Hanya Senyuman dan Kebisuan
Masih dalam perbedaan yang indah. Terima
kasih Ya Allah, Tuhan, atas apa yang telah Kau berikan kepada kami. Sebuah
cinta dengan pembelajaran dan ujian yang sangat luar biasa. Terkadang memang
perbedaan di antara kami menjadi hal yang membuat kami bertengkar, karna kami
tau bahwa kami sama-sama memikirkan hal tersebut, disetiap waktu.
Masih dalam sebuah
jalan yang satu arah namun berbeda tempat. Setidaknya kami sama-sama melangkah
untuk menjalani hati yang terkadang egois ini. Berjalan berdua, menghabiskan
waktu untuk bersama. Ketika setiap panggilan adzan datang, ia akan menungguku hingga
selesai sholat di luar Masjid. Jika kami jalan hingga malam di hari minggu,
giliran aku yang menunggunya selesai Ibadah Sore di luar Gereja sambil
mengobrol dengan paklek pentol yang biasa mangkal di depan Gereja.
"Neng, bejilbab kok bisa ada
disini?" Tanya paklek pentol padaku.
"Teman saya lagi Ibadah di dalam,
paklek"
"Teman atau Temen? Kalau cuma Teman,
gak mungkin si eneng mau nungguin temannya ibadah, apa lagi dengan jilbab eneng
yang bener-bener membuat eneng jadi pusat perhatian di sini" goda si paklek
yang sepertinya ingin tau.
"Yowes paklek, yang lagi ibadah di
dalam itu pacar saya. Makanya toh saya mau nungguin dia selesai Ibadah, karna
dia juga spesial bagi saya." Jawabku akhirnya. Si paklek cuma tersenyum
sambil menggoreng pentolnya.
"Cinta beda agama itu ribet, neng.
Apa lagi kalau sudah usia matang menikah kaya eneng ini. Ya, jalan keluarnya
antara dua, kalian berdua harus ikhlas berpisah dan jalan masing-masing atau
salah satu dari kalian harus ada yang mengalah untuk pindah agama" kata si
paklek telak. Aku hanya diam, menundukkan wajahku sambil menyembunyikan mata
yang mulai berkaca-kaca. Namun tak lama, si paklek berkata lagi "tapi yang
namanya Hidayah, neng. Siapa yang tau selain Allah swt." Setelah paklek
berkata seperti itu, tiba-tiba dia mencubit pipiku dari belakang. Obrolanku
dengan paklek tadi membuatku tak sadar bahwa Ibadahnya sudah selesai.
"Yuk, kita cari Masjid dulu. Kmu
belum sholat Magrib kan? Sekalian aja nunggu Isya-an. Habis kamu sholat baru
kita makan terus pulang." Ajaknya sambil memegang bahuku dari belakang.
Sedangkan orang-orang yang keluar dari Gereja terus memperhatikan kami berdua.
"Kamu gak takut kalau jemaat yang
lain ngadu ke Pastur kalau kamu pacaran sama yang beda agama?" Tanyaku
padanya.
"Buat apa takut? Aku tinggal jawab
bahwa setiap manusia di Bumi ini punya hak untuk jatuh cinta kepada
siapapun." Setelah ia berkata seperti itu, aku langsung pamit pada paklek
pentol, menarik tangannya hingga ke parkiran dan menyurunya untuk menyalakan
motor untuk segera pergi ke Masjid.
Dalam sholatku, selalu kupanjatkan do'aku
untuk kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, dan tentu saja kekasihku. Berharap
Allah akan memberikan jalan bagi kami, entah bagaimana rintangan yang akan
Allah berikan pada kami. Kuatkan kami untuk mencapai ujung dari cinta ini.
Saat aku keluar dari Masjid, kulihat ia
sedang mengobrol dengan orang yang sepertinya bekerja di warung sebelah Masjid.
Saat aku mendekatinya terdengar kata-kata "... setidaknya, walau kami
berbeda, kami sama-sama berusaha untuk menghargai itu." Entah apa lah
maksudnya, aku hanya mencoba untuk tak acuh.
Aku menghampirinya dan menyapa dari
belakang. Hampir ia mencubit pipiku tapi kuingatkan bahwa aku sedang menjaga
wudhuku. Iapun hanya tertawa sambil memegang belakang kepalanya sambil berkata
"Hampir kelupaan kalau kamu jaga wudhu. Habis kamu bercahaya banget kalau
habis sholat, bikin aku gemes" aku hanya mencibir sambil mengajaknya pergi
ke warung makan tak jauh dari Masjid.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kami
membahas hal-hal yang kadang membuat kami tak seperti sepasang kekasih, tapi
juga sahabat. Apapun hal itu, tak ada yang kami tutupi, bahkan yang ada
sangkutpaut dengan agama. Seperti aku mengajar ngaji, atau dia yang menjadi
Remaja Gereja. Tak ada satupun yang kami titupi dan tak ada hari tanpa lawakan
segar. Pesanan kamipun datang dan kami segera memakannya.
"Oh iya, nanti ke toko buku bentar
ya. Ada yang mau aku cari." Kataku sebelum menyuap suapan pertama.
"Oke," Jawabnya singkat,
"Jangan lupa baca doa sebelum makan"
Aku tersenyum dan mulai berdoa dalam hati,
sedangkan ia didepanku menundukkan kepala dan berdoa, dengan cara kami
masing-masing.
Kini kami sudah berada di Toko Buku. Aku
langsung mencari novel yang aku cari namun ternyata belum tersedia di kotaku.
Sedangkan ia dari tadi mencoba menawarkan novel yang lain. Namun, seperti yang
aku tau, ia bukan tipe orang yang mengerti tentang buku, sehingga buku yang ia
rujukkan kepadaku jauh dari kategoriku. Saat ia melihat koleksi komik, aku
berjalan menuju rak buku agama. Aku tidak ingin dengan aku mencari buku agama
Islam ia menjadi segan padaku saat ini. Saat aku melihat-lihat buku mengenai
Nabi Muhammad saw., tiba-tiba ia sudah muncul disampingku sambil melihat buku
yang kupegang.
"Mau beli yang ini?" Tanyanya
padaku.
"Tidak, ada buku yang dulu kuincar,
tapi sepertinya sudah tidak ada lagi" jawabku. Ia hanya membentuk mulutnya
seperti huruf "O" dan berjalan menuju rak Alkitab yang berada tepat
di samping tumpukan buku yang kupegang tadi.
Di dalam hati ini, ada perasaan pilu yang
sangat mendalam. Entah kenapa rasanya lucu saja. Kami saling mencintai namun
memiliki dinding kasat mata yang sangat tebal. Saat aku memegang Al-Qur'an, ia
sedang membuka Alkitab. Ketika aku membaca tentang Makkah, ia membaca tentang
Yerusalem. Itu benar-benar terjadi saat ini, di antata ratusan buku bercerita
namun bisu.
Setidaknya hingga saat ini, kami jalan
bersama, walau berbeda jalan.
Terima kasih Ya Allah, atas cinta yang kau
berikan dalam ujian.
Thank's Lord, sudah mengizinkan umatMu mencintaiku.
Such a good one
BalasHapus