Ankara
Kadang aku tak tau apa itu logika dan
apa itu perasaan. Yang ku tau pasti bahwa logika dan perasaan bagaikan air dan
minyak. Tak akan bisa bersatu. Mari ku jelaskan lebih rinci mengenai duniaku
yang terkesan klise dan konyol. Sebuah kisah yang jika ku ceritakan tak akan
ada akhir yang jelas. Dan jika ku tuliskan, tak akan ada kalimat yang tepat
untuk mengakhirinya.
Gençlik Parki, dari sini aku bisa melihat hamparan danau buatan yang jika
dilihat dari peta seperti sebuah palu. Tempat yang sangat sejuk walau di musim
panas. Aku mencintai ini, duduk di pinggiran danau sambil menatap burung bangau
yang jumlahnya ratusan. Aku mencintai setiap detik pergantian matahari dengan
bulan. Bias cahaya matahari jingga itu memantul di atas permukaan air dengan
burung bangau yang saling berpasangan.
Gençlik
Park İçi Yolu, jembatan yang sering kulihat dari seberangku tak pernah sepi
dari manusia-manusia yang mencari kebahagiaan di Ankara. Jembatan itu adalah
penghubung antara monumen Gençlik Parki
dengan LunaPark. Sebuah taman bermain seperti Dufan namun tak terlalu besar.
LunaPark bagi Ankara adalah sebuah taman kecil, dimana semua kalangan dapat
menikmatinya.
Kuhabiskan
sisa-sisa hidupku di sini, menikmati setiap momentum yang indah. Menghirup
udara segar dari taman yang hijau dan biru. Sehabis kuliah, aku sempatkan untuk
menyambangi “kekasihku”. Memanjakan tubuhku yang habis dihantam beban mata
kuliah yang keterlaluan. Duduk, menyendiri disini sampai cahaya-cahaya dari
pepohonan menyala satu per satu. Aku selalu menyukai perubahan itu.
Kedamaian,
ketenangan, dan ketentraman. Hal itu kurasakan walau terganggu dengan suara
teriakan pengunjung dari LunaPark yang tengah mencoba wahana ekstrim. Dan jika
kau mengizinkan aku memulai kata, kalimat, dan paragraf mengenai seseorang.
Maka kutuliskan dalam air jernih yang hening.
***
Sya, 16 tahun.
“Pernah aku memintamu untuk mengerti
satu hal dariku?” nada kasar namun bersuara halus tiba-tiba masuk ke telinga
saya tanpa izin. Saya masih menatap burung bangau di seberang saya. “Jawab
Ref!”,
“Aku tak perlu menjawab
pertanyaannmu. Karna seharusnya aku yang bertanya ke kamu pernah kamu ngerti
setitik hal tentangku? Pernah kamu ngerti kesibukanku? Pernah kamu ngerti
mimpi-mimpiku? Pernah kamu...”
“Cukup Ref! Kita udahan aja. Aku
sudah muak sama kamu!” nada kasar dengan suara halus itu terdengar lebih
nyaring dari sebelumnya. Seseorang yang menjadi lawan bicaranya tadi terdiam,
bungkam. Dengan cepat si pemilik nada kasar dengan suara halus itu
meninggalkannya dengan wajah penuh amarah. Saya masih terdiam ditempat saya
berada. Tak berkutik sedikitpun, tatapan saya kosong, entah kenapa.
Seseorang yang dipanggil dengan nama Ref
masih juga berdiri ditempatnya dengan wajah tertunduk. Tangannya berada di
dalam saku jaket namun sangat jelas terkepal penuh amarah dan kekecewaan.
“Apakah aku melakukan kesalahan lagi?”
Saya sangat jelas mendengar gumamannya.
Dalam hati saya bertanya kepada siapa lelaki itu bertanya. Tatapan saya masih
kosong, tangan saya terulur layaknya memberi makan bangau-bangau di kolam
padahal tidak. Pikiran saya melayang pada dialog-dialog yang baru saja saya
dengar layaknya drama cinta yang bodoh. Seekor burung bangus terbang kearah
saya, tangan saya yang terulur menarik perhatiannya. “Aduh!” kata pertaman saya
keluar setelah bangau mematuk tangan saya. Ada aliran darah dari jari-jari saya.
“Ada apa? Kenapa tanganmu?” suara berat
namun halus hinggap di telinga saya. Bola mata saya kali ini refleks menoleh
dan mendapati lensa biru tengah menatap tangan saya yang berlumuran darah. “Mari
ku bantu. Jika tak segera di tolong nanti bisa infeksi,”
Saya begitu saja mengikuti bujukan si
lensa biru. Kami menyebrangi jalan Atatürk Blv yang berada di pinggir taman dan
masuk ke lorong-lorong tikus yang menembus hingga jalan Temmuz Sokak dan memasuki
salah satu toko barang antik yang terkenal di kota ini. İtfaiye Meydanı, tempat
ini sangat tak asing bagi saya. Saat lelaki itu membuka pintu toko, terdengar
bunyil gemerincing bel dan sebuah tolehan yang hinggap ke kami berdua.
“Ya Tuhan! Ada denganmu Sya?” suara
parau itu memuat mata lelaki yang membawa saya ke tempat ini terbelangak.
“Kau kenal perempuan Paman Pasha?”
lelaki itu bersuara sedangkan saya langsung masuk kedalam ruangan di belakang
meja kasir.
“Tentu saja, dia keponakan
kesayanganku,” Paman Pasha ikut masuk kedalam kamar saya diikuti lelaki yang
membantunya. Saat itu tanpa saya sadari mata saya langsung menatapnya tajam.
“Apa yang anda lakukan disini! Keluar
dari kamar saya!” teriakan dari mulut saya membuat lelaki itu terkejut dan seketika
keluar dari kamar saya. Paman hanya menggeleng geli dan membersihkan luka di
tangan saya. Hingga akhirnya saya menyadari sesuatu.
“Paman! Paman melihat gelang Sya?”
Paman hanya menggeleng. “Sejak kau
datang gelang itu sudah tak ada Sya,” jelas paman pada saya. “Sudah lah Sya.
Tak apa, yang penting jari-jarimu tidak habis dimakan burung bangau itu.”
“Maaf paman, saya sangat teledor
sekali,” sesal saya pada paman karna telah menghilangkan gelang berliontin
bulan sabit pemberiannya. Paman hanya mengangguk dan tersenyum.
“Tak apa Sya, bukan sepenuhnya salahmu.
Mungkin gelang itu terputus saat bangau mematuk tanganmu,” Paman menenangkan,
saya hanya mengangguk penuh penyesalan. “Temui lelaki yang menolongmu tadi.
Mungkin sekarang di cukup syok kamu teriaki tado,” gurau paman, saya
menggangguk dan mendatangi lelaki yang tengah duduk di kursi toko.
“Maaf saya meneriaki anda tadi,” Lelaki
itu tersenyum. “Aku Ref,”
“Sya,”
***
Ref,
25 tahun
Burung bangau itu menjadi saksi
berakhirnya kisahku dengan Diana. Perempuan itu adalah cinta monyetku saat
beranjak SMA di Ankara. Sialnya, drama cinta bodoh yang terjadi sembilan tahun
yang lalu disaksikan oleh gadis lugu yang tangannya terulur ke kolam sehingga
burung bangau mematuk tangannya hingga berdarah.
Sekarang gadis itu ada disampingku,
tidak berubah dari aku menemuinya saat umurku tujuh belas tahun hingga sekarang.
Ada sebuah pertanyaan yang sebenarnya masih menghantui pikiranku. Siapa dia
sebenarnya? Sejak aku kecil, aku sudah mengenal baik Paman Pasha. Namun ketika
aku remaja kenapa aku baru mengenalnya.
Paman Pasha sangat baik kepadaku,
beliau sudah ku anggap pamanku sendiri. Dia yang pertama kali membawaku ke toko
barang antiknya dan memberikan semangkuk kari ayam yang mengisi perutku. Dia
yang mengasuhku dari jalanan. Aku tak pernah menginap dirumahnya, aku datang
kerumah sekaligus tokonya setiap hari untuk membantunya. Aku masih memiliki
seorang ibu saat itu. Namun ketika aku duduk dibangku SMA, ibuku
meninggalkanku.
“Jangan bengong kak,” suara lembut itu
menyadarkanku dari masa lalu. Namun, kini aku bertekad untuk menjaga gadis yang
ada di sampingku. Sebagai balas budi Paman Pasha yang kini mengurus sebagian
hidupku.
“Aku gak bengong Sya, sore ini jadi
ke Kocatepe Cami?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatian. “Sekalian aku traktir
Dondurma kesukaanmu,” tawarku. Wajahnya tampak tersenyum saat mendengar es krim
khas Turki favoritnya kusebutkan sebagai salah satu daftar perjalanan hari ini.
“Itu panganan yang wajib kakak
belikan ke saya setiap perjalanan mengeliling Ankara di hari libur kerja dan
kuliah bukan?” katanya sambil menjilat bibirnya menahan ludah ketika ia
membayangkan Dondurma coklat yang tengah diatraksikan oleh penjual.
“Iya Sya. Aku tau itu. Eh Sya,
kenapa kau suka sekali memanggilku dengan sebutan ‘kakak’? Aku kan hanya lebih
tua setahun darimu,” tanyaku hati-hati pada gadis yang memiliki hati yang rapuh
ini. Dia terdiam sesaat kemudian tersenyum manis. Oh tidak, aku paling tidak
bisa melihat senyumannya.
“Karna saya menghormati kakak yang
lebih tua dari saya. Paman Pasha juga yang menyuruh saya memanggil kakak dengan
sebutan itu. Kakak keberatan?” tanyanya dengan tatapan mata yang siapa pun yang
menatapnya pasti akan luluh. Aku menggigit bibir bawahku menahan untuk mencubit
pipinya yang menggemaskan.
“Tentu aku tidak keberatan. Tapi kan
aneh juga kalau kamu manggil aku ‘kakak’ sedangkan aku manggil kamu memakai
namamu. Jika aku memanggilmu dengan sebutan ‘adek’ boleh tidak?”
Gadis itu tersenyum manis kepadaku.
“Tentu saja.”
***
Jujur saja, saya sangat enggan
ketika kak Ref akan memanggil saya dengan sebutan ‘Adek’. Hal itu sangan
membuat saya merasa tidak pantas. Saya memanggilnya kakak karna selain lebih
tua setahun, dia juga adalah pribadi yang sangat bijak. Apa lagi setelah kejadian
sembilan tahun yang lalu.
“Dek, jangan bengong. Itu Kocatepe
Cami sudah dekat. Pas dengan waktu yang temanmu janjikan bukan?” tegur kak Ref
sambil membunyikan bel sepeda disamping saya. Saya yang tersadar dari lamunan
saya tanpa sadar telah menabrak lampu jalan. Kak Ref langsung turun dari sepeda
dan membantu saya.
“Kamu gak kenapa-kenapa kan dek?”
tanyanya khawatir. Saya langsung berdiri dan membersihkan rok dari pasir dan
memperbaiki posisi jilbab yang agak merot.
“Iya kak. Saya gak papa,” saya
langsung membawa sepede ke parkiran sepede dekat masjid diikuti kak Ref. “Kakak
mau ikut masuk?” tawar saya pada kakak.
Kak Ref menggeleng. “Kakak tunggu
disini saja ya,”
***
“Jadi itu yang namanya Ref? Bagus
juga seleramu Sya,”
“Ah, kakak bisa saja. Sya kan ketemua
sama kak Ref juga gak sengaja. Tau-tau ternyata dia sudah kenal sama Paman
Pasha,”
“Kakak di Ankara tidak lama, masih
ada pekerjaan di Indonesia. Jadi, kapan kamu akan menikah dengannya?”
Kali ini, saya hanya tersenyum. Saya
tak tau harus menjawab apa.
“Selama ini hanya Sya yang
menyukainya kak. Kak Ref tidak pernah tau perasaan Sya,”
***
“Mana yang namanya Sya, Ref? Katanya
kau bawa ia kesini,”
“Sabar lah bang. Dia di dalam Masjid
Kocatepe Cami itu. Bertemu seseorang katanya,”
“Kau sudah mengatakan perasaanmu?”
Aku terbungkam, abangku yang
jauh-jauh datang dari Indonesia hari ini ingin melihat gadis yang membuat
hatiku terpaut padanya. Abangku tau karna sering kuceritakan tentangnya melalui
e-mail.
“Belum bang, aku takut ia menolak
lamaranku,”
***
Sekarang, disinilah aku berada.
Empat belas tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Setelah sembilan tahun
bersahabat, aku memberanikan diri untuk
melamarnya. Dan kini aku kembali sendri di tempat yang sama. Gençlik Parki, sebuah taman yang masih sama
seperti dulu. Hanya beberapa perubahan yang terjadi di taman bermain LunaPark.
Berada tepat di depan ratusan burung bangau yang berada di tengah kolam. Aku
memainkan sebuah benda yang kutemukan di waktu yang sama aku bertemu dengannya.
“Ayah!”
sebuah teriakan cempreng membuatku menoleh seketika. Seorang gadis kecil
berbalut blous berukuran kecil
berlari kepelukanku. Aku menggendongnya dan mengecup keningnya. Malaikat
kecilku yang lahir dua tahun setelah lamaranku diterima telah mengisi hari-hari
baruku. Dari kejauhan tampak sosok perempuan yang sangat tak asing bagiku
dengan model pakaian yang sama dengan gadis yang kugendong.
“Qia
sangat merindukan ayahnya, padahal hanya seminggu Qia ikut adek pulang ke
Indonesia,” suara itu halus itu, yang selalu membuat hatiku luluh, datang
menghampiriku. Aku merangkulnya dan mengecup keningnya.
“Maaf,
ayah tak bisa menemani bunda dan Qia pulang ke Indonesia kemarin. Banyak
pekerjaan di kantor. Tadi bunda bilang apa? ‘Adek’? Itu kan lima tahun yang lalu
bunda,” wanita yang menjadi lawan bicaraku tertawa kecil. Merebahkan kepalanya
di bahuku. Sekali lagi, aku mengecup manja keningnya.
Sya,
perempuan itu telah menerima lamaranku lima tahun yang lalu dan menjadi
pendamping hidupku seminggu setelah lamaran kusiarkan. Sya, telah memberikan
sembilan tahun persahabatn dan cinta. Lima tahun cinta dan keluarga. Aku tak
perlu lagi memikirkan logika dan perasaan. Yang aku tau kini aku harus
memberikan sesuatu padanya, yang telah kusimpan empat belas tahun lamanya.
“Gelang
pemberian Paman Pasha?! Jadi selama ini ayah sembunyikan dari bunda?” seru Sya
bahagia melihat gelangnya yang hilang berada di tanganku utuh. Aku hanya
tersenyum dan memakaikan padanya. Ku keluarkan satu lagi gelang yang sama dari
saku jaket dan ku pakaikan kepada Qia.
“Paman
Pasha membuatnya khusus untuk Qia.” Sya terus tersenyum bahagia di rangkulanku.
Ada yang perlu kalian tau, perasaan dan logika tak perlu kalian pusingkan. Dulu
aku berpikir bahwa aku tak akan menikahi Sya karna status sosial dan
persahabatan. Namun perasaan tetap tak bisa membohongi sebuah skenario yang
Tuhan tuliskan.
Disinilah
kisahku berlayar dan berlabuh, Ankara, Turki
Komentar
Posting Komentar