Puisi Kecil Untuk Tuhan
Kenalkan, namaku Anatasya Gita Cantika. Biasanya
dipanggil Gita. Usiaku baru memasuki umur 14 tahun. Tapi aku sudah menderita
penyakit Kanker paru-paru. Aku pernah dironsen oleh dokter dan betapa
terkejutnya dokter saat melihat paru-paruku yang begitu rusak. Paru-paruku tak
jauh berbeda dengan paru-paru seorang perokok yang dalam sehari bisa menghabiskan
5 bungkus rokok. Padahal aku tak pernah sedikitpun merokok, menyentuhnya saja
tidak. Tapi ini yang terjadi padaku, keluargaku adalah seorang perokok. Ayahku
dan kakak laki-lakiku yang berjumlah 3 orang semua adalah perokok. Jika sedang
berkumpul aku tak dapat menghindar dari kepulan asap rokok yang mereka nikmati
tapi sakit bagiku.
Aku anak terakhir dari 4
bersaudara, ketiga kakakku laki-laki semua sehingga tak aneh bagiku saat
melihat mereka merokok. Kakak-kakakku bernama Hendri, Irfan, dan Deni. Kak
Hendri adalah kakak pertamaku dan kini duduk di semester 5 ITB. Kak Irfan yang
kedua dan duduk di semester 1 UGM dan Kak Deni duduk di kelas 2 SMA. Ibuku
sudah meninggal karna mengidap penyakit kanker paru-paru saat usiaku baru 3
bulan. Ayahku bilang dulu waktu SMA ibuku ada seorang perokok sehingga saat
dewasa ibuku menderita penyakit kanker paru-paru seperti yang aku alami
sekarang.
Walau
aku tak merokok tapi aku adalah seorang Perokok Pasif. Pernah aku dilarikan ke
rumah sakit karna tiba-tiba aku tak sadarkan diri setelah nafasku sesak. Jujur,
aku sudah beratas-ratus kali mengunjungi rumah sakit. Bahkan bagiku Rumah Sakit
adalah rumah keduaku setelah sekolah. Bagiku rumahku adalah neraka. Kepulan
asap rokok tak bisa aku hindari jika dirumah. Pernah aku mengeluh pada ayahku
dan kakak-kakakku tapi keluhanku tak juga didengar. Mereka malah tetap merokok
di hadapanku. Aku pernah membaca di web jika perokok pasif lebih mudah terkena
kanker dari pada perokok aktif. Aku pernah berfikir, apakah orang tuaku dan
saudara-saudaraku tak peduli padaku ? apa ini yang dinamakan cinta dan kasih
sayang mereka padaku ? aku tahu semua keinginanku bisa diwujudkan dengan
membelikanku barang yang ingin aku beli karna Ayahku adalah seorang pengusaha
kaya. Tapi hal itu bukanlah sumber kebahagiaanku, malah membuatku semakin
kesepian. Tapi aku tak bisa menyalahkan siapapun. Ayahku, kakak-kakakku apa
lagi Tuhan. Aku tahu Tuhan sedang mengujiku dengan kanker paru-paru yang aku
derita.
Aku mempunyai hobi, yaitu
menulis puisi. Biasanya jika aku kesepian atau sedang dirumah sakit aku akan
menulis sebuah puisi. Bagiku puisi adalah tempat dimana mulut tak dapat
berbicara untuk mengeluarkan isi hati kita. Setiap bait puisi yang aku tulis
pasti datangnya dari hati bukan dikarang. Kumpulan puisiku ada di sebuah notes
biru kesayanganku. Di dalam notes itu juga terdapat fotoku bersama kelima
sahabat karibku. Ya, Di tengah cobaanku aku mempunyai 5 sahabat baikku. Winda,
Wendi, Anisa, Gesa, dan Yasmin. Mereka
sering menjemputku untuk sekedar ketaman agar aku bebas dari kepulan asap rokok
dirumahku. Mereka mengerti keadaanku tapi kadang aku terlalu egois, aku tak
ingin terlalu diperhatikan seperti orang sakit. Aku ingin membuktikan jika
kanker ini bukan halangan buat kuat, tegar dan tentu saja meraih prestasi.
Kanker paru-paru ini adalah sahabatku juga musuhku. Aku hidup bersamanya dan
aku juga harus melawannya. Aku mempunyai sebuah puisi untuk sahabat-sahabatku,
yaitu
“Lima Bintang Dihati”
Tak kala aku kesepian
Lima bintang datang
menghampiriku
Membuatku nyaman dan
tersenyum
Ditengah perjuangan
melawan teman sekaligus musuh hidupku
Tak aya suka dan duka
dirasa
Dapat dilalui bersama sama
Lima bintang yang Tuhan
berikan
Telah mewarnai sisa-sisa
hidupku
Lima bintang yaitu sahabat
Berorasi menghiasi langit
yaitu hati
Menerangi malam dengan
kilauan
Persahabatan kesetiaan dan
kasih sayang
Pernah
aku tak sadarkan diri saat disekolah. Kelima sahabatku langsung memanggil
ambulan dan membawaku ke rumah sakit. Pihak guru tahu akan penyakitku, oleh
sebab itu kelima sahabatku sempat mendapatkan hukuman karna langsung membawaku
begitu saja ke rumah sakit tanpa seizin guru. Tapi bagi mereka hal itu tak
masalah asalkan aku selamat pada saat itu juga. Orang tuaku dan kakak-kakakku
tak tahu jika pada saat itu aku berada di rumah sakit. Hanya aku dan sahabatku
yang tahu. Ayahku tahu saat menjemputku di sekolah, pihak gurulah yang memberi
tahu ayahku. Ayahku langsung mendatangiku ke rumah sakit. Di dalam ruangan aku
tatap satu-persatu wajah temanku. Anisa tampak tak bisa berhenti menangis.
Ya, Nisa memang sahabatku yang paling dekat denganku. Ia adalah teman
sebangkuku. Ayahku langsung mendatangi dokter dan membayar biaya rumah sakit.
Setelah mengecup keningku ia langsung meninggalkanku bersama kelima sahabatku.
Aku perhatikan lagi wajah sahabatku, tampak sepertinya mereka marah dengan
Ayahku. Tapi mengapa ? aku rasa ayahku tak mempunyai salah apapun. Aku tau
beliau sibuk hingga tak bisa menungguiku. Tiba-tiba kelima sahabatku langsung
memandangku iba. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala lemah walau aku tak tahu isi hati ayahku terhadapku.
“Apakah Ia menyayangiku?”
Ia
adalah tulang punggung keluarga
Ia
adalah seorang lelaki tangguh dalam bekerja
Ia
adalah seorang pengusaha kaya
Yang
tersohor di Nusantara
Semua
kemauanku dapat ia turuti dengan uang
Ia
bilang bahwa hal itu dapat membahagiakanku
Tapi
bagiku uang tak dapat membuatku bahagia
Tapi yang
membuatku bahagia adalah kasih sayang darinya
Aku
pernah bertanya pada bulan
Aku
pernah bertanya pada bintang
Apakah
ia menyayangiku bagaikan bulan menyayangi bintang
Bulan
dan bintang hanya terdiam di langit
Tiga hari kemudian aku keluar dari Rumah
Sakit. Ayahku sudah menyelesaikan semua biaya jadi aku tinggal keluar saja dari
Rumah sakit. Sahabat-sahabatku menarik-narik tanganku saat aku menaiki mobil
yang dikendarai kak Irfan sambil merokok itu. Mereka khawatir jika tiba-tiba
aku kembali jatuh pingsan karna sesak nafas saat satu mobil dengan kak Irfan
yang merokok. Tapi aku bilang aku akan baik-baik saja pada kelima sahabatku
yang tampak memandangku dengan wajah pucat. Aku memasuki mobil dan membuka kaca
mobil agar asap rokok tak aku hirup dan keluar dari mobil. Tapi kaca kak Irfan
tak ia buka sehingga asap rokok itu keluar melaluiku. Aku sudah menutup
hidungku dengan kerudung yang aku kenakan tapi asap rokok itu tetap menembus
kain kerudungku yang memang tipis. Akhirnya aku hanya bisa bersabar saat
kegiatan rutinku kembali terjadi.
Seminggu
kemudian saat aku disekolah, sahabat-sahabatku terus bertanya-tanya padaku
apakah kondisiku baik-baik saja. Aku hanya mengangguk lemah. Sejak pagi
kepalaku pusing luar biasa, kakiku pun lemah sehingga jalanku pun sering oleng.
Tapi kupaksakan masuk karna hari ini ada ujian sejarah, mata pelajaran
favoritku. Saat mengerjakan soal, kepalaku serasa berat. Nafasku mulai
tersengal-sengal. Aku berusaha menahan tapi tak bisa. Anisa yang berada di
sampingku mulai merasakan hal yang ganjil padaku. Ia langsung mengambilkan
obatku dan air putih. Tapi aku hanya menggeleng tanda aku baik-baik saja. Ia
semakin pucat dan mulai memanggil pengawas tapi aku cegah. Aku tak ingin di
anggap lemah oleh sahabatku terutama Anisa. Akhirnya dia mengalah dan kembali
mengerjakan soal Sedangkan kepalaku semakin berat. Aku benar-benar tak bisa
mengerjakan soal karna saking beratnya rasa pusing di kepalaku. Nafasku mulai
tersengal-sengal dan aku tak sadarkan diri. Anisa yang berada di sampingku
berteriak hingga membuat seisi kelas khawatir sedangkan Gesa langsung memanggil
ambulan.
Aku
berada di rumah sakit, ayahku baru saja keluar dari ruanganku bersama dokter.
Kak Deni dan Kak Irfan ada di dalam ruangan. Sedangkan kak Hendri masih di jalan.
Keadaanku kritis dan membutuhkan oksigen, alat pendeteksi jantungpun sudah ada
di dadaku. Aku lihat wajah sahabat-sahabatku yang menangis, wajah kakak-kakaku
yang tampak terdiam dengan isi hati yang kosong. Saat itu tampak aku melihat
sosok berjubah putih. Didekatnya terdapat seorang perempuan yang cantik sekali.
Aku pernah melihatnya. Ya itu ibuku, aku pernah melihat fotonya di ruang
keluarga. Ketahuilah yang dapat melihat sosok berjubah putih dan ibuku itu hanya
aku. Ya aku pernah mendengar cerita guru PAI-ku. Bahwa biasanya orang yang
ingin meninggal akan kedatangan sosok berwarna putih. Tak lain malaikat
pencabut nyawa. Aku kembali memandang wajah sahabat dan kakakku. Aku menarik
selembar kertas yang dipegang Yasmin. Semua memandangku seakan tau apa yang
ingin aku lakukan. Wendi mengambil pulpen dan memberikannya padaku. Aku
menatapnya tanpa air mata sedikitpun. Keadaanku sudah tak beradaya. Malaikat
pun sudah kulihat. Aku menulis di kertas yang dipegang Yasmin.
“Aku akan pergi”
Itu yang kutulis dan aku harap mereka bisa membaca
tulisanku yang tak rapi itu. Seketika sahabatku semakin menangis. Kakakku hanya
terdiam sambil menundukan kepala mereka. Aku berharap mereka bisa mengerti
keadaanku. Aku melihat ibu dan sosok putih itu mendekatiku. Kudengar ibu
membisikiku “maafkan ibu yang meninggalkanmu Gita. Sekarang ikutlah bersama
ibu” aku mendengar dan melihat mata anggun ibu. Aku semakin lemah dan yang aku
rasakan sekarang kakiku membeku perlahan hingga ke mataku. Yah aku rasa nyawaku
mulai di tarik perlahan. Sahabatku semakin menangis aku hanya terdiam dengan
oksigen yang masih ada di hidungku. Untuk berbicara saja aku lemah.
Tak lama aku sudah berada
di suatu tempat. Tempat itu indah sekali. Banyak bunga mawar berwarna merah
mengkilat. Disampingku sudah ada ibu yang terus mengusap kepalaku dan mengecup
keningku. Dari sana aku lihat seorang anak yang baru saja menerima ajalnya.
Disekelilingnya terdapat kelima sahabatnya yang setia padanya tengah menangis
sejadi-jadinya. Tak jauh dari sana terdapat dua pemuda yang menitikkan air mata
sambil terus menunduk. Lalu seorang bapak dan seorang pemuda yang lebih tua
dari kedua pemuda sebelumnya masuk tiba-tiba. Bapak itu menangis melihat
anaknya sudah tak bernyawa, sedangkan pemuda tadi terjatuh dan tertunduk perlahan
serta menangis. Aku menoleh pada ibuku, ibuku hanya tersenyum sambil menitikkan
air mata yang tak terlihat.
Aku
pernah menulis sebuah puisi di notes biruku. Aku pernah menulis jika aku ingin
sekali di sayang lalu dikenang. Aku disayang oleh sahabat-sahabatku tapi aku
belum pernah merasakan yang namanya di kenang. Kini aku bertanya-tanya apakah
kini aku akan dikenang ? apakah aku akan dirindukan ?. aku tahu selama hidupku
aku tak pernah dipedulikan, disayang, bahkan diperhatikan oleh keluargaku. Yang
peduli padaku hanya sahabatku. Keluargaku memang kaya raya. Semua keinginanku yang dapat dibeli selalu
dituruti. Tapi harta bukanlah sumber kebahagiaanku tapi kasih sayang dari Ayah
dan kakak-kakakku adalah sumber kebahagiaanku yang tak bia dibeli. Kini aku telah tenang bersama ibuku di alam yang sudah
berbeda dari Ayahku Kak Hendri, kak Irfan, kak Deni, Wenda, Wendi, Gesa, Anisa, dan Yasmin. Aku sudah satu alam dengan ibuku. Perjuanganku telah usai,
teman sekaligus musuh hidupku sudah kuakhiri. Kanker paru-paru sudah diambil
kembali oleh Tuhan. Aku tenang disini namun aku rindu akan sahabatku. Kelima
sahabatku yang begitu peduli padaku. Ayah, terima kasih kau telah mau
menjagaku. Kak Hendri, kak Irfan, dan kak Deni terima kasih telah mau
menganggapku sebagai adik kalian. Wenda dan Wendi, kalian saudara kembar yang
mau menjadi sahabatku. Gesa, kau gadis tangguh yang rela menghabiskan pulsa
demi menelpon ambulan ketika aku tak sadarkan diri. Yasmin, kau selalu
membuatku tertawa walau aku harus melawan teman sekaligus musuh hidupku. Dan Anisa, terima kasih telah mau menjadi orang berarti dalam hidupku.
“Puisi Kecil Untuk Tuhan”
Tuhan,
aku titipkan Ayah, kakak-kakakku, dan sahabatku padamu.
Jangan
biarkan air mata mereka mengalir dari wajah mereka
Tuhan, kini
perjuanganku telah usai.
Terima kasih
telah memberikan pelajaran selama hidupku
Tuhan, Kau
membuatu tegar dan tangguh
Kau
membuatku sabar dan iklash
Kau
membuatku kuat dan Rela
Kau
membuatku mengerti arti kehidupan
Teman
dan musuhku kau titipkan padaku waktu ku hidup
Kini kau
ambil kembali teman dan musuhku
Dengan cara yang membuat
aku tenang
Untuk
Selamanya
Nb : Terinspirasi dari Novel “Surat Kecil Untuk Tuhan”
Komentar
Posting Komentar