Apakah itu Firasatku?

Apa yang kalian rasakan saat jatuh cinta? Aku yang terkadang tak tahu dengan isi hatiku saat ini hanya bisa mengikuti sebuah “Naluri”. Sedangkan sebuah “Firasat” yang aku dapat setiap kali hanya bisa membuatku takut. Takut pada takdir Tuhan.
            Sosok yang selalu kumainkan dasinya setiap pagi dan dijam istirahat sekolah. Entahlah, aku menyukai dasi itu karna aku baru bisa memasang dasi setelah diajarkan oleh sahabat-sahabat Ashabulku. Sosok yang malu ketika kutatap matanya. Padahal aku suka dengan matanya, coklat muda.
Sedangkan aku, sosok perempuan yang memiliki julukan “Autis” disekolah yang berhasil jatuh hati padanya. Adik kelasku sendiri.
Saat itu hari Sabtu, dimana jam pulang lebih cepat dari biasanya dan ekskul pramuka sedang diliburkan. Aku yang biasa pulang pukul 5 sore ini lebih memilih menghabiskan waktuku di Musholla sekolah. Meminjamkan notebook-ku pada sahabat Ashabul, sedangkan aku memperhatikan tingkah mereka yang tegang terkadang lucu saat menonton film-film yang ada di notebook-ku.
Tapi kali ini berbeda, sosok itu hadir saat aku bercerita entah tentang apa bersama Ashabul. Selama 3 jam lebih kami mengobrol yang tak jelas ujungnya. Dari kisah lucu kami hingga kepengalaman terpahit kami. Dia, menceritakan pengalaman hidupnya yang baginya kelam. Dari dia menjadi sosok yang nakal dan bengal, sehingga berubah 180 derajat ketika lulus MTs dengan usia 18 tahun. Namun, seketika aku terdiam membisu saat kutanya sudahkah dia memiliki kekasih? Jawabannya, Iya.
Sosok itu, yang sempat menjadi “cinta” harus kandas saat itu juga. Hati ini retak. Hancur menjadi abu. Sedangkan rasa menyesal muncul karna telah mengenalnya.
Hari Jum’at, setelah sabtu lalu aku harus menerima kenyataan pahit. Entah siapa yang memulai duluan untuk kembali berdekatan. Ah, aku ingat! Saat itu aku tengah gila menghadapi lomba menulis cerita rakyat yang harus dikumpul Sabtu esok. Seperti pelangi setelah hujan, ia datang bak malaikat. Bukan! Bukan langsung mengisi hatiku. Tapi menghapus kepusinganku akan tuntutan lomba menulis ini. Apakah dia adalah firasatku?
Sabtu, sebuah surat dispensasi melayang masuk kedalam kelasku. Sedangkan namaku tertera didalamnya. Dengan menenteng notebook sekaligus buku-buku refrensiku, aku berjalan menuju perpustakaan sekolah bersama temanku yang sama-sama mengikuti lomba.
Sosok itu kembali hadir dalam otakku. Menginginkan dia ada disisiku saat aku mengetik kata-kata daerah khas tanah kaltim yang aku buat menjadi sebuah cerita klise beralur moderen. Sosok yang memakai sepatu hitam berhijau stabilo yang sangat kukenal. Tapi aku sadar, ini jam belajar baginya. Sedangakan aku berharap jam istirahat nanti dia mau menemaniku, namun itu semua tak sesuai harapan.
Jam pulang sekolah. Seperti biasa, aku lebih memilih bertahan disekolah selama 5 jam bersama sahabat-sahabat Ashabul yang juga lebih memilih untuk pulang sore. Lagipula aku tetap harus melanjutkan cerita rakyatku karna baru 80% selesai. Kali ini sosok itu menemaniku. Setia berada disisiku sambil membantu memberi refrensi cerita rakyat Kaltim. Namun ia harus berhenti menemaniku ditengah jalan karna harus berlatih LKBB Pramuka. Aku kembali sendiri.
Ba’da Asar, hujan lebat disertai aliran listrik yang menyalak benar-benar memacu adrenalin untuk pulang kerumah masing-masing. Ashabul sendiri sudah lebih dulu pulang setelah mendengar aku berkata sore ini hujan lebat yang menimbulkan banjir, mereka adalah orang yang cukup percaya pada Firasatku.
Sosok itu kembali berlatih Pramuka. Kali ini bukan LKBB, melainkan berlatih aba-aba. Suara lantangnya itu benar-benar terdengar hebat dipadu dengan suara hujan yang turun dengan derasnya. Aku setia menemaninya karna hari ini aku pulang dengannya.
Pukul 5 tepat, aku berjalan melewati lapangan yang mulai tergenangi air, dibawah derasnya hujan dan kerasnya petir yang menyalak bersama dia.
Ditengah hujan pula aku dan dia pulang sambil melewati jalanan yang mulai tergenangi banjir. Saat aku sampai dirumahnya, ia langsung menyuruhku beristirahat sejenak. Aku menolak, ia memaksa. Ia takut terjadi apa-apa denganku dijalan nanti.
5 menit aku duduk dimuka rumahnya, sedangkan hujan tetap turun membasahi bumi. Aku putuskan untuk mengahadang hujan daripada mati kedinginan karna baju yang basah sudah kukenakan mulai dari jam setengah 4 tadi.
“Hati-hati ya!” kalimat singkat itu terlontar dari bibirnya yang mulai mengigil. Aku terdiam membisu. Firasatku ingin mengatakan sesuatu.
Senin, Selasa, Rabu, hingga akhirnya Kamis. Setelah kedekatanku yang amat sangat, sedangkan gosip “berpacaran” sudah menyebar luas, namun aslinya hanya sebatas abang dan adik. Hingga hubungan yang tak jelas statusnya akhirnya mendapat jawaban sore itu. Hati yang berselisih menjadi satu, murni.
Sedangkan hati tetap menyimpan sebuah rahasia.
***
            “Bang, ade mau nanya”
            “Apa?”
            “Apa arti sebuah Firasat bagi abang?”
            Sejenak, diam membisu. Matanya melirik kearah lain seolah-olah tahu apa yang ada dipikiranku. Ia tahu apa pembicaraan yang akan terjadi jika aku membicarakan tentang Firasat. Ia menatapku, tajam.
            “De, semua itu datanganya dari hati. Bukan hanya sekedar Firasat”
            “Firasat ade kali ini, bahwa ade akan mati”
            “Kau tak boleh mati!”
            “Ade Kanker Darah stadium 4! Tak ada harapan lagi”
            Diam. Dalam keheningan masing-masing. Tak perlu lagi dilanjutkan. Sekarang “Naluri” dan “Firasat” kalianlah yang akan menjawab semua.


Anissa el-Qowiyyu. Menjadikan sebuah sajak sebagai jantung hatinya. Kalimat sebagai darahnya. Syair sebagai mulutnya.  Kehidupan sebagai ceritanya. Facebook : Anissa el-Qowiyyu. Twitter : @AnissaElQowiyyu

Komentar

Postingan Populer