Antara Tanya dan Seru


        Ata menunggu di Gerbang sekolah. Untuk Ata menunggu itu bukan hal yang paling menjengkelkan. Tapi hal yang paling menakutkan. Bagi Ata, menunggu 5 menit saja bagaikan 5 jam dan sangat menakutkan.
            Apa lagi jika banyak orang yang berlalu lalang didepannya. Rasa resah didirinya semakin mengguncang. Rasanya Ata akan memotong urat nadinya dan mati ditempat. Lebih baik mati dari pada menunggu. Gumam Ata.
            Ini semua bisa terjadi karna sebuah ketakutan yang ia rasakan dulu. Dulu sekali …
***
5 Tahun Yang Lalu.
            “Haru! Sampai kapan aku tunggu kamu disini?! Dari tadi 5 menit mulu! Sudah sejam ini!” Teriak Ata melalui telpon. Sedangkan rasa takut Ata semakin bertambah.
            “Sabar Ta! Macet nih!” Balas Haru dari seberang telpon.
            “Cepet Ru, aku takut” Bisik Ata pelan takut didengar orang itu.
            “Hah?! Takut? Takut kenapa?” Tanya Haru. Ata menoleh kebelakang memperhatikan orang yang sejak tadi mengintainya. Orang itu kini semakin dekat dengannya.
            “Aduh! Pokoknya cepet kesini!” Teriak Ata. Tuut tuut tuut, telpon mati tepat disaat orang itu menyekap mulutnya. Ata terkejut. Ingin berteriak sudah tak bisa. Ata mencoba memberontak tapi tenaga orang itu lebih kuat daripada Ata. Tak lama seorang lelaki datang dan langsung menghajar orang yang menyekap Ata. Ata yang lepas dari sekapan langsung terjatuh. Bahkan ia sempat tak sadarkan diri. Yah, Ata memang memiliki Fisik yang lemah.
            Sejak itu Ata takut menunggu sendirian. Bahkan Ata sempat menderita Agoraphobia, ketakutan akan tempat-tempat umum. Syukurnya, setelah menjalani beberapa Terapi, Ata mulai berani untuk keluar rumah dan ketempat-tempat umum. Namun ketakutannya akan menunggu tak kunjung hilang. Macrophobia, itulah yang Ata derita sekarang.
            Sedangkan lelaki yang menolong Ata adalah kakak kelasnya dan sekarang telah menjadi kekasihnya. Dion, nama kekasihnya tersebut. Berat bagi Dion saat tahu Ata, adek kelasnya yang ia sukai, mengalami Phobia yang cukup berat. Bahkan saat Ata masih menderita Agoraphobia, tak pernah sekalipun Ata dan Dion berjalan-jalan berdua keluar rumah.
***
            Ata menunggu Haru, ia terus menyumpah karna takut kejadian 5 Tahun yang lalu kembali terjadi. Ata ingin menghubungi Dion. Memintanya agar mau menemaninya menunggu Haru. Tapi ia sadar diri. Saat Dion menemaninya dan Haru datang, mau diapakan Dion setelah itu? Ditelantarkan. Ah, dimana hati Ata terhadap Dion. Seseorang yang menyelamatkannya dari kejadian menakutkan itu.
            Ata semakin resah, Haru lagi-lagi tak kunjung datang. Intinya Ata kembali mengalami Macrophobia, kepalanya mulai pusing dan sendari tadi tubuhnya terus berkeringat dingin. Ia coba tenangkan diri tapi kali ini dan lagi-lagi rasa itu sulit untuk dilawan.
            Ata beberapa kali menahan diri untuk tak jatuh. Namun, suara-suara orang yang berlalu lalang semakin membuat kepalanya pusing. Ata mulai menggenggam pergelangan tangannya. Ini dia yang paling ditakutkan oleh keluarga dan orang-orang terdekat Ata. Disaat Ata berfikiran untuk membunuh dirinya sendiri daripada harus menunggu.
            Terkulai lemah tak berdaya. Sedangkan ia terus berfikiran dan siap untuk langsung mengambil silet yang ia simpan secara diam-diam didompetnya. Ata sudah tak tahan! Ia langsung mengambil silet dan siap menyayatnya di pergelangan tangannya.
            Tiba-tiba, tangan besar itu menghentikan tangan Ata yang siap menyayat urat nadinya sendiri. Ata berteriak ketakutan persis seperti orang gila, ia langsung berdiri dan berputar-putar sampai akhirnya ia kembali lemah dan terjatuh. Sedangkan Dion yang sempat mencegah Ata melakukan aksi gilanya itu langsung memeluknya.
            “Tenang Ata! Tenang! Ini aku, Dion” Kata Dion lembut. Sedangkan Ata masih ada didekapan Dion sambil menangis sesegukan. Saat itu Haru baru datang.
            “Kenapa lagi ini?” Tanya Haru pada Dion. Dion menatap Haru sinis.
            “Kamu itu sahabat macam apa Ru! Kamu tau Ata menderita Macrophobia. Tapi kamu selalu menyuruh Ata untuk menunggumu. Kamu itu mau membunuh Ata?!” Hentak Dion marah. Haru terdiam, Ia mencoba untuk mencari alasan.
            “Tadi dijalanan macet Dion!”
            “Kamu tahu jalanan pasti macet. Tapi tidak seharusnya kamu menyuruh Ata menunggu!” Jawab Dion. Suara keras antara Dion dan Haru ternyata semakin membuat Ata pusing sampai akhirnya tak sadarkan diri dipelukan Dion.
            “Aku cemburu sama Ata yang jadi kekasihmu! Asal kamu tahu, aku cinta sama kamu sebelum Ata jadi kekasihmu!” Kata Haru blak-blakan. Dion menoleh, syukurnya Ata tak mendengar kata-kata Haru yang pasti akan menyayat hatinya. Haru mulai menitikkan air matanya. Sedangkan Dion masih diamuk amarah.
            “5 tahun yang lalu, aku memang sengaja membuat Ata lama menunggu dan menyewa orang untuk mencelakai Ata. Karna aku cemburu saat aku tahu kamu suka sama Ata. Tapi kamu berhasil menyelamatkan Ata. Namun, aku puas karna berhasil membuat Ata depresi sehingga membuatnya menderita Agoraphobia dan Macrophobia” Pengakuan Haru akhirnya jelas.
Dion hanya dapat terdiam. Sedangkan Ata mulai sadar dan tenang. Tak ada dari mereka yang ingin menceritakan pengakuan Haru. Karna semua yakin, pasti mereka akan lebih lama menunggu Ata sembuh dari kejiwaannya. Yah, sakit karna menunggu.


Memiliki nama pena Anissa el-Qowiyyu. Lahir di kota Samarinda, pada tanggal 7 Agustus 1998. Duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri 1 Samarinda. Facebook: Anissa Nissa el-Qowiyyu. Twitter: @AnissaElQowiyyu. E-mail: anissaalqawiyyu@gmail.com

Komentar

Postingan Populer