Dari Aku yang Jatuh, Untuk Kamu yang Nyata
Aku sangat benci mengakui ini, tapi
aku telak jatuh ke dalam imajinasi dan egoku sendiri. Kamu, tanpa permisi
mendobrak paksa pertahanan yang selama ini kubangun meski penuh dengan
kebingungan. Kebingungan seperti, “kenapa aku harus membuat pertahanan?” atau
“untuk apa ada tembok?”. Jadi, kamu dengan kesombonganmu, justru berhasil
menyelinap masuk dengan terang-terangan.
Bertemu denganmu adalah suatu hal
yang paling tidak aku inginkan, tapi aku senang dengan adanya kehadiranmu.
Dengan kebodohanku yang tidak mengenal siapa aku, aku membiarkanmu masuk
setelah dengan sopannya permisi. Meski aku tahu kamu masuk hanya sekedar
penasaran denganku, dengan perempuan yang berhasil tidak batuk saat mencoba vape-mu dengan nikotin tinggi. Harus ku
akui, kamu aneh. Kamu bukan orang yang mudah untuk berada di dekatku dengan
baik, tapi kamu terlalu terang-terangan mencoba berada di dekatku untuk
mempermainkanku atau justru mempernyatakan bahwa kamu ingin mewujudkan sesuatu.
Terima kasih untuk sahabatku,
seorang perempuan yang punya pemikiran bebas sepertiku. Mungkin jika aku tidak
mengenalnya, aku pun tidak mengenalmu. Biar aku kilas balik sebentar, hari itu
panas dan toko kain itu sudah cukup membuatku bosan. Lalu kamu datang,
bertanya, “gak bisa kurang lagi?”, aku tersenyum dan teman-temanmu memberi tahu
bahwa aku bukan seorang penjual kain di toko itu. Setelahnya hanya kamu yang
tahu.
Semuanya selesai dan kita tidak
bertemu lagi selama seminggu. Tapi kau berhasil kembali mendapat informasi
tentangku dan kembali memberi sebuah kode yang sebenarnya sangat mudah ku
pecahkan tapi kau berhasil membuat hal itu menjadi semakin rumit. Kau adalah
bom waktuku, dan aku harus menjinakanmu sebelum kamu meledakkan tubuhku. Media
Sosialku tidak gampang untuk di temukan, nama akunku hanya aku dan orang
terdekatku yang tahu. Orang-orang yang pernah bertemu dan bercakap denganku
tentunya. Kamu dengan rasa penasaranmu sudah bertindak berlebihan dimataku.
Satu hal membuatku kecewa setelah
aku tahu bahwa kau memiliki dan dimiliki seseorang. Tapi aku sadar bahwa aku
tidak punya hak akan hal itu. Singkat cerita kita saling mengikuti di Instagram dan aku melihat nama kekasihmu
di bio-mu. Aku ingin berterimakasih pada kekasihmu yang telah posesif menyuruhmu
memasang nama Instagram-nya di biomu.
Karena jika tidak begitu, aku tidak akan bisa mengendalikan sifat “supel dan
mudah bergaul”ku padamu.
Aku juga ingin berterimakasih kepada
Tuhan bahwa Tuhan benar-benar menempatkan kecerdasan kepadaku di umurku yang
sudah menginjak kepala dua ini. Tanpa aku harus menggali informasi tentangmu,
aku tahu bahwa ada banyak hal yang tidak boleh aku lakukan seperti membalas stories Instagram-mu karena aku tahu
bahwa kekasihmu juga memegang akunmu. Atau sekedar basa-basi menghubungi lebih
dulu di Direct Messages.
Setelah berhasil menahan diri untuk
tidak melakukan hal bodoh itu selama enam hari, untuk ketiga kalinya aku ingin
berterimakasih kepada Panitia PSNMHII XXXI 2019 yang telah memberikan
kesempatan untukku sebagai pengisi acara yang dimana secara tidak langsung aku
dapat bertemu denganmu. Kau menghampiriku terlebih dahulu, menyapa sebentar
lagi izin pergi sampai akhirnya aku tahu kamu berada di posisi penanggung jawab
Disil sehingga tidak berada di lokasi yang sama denganku. Lalu aku selalu
bersama Widya, perempuan yang menjadi penghubung kita. Dengan cerita yang
memang aku percayakan ke Widya, aku meminta kontakmu. Itulah pertama kalinya
aku menghubungimu.
Pembicaraan di CMU bagiku adalah
sebuah pembicaraan yang benar-benar menjadi sebuah senjata yang kau todongkan
tepat di keningku. Aku seperti harus berhadapan dengan orang yang sama denganku
sekaligus orang yang sama dengan masa laluku. Banyak hal yang tidak aku duga
dari sosokmu, kepercayaanmu padaku. Kau menceritakan masa lalumu dengan
antengnya di pertemuan kedua kita. Pertemuan yang kurasa itu tidak wajar untuk
dijadikan waktu bercerita tentang aib-aib kita. Aku menghargai itu meski
lagi-lagi air mata harus kutahan. Setelahnya kita membuat perjanjian untuk
bertemu kembali dua hari kemudian.
Malam kau menelponku, pembicaraan
semakin dalam dan aku semakin kegerahan. Karena aku seperti mengahadapi sisi
jahat diriku yang selama ini tidak pernah bersuara. Aku seperti harus siap
menerima keadaan terburuk kapanpun. Mengahadapi senjata yang kau todongkan
dengan indahnya tepat di keningku. Jarimu ada di pelatuk dan selalu siap
menekan kapanpun kamu mau. Sifat berengsekku yang selama ini aku lakukan ke
laki-laki yang mendekatiku tidak bisa aku praktikkan kepadamu. Sial, aku
seperti menghadapi sebuha karma yang aku ciptakan sendiri.
Dua malam yang sangat berbahaya dan
berhujung kepada kebingungan. Kamu berhasil membuatku semakin depresi dengan
keadaan sekarang. Dengan otakku, dengan hatiku, dengan tubuhku. Dengan lelaki
lain, aku dengan gampangnya mengendalikan mereka. Menjadikan aku sebagai sosk
feminis terkuat yang dimana aku tidak akan pernah menempatkan diriku di bawah
laki-laki. Tapi bersamamu, dua malam ini, aku tepat berada di telapak kakimu.
Tangan kakiku tidak terantai, tapi ada tali disana. Kau berhasil
mengendalikanku, untuk pertama kalinya aku diperdaya oleh laki-laki dan itu
adalah kamu.
Kita bertemu lagi untuk ketiga
kalinya dan aku tidak ingin membahas apa yang telah kamu lakukan semalam. Itu
menyebalkan. Dan lagi-lagi pembicaraan kita semakin menjadi boomerang bagiku. Senjata yang kau
todongkan tidak lagi satu, tidak lagi hanya di kening, tapi di seantero
tubuhku. Sungguh aku tidak berada di posisi aman saat ini, aku benar-benar
seperti mengahadapi diriku dalam versi setan. Ya, aku memang setan, tapi yang
tidak pernah ku duga adalah aku harus menghadapi diriku dalam wajudumu.
Kau cerdik, dan aku cerdas. Berkata
adalah senjatamu dan diam adalah senjataku. Mengungkapkan adalah pelurumu dan
membolakbalikan kata adalah peluruku. Pernyataanmu adalah jari yang menekan
pelatuk, menembakan segala pelurumu ke arahku dengan tepat. Dan aku tidak punya
tameng untuk melindungi diriku. Aku jatuh, karena kamu terlalu nyata bagiku.
Komentar
Posting Komentar