Kita Selamanya


Selama 3 tahun aku belajar disini, bercanda tawa disini, berkumpul disini. Bagiku tempat ini adalah rumah keduaku. Bagiku guru dan teman-temanku adalah keluargaku. Bagiku tempat ini berisi sejuta kenangan masa remajaku, masa dimana aku mencari jati diriku. Masih kuingat kejadian waktu pertama kali masuk disekolah ini. Masih kuingat saat kakak kelas laki-lakiku sering mengerjaiku. Masih kuingat untuk pertama kalinya menjadi pengurus MOS saat aku naik ke kelas 8. Masih kuingat perkelahianku dengan anak kelas sebelah yang tak berujung hingga kini (Jujur). Masih kuingat saat untuk pertama kalinya aku jatuh cinta sama teman sekelasku saat kelas 8. Masih kuingat persaingan ketat dalam mendapatkan juara kelas. Masih kuingat disaat aku masih bertingkah seperti anak kecil yang tegas. Semua terangkum jadi satu dalam ingatanku.
            23 April, adalah hari diantara hidup dan mati. Ujian Nasional diadakan dengan desakan desakan guru yang bukannya menyemangati tapi malah menakuti. Untungnya setelah UAS (Ujian Akhir Sekolah) selesai dilaksanakan, 4 minggu sebelum UN kami kelas 9nya mendapatkan jam pelajaran khusus. Selama 4 minggu yang kami pelajari hanya 4 mata pelajaran. IPA, MTK, Bahasa Indonesia, Dan Bahasa Inggris. “Musuhku” dalam 4 mata pelajaran itu adalah IPA dan MTK. Semua materi sudah kudapatkan, kupelajari, kupahami, bahkan kuteliti. Tapi saat dicoba untuk mengerjakan soal otakku selalu Blank. Yap, ini “Penyakit” yang susah untuk diobati.
            Hari ini tepat jam 7 pagi, 15 menit sebelum “Perang” dimulai. Pak Suyitna (Panitia UN disekolahku) memberikan penjelasan dan pencerahan sebelum UN. Ini sudah menjadi tradisi di sekolah kami. Tahun ini penampilan saat UN disekolah kami juga berbeda, nahkan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yaitu ruang pengawas dipindahkan dihalaman kami yang luasnya dua lapangan bulutangkis berkeramik dan beratap itu. Kenapa tidak diruangan pengawas ? Jawabannya mengingatkan aku pada hari kamis 19 April 2012, tepat 4 hari sebelum Ujian berlangsung. Kantor Kepala sekolah dan staf dewan guru terbakar pada pagi dini hari. Aku mengetahui hal itu setelah mendapat SMS dari adik kelasku yang tinggal tak jauh dari sekolah. Ia berkata bahwa sekolah kami terbakar. Aku syok berat mengingat 4 hari lagi UN, belum lagi raport dan Ijazah siswa angkatan tahun lalu juga ludes terbakar. Aku sempat bernafas lega karna yang terbakar hanya kantor guru tidak seluruh sekolah. Bayangkan saja jika satu sekolah yang terbakar. Mau Ujian dimana aku dan kawan-kawanku nanti ? Ingin menumpang di SD Sebelah ? Aku rasa tak mungkin. (Cerita lebih lanjut terdapat di “Ketika 4 Hari lagi” Coming Soon)
            Ya Tuhan, Ujian kali ini benar-benar “Mengerikan”. Yang pertama kita harus bertindak lebih lebih dan lebih sopan karna pengawas dari sekolah lain akan selalu memperhatikan tingkah kami karna ruangan mereka yang berada di halaman. Yang kedua seperti ujian tahun-tahun sebelumnya terdapat polisi yang jaga. Yang ketiga tiap mata pelajaran paketnya akan diacak, jadi kita gak tau siapa kawan satu paket kita di dalam ruangan. Keempat pengawasnya campur, ada yang dari SMP Negeri 16, SMP Negeri 35, SMP Negeri 10, dan SMP SMP lain yang berada di Samarinda Ulu. Dan parahnya pada hari ketiga dan keempat kondisi kesehatanku drop. Ujian IPA kujalani dengan kepala yang rasanya ingin kubenturkan ke tembok karna pusing dikepala ditambah mengerjakan soal dan suhu badanku yang panas. Syukurlah aku tetap bisa menjawab soal dengan cukup baik.
            Alhamdulillah, UN kali ini berjalan dengan baik kami hanya diliburkan 2 hari dan minggu depan akan turun seperti biasa, tapi tentu saja tidak ada kegiatan belajar. Ini yang paling seru, aku dikenal dengan kebiasaan unik luar dalam bahkan GILA. Tingkah lakuku seperti anak kecil tapi dalam sekejab bisa menjadi penasehat yang baik. Maklum aku adalah siswa kelas 9 termuda disekolah atau mungkin diseluruh Samarinda, bahkan tak sedikit adik kelasku yang lebih tua dari aku. Kegiatan hari ini hanya nongkrong dihalaman sekolah. Sedangkan aku yang dikenal hobi membawa kamera pocket ini sedang memfoto teman-temanku, tak sedikit dari mereka yang kesal dengan tingkahku tapi ini hobiku. Bagiku foto adalah satu-satunya cara untuk mengabadikan moment masa SMP, belum lagi foto-foto sekolah daru kelas 7 sampai 8 kehapus semua dilaptopku karna baru kuinstal. Mau di BackUp sayang filenya juga kena virus, Mati aja T_T. Yap, aku mendapatkan julukan paparazy saat itu, tapi bagi temanku yang narsis bagi mereka aku ini fotografer karna hasil fotoku bisa dibilang bagus.
            Ngomongin perpisahan, mengingat kondisi sekolahku yang baru terbakar memungkinkan tak bisa melaksanakan perpisahan di sekolah. Maka tahun ini perpisahan kami di Balikpapan kota Balistik. Ngomongin Balistik, kenapa disekolahku banyak yang menyebut Balikpapan sebagai kota Balistik ? Ini karna pertandingan sepok bola yaitu ISL (Indonesia Super Lengue) antara Persisam Putra Samarinda dan Persiba Balikpapan, anatra Pusamania dan Balistik yang berperang. Padahal dua kota itu berada di provinsi yang sama, tapi kenapa bermusuhan ? apa karna hanya sebuah permainan bola ? atau sifat emosional antar supporter ? wallahu a’lam
            20 Mei 2012, jam 6.30 aku sudah berada disekolah. Perjanjiannya yaitu berkumpul di seklah tepat jam 6.30 tapi mengapa yang dating baru 2 orang, ingin aku rasanya membunuh satu persatu yang terlambat termasuk guru-guru *PARAH*. Seperti biasa, aku telah menyiapkan kamera untuk acara ini. Dan bukan kamera biasa tapi kamera DSLR Canon EOS 600D. Satu-satunya siswa yang memiliki kamera bermerek Canon itu. Bagiku kameraku adalah My Boy Friend. Harus ada disisiku dan tak ada yang boleh menyentuhnya.
            Entah jam berapa kami baru berangkat ke Balikpapan, aku duduk berdua bersama Eva temanku. Sepanjang perjalanan yang kulakukan hanya OL dan Mendengarkan lagu melalui headset. Tanpa kusadari guruku dari belakang memanggilku, aku yang memakai headset tentu tak mendengar. Akibatnya cubitan mendarat dipundakku.
            Jam 10 kami tiba di Balikpapan, tujuan pertama kami yaitu BSB (Balikpapan Super Block). Aku berkeliling dan membeli cemilan untuk tujuan kami selanjutnya dan bermain sebentar di salah satu wahana permainan. Selanjutnya makan siang dan menuju Bis untuk ke Pantai. Kami harus menunggu lama dan geram karna ada 4 orang yang belum kembali ke Bis. Terpaksa Pak Farid, salah satu guru yang ikut acara itu mencari mereka yang tengah asik bermain di salah satu wahana.
            Selanjutnya kami menuju pantai Manggar dan yang baru juingat kameraku ada di tangan Chevi. Chevi adalah teman satu seklahku sekaligus keluarga jauhku, jadi aku bisa mempercayainya untuk menjaga kameraku selama perjalanan menuju pantai. Aku memang sengaja memberikan kameraku untuk mengambil gambar bubuhan cowok yang memang berbeda bis. Tak mungkin bukan jika aku harus satu bisa dengan bubuhan cowok hanya demi sebuah gambar ?
            Alhamdulillah, cuaca di pantai sangat sangat sangat cerah sehingga fotoku tidak ada yang gelap. Dan bisa kutebak, Eva kawanku pasti memintaku untuk memfotonya. Tak aya memory kameraku penuh dengan foto-fotonya.Entah sampai jam berapa aku berada di pantai itu tapi semua aku nikmati bersama teman-temanku.
Tuhan, Di tepi pantai yang berpasir putih
Yang akan menjadi saksi persahabatan
Aku berucap didalam hati
Apa akan terjadi kejadian seperti ini

Tuhan, 3 tahun aku berteman
Berkumpul, bercanda tawa bersama
Mencari jati diri bersama
Apakah akan berpisah ?

Tuhan, jika kau berkehendak
Jangan kau hilangkan persahabatan kami
Walau jarak akan terbentang
Tapi pantai ini akan menjadi saksi persahabatan

            Aku terdiam menatap  ujung laut yang lurus seperti garis horizon sambil memainkan kameraku. Lamunanku buyar setelah lagi-lagi Eva meneriakiku memintaku untuk memfotonya. Aku menghampirinya dan memfotonya yang saat itu bersama Velly. Setelah mengambil beberapa foto akhirnya Eva menawarkan untuk memfotoku. Aku memberikan kameraku dan mengambil view di pinggir laut yang berombak itu. Saat berjalan tanpa aku sadari Rian (Teman sekelasku) menyimburku dengan air. Aku terperangah sedangkan ia tertawa, dengan mengambil ancang-ancang aku mengejarnya. Kalau diliat ya So Sweet banget. Saat Eva selesai mengambil fotoku aku melihat hasilnya sedangkan Eva lagi-lagi meninggalkanku. Aku sudah biasa jika diperlakukan seperti ini.
            Tak lama kami pulang ke Samarinda. Kota tercintaku dan teman-temanku. Di awal perjalanan aku, teman-temanku dan guru-guruku bercanda tawa karna banyak yang belum merasakan yang namanya “mabuk”. Setelah pertengahan perjalanan barulah bis terasa sepi sedangkan aku mendengarkan lagu melalui headset.
 Sehabis magrib barulah kami sampai di samarinda. Semua berpisah tapi aku harap dapat kembali berkumpul mengetahui pengumuman kelulusan masih 3 minggu lagi. Perjalanan boleh berpisah tapi pertemanan tidak akan pernah.

Komentar

Postingan Populer