Ada Cinta Di Teater Fajar
Sesekali aku memperhatikan jam
tanganku. Mataku yang seharusnya memperhatikan papan tulis malah sibuk
memperhatikan jam tanganku. 10 menit lagi jam pelajaran akan usai tapi bagiku
itu sangatlah lama. Ini sudah hari ke-3 latihan, sisa 5 hari lagi untuk latihan
sebelum tampil sebagai tuan rumah Safari Ramadhan. Minggu awal bulan puasa
telah disibukkan dengan jadwal latihan yang padat. Tapi bagi kami itu semua
bukan halangan.
Namaku
Anissa Gita Cantika, biasanya dipanggil Nissa. Aku adalah siswa di salah satu
Madrasah di Samarinda dan menjadi anggota di ekskul Teater yaitu Teater Fajar
MAN 1 Samarinda. Sejarah mengatakan bahwa Teater Fajar adalah teater tertua di
Samarinda, kini usia teater Fajar adalah 12 tahun. Teater Fajar berdiri pada
tahun 2000 dan telah banyak melahirkan penghargaan dalam dunia teater.
Tepat
jam 3, bel berbunyi. Bel yang berbunyi tiga kali dan mengeluarkan kalimat 3
bahasa membuatku cepat merapikan bukuku. Setelah memastikan guru mata pelajaran
telah memberi paraf di buku jurnal kelas aku langsung mengambil buku itu lalu
memasukkannya ke dalam tas. Setelah berdoa aku berebut mencium tangan guruku
dan segera keluar kelas setelah merapikan bangkuku. Aku berdiri di depan kelas
sejenak. Koridor sekolah masih ramai dengan siswa yang berjalan ke pintu keluar
maupun tempat parkir motor. Aku akhirnya duduk di depan kelas seraya menunggu
teman-temanku berkumpul. Kulihat Mutiara berjalan mendatangiku bersama anggota
teater yang lain. Memang sebelumnya hari ini akan diadakan latihan di Aula,
sehingga aku sepakat berkumpul di depan kelas sebelum ke Aula. Selain Mutia aku
juga melihat anggota lain yaitu Denis, Rudi, Rasid, Rahmi, Yora, dan Yoga.
Tunggu, bukankah Yoga bukan anggota Teater ? Lalu apa yang ia lakukan disini ?
Yoga terus berjalan kearahku dan teman-temanku lalu asik bercanda tawa dengan
anggota lain sedangkan aku masih dibuat bingung olehnya.
“Yoga,
kamu ngapain disini ? Kamu ikut Teater juga ?” tanyaku pada Yoga yang tengah
berdiri didepanku bersama anggota lain.
“Iya,
Memangnya kenapa ?” jawabnya simple dengan wajah yang biasa.
“Sejak
kapan ?” tanyaku.
“Baru
aja” jawab Mutia tiba-tiba. Aku menoleh kearah Mutia yang tertawa melihat
wajahku yang sengaja kubuat bingung. Aku memandang Yoga yang juga kebingungan
mendengar pertanyaanku tadi. Dengan cepat akhirnya aku menjawab.
“Yah
sudah lah, lupakan. Aku memang gak tau Info Terkini” jawabku sambil mencibir.
Yang lain hanya tertawa melihatku.
***
“Cantik
! Ganteng ! Buat Lingkaran” teriak Kak Wede yang akan memulai PREP di Aula hari
ini. PREP adalah pemanasan sebelum latihan. Gunanya untuk membuat tenggorokan atau
pita suara tidak sakit saat berlatih nanti. Ketahuilah selama latihan maupun
tampil, kita tidak disediakan mic
sehingga saat latihan atau tampil semua suara harus berintonasi tinggi dari
pita suara kami sehingga dibutuhkan pemanasan.
Setelah
PREP beberapa menit kami akhirnya sibuk dengan kelompok masing-masing.
Sebelumnya memang sudah ditentukan pemerannya. Ada yang menjadi CherryBelle,
Blink, Bollywood, Big Bang, Syahrini, Ashanty dan MC. Aku sendiri menjadi Mama, nasib.
Latihan kali ini cukup baik. Aku yakin saat hari H-nya teater Fajar akan
sukses, Amien.
***
Dua
hari lagi kami akan tampil, persiapan semakin hari juga semakin baik. Namun aku
rasa ada yang mengganjal. Ada apa dengan hatiku terhadap Yoga ? lalu kenapa Yoga begitu dekat denganku
melebihi sebuah teman bahkan sahabat. Ah, peduli apa aku ? lebih baik
mempersiapkan mental untuk tampil malam minggu nanti. Geladi Bersih pertama
berjalan baik tampa Kak Fai Pembina kami. Tingkah konyol MC yaitu Kak Enal dan
Kak Azier mengundang tawa teman-temanku yang menunggu giliran untuk tampil, tak
ketinggalan akupun dibuat ketawa oleh tingkah mereka.
Tema kali ini bersifat
Talk Show oleh sebab itu banyak yang berperan sebagai artis. Karna Teater Fajar
terkenal dengan Komedinya maka Talk Show kali ini akan membuat penontonnya
ketawa kehabisan nafas. Aku yang menjadi seksi Dokumentasi sering merekam
tingkah mereka. Disengaja maupun tidak tetap aku abadikan agar mendapatkan
moment-moment yang lucu.
Satu hari lagi maka kami
akan mencapai puncak dari latihan kami selama seminggu. Hari ini geladi bersih
didampingi Kak Fai. Dan akhirnya benar dugaanku. Banyak terjadi kesalahan saat
Geladi Bersih bersama Kak Fai termasuk aku. Akupun kena locehannya tapi segera
aku perbaiki. Keganjalan mulai aku rasakan. Ada apa dengan Yoga ? Dia tetap
kalem apa adanya tapi kenapa matanya selalu mengarah padaku ? Apa aku yang
mulai menyukainya atau dia yang menyukaiku ? Ah masa bodoh, lebih baik aku
focus ke latihan karna ini adalah hari terakhir latihan.
***
“Eh, siapa yang mau
antarkan aku pulang nih ?” tanyaku sambil menghampiri teman-temanku yang duduk
di depan kelas sehabis pulang sekolah. Denis dan Yoga saling berpandangan,
diantara teman-temanku memang merekalah yang rumahnya paling dekat denganku
sehingga memudahkanku untuk ikut pulang bersama mereka. Karna mereka terlalu
lama aku akhirnya menunjuk Denis untuk mengantarku pulang.
Jam 2 aku kembali ke
sekolah, dengan pakaian gamis putih aku berkumpul di Aula. Hari ini adalah hari
H dari semua latihan kami. Safari
Ramadhan Teater menunjuk kami sebagai Tuan Rumah dan Pembuka Safari Ramadhan.
Menurut Senior, kami selalu menjadi Tuan Rumah Safari Ramadhan. Aku
mengeluarkan kameraku memfoto anggota teater Fajar yang lain. Ada yang narsis,
cuek, sampe yang tidurpun aku foto. Aku baru sampai 30 menit yang lalu
sedangkan acara dimulai dua setengah jam lagi. Yoga dan Rudi tidur di sofa
panggung sedangkan yang lain duduk di ujung panggung. Kak Wede langsung
memanggil laki-lakinya untuk mengambil konsumsi untuk buka puasa dirumahnya.
Akhirnya Yoga, Denis, Kak Enal, Kak Azier, dan yang lain mengambil nasi
termasuk aku. Aku satu motor dengan Yoga, sepanjang perjalanan aku dan Yoga
asik bercanda tawa. Perlahan kami sampai dirumah kak Wede. Betapa herannya aku,
banyak sekali yang mengambil nasi. Lalu siapa yang ada di Aula jika hampir
semua anggota kerumah kak Wede ? selesai mengambil nasi kami kembali ke
sekolah. Sepanjang perjalanan aku yang satu motor dengan Yoga sedang bercanda
dengan kakak kelas dengan saling mendahului.
Kejadian tak terduga
terjadi. Motorku, Yoga, dan kakak kelas jatuh menghantam pengguna motor lain
yang tiba-tiba menghentikan motornya. Kecelakaan tak dapat dihindarkan,
untungnya aku dan yang lain baik-baik saja namun sayangnya masalah muncul.
Pengguna motor yang lain meminta ganti rugi karna lampu belakangnya pecah
padahal banyak yang menyalahkan dia. Yah tapi apa daya kami hanya bisa menuruti
takdir. Motor Yoga dan kakak kelasku rusak. Bagian depan motor retak tapi
untungnya itu tak menjadi masalah. Sedangkan pelipis mataku sakit terbentur
kaca mata saat jatuh tadi.
Kami akhirnya sampai di
Aula, setelah menaruh nasi aku dan Yoga duduk di ujung panggung. Aku melihat
Yora teman satu teater memakai kameraku, aku tak peduli. Aku masih meikirkan
kejadian tadi dan teringat sebuah pembicaraanku dengan Yoga saat menuju rumah
Kak Wede, Kematian. Aku membaringkan badanku di panggung yang berambal dan
perlahan aku menitikkan air mata. Aku trouma dengan kejadian dan kata-kata
Yoga, aku takut akan kembali terjadi dan semakin besar kejadiannya. Mutia,
Yora, dan Yoga yang melihatku menangis misterius langsung menenangkanku. Mutia
dan Yora bingung sampai akhirnya Yoga menceritakan semua. Aku tak bisa
melupakan kejadian itu.
Perasaanku mulai
membaik, kondisiku juga mulai normal. Saat situasi seperti itu Yoga
menghampiriku.
“Maaf yah yang tadi”
katanya memohon padaku. Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi sedangkan Yoga
masih diselimuti rasa bersalah. Aku, Mutia, Yora, dan Yoga ada di pinggir kolam
belakang sekolah. Kami ada disini karna kolam bersebelahan dengan Aula. Aku
akhirnya memutuskan untuk hunting
dengan bubuhanku tapi ide gila mengalir di kepala Mutia yang memegang kameraku.
Saat aku bercakap-cakap dengan Yoga di pinggir kolam, dari jauh dia memfotoku
dan Yoga. Saat mengetahui hal itu Yoga meneriakinya dan melemparinya dengan
batu sedangkan aku mengejarnya dan merebut kameraku. Suasana kembali hangat.
***
“Eh, kok ada Morgan
disini !” kataku sambil menggandeng Yoga yang saat itu menjadi salah satu
anggota BoyBand. Penonton tertawa
sedangkan pemain lain heran dengan improvisasi dadakanku. Tak ada yang tahu
selain aku. Maksud dari improvisasi dadakanku tadi adalah untuk menghilangkan
rasa bersalah Yoga padaku. Sejak awal dia masih merasa bersalah padaku padahal
aku sudah memaafkannya. Pertunjukan TalkShow kami sukses besar walau ada
sedikit kesalahan teknis.
“Teater Fajar ! Keep
Stay Pro From Zero To Hero !” Yelyel teater Fajar menderu saat pertunjukan
usai. Selesai membersihkan aula aku pulang bersama Denis, sedangkan Yoga
bersama Mutia. Aku rasa Yoga masih takut untuk mengantarkanku pulang.
***
Hari Senin, aku
beraktifitas seperti biasa disekolah. Namun hubunganku dengan Yoga semakin
dekat. Selepas Sholat Dzuhur aku mendatangi Yoga dan meminjam HPnya. Aku ingin
mengakses internet melalui HPnya yang berbasis Android. Saat meminjamnya betapa
terkejutnya aku melihat wallpaper HPnya yaitu fotoku yang sudah dieditnya. Aku
akhirnya teringat sesuatu. Saat Safari Ramadhan, aku meminjam HPnya dan
memakainya untuk memfoto diriku. Setelah aku kirim ke HPku aku lupa
menghapusnya dari HP Yoga. Untungnya hanya satu yang tersimpan. Aku bingung,
untuk apa dia menjadikan fotoku wallpaper HPnya. Ah, peduli apa aku yang
penting tugas yang dicari diinternet lekas selesai.
Keesokannya beredar
kabar yang tidak enak mengenaiku dan Yoga. Cewek-cewek dari seluruh kelas X-5,
kelasnya Yoga, menyebutku pacaran dengan Yoga dan telah merebut pacar orang
yaitu Ayu, teman sekelas Yoga. Aku bingung harus berbuat apa sedangkan seluruh
anak kelas X-5 telah membenciku. Aku cuek tapi aku lelah mendengar hinaan
mereka. Aku benar-benar lelah jika terus berpura-pura tidak mendengar hinaan
mereka. Hingga tanpa aku sadari sesekali aku meneteskan air mata sepulang
sekolah maupun saat istirahat yang aku pakai untuk bertadarus di Mushola
sekolah. Hatiku semakin tercabik ketika tidak sengaja membuka kotak masuk di HP
Yoga yang berisi hinaan untukku dan Yoga. Aku depresi berat.
***
“Ais,
Denis nah” kataku manja pada Denis.
“Maaf
Nis, aku aja dijemput. Aku gak bawa motor, lagi pula kan ada Yoga” jawab Denis.
Aku hanya terdiam.
“Sama
aku aja Nis” jawab seseorang dari belakangku. Saat aku menoleh kebelakang
betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang menawari tumpangan itu.
“Yoga
?” jawabku meyakinkannya. Sebenarnya setelah fitnah yang beredar aku dan Yoga
perlahan mulai memberi jarak akan kedekatan kami, bahkan aku mulai merasa
jengkel dan marah dengan Yoga yang sempat merahasiakan hinaan diHPnya. Aku
ingin menolak tapi tak bisa, aku akan pulang dengan siapa ? jika bersama kakak
sepupuku, Kak Enal, maka kasian kak Enal yang akan bolak balik karna jarak
rumahku dan kak Enal cukup jauh. Dengan berat hati akhirnya aku ikut dengan
Yoga.
Sepanjang
perjalanan aku hanya sesekali berbicara dengan Yoga. Ini aku lakukan agar
kecepatan motornya tak bergitu cepat. Aku masih takut terjadi hal yang sama
seperti saat Safari Ramadhan. Saat terdiam cukup lama dalam perjalanan akhirnya
Yoga mulai berbicara.
“Kamu
kenapa sih ? marah betul kayaknya sama aku” kata Yoga. Aku hanya terdiam.
“Sudahlah,
masalah fitnah bubuhannya gak usah kamu pikirkan” Katanya lagi sambil menoleh
kebelakang melihatku. Aku langsung mendorong kepalanya untuk melihat kedepan
karna dia sedang mengendarai motor.
“Aku
sakit hati ga ! kamu juga kenapa gak cerita kalau aku dan kamu difitnah sama
bubuhan X-5 !” jawabku setengah berteriak di motor. Yoga memperlambat laju
motornya dan kembali menoleh padaku. Aku kembali mendorong kepalanya namun ia
melawan hingga ia menghentikan motornya dipinggir jalan padahal jarak rumahku
tinggal beberapa ratus meter lagi. Dia menatapku sedangkan aku menunduk sambil
membuang muka.
“Aku
gak ngasik tau kamu karna aku gak mau kamu ikut terlibat” jawabnya. Aku
langsung menoleh padanya sedangkan kini dia yang membuang muka.
“Aku
pasti terlibat Yoga ! Karna ini juga masalahku. Kamu ngerti gak” jawabku
setengah berteriak. Yoga kini terdiam dan menatapku sedangkan aku hanya
terdiam. Yoga menyalakan motornya lalu mengantarkanku pulang. Sampai didepan
rumah kami masih terdiam, setelah mengucapkan terima kasih Yoga meninggalkanku
dan akupun masuk kerumah.
***
Sejak
kejadian itu hubunganku dengan Yoga mulai menjauh. Disekolah aku hanya terdiam
jika berselisihan dengan Yoga. Hal itu membuat teman-temanku heran karna
biasanya aku pasti akan menagih HPnya namun kali ini tidak. Aku duduk di
mushola sambil bertadarus seperti biasa di shaf perempuan, sehingga tampa aku
sadari tepat dibalik kain pembatas shaf terdapat Yoga yang tahu aku ada di
mushola. Dari bawah ia memberikan HPnya padaku, aku yang melihat HPnya Yoga
hanya terdiam sambil melanjutkan membaca.
“Lihat
isi pesan di HPku” katanya dari balik kain pembatas shaf. Aku menoleh dan
akhirnya mengambil HPnya. Setelah aku baca isi pesan yang memberitahu bahwa
malam Senin ini ada acara Safari Ramadhan di SMKN 7 aku hanya mengangguk dan
mengembalikan HPnya.
“Kamu
akan ikut?” Tanya Yoga setelah memastikan aku telah membaca isi pesannya.
“Insya
Allah” jawabku simple.
“Hemm,
acaranya kan malam senin berarti gak mungkin kan orang tuamu mau ngantar
kesekolah. Aku jemput mau gak ?” katanya sambil menawarkan tumpangan. Aku hanya
terdiam tak acuh dengan kata-kata Yoga tapi memang ada betulnya.
“Lihat
saja nanti” kataku kalem. Suasana kembali hening.
***
Minggu
Sore, tepat saat aku ingin berkumpul disekolah untuk acara teater orang tuaku
tak dapat mengantarkanku. Aku bingung sedangkan Denis sudah ada disekolah, tak
mungkin ia kembali hanya untuk menjemputku. Saat aku duduk diluar aku melihat
Yoga datang kerumahku. Ia menghentikan motornya lalu mendatangiku.
“Sudah
kutebak pasti gak ada yang ngantar kamu. Mau ikut gak ?” tawar Yoga. Tak ada
pilihan lain aku akhirnya masuk kedalam dan mengambil tasku. Setelah pamit
dengan orang tuaku aku akhirnya ikut Yoga kesekolah. Sampai disekolah kami
meminta maaf karna terlambat. Akhirnya kami bersama anggota lain menuju SMKN 7.
***
Aku
berjalan mengelilingi sekolah bersama Mutia dan yang lain. Sedangkan Yoga
bersama kumpulan cowoknya. Tak kusangka SMKN 7 ternyata bagus juga. Tak kalah
dengan MAN 1, sekolahku. Lagi-lagi aku bersikap tak acuh dengan Yoga padahal ia
berniat baik padaku. Setelah buka puasa bersama dan sholat magrib berjamaah,
akan ada pertunjukan dari Teater Tujuh. Disaat sedang asik menyaksikan Yoga
menarik tanganku dan membawaku ke taman sekolah. Tampa aku sadari ternyata
taman ini begitu indah dimalam hari. Lampu taman bagaikan bintang yang
bergemelapan. Yoga mendekatiku yang masih terkagum-kagum dengan keindahan
taman. Saat ia ada disampingku aku terkejut dan terdiam. Karna begitu takjub
aku jadi lupa jika ada orang selain aku di taman ini.
“Bagus
kan?” tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum tipis.
“Dari
mana kau tahu jika di SMKN 7 ada taman seindah ini?” tanyaku balik. Yoga
tersenyum karna akhirnya berhasil membuatku mau berbicara padanya. Sedangkan
aku baru menyadari kebodohanku.
“Dari
temanku, dia masuk SMKN 7” jawabnya simple. Aku mengangguk. Setelah diam
beberapa saat aku akhirnya memutuskan untuk kembali melihat pertunjukan teater
tapi saat aku hendak kembali Yoga menggemgam pergelangan tanganku. Aku segera
melepaskannya tapi genggammannya begitu kuat.
“Yoga
! Apa maumu ? tanganku sakit” kataku
sambil masih berusaha melepaskannya. Yoga akhirnya melepaskan genggammannya.
“Aku
membawamu kesini karna ada yang mau aku bicarain” jawabnya.
“Ya
biacarakan aja sekarang” kataku agak ketus. Yoga kembali menggenggam tanganku
hingga akhirnya aku berhenti bersifat ketus padanya.
“Sudah
gak ketus lagi kan?” tanyanya. Aku hanya mengguk pasrah menggadapi dia.
“Oke,
kamu tau apa yang mau aku bicarain disini?” katanya mengawali pembicaraan. Aku
hanya menggeleng. Yoga menarik nafas dalam. Aku bingung dibuatnya.
“Itu
karna ada yang mau aku bicarain. Kamu tau kalau sebenarnya aku benar-benar suka
sama kamu. Dan yang membuat bubuhannya menganggap kita pacaran juga karna aku.
Aku suka sama kamu Nissa. Aku sayang sama kamu” katanya mengungkapkan
perasaannya. Aku hanya terdiam tampa ekspresi. Semua ini sudah tidak masuk
akal.
“Jadi
kamu yang membuat kita tampak seperti orang yang berpacaran hingga bubuhannya
menganggap aku berpacaran dengamu” tanyaku pada Yoga. Dia mengangguk pelan. Aku
terdiam tak percaya. Pengakuan ini terlalu membuatku tersakiti karna Yoga yang
membuatku terhina.
“Lalu
kamu maunya apa ?” jawabku dengan nada ketus. Kali ini Yoga menatapku dan tidak
lagi menggenggam pergelangan tanganku.
“Untuk
menghilangkan Fitnah kalau kita berpacaran bagaimana kalau kita pacaran beneran
hingga fitnah itu hilang” kata Yoga yang sudah kuanggap Gila. Aku menggeleng
kecewa. Aku benar-benar kecewa dengan sifat Yoga. Tapi aku juga tak bisa
membuatnya bersalah karna aku tak tega dengannya. Yoga terus memperhatikanku,
menanti sebuah jawaban. Kulihat dari wajahnya jika ia benar-benar serius.
“Yoga
aku … ” panggilku. Dia menoleh padaku. Aku menatapnya lalu mengangguk pelan dan
menunduk. Yoga yang melihat anggukanku hanya tersenyum simple namun manis
sekali.
“Makasih
ya Anissa Gita Saputra” katanya sambil tertawa kecil. Aku yang merasa terolok
karna namaku diubah menjadi “Saputra” langsung mencubit tangannya namun dengan
cepat Yoga menggenggam tanganku.
“Aku
hanya bercanda Anissa Gita Cantika” jawabnya lembut, Aku tersenyum. Tidak kami
sadari bahwa anggota teater Fajar bahkan anggota teater lain memperhatikanku
dan Yoga. Setelah mengendap-endap mendekati kami, mereka tiba-tiba menyiram
Yoga dengan tepung. Aku dan Yoga terkejut sedangkan mereka tertawa dan langsung
bernyanyi lagu ulang tahun.
“Cieeee
yang dihari ultahnya nembak cewek dan diterima. Selamat ya” teriak Rudi
disertai anggota teater lain yang berteriak kata “Ciyeee”. Aku menutup mulutku
menahan tawa.
“Kamu
hari ini ulang tahun ?” tanyaku pada Yoga. Yoga yang sudah berlumuran tepung
mengangguk sambil membersihkan bajunya. Aku hanya tertawa dan membantu
membersihkan bajunya. Saat aku membantu membersihkan bajunya tiba-tiba dari
belakang Mutia dan yang lain menyiramku dengan tepung. Aku yang tak tahu
apa-apa hanya dapat menahan amarah.
“Cieeee
yang cowok ulang tahun hari ini, yang cewek dua hari lagi. Ngerayainnya
barengan aja ya” kata Mutia sambil menghindariku yang siap melemparkan tepung
ke arahnya. Yang lain tertawa termasuk Yoga.
“Kamu
dua hari lagi ya ulang tahun, berarti tanggal 7 Agustus?” Tanya Yoga. Aku hanya
mengangguk sambil tertawa. Sedangkan Yoga hanya dapat menahan tawa. Sungguh
hari sangat cepat berganti, walaupun awalnya menyakitkan tapi ujung-ujungnya
membuat bahagia. Dan yang paling tak kusangka jika ada cinta di teater Fajar.
Ini hari yang menakjubkan.
Komentar
Posting Komentar