Uranus dan Neptunus

Pukul 15.30, bel yang dinanti-nanti oleh para siswa akhirnya terdengar juga. Pelajaran pada hari ini selesai, tinggal sholat Asar berjamaah dan pulang ke rumah masing-masing. Setelah sholat dan disaat keadaan sekolah sepi aku keluar kelas dan berjalan melewati koridor sekolah, memang kebiasaanku pulang terakhiran. Saat aku melewati koridor sekolah, pemandangan yang tak asing lagi bagiku jelas tampak didepan mataku. Seorang siswi yang hobi menggantungkan burung kertas kecil di pohon sekolah dan menghanyutkan perahu kertas di perairan sekolah.
Anehnya, ia melakukan hobinya itu disaat sekolah benar-benar t'lah sepi. Aku heran, kenapa ia belum juga pulang kerumahnya. Malah asyik menggantungkan burung kertas dan perahu kertas.

Samarinda, 8 Agustus 2009


Hari Sabtu, dimana sekolah pulang lebih cepat yaitu Ba'da Dzuhur. Aku yang menetap di ekskul Pramuka yang membuatku pulang lebih lama dari siswa lainnya. Saat itu sekolah sudah sepi, ekskul pramuka pun sudah terselesaikan. Saat aku ingin pulang melewati koridor, aku kembali melihat siswi itu menggantungkan Burung kertas dan melarutkan Perahu kertas. Karna sekolah sepi, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya.
"Hobi banget ya gantungin burung kertas dan larutkan perahu kertas sampai gak pulang kerumah" Sapaku, ia spontan menoleh ke arahku. Setelah memperhatikanku ia hanya tersenyum sambil kembali memperbaiki gantungan burung kertasnya.
"Entar Uranus dan Neptunus bisa kesepian kalau aku gak kirimin surat" Jawabnya. Aku hanya terdiam, Cewek ini aneh ungkapku dalam hati. Sesaat kemudian, angin berhembus lembut ke arah kami. Siswi itu berhenti bergerak dan memejamkan matanya, aku semakin bingung dengan sikapnya.
"Memikirkan kalau aku ini aneh ya?" tanyanya tiba-tiba tanpa menoleh kearahku. Aku terkesiap, bagaimana ia bisa tahu apa yang ada dipikiranku ?. Tak lama ia berbalik menghadapku dan hendak menuju kelasnnya yang tepat berada di belakangku. Saat berselisihan ia berbisik lembut padaku.
"Uranus mengirim isi hatimu padaku"
Lagi-lagi aku dibuatnya terdiam dan terkesiap. Hal ini sudah lebih dari aneh dimataku. Aku masih tetap berada diposisiku tanpa menoleh ke arahnya. Setelah ia berbisik padaku ia berhenti sejenak sebelum masuk ke kelas.
"Oh Iya, bukannya aku tak mau pulang. Tapi aku juga ada ekskul dan baru saja selesai" Sambil akhirnya masuk kekelas.
Aku tetap memperhatikan tempat dimana ia menggantungkan burung kertasnya. Jika tidak diperhatikan baik-baik, burung-burung kertas itu tak terlihat. Tapi jika kau perhatikan, kau akan bisa melihat puluhan burung kertas yang terselip dibalik dedaunnan.
Entah kenapa, aku ingin menyusulnya dan masuk kekelasnya. Memang tidak ada larangan masuk kekelas siswa lain selama tidak didalam jam pelajaran. Akhirnya aku masuk kekelasnya, aku melihatnya sedang menulis dan melipat kertas. Di atas mejanya terdapat tumpukan burung kertas dan perahu kertas. Ada yang penuh dengan tulisan dan ada juga yang masih putih bersih. Sesaat ia sadar bahwa aku masuk kekelasnya, ia terkesiap melihatku tapi ia berhasil tutupi itu dengan senyumannya.
"Hehe, welcome to my table" Katanya sambil tetap melipat kertas yang perlahan menjadi burung kertas. Aku perhatikan mejanya, terdapat piagam-piagam penghargaan, kata-kata mutiara, dan nama "Neptunus" dan "Uranus" beserta burung dan perahu kertas yang ada dibalik plastik bening mejanya.
"Juara 1 Lomba sastra ?" Tanyaku sambil mebaca satu piagam penghargaan yang ada dimejanya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Yap, Waktu kelas X" Jawabnya. Aku hanya mengangguk.
"Cita-cita kamu apa sih ?" tanyaku melihat hobi dan prestasinya. Ia terdiam sambil menulis sesuatu.
"Tebak saja pakai udara yang datang menghampirimu" katanya. Aku hanya menggeleng.
"Aku bukan sepertimu yang mempunyai keajaiban dan imajinasi tinggi" Balasku. Ia menoleh padaku, aku memperhatikan ke arah lain. Ia terus memperhatikanku sedangkan aku terus membuang muka. Hingga akhirnya ia menarik bajuku ke suatu tempat.
"Kemana ?" Tanyaku padanya.
"Kau tahu kok tempat itu" jawabnya sambil terus menarik bajuku. Aku hanya mengikuti tanpa sebab. Tak lama, kami sampai di kolam bumi perkemahan. Ya, aku hapal tempat ini karna ini memang tempat kami latihan pramuka. Tempat ini jika sore hari akan sejuk dengan angin yang terus datang walau terik matahari masih menyengat. Setelah berada di ujung kolam ia menyuruhku duduk dan iapun juga duduk disampingku. Kemudian ia menutup mataku dengan slayer yang dibawa bawa, awalnya aku menolak tapi dengan segala kerendahan ia memohon, aku luluh dan akhirnya menurut. Tak lama, aku seperti merasakan ketenangan yang luar biasa. Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tubuhku seakan-akan dibawa terbang ke udara. Setelah itu aku mendengar kata-kata lembut darinya.
Ketika angin tak berhembus
Rasa itu seperti mati sia-sia
Tak merasakan indahnya dunia
Di setiap detik-detik kehidupan
Hat-hati dengan Fatamorgana
Yang dengan liciknya menipu mata
Karnanya lihatlah hidup ini dengan hati
Buka sedikit imajinasimu
dan Yakin bahwa itu semua dari Tuhan
Setelah mendengarnya aku semakin tenang, entah bagaimana caranya ia melakukan hal itu. Seketika angin yang sendari tadi berhembus pelan namun menusuk kulitku perlahan berhenti. Kemudian ia membuka kembali mataku dan tersenyum padaku.
"Bagaimana ? Masih ingin menyebutku aneh 'Agen Neptunus' ?" Tanyanya sambil pergi meninggalkanku. Aku tetap berada di tempat tadi, aku masih berfikir keras bagaimana caranya ia melakukan hal itu, belum lagi ia menyebutku dengan sebutan "Agen Neptunus". Saat aku menoleh kesamping, aku menememukan perahu kertas. Disisinya bertuliskan "For New Neptune" di. Aku membuka dan membacanya

Samarinda, 8 Agustus 2008


Hai Neptunus, Apa kabar ? Maaf ya nus mungkin ini surat terakhirku. Kata Dokter hari ini, tepat 40 hari prediksiku untuk meninggalkan dunia ini. Dunia yang melahirkan sejuta imajinasi hingga aku dapat mengenalmu. Dunia yang membawa proses mimpi dan cita-citaku. Dunia yang mengajariku arti kehidupan.

Nus, aku tahu dokter itu bukan Tuhan, yang bisa mengatakan bahwa aku akan mati hari ini. Keluargaku marah besar dengan dokter itu nus gara-gara berkata bahwa aku akan mati hari ini. Aku hanya tertawa, Hidup dan mati siapa yang tahu bukan ? Siap gak siap harus siap. Lagi pula aku sudah gak sanggup hidup tanpa ginjal nus. Aku lelah harus cuci darah yang tak juga membuatku kembali fit.
Nus, hari ini seharusnya aku dirawat dirumah sakit. Karna ini hari terakhirku, tapi aku gak mau nus. Aku bosan dirumah sakit. Aku ingin disekolah saja, nulis surat untuk kamu dan Uranus. Oh iyya nus, aku sudah punya pengganti untuk tetap menuliskan surat untukmu nus. Tapi aku malu, malu dikira orang gila yang bermain dengan selembar kertas. Ia adik kelasku nus, tapi kalau memang    aku tak sempat memberitahukan hal ini ke dia ... aku akan tetap hadir disini nus, disekolah ini. Agar tetap mengirimkan surat untukmu. Aku janji, tahun depan, 8 Agustus 2009, ditempat ini juga. Aku akan mengutusnya menjadi "Agen Neptunus" dan aku menjadi sahabat terbaiknya yaitu "Angel Uranus"
Mungkin aku tak mengenalnya nus, tapi aku percayakan ini ke dia karna Uranus memberikan pesan itu ke aku.
Selamat Tinggal nus, tunggu "Agen Neptunus"nya ya

Anissa Gita Cantika

Komentar

Postingan Populer