki-laki yang pendiam itu ya?” tanyanya saat kami
sedang makan bersama di jam istirahat mengajar.
“Oh,
Si Farsha. Iya aku sering sama dia karena dosen suka menggabungkan kami dalam
tugas kelompok,” jawabku seadanya. Aku sendiri cukup heran bagaimana ia bisa
mengetahui hal itu.
“Aku
gak nyangka ternyata dia menderita penyakit kronis. Padahal dia cukup
menjanjikan untuk jadi pengajar,” kata calonku yang berhasil membuatku
tersedak.
“Maksud
kamu?”
“Loh?
Kamu gak tahu?”
Aku
hanya terdiam dan sama sekali tidak berani menatap matanya.
“Farsha
menderita Thalasemia. Penyakit kelainan darah gitu, aku juga tidak tahu pastinya,”
“kamu
tahu dari mana?” tanyaku lebih jauh.
“Teman
sedosenku yang cerita. Ini sudah tahun ketiga Farsha meninggal, malam ini peringatannya.”
Aku
menghentikan makanku seketika, hanya menunduk. Aku kembali mengingat
harapan-harapan anehnya kepadaku. Pikiranku kosong, dan hujan semakin deras di
luar.
***
Aku
tidak pernah ingin kamu bahagia, Aria. Kamu terlalu cantik kalau kamu bahagia. Kalau
tersenyum, jadi manis. Dan lelaki di sudut kantin, mas akademik, bahkan satpam
kampus akan jatuh cinta kepadamu dan aku tidak ingin itu terjadi. Sulit
menjagamu ketika kamu bahagia, jadi aku minta agar kamu tidak bahagia.
Aku
ingin hujan setiap hari, Aria. Kamu selalu lupa akan tubuhmu, kamu bukan robot
yang bisa berkerja setiap saat. Setahun bersamamu, aku sadar hanya hujan yang
bisa membuatmu ingat untuk sekedar duduk dan minum. Meminimalisir setiap
gerakmu dan aku jadi lebih tenang melihatmu hanya duduk dan beristirahat
daripada kamu beraktifitas berlebihan sampai lupa makan.
Aku
tidak ingin mencintaimu, Aria. Aku juga berharap agar kamu tidak mencintaiku.
Karena kalau kamu mencintaiku, sudah dipastikan kamu hanya akan sedih dan aku
akan jadi beban untukmu. Aku tau umurku tidak banyak, seperti almarhum ayah
yang menderita penyakit yang sama. Aku tidak ingin mencintaimu, sungguh. Aku
tidak ingin hatiku lebur, apa lagi hatimu.
Aria,
semoga kamu berbahagia, semoga harimu cerah, dan semoga lelakimu bisa
mencintaimu dan kamu juga begitu.
- Farsha Hijas
Komentar
Posting Komentar