Seandainya Semua Bisa Ku Beli (Part 1)
Sebuah cerpen karya Muhammad Gaharu Dida De Vedo
Namaku
Muhammad Adin Arsyad, biasa dipanggil Arsyad.
Tahun 2011, usiaku 13 tahun. Masih zamannya orang menari shuffle, masih belum
ditemukan apa itu yang namanya “Gangnam style”. Pada tahun ini pula artis
pendatang baru, Syahrini sedang naik daun dengan rekan duetnya, Anang
hermansyah.
Hari
itu aku naik ke kelas IX di Sekolah Menengah Pertama yang jauh sekali dari
rumah ku. Anak anak baru pun muncul, ada banyak akun akun social media yang menambahkan ku sebagai teman terutama di Facebook. Aku asal terima terima aja,
toh juga nambah-nambah teman adek kelas bukan perilaku yang buruk kan? Dari
sini lah aku mengenal sosok orang yang aneh sekali. Jarang kutemui orang
seperti ini, dia sepupu adek kelas ku di SMP, namanya Tina.
Pertama
kali aku lihat foto profilnya, cantik. Itulah kesan pertamaku. Aku cari-cari
tentang dia sekaligus komen-komen statusnya. Agak aneh sih orangnya, dia ketika
itu tertarik sekali dengan namanya Shuffle.
Dia punya grup aneh yang gak jelas gitu. Aku jelas nggak mungkin bisa Shuffle Dance secara penuh, karena aku
punya cacat di kaki yang memang sudah dari lahir. Tapi aku pun ikut grup itu,
mereka mengadakan pertemuan kali di Islamic Center.
Ia
tampak heran karena di usia ku yang masih terbilang muda kenapa bisa setinggi
ini? Di pertemuan mereka ini aku mengacaukan pertemuannya dengan menunjukkan
keahlian ku sebagai seorang pesulap. Dia marah-marah kepadaku. Aku berniat
suatu hari ini bisa menampilkan sulap bersamaan dengan dance, namun karena grup dance
mereka terlalu banyak masalah, akhirnya bubar. Kalau ditanya masalah, mungkin
dimulai dari cinta segitiga sampai masalah-masalah sepele yang enggak jelas. Yah,
namanya juga masih anak SMP, masih labil sekali.
Suatu
hari aku melihat seseorang tampil dengan permainan manipulasi CD. Walau gak
bagus-bagus banget tapi lumayan untuk menghibur orang-orang. Akupun tertarik
untuk mempelajarinya walaupun nggak ada dana untuk private sama guru sulap. Aku terpaksa belajar teknik itu sendiri,
mencari dasar trik di kamar ku yang sangat berantakan. Akupun menjadi seperti
pemulung yang kerjaannya cuman ambil kaset bekas. Yah apa daya? Satu pack Compact Disk bisa sampe 150 ribu.
Sehari aku dapat uang saku 10 ribu, itu sudah termasuk uang bensin dan pulsa,
gimana coba mau beli? Selama berlatih aku selalu memecahkan CD bekas perhari
itu minimal 5 saking giatnya.
Kembali
lagi ke Tina, dia rupanya juga tertarik mempelajari ilmu yang sedang
kupelajari. Dia ngajak ketemuan agar aku bisa melatihnya teknik CD Manipulation. Kita ketemuan di
Tepian, waktu itu dia lagi nemenin adeknya latihan sepakbola. Ngajarin dia itu
sulit banget, sudah kujelasin kan kalo dia itu aneh? Dia pun cerita tentang
ketertutupan dengan keluarganya. Yah, aku cuma kasih tau kalo kita jujur kita
akan jauh lebih baik, karena pada dasarnya kalau kamu bohong untuk satu hal,
maka kamu pasti bakal terus berbohong. Dan pada saat itu pula aku baru sadar
kalau dia itu benar-benar cantik. Aku merasa mulai suka sama dia tapi begitulah
aku, ingin fokus sama hobiku untuk bisa gapai cita-citaku menjadi pesulap
pertama Indonesia yang menjuarai FISM. Dan itu mimpiku sampai aku menulis
cerita ini, doakan saja semoga mimpi ini terwujud. Aamiin.
Hari-hari
di sekolah sangat membosankan, karena di sekolah ini cewek dan cowok kelasnya
dipisah. Alhasil yang pacaran satu sekolah jadi seperti kucing-kucingan atau
bisa dibilang malu tapi mau. Pacaran satu sekolah juga pastinya nggak enak
karena di-bully sana-sini. Biasalah,
namanya juga masa masa labil. Di sekolah ini juga aku dekat sama seseorang yang
sangat alim dan tertutup. Sebut saja namanya Ani. Berawal dari temanku yang
dulu pernah pinjam HP-ku untuk telponan sama dia. Aku kenalan sama dia itu juga
nggak sengaja, Sampai aku benar-benar dekat dengannya. Teman-temanku bilang
kalau aku Teman Makan Teman, tapi aku tidak peduli.
Kejadian
paling romantis yang pernah aku lalui sama dia pada saat kita ada perform
bersamaan. Dia perform beladiri Thifan, aku sulap. Dia bilang sama aku kalau
dia berlatih selama ini spesial untuk aku. Aku nanya sama dia hubungan kita
berdua ini sebenarnya apa? Dia pun bilang kalau kita cukup TTM. Kalian tau apa
itu TTM? Itu tuh lagu yang dinyanyikan Duo Maia pada tahun 2002, TTM akronim
itu (Teman Tapi Mesra). Kembali ke masalah perform, aku akhirnya gagal perform
karena ada salah komunikasi dengan pantia. Aku cukup kesal karena aku nggak
bisa liat doi tampil, nunjukkin aksi bela dirinya yang keren itu. Tapi nggak
apa-apa lah yang penting status kami hari itu ada sedikit perubahan.
Aku
pun masih berlatih trik CD Manipulation setiap
hari, untuk menunjukkan kalau aku emang pantas kalian sebut sebagai pesulap. Suatu
hari aku ada kontak dengan Tina, dia bilang ingin belajar lebih jauh tentang CD Manipulation dirumahnya. Aku sih oke-oke
aja, singkat ceritanya aku kerumahnya dan dia kuberi tutorial belajar trik CD Manipulation dan aku pamit dari
rumahnya seperti diusir. Sampai sekarang aku masih trauma kalau mau kesana.
Tapi aku sadar hari itu kalau dia benar-benar sangat cantik.
Beberapa
hari kemudian aku ulang tahun ke-14. Hari itu benar-benar keren, aku mendapat
ucapan doa pertama kali dari Ani. Dia benar-benar gadis yang sangat baik, hari
itu juga aku mendapat HP baru. Tapi ada suatu hal yang cukup menggangguku, Tina
jadian sama cowok yang jauh lebih tua dan dewasa dari dia. Dia memang pantas
untuk itu, namun dalam hati aku berkata “Seandainya waktu bisa dibeli. Aku akan
kembali ke waktu dimana kita bisa bersama” Tapi faktanya waktu nggak bakal bisa
dibeli.
Waktu
terus berlalu dan hari-hari ku cuman diisi dengan belajar dan latihan. Sungguh
sangat membosankan, jarang sekali aku bermain keluar karena sudah kelas IX dan sebentar
lagi akan diadakan Ujian Nasional. Ketika aku belajar malam hari, tiba-tiba
HP-ku yang hilang dulu ketemu. Kubuka SMS-ku
yang dulu, nggak nyangka aku yang selama ini benci 4L4Y dulu juga pernah alay.
Bahkan ada yang nggak kubisa kubaca sama sekali. Maklum saya juga pernah
ABABIL, ABG Labil.
Dihari-hari
berikutnya, aku diajak untuk mengikuti lomba Futsal. Aku sudah kelas IX kenapa
masih aja ikut lomba seperti ini? Hari-hari di sekolah bertambah lama setelah
belajar dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Ditambah latihan futsal di sore hari
dan malamnya masih bimbel. Sungguh hari-hari yang sangat membosankan dan melelahkan.
Sehari
sebelum lomba futsal dimulai, aku mempersiapkan peralatan yang diperlukkan. Sebagai
penjaga gawang yang baik, aku harus mempersiapkan sarung tangan dan deker.
Tapi ujung-ujungnya nggak kebeli. Kejadian
yang kurang mengenakkan pun terjadi saat sepulang sekolah, karena kurang
hati-hati aku terjatuh dari motor. Luka yang didapat cukup serius, nyeri
disekitar bagian kaki yang luar biasa. Dengan terpaksa besok lomba futsal sambil
pincang-pincang.
Hari
bertanding pun tiba, dan benar saja aku hampir tidak bisa berjalan pada saat
itu. Kaku sekali kakiku pada saat itu. Oh ya, hampir lupa kasih tau kalau aku
tergabung di futsal Tim C. Tim A dan B sudah melakoni pertandingan pertama dengan
kekalahan cukup telak. Tim A dibantai dengan skor 11-1 dan Tim B dibantai
dengan skor 9-2. Didalam hati aku bicara, Tim
A dan B aja dibantai cukup telak, apalagi team C yang persiapan minim. Dan
benar saja Tim C mengalami kekalahan, tapi untungnya tidak kalah telak dibanding
Tim A dan B, 5-2. Lumayan lah cuman 5
goal yang bersarang digawangku.
Dihari-hari
berikutnya aku cuman fokus penyembuhan kakiku sama belajar dan terus belajar. Kegiatan
ini jauh lebih membosankan dari sebelumnya, udah gitu Ani nggak ada ngabar-ngabarin
lagi, tambah bosan deh. Tapi ya gitulah demi UN sukses.
Disuatu
hari aku dikabari oleh adek kelas ku di Pramuka bahwa sebentar lagi mau
diadakan PERSAMI (Perkemahan Sabtu Minggu). Jelas lah ini ajang buat aku untuk cari
perhatian ke Ani yang bentar lagi nggak bisa ketemu. Dia memutuskan untuk
lanjut sekolah ke luar daerah sedangkan aku hanya ingin melanjutkan sekolah di
kota yang ku tinggali saat ini. Hari diadakan PERSAMI pun berlangsung, aku
termasuk didalam regu Garuda. Bisa dibilang ini lah regu yang terbaik di Gugus
Depan. Tentu saja hal ini biasa saja untukku, karena aku memang rajin latihan
dari pertama kali aku masuk SMP hingga sekarang. Di PERSAMI tersebut aku cuma
jadi pemimpin upacara sekali tapi lumayan lah untuk cari perhatian dia, aku
merasa ini kesempatan terakhir untuk bertemu dia secara dekat.
Sekarang
sudah malam, api unggun PERSAMI pun dimulai. Dimana adu yel-yel dari semua
regu. Regu ku menjadi regu terburuk yang menampilkan yel-yel dikarenakan banyak
anggota kami yang sakit dan diharuskan pulang lebih cepat. Nggak apa-apa lah toh
juga nggak begitu penting. Setelah acara api unggun semua pada istirahat. Aku
tidur lumayan nyenyak tapi suara sirine membangunkan ku dan seluruh peserta.
Aku mengira ini adalah acara jerit malam. Sekalinya ini adalah peringatan buat
adek kelas yang malam-malam bukannya tidur malah main basket. Menurut ku itu
adalah suatu tindakan yang sangat bodoh. Akhirnya semua peserta dihukum berdiri
selama sejam, aku pun sempat melihat Ani yang hanya tersenyum padaku.
Acara
PERSAMI pun usai dan sekarang waktunya pulang. Aku sudah mengemas barang-barangku
dan menunggu jemputan. Aku sempat melihat Ani dan orang tuanya, aku cuma senyum
aja sama dia. Sudah sejam aku menunggu orang rumah ternyata guru ku memberitahuku
kalau aku disuruh pulang naik angkot. Itu kata-kata yang membuat ku jengkel.
Uangku sudah habis, terpaksa harus jalan kaki dari sekolah ke rumah. Jarak dari
sekolah kerumah ada sekitar 17 kilometer. Bisa mati berdiri aku, sudah barang
bawaan ini kalau dikira-kira ada sekitar 3 kilogram, belum lagi panas yang
menyengat dan hawa panas dari badan yang belum mandi. Aku pun telah tiba
dirumah sekitar jam 6 sore, dari jam 10 pagi jalan kaki aku tiba dirumah jam
6,. Sampai dirumah aku langsung tidur sekitar 22 jam
Dihari-hari
mendekati UN, aku dihadapkan soal-soal ujian setiap hari. Di hari Minggu nanti
ada Try Out yang diadakan di Pusat Kota. Aku sudah beli tiket masuk untuk
menghadapi ujian itu. Hari minggu pun tiba, sudah saatnya aku berangkat. Pas di
perjalanan menuju pusat kota, pikirian ku kemana-kemana dan akhirnya aku nyasar
ke ujung kota. Perjalanan yang harusnya memakan waktu hanya 30 menit menjadi 1
jam. Sungguh sial aku hari itu, ketika sampai ke pusat kota ternyata aku lupa bawa
tiket terpakasa beli lagi. Ternyata Ani ikut Try Out juga. Try Out-pun aku
lalui dengan cukup rumit, soal-soal yang keluar banyak membuatku pusing.
Untungnya nilaiku nggak jatuh banget, sedangkan nilai Ani jatuh banget.
Entah
aku harus mulai dari mana, aku jadi orang nomor 2 dari Tina. Tapi aku sih nggak
senang, kan cuma jadi orang nomor 2 berarti nggak terlalu penting.
UN
pun telah tiba, aku sudah mempersiapkan semua peralatan dengan sangat matang. Aku
tidak ada niat untuk menyontek, karena ini ujian hidup mati yang menentukkan ku
selama 3 tahun. UN kulalui dengan serius tapi santai, tapi kayaknya kebanyakan
santainya. Sekarang aku tinggal memikirkan mau masuk SMA,MA, atau SMK. Walau
hati ini memilih SMK tapi orang tuaku menyuruh MAN, sebenarnya kecewa sih tapi
yah sudahlah.
Hasil
UN telah diumumkan dan aku lulus dengan nilai yang menurut ku kurang memuaskan.
Sekarang acara perpisahan, aku mendapat kesempatan perform terakhir bersama
sekolah ini, ini perform yang sangat berkesan bagiku dan perform ini hanya aku
khusus kan buat Ani. Disaat tampil ada banyak kesalahan yang seharusnya nggak
perlu, tapi untung penonton nggak tahu. Pada saat terakhir diatas panggung aku
sempat menampilkan tulisan “I MISS U” tentunya kalian tahu itu untuk siapa kan?
Setelah selesai perform tibalah saat dibagikan Kertas penghargaan. Disaat Ani
maju, aku merasa terkesan dengan cita-citanya yang mau membuat pondok
pesantren. Pada saat menyanyikan lagu perpisahan aku emang nggak nangis seperti
teman-teman ku yang lain, tapi setelah bertemu dengannya baru aku merasa
terharu.
Setelah
dari acara perpisahan aku mengirim pesan singkat ke Tina seperti ini “AKU BENCI
JADI ORANG KEDUA!”. Dia marah-marah, padahal dalam hati aku mau bilang ”Aku
benci jadi orang kedua dihati mu dan akan menjadi yang nomor 1” tapi apa daya
dia salah paham.
Lihat Versi Aslinya
Komentar
Posting Komentar