Gitar Gita

Jam istirahat, Gita berada di perpustakaan sekolah. Melewati rak-rak buku yang besar seraya memilih buku yang ingin dia baca. Saat berada di bagian belakang perpustakaan Gita mendengar nyanyian. Nyanyian yang dimainkan dengan gitar dan bersuara seorang laki-laki. Karna penasaran Gita akhirnya mengikuti asal suara itu. Saat ia melewati rak buku yang berada di paling pojok perpustakaan. Gita melihat seorang siswa yang sedang bernyanyi sambil bermain gitar di pojok perpustakaan. Dimana siswa itulah yang membuat Gita menjadi penasaran. Saat ia memperhatikan siswa itu dibalik rak buku.Tiba-tiba siswa itu menoleh ke arah rak buku yang dijadikan Gita sebagai tempat persembunyiannya. Gita pun kembali menyembunyikan seluruh badannya tapi sepertinya siswa itu telah mengetahui jika ada yang memperhatikannya.
“Siapa Disana?” tanya siswa itu yang masih memperhatikan rak buku besar itu. Gita mulai panik dan terdiam berusaha agar tidak diketahui oleh siswa itu. Karna tidak ada jawaban siswa itu akhirnya mendatangi rak buku besar itu. Saat melihat sisi belakang rak buku itu ia mendapati Gita sedang bersembunyi. Gita hanya terdiam dan tak berani melihat siswa itu sedangkan siswa itu terus melihat wajah Gita.
“Siapa kamu? Kenapa memperhatikanku” tanya siswa itu pada Gita.
“Aku Gita, kau sendiri siapa ? Lalu kenapa bermain gitar di perpustakaan ?” jawab cinta pada laki-laki itu. Laki laki itu hanya terdiam sambil terus memandang wajah Cinta.
“Aku Kevin, ini memang tempat favoritku untuk bermain gitar. Mengapa kau memperhatikanku secara diam-diam?”
Aku mendengar suaramu saat bernyanyi jadi aku mencari tahu asal suara itu”
Kevin terdiam dan terus menatap Gita. Sedangkan Gita hanya terdiam. Tak lama Bel masukan berbunyi. Merekapun tersadar dari lamunan masing-masing.
Mau gak ketemuan lagi ? Disini, jam istirahat kedua. Kalau bisa aku ajarin kamu main gitar deh tawar Kevin pada Gita yang tengah berjalan meninggalkannya.
Insya Allah  Jawab Gita. Gita berjalan menuju kelasnya dan duduk dibangkunya sambil berlamun. Di dalam benaknya ia akui Kevin itu sangatlah gagah dan bersuara merdu dan sepertinya ia menyukai Kevin. Tak lama, seorang Guru masuk dan iapun tersadar dari lamunannya. Kelas yang tadinya ricuh kini menjadi tenang. Bagaimana tidak,Guru mata pelajaran kali ini terkenal Killer dan Guru ini juga memegang mata pelajaran yang menjadi momok menakutkan bagi siswa, Matematika. Disaat Bu Yasmin menerangkan tentang rumus Pitagoras, Gita hanya melamun selama pelajaran berlangsung hingga lamunannya terhenti setelah Bu Yasmin mendatanginya.
Gita, Kau melamun !” bentak Bu Yasmin pada Gita.
“Tidak Bu” Jawab Gita pelan bahkan sangat pelan.
“jangan menghelak ! sekarang pergi ke toilet dan cuci wajahmu” hentak Bu Yasmin
Gita menurut dan pergi keluar kelas diiringi tawa seisi kelas. Di dalam pikiran Gita wajah Kevin tak dapat dihapuskan. Saat ia membasuh muka ia melihat wajah yang ia lamunkan tadi dari pantulan kaca, Kevin. Setelah membasuh mukanya dan mengeringkannya Gita mengikuti Kevin yang tengah menuju perpustakaan. Langkah Gita terhenti saat melihat Pak Hendra keluar dari perpustakaan. Langsung saja cinta memutar arah tapi sayang Pak Hendra sudah melihatnya.
Gita, mengapa kau keluar saat jam pelajaran?” tanya Pak Guntur.
“Dari Toilet pak disuruh Bu Yasmin” jawab Gita pelan sambil menunduk.
“kelasmu sudah terlewatkan, mengapa kau menuju Perpustakaan ?” jawab Pak Hendra.
Gita hanya terdiam, ia takut jika dirinya akan dihukum oleh Pak Hendra. Sedangkan Pak Hendra terus menunggu jawaban Gita. Sampai akhirnya Gita mengakui maksudnya.
“Saya tadi mengikuti seseorang Pak” Jawab Gita. Mata Pak Hendra langsung menatap Gita.
“Siapa?” Tanya Pak Hendra pada Gita. Gita hanya terdiam dan akhirnya menjawab.
Siswa benama Kevin, Pak” Jawab Gita. Wajah Pak Hendra langsung memucat dan terdiam seribu bahasa. Gita bisa membaca garis wajah Pak Hendra tapi ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu serius Gita bahwa kamu telah melihat Kevin?” Tanya Pak Hendra tak percaya. Gita hanya mengangguk dengan cepat dan membuat wajah Pak Hendra semakin pucat. Saat terdiam beberapa saat akhirnya Pak Hendra mengajak Gita ke Kantornya setelah meminta izin ke guru di kelas Gita.
Gita, dari mana kau kenal Kevin?” tanya Pak Hendra setelah duduk dimejanya.
Jam Istrahat di pojok perpustakaan Pak, saat itu ia tengah bernyanyi sambil bermain gitar” Pak Hendra terdiam beberapa saat.
“kau baru mengenalnya?” tanya Pak Hendra pada Gita.
“Ya Pak, saya baru menganalnya dan belum tahu lebih dalam tentangnya” jawab Gita.
Pak Hendra hanya terdiam dan akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Gita, sebenarnya siswa yang bernama Kevin itu sudah tidak ada lagi disekolah ini. Bahkan didunia ini” Pak Hendra mulai bercerita. Gita tersentak kaget, jika Kevin tak ada lagi di dunia ini jadi siapa yang ia temui di ujung perpustakaan.
“Tak mungkin Pak saya melihatnya sendiri” jawab Gita menghelak.
“Kamu betul melihat Kevin di pojok perpustakaan?” Tanya Pak Hendra meyakinkan. Gita mengangguk.
“Sebelumnya pernah liat Kevin?” tanyanya lagi dan kali ini Gita menggeleng. Pak Hendra terdiam dan mulai bercerita.
“Sebenarnya Kevin sudah tidak ada lagi disekolah ini sejak kejadian 4 tahun yang lalu” kata Pak Hendra. Gita Terdiam tak percaya sambil terus mendengarkan.
“Kevin meninggal karna serangan jantung mendadak saat ia bermain gitar di pojok perpustakaan. Mayatnya baru diketahui keesokan paginya. Menurut teman-temannya ia sering bermain gitar di perpustakaan agar ia lebih berkonsentrasi menciptakan sebuah lagu untuk teman perempuan yang ia sukai. Namanya juga sama sepertimu. Jika namamu Gita Cantika nama perempuan itu Gita Natasya. Namun sayang sebelum ia selesai menciptakan sebuah lagu untuk perempuan yang ia sukai ajal telah menjemputnya. Konon katanya, arwah Kevin masih ada di pojok perpustakaan itu dan menunggu perempuan yang ia sukai itu. Sudah 3 tahun tak terlihat arwahnya namun hari ini kejadian itu terulang. Mungkin kau dianggap Gita Natasya oleh Kevin padahal tidak. Ketahuilah, wajahmu sama persis dengan Gita Natasya. Watak kalianpun sama. Kini Gita Natasya sudah berkuliah tapi Kevin masih tetap menunggu Gita di pojok perpustakaan dan hal itu membuat pihak guru dan siswa resah” cerita Pak Hendra panjang lebar. Gita terdiam sambil sesekali berucap istigfar.
Tak lama bel istirahat kedua berbunyi. Setelah diizinkan meninggalkan kantor Pak Hendra entah mengapa Gita ingin mendatangi pojok perpustakaan menepati janjinya pada Kevin, padahal ia sudah tahu bahwa Kevin itu tak ada. Saat ia berjalan menyusuri rak buku ia kembali mendengar dentingan suara gitar. Kali ini nadanya lebih baik dari sebelumnya. Dengan perlahan Gita menghampiri pojok perpustakaan dan melihat Kevin –Lebih tepatnya arwah Kevin. Kevin yang tahu Gita datang tak memberi respon banyak.
“Kau sudah tahu semua kan tentang aku dari Pak Hendra?” Tanya Kevin langusng hingga membuat Gita terdiam. Kevin memandang Gita dan mulai memainkan gitarnya.

Kau memang bukanlah dia
Yang ku nanti selama ini
Aku tahu semua itu
Tapi aku sudah terlajur cinta

Aku tahu aku telah tiada
Tapi izinkan aku
untuk mencintaimu
aku merindukanmu cinta

Kau yang terindah
Didalam hatiku
Tak ada yang lain
Selain dirimu

Suara Kevin telah menghipnotis Gita. Gita hanya terdiam sambil tetap memberi jarak antara dia dan Kevin. Kevin yang menyadari hal itu mendekati Gita dan menarik tanganya. Kevin memberikan gitarnya pada Gita. Gita hanya bingung dibuatnya.
“Aku tahu kau bukan Gita yang aku tunggu tapi kehadiranmu kini membuatku tenang. Aku mohon padamu tolong jaga gitar ini. ini gitar kesayanganku dan aku ingin kau menyimpannya. Aku tahu kau bukan Gita Natasya yang kutunggu tapi kau telah membuatku tenang Gita Cantika” kata Kevin sambil tersenyum. Setelah memastikan gitarnya telah ada di tangan Gita perlahan tubuh Kevin mulai transparant tak terlihat. Kevin menghilang begitu saja di depan Gita. Gita masih terdiam, ia tak takut malah tersentuh. Saat ia ingin meninggalkan perpustakaan sebuah bisikan Gita dengar dan bisikan itu bersuara Kevin
“Gita, T’rima Kasih telah mau menggantikan Gita Natasya. Aku akan tetap melindungimu selayaknya kau melindungi gitarku” Gita tersenyum dan berkata. “Iyya Kevin, aku janji” setelah itu Gita meninggalkan Perpus sambil membawa gitar Kevin.

Komentar

Postingan Populer