One Step Closer


Yang gak pernah membuat gue mengerti dari semua penilaian orang terhadap diri gue adalah sifat pendiam. Gue syok banget ketika seorang junior menghampiri gue ketika gue tengah sibuk mengurus majalah sekolah. Karna dia sangat mengganggu, gue pun mengusirnya. Dan lo semua tau apa yang dia katakan?
            “Ih, saya pikir kakak orangnya pendiam. Ternyata anjing galak!” dan  setelah kalimat itu mengalir dari mulutnya, gue ingat kalau pada saat itu juga sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya.
            “Jaga mulut lo!” bentak gue dan langsung masuk ke ruang redaksi. Dia hanya terdiam sambil mengusap pipinya sedangakan teman-temannya menahan tawa melihat dirinya di tampar oleh seorang senior ‘pendiam’.
            Penampilan gue memang culun. Baju rapi dimasukan, rambut panjang terurai, atribut seragam lengkap, kaos kaki sepanjang tiga jari di bawah lutut, sepatu hitam mengkilat. Tapi dibalik semua itu, lo semua harus tau sesuatu dari balik diri gue.
***
            Ada satu hal yang tak pernah aku mengerti. Bagaimana caranya aku mencintai sosok gadis yang sangat bertolak belakang dariku? Gadis yang telah mencuri hatiku sejak pertama duduk di bangku SMA hingga sama-sama duduk di kelas XII. Ada yang sebenarnya menarik darinya. Ah, bodohnya aku! Tentu saja ada hal yang menarik dari dirinya hingga membuatku terpikat. Bahkan kini, ia telah sukses membuatku menjadi pemain gitar akustik terbaik.
***
            “Ya ampun, Sasya! Pertama kali saya liat kamu pikiran saya langsung terbayang siswi cantik dan teladan. Tapi kenapa absen dan raportmu merah terus?! Nilai fisika 50, kimia 30, matematika 40, biologi 55! Ini nilai atau sampah?! Coba lihat absenmu ...” Pak Dion benar-benar membuat Sasya jengkel harus masuk ke ruang BK lagi. Entah sudah berapa kali ia di panggil.
            “Pak, saya itu gak bolos! Kan setiap saya gak turun ada suratnya,” Sasya mencoba mengelak kata-kata wali kelasnya yang super cerewet.
            “Surat dispensasi dengan tanda tangan palsu maksudmu? Kamu mau saya keluarkan kamu dari sekolah ini?!”
            Saat itu juga Sasya langsung berdiri dan memukul meja tepat didepannya. “Kalau itu yang bapak mau, silahkan keluarkan saya dari sini! Saya lebih senang itu terjadi.”
            Pak Dion terdiam sesaat dan terjatuh duduk di kursinya. Sasya langsung mengambil tasnya dan keluar ruangan begitu saja. Pak Dion sebenarnya tak ada maksud untuk mengeluarkan kata-kata tersebut. Ia tau bahwa kalimatnya itu malah membuat anak didiknya yang satu ini senang dan bahagia jika dirinya dikeluarkan dari sekolah.
            Ia telah mendengar semua kenakalan-kenakalan Sasya. Bolos, sering tidak ikut ulangan, kabur saat jam olahraga, dan banyak hal lainnya. Yang ia lebih pikirkan lagi, sebentar lagi Ujian Nasional akan berlangsung. Ia tak ingin ada satu orang anak didiknya yang tak lulus dibawah binaannya.
            Sebenarnya Pak Dion tau apa yang membuat gadis itu nakal dari dalam dirinya. Sobekan-sobekan kertas yang sering ia temukan di atas meja Sasya seusai mengajar membuatnya semakin tau masa lalu anak itu.
            “Maaf, bapak memanggil saya?” seorang siswa mendatangi Pak Dion. Lelaki itu duduk dihadapan Pak Dion setelah dipersilahkan.
            “Kau kenal Sasya?” tanya Pak Dion mengawali pembicaraannya. Siswa didepannya mengernyitkan alisnya.
            “Siswi kelas XII IPA 4 itu bukan pak?” tanyanya berbalik meyakinkan jawabannya. “Saya tau masalah bapak, saya siap membantu pak,”
            Saat itu Pak Dion langsung tersenyum mendengar jawaban siswa di hadapannya.
***
            Kevin memperhatikan sosok perempuan di hadapannya. Gadis itu tidak menyadari kedatangannya. Kevin selalu tau dimana gadis itu bersembunyi jika jam olahraga berlangsung. Sasya menoleh padanya, menatap tajam pada lelaki yang ia kenal dengan sebuah kebencian. Ia tak menyukai tatapan Kevin saat pertama kali mereka bertemu di kelas X. Bahkan hingga saat ini ia masih menyimpas rasa “benci” itu.
            “Ingin bersembunyi sampai kapan, Sya?” tanya Kevin ikut menyender pada dinding sekolah tepat di samping Sasya. Gadis itu hanya terdiam sambil memainkan pik gitar yang menjadi liontin kalungnya.
            “Jika orang tua gue saja tak tau, kenapa gue harus membongkarnya pada pihak sekolah? Yang ada rahasia besar gue ini akan terbongkar,” tukas Sasya sambil menatap kosong didepannya. Ia menarik kalungnya hingga terputus dan menggenggamnya erat. “Andai kakak masih hidup. Lo tau? gue tidak menyangka bahwa darahnya yang dia donorkan saat gue kecelakaan terjangkit virus mematikan itu.”
            “Bukankah kata dokter virus itu tidak berasal dari darah kakakmu, melainkan dari jarum suntik yang digunakan saat transfusi berlangsung kan?” Kevin mulai memberanikan diri menatap Sasya. Gadis itu hanya terdiam sambil terus menggenggam pik gitarnya.
            “Apapun itu, gue tidak menyalahkan kakak, Vin. Kalau memang dari awal kakak memiliki virus itu, darahnya pasti tidak akan diterima oleh pihak rumah sakit bukan? Gue merindukan kakak, merindukan aktifitas gue, rindu berolahraga, rindu nilai tinggi gue, rindu daftar kehadiran baik gue, tapi gue gak bisa mewujudkan itu semua. Gue lelah membohongi diri gue sendiri.” Sasya mulai mengeluarkan suara paraunya, menahan tangis yang akan pecah. Kevin menyenderkan kepala Sasya pada bahunya. “Kevin, jagakan pik gitar ini. Setelah ini gue harus ke rumah sakit. Gue takut jika ini hari terakhir gue,” Sasya memberikan pik gitarnya.
            Kevin mengusap kantung mata Sasya. “Aku hari ini juga harus ke rumah sakit. Mau bareng? Biar kali ini aku yang izinkan, aku bilang ke guru piket kalau kamu disuruh ibuku menemaniku kemo.”
            Sasya menggaguk pasrah dirangkulan teman satu-satunya.
***
            Kevin baru saja melewati masa kemonya, kedaannya semakin membaik dan siap menjalani transplantasi jantung minggu depan. Syukurlah ia mendapatkan donor jantung yang sangat susah untuk ditemukan. Kevin sendiri mengidap penyakit kelainan jantung sejak kecil, ibunya adalah seorang dokter. Ayahnya meninggalakan mereka saat Kevin positif terkena kelainan jantung.
            Kevin berjalan menuju ruangan Sasya. Ia mendapat kabar bahwa Sasya dipindahkan ke ruang ICU karena keadaanya yang tiba-tiba memburuk. Virus itu telah menjalar ke dalam tubuhnya dan merusak sistem kekebalan tubuh Sasya. Kevin menatap Sasya dari kaca, dilihatnya Sasya yang sudah terbaring lemah dengan pendeteksi detak jantung di tubuhnya.
            “Virus itu sudah masuk ke dalam darah serta sel penolongnya. Telah beranak pinak dengan waktu yang tak pernah ibu duga,” suara Ibu Kevin hadir mengisi kesunyian di balik kaca ruang ICU.
            “Apa tak bisa di tolong, bu?” tanya Kevin sambil menggenggam pik gitar Sasya di saku celananya. Ibunya hanya menggeleng.
            “Kau tau apa itu HIV AIDS kan sayang?” setelah mengeluarkan kalimat itu, ibunya meninggalkan Kevin. Di dalam ruangan, Sasya menatap Kevin. Lelaki itu tersenyum dan menempelkan telapak tangannya di kaca. Sasya membalas dan menempelkan telapak tangannya di kaca, menyatu dengan telapak Kevin.
            Tak berapa lama, pendeteksi detak jantung Sasya mengeluarkan garis lurus. Tangan Sasya terjatuh begitu saja, tampak jelas di mata Kevin, senyum Sasya yang mengembang. Kini ia bisa tenang menyusul kakaknya.
***
            Kevin,lo tau kan kenapa gue merahasikan ini dari orang tua gue? Ya, karna gue gak ingin mereka semakin depresi setelah kepergian kakak dengan penyakit yang sama. Sebenarnya kakak juga terkena HIV, itu terjadi setelah kakakku mendonorkan darahnya padaku. Kakak terkena HIV karna salah seorang temannya memasukkan virus itu ke tubuhnya saat ia dibuat tak sadarkan diri pada malam tahun baru. Setidaknya itu yang kakak ceritakan ke gue sebelum ia pergi. Lo tau bagaimana gue juga bisa ikut tertular?Gue meminta bantuan teman kakak untuk memasukkan virus itu ke dalam tubuh gue dalam transfusi kedua setelah kakak menjadi korbannya. Hal itu gue lakukan tanpa sepengetahuan siapapun. Gila bukan?
            Hei Kevin, saat masuk SMA, hanya lo yang peduli dengan gue. Siswa lain banyak yang terjebak dengan penampilan gue yang rapi, dan tak menyangka bahwa sifat gue ‘senakal’ yang mereka lihat. Bahkan gue masih mengingat wajah bodoh lo yang melihat gue membolos dan dengan entengnya memamerkan nilai merah gue pada lo. Hahaha, I hope your happy right now!
            Kevin, gue yakin transplantasi jantung lo berjalan dengan lancar. gue bahagia lo mau menemani masa putih abu-abu gue dengan sama-sama berjuang walau dengan cara yang berbeda. Nilai gue anjlok, sering tidak ikut ulangan karna membolos ke rumah sakit untuk kemo atau cuci darah. Gue tak dibolehkan berolahraga berat karna sistem kekebalan tubuh gue yang sudah hancur. Cuma lo mengerti keadaan gue, lo tau gue dan tak pernah membongkar semua itu. Bahkan pada Pak Dion. Gue yakin setelah kabar kematian gue, beliau pasti memaafkan kenakalan gue. Lo menceritakan ke Pak Dion mengenai keadaan gue setelah gue mati bukan?
            Oh iya Dion, surat ini sengaja gue titipkan ke ibu lo dan gue meminta beliau untuk memberikan pada lo setelah operasi lo berjalan mulus. Dan sepertinya lo berhasil melawan penyakit itu. Selamat hidup dengan jantung baru lo Kevin. Oh iya, pik gitar gue masih lo simpan kan? Nah mulai sekarang, setelah lo baca surat ini, gue ingin lo belajar bermain gitar. Mainkan petikan-petikan akustik untuk gue disini. Pik gitar itu adalah pemberian kakak, dan sekarang pik itu jadi milik lo. Gue harap bakat gitar akustik kakak mengalir pada diri lo Kevin.
            Tepati janji lo untuk menjadi pemain gitar akustik yang terkenal ya! Gue selalu mengawasimu dari sini. Kevin, thank’s sudah nemenin 2 tahun lebih hidup gue dalam kesendirian setelah penyakit itu masuk ke tubuh gue. Dan satu lagi, Kevin!
Gue cinta sama lo.

Sasya Salsabila
***
            Pada akhirnya disinilah aku, diatas panggung dengan sebuah gitar dan pik biru yang tak pernah kulepas dalam denggaman dan kalungan leherku. Aku memenuhi janjiku pada Sasya, gadis yang menarik hatiku namun pergi lebih dulu dariku. Cinta itu sederhana, namun terkadang menyedihkan. Namun melihatnya sendirian, segala bimbangku hilang.

But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer

~ Christina Perry - A Thousand Years ~


Komentar

Postingan Populer