Kehadiranmu Sangat Berarti
Dengan tergesa-gesa Kevin berlari di lobby sekolah. Ia terus
berlari menuju satu ruangan, Studio Band. Tanpa mengucapkan salam ia langsung
membuka pintu studio itu. Dilihatnya Rangga, Arif, dan Fikri yang sudah
menunggunya dengan wajah tak seperti biasanya. Ia langsung mengambil gitarnya
dan bersiap diposisinya dan baru ia sadari bahwa seorang anggota belum datang
juga.
“Mana Intan?” Tanya Kevin pada mereka
bertiga. Mereka hanya saling pandang.
“Sudah keluar” jawab Fikri sambil
menaruh stik drumnya. Suasana kembali hening.
“Ooh, bagus lah kalau begitu. Waktu
kita tinggal 3 hari ! siapa yang akan menggantikannya ?” hentak Kevin pada
mereka bertiga dan terdiam
Kevin mengingat kejadian minggu lalu
saat Intan masih berada dalam grup band mereka. Kejadian yang membuat Intan
enggan untuk kembali bermain dalam Band ini dan keluar dari Band ini, disaat
Fikri menembak Intan. Lalu apa masalahnya ? Ternyata Intan sudah mempunyai
kekasih dan Fikri tau itu tapi Fikri tetap memaksanya hingga membuat Intan
kesal. Belum lagi sebelum Intan bergabung dalam grup Bandnya, mereka sudah
sepakat untuk tidak saling jatuh cinta, karna takut persahabatan mereka akan
terabaikan. Tapi Fikri melanggar hal itu hingga membuat Intan kecewa dan keluar
dari Band Mereka. Seharusnya Fikri yang keluar dari Band karna ia yang
melanggar janji di Band mereka tapi malah Intan yang keluar karna egonya.
Dengan rasa emosi yang tinggi
tiba-tiba Kevin menarik kerah seragam sekolah Fikri. Fikri yang semulanya biasa
saja terkejut dengan tindakan Kevin. Arif dan Rangga berusaha mencegah
perkelahian antara dua orang tersebut.
“Kevin ! Cukup Kevin ! jaga emosimu !”
teriak Arif yang menahan tubuh Kevin. Sedangkan Rangga berusaha menyelamatkan
Fikri.
“Untuk apa kalian membela Dia ! Dia
yang membuat kita kehilangan satu vokalis di Band kita disaat waktu untuk tampil
sisa 3 hari !” Balas Kevin tak kalah nyaring dengan Arif. Setelah berhasil
menjaga emosi Kevin, mereka bertiga hanya terdiam. Kevin masih marah dengan
Fikri.
“Sekarang siapa yang akan menggantikan
Intan ? Fikri kau harus bertanggung jawab akan hal ini dan aku berikan waktumu
sampai jam sekolah selesai. Jika tidak, kita bubarkan saja grup Band ini dan
membatalkan penampilan kita” kata Kevin pada Fikri. Arif dan Rangga hanya
terdiam sedangkan Fikri semakin tertekan dengan perintah Kevin yang berpangkat
ketua di grup band mereka.
“Baik akan kuterima permintaanmu” kata
Fikri sambil pergi meninggalkan studio band. Kevin, Arif, dan Rangga hanya saling
pandang. Kevin yang terkenal dengan ketegasan dan sikap keras kepalanya ini
memang tidak bisa dihindari.
“Sudahlah, sehabis pulang sekolah kita
lanjutkan sekaligus melihat apakah Fikri sudah menemukan pengganti Intan” kata
Kevin sambil meninggalkan mereka berdua. Arif dan Rangga hanya mangangguk.
Kevin berjalan melewati kelas XII IPA
1 yg dijadikan ruang pengawas saat Ujian Nasional minggu lalu. Dilihatnya
beberapa siswi berpakaian putih biru di ruangan itu. Barulah ia sadari jika
hari ini terdapat Tes Wawancara untuk penerimaan siswa baru. Disaat ia menengok
ke dalam ruangan itu, dilihatnya siswi berpakaian putih hijau dari dalam
ruangan yang sedang di tes bakatnya, bakat menyanyi. Ia kagum dengan kemampuan
siswi itu dan mencoba untuk mencari tahu tentang siswi itu. Tapi tindakannya
itu terhenti ketika Pak Hamid mempergokinya mengintip ruangan itu. Kevin segera
berlari ke halaman Masjid sekolah yang rindang. Dipikirannya masih terbenak
siswi yang masih berstatus siswa SMP itu. Suaranya telah menghipnotis dirinya
sampai lamunannya buyar ketika dikejutkan oleh kedatangan Arif, Rangga, Fikri,
dan … siswi yang ia lihat diruangan tes wawancara tadi. Kevin heran melihat
keakraban Fikri dengan siswi itu.
“Siapamu Fik?” Tanya Kevin pada Fikri.
“Sepupuku. Kenapa?” Tanya Fikri.
“Naksir ya !” teriak Rangga yang
berbadan besar sambil mengunyah roti yang baru dibelinya.
“Ya enggak lah ! Tadi suaranya bagus
aja pas tes Bakat” jawabnya pada mereka bertiga sedangkan siswi itu mengobrol
dengan temannya yang baru saja selesai tes wawancara. Fikri, Rangga, dan Arif
yang dari tadi diam saling pandang dan mulai senyum-senyum sendiri. Sedangkan
Kevin hanya bingung melihat tingkah mereka sampai akhirnya mengerti dan ikut
tersenyum aneh.
“ITU DIA !!!” teriak mereka berempat
hingga membuat semua orang yang ada ditaman itu menoleh pada mereka. Mereka tak
peduli dan segera menarik siswi itu ke depan studio Band.
“Kak, aku mau dibawa kemana?” Tanya
siswi itu ke Fikri dengan wajah sedikit khawatir.
“Tenang, kamu gak kami apa-apain kok”
jawab Fikri pada siswi itu yang mulai Kevin ketahui bernama Gita itu.
Sampai di dalam studio Band mereka
langsung menyuruhnya bernyanyi sedikit untuk menguji Gita. Gita yang awalnya
tak mau akhirnya mau setelah dipaksa Fikri. Kevin, Rangga, dan Arif terkagum-kagum
dengan suara Gita sedangkan Fikri biasa saja karna ia tau kemampuan adik
sepupunya itu. Setelah terkagum-kagum Kevin langsung menawarkan posisi vokalis
pada Gita mengingat waktu mereka tak banyak lagi. Gita yang awalnya menolak akhirnya
menerima setelah mengetahui keadaan band kakak sepupunya itu. Sejak saat itu
Gita resmi masuk dalam band mereka. Yang paling senang kali ini adalah Kevin.
Sepertinya ia telah jatuh cinta pada gadis itu.
3
hari kemudian
“Bentar lagi kalian tampil, persiapkan
semuanya” jawab panitia pentas dari atas panggung. Kevin, Fikri, Rangga, Arif,
dan Gita segera mempersiapkan semuannya. Tak lama nama band mereka dipanggil.
Mereka naik ke atas panggung tapi Gita tampak grogi, Kevin menenangkannya.
Fikri yang melihat tingkah Kevin mulai menyadari sesuatu dan hanya terdiam
sambil tersenyum. Rangga dan Arif membuka penampilan mereka dengan feat antara
keyboard dan bass. Perlahan suara gitar masuk dan vocal dari Gita dan Kevin
menyatu. Saat memasuki Reff suara tabuhan dari Fikri melengkapi penampilan
malam ini. Lagu Last Child feat Giselle dengan judul “Seluruh Nafas ini”
dibawakn dengan sempurna oleh mereka. Suara tepukan dari penonton yang tak lain
siswa sekolah mereka tak henti-hentinya menyemarakkan penampilan mereka.
Apalagi lagu mereka sangat pas dengan kolaborasi suara Kevin dan Gita. Tak
anyah suara suitan dari teman-teman mereka sesekali terdengar. Gita yang belum
resmi menjadi siswi di sekolah itu mendapat sambutan baik dari kakak-kakak
kelasnya. Gita hanya tersenyum setelah mendapatkan pemikiran positif dari
kakak-kakak kelasnya. Dan malam ini Gita kembali dikejutkan dengan kalimat yang
Kevin lontarkan setelah selesai bernyanyi di atas panggung itu.
“Malam ini mungkin band kami tak akan
tampil jika kami tak menemukan Gita saat Tes Wawancara 3 hari yang lalu.
Sebenarnya juga saat pertama kali melihatnya saya terpesona dengan Gita” kata
Kevin didepan semua penonton tanpa ada ragu sedikitpun. Sedangkan Arif, Fikri,
dan Rangga hanya tersenyum karna sebelumnya Kevin sudah bercerita tentang hal
ini. Gita yang dibanggakan itu hanya menundukan kepalanya. Tak lama Kevin
mendekati Gita, mengangkat dagunya dan berkata pada Gita.
“Gita, maukah kau menjadi pacarku?”
tembak Kevin didepan semua penonton. Gita kembali menundukan kepalanya dengan
wajah yang memerah tapi berhasil diangkat oleh Kevin yang tengah menunggu
jawabannya. Tersihir oleh kejadian itu, penontonpun ikut tegang menunggu
jawaban Gita. Setelah beberapa saat Gita berbisik kecil di telinga Kevin.
“Iya kak Kevin, Aku mau” jawab Gita
sambil menundukan kepalanya dan sesekali melirik ke Kevin. Kevin yang
mendapatkan jawaban “Iya” itu langsung memeluk Gita. Semua yang menyaksikan hal
itu bersorak dan tak ayal suara suitan semakin terdengar. Gita berteriak minta
dilepas tapi Kevin tak mau. Sedangkan Fikri melihat kejadian itu. Kevin yang
tau Fikri melihat hal itu segera menurunkan Gita dan mendatangi Fikri.
“Fik, kamu memang sahabatku” kata
Kevin sambil berjabat tangan ditutup dengan pelukan persahabatan mereka.
“Kamu juga Kev, kamu jaga Gita ya.
Jangan sampai ia terluka” kata Fikri sambil membelai rambut adik sepupunya itu.
Dengan tegap dan hormat Kevin menjawab “Siap Pak !” sambil merangkul Gita. Band
mereka kali ini sukses besar berkat Gita. Sedangkan Gita mendapatkan cinta dari
Kevin.
Komentar
Posting Komentar