Satu Lembar Kau Sembunyikan

“Kau sembunyikan satu lembar itu, agar kau tahu siapa aku. Bukankah begitu ?”
(Asya Rasya)
---
            Wanita berhijab modern penuh lilitan itu menunggu “Kura-kura” di Masjid Iclamic Center. Sambil membawa naskah yang hanya  ia jepit, Asya berjalan menuju koridor Masjid. Masjid ini adalah salah satu Masjid terbesar di Asia Tenggara. Tak aneh rasanya jika banyak pengunjung yang berasal dari luar kota mengunjungi Masjid yang juga memiliki fasilitas Sekolah Islam Internasional. Saat Asya baru saja keluar dari dalam Masjid, seseorang menabraknya hingga menjatuhkan naskahnya.
            “Maaf, saya terburu-buru hingga tak melihat anti” jawab seorang lelaki sambil membantu mengambilkan naskahnya. Asya buru-buru menyergahnya.
            “Biar saya saja” jawabnya lembut takut menyinggung. Lelaki itu sepertinya benar-benar tak enak hati tetap bersikeras membantunya. Asya yang merahasiakan naskahnya kepada khalayak segera buru mengambilnya sebelum lelaki itu menyentuh naskahnya. Setelah lengkap dan mengucapkan terima kasih Asya segera meninggalkannya. Sempat ia lihat wajah lelaki itu saat berjalan meninggalkannya. Pakaian koko putih menyatu dengan kulitnya yang cerah ditambah matanya yang berwarna kecoklatan. Astagfirullah istigfarnya dalam hati. Belum saatnya aku memikirkan hal seperti itu.
            Dari jauh  Asya lihat Taqin atau yang ia juluki “kura-kura” karna jam karetnya. Asya menghampirinya yang berada didepan menara Asmaul Husna. Sedangkan Taqin sibuk memainkan jarinya diatas Keyboard laptop yang ia selalu bawa setiap saat.
            “Assalamu’alaikum” salam Asya menghampiri Taqin.
            “Wa’alaikumussalam. Sudah lama?” tanyanya pada Asya. Asya menggeleng pelan sambil menyerahkan naskah yang siap untuk Taqin edit. Taqin menerima naskahnya dan memperhatikan satu persatu lembaran naskah itu. Asya yang berjarak cukup jauh dari Taqin ikut memperhatikan Taqin yang sedang memeriksa naskahnya.
            “Halaman 58 mana? Kok dari 57 langsung ke 59” Jawab Taqin sambil terus memperhatikan naskah. Asya menghampirinya dan kembali mengambil naskahnya untuk ia koreksi kembali. Dan ternyata benar, halaman 58 hilang!
            “Tadi sudah aku cek dan jumlahnya pas” Jawab Asya. Taqin menoleh padanya.
            “Jangan bilang kalau tadi naskahmu terjatuh dan sempat tercecer” Tebak Taqin. Ya, benar, memang naskahnya sempat terjatuh. Tanpa banyak basa-basi Asya kembali ketempat tadi, dimana naskahnya terjatuh. Taqin mengikutinya dari belakang. Asya perhatikan ditempat naskahnya terjatuh tapi tak ada selembarpun kertas yang ia lihat. Asya terduduk lemas ditiang koridor Masjid. Taqin memperhatikannya tanpa banyak bicara. Ia memang tahu kebiasaan Asya yang tanpa sengaja sering menjatuhkan naskahnya. Alasan yang terkuat adalah karna Asya lemah fisik, tangannya bisa saja tiba-tiba lemah dan mati rasa hingga sering menjatuhkan barang yang ia bawa.
            “Masih sempat tidak untuk print lembar yang hilang itu? Deadlinemu sudah terlalu jauh. Hari ini juga harus selesai. Jika tidak novelmu kali ini tidak diterbitkan” Jawab Taqin yang semakin membuatnya pusing. Tak lama seseorang menghampiri mereka.
            “Mencari satu lembar naskah ini ukhti ?” Jawabnya sambil menyodorkan naskah itu pada Asya yang hilang. Ia ambil langsung dari tangan lelaki itu dan ia perhatikan baik-baik. Ya, itu naskah Asya yang hilang! Asya tatap wajah orang yang memberikan naskahnya itu. Ternyata ia yang tadi menabraknya. Taqin menghampiri Asya dan lelaki itu. Lelaki itu segera menyodorkan tangannya pada Taqin.
            “Boleh kenalakan bukan ? ana Furqon” Jawabnya pada Taqin. Taqin menerima jabatan tangannya dengan sedikit canggung dan bingung.
            “Taqin, Taqin el-Rohman. Ini … Asya, Asya Rasya” Jawab Taqin padanya. Asya memperhatikan kedua orang yang kini tepat berada didepanku. Furqon merapatkan kedua telapak tangannya didepan dadanya, Asya membalasnya.
            “Kenapa naskah ini bisa berada ditanganmu?” Tanya Asya pada Furqon. Ia hanya tersenyum,
            “Agar ku tahu siapa kamu sebetulnya” Jawab Furqon. Asya dan Taqin saling memandang.
            “Maksudmu?” Tanya Taqin. Furqon hanya kembali terseyum.

            “Ya, agar aku tahu. Apakah anti ini Asya Rasya atau Annisa el-Shirazy” Jawabnya tersenyum bagaikan makhluk tanpa dosa. Asya dan Taqin dibuat terkejut oleh kata-katanya.

Komentar

Postingan Populer