Cinta Seorang Fotografer "Chapter 2"
"Jangan ucapkan ‘Selamat Tinggal’ Jika kita bisa bertemu lagi"
Keringat yang mengalir dari
wajah putih Anissa tak dihiraukannya.Pasir-pasir yang berterbangan tertiup
angin dan mengenai matanya dan membuat matanya perih tak dipedulikannya.Ia
terus membungkukkan badan sambil menahan air mata yang sudah tak terbendung
lagi.Memperhatikan pasir putih yang ia lalui dengan teliti sambil mencari benda
yang kecil.Ia tengah kehilangan barang yang penting bagi hidupnya.
Setelah lelah ia
akhirnya terduduk lemah diatas pasir putih Pantai Manggar.Melihat SunSet
jingga itu sambil sesekali menitikkan air mata.Ditangannya ia terus memegang
Kamera DSLR kesayangannya.Saat ia tengah memulihkan tenaganya tiba-tiba seorang
anak laki-laki mengahampirinya dan menyapanya.
“SunSet yang
indah”kata anak laki-laki itu pada Anissa.
“Astagfirullah
al’azzim” ucap Anissa yang terkejut dengan anak laki-laki itu.Anak laki-laki
itupun jadi ikut terkejut.Anissa akhirnya kembali melihat matahari terbenam itu
sambil sesekali menitiskan air mata.Anak laki-laki itu hanya terdiam melihat
Anissa.Dipikiran anak laki-laki itu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi
pada gadis kecil ini.Apa yang membuat dia menangis.
“Anti kenapa
menangis ?” tanya anak laki-laki itu pada Anissa.Anissa menoleh pada anak
laki-laki itu dengan tatapan kesal.Anak laki-laki itupun semakin bingung.Apa
yang ia lakukan hingga membuat gadis kecil ini memasang wajah kesal padanya.Anak
laki-laki itu terdiam dan duduk disamping Anissa.Dia memperhatikan wajah putih
Anissa yang bercampur dengan keringat dan sesekali ia melihat Gadis kecil itu
menitikkan air mata.
Anissa memejamkan matanya, larut dalam kesunyian di
Pantai itu.Angin sejuk membawa kegelisahannya beberapa saat.Tak lama, gadis
kecil itupun sadar bahwa disampingnya
kini berada seorang anak laki-laki yang sedang memperhatikan wajahnya.Dengan
sigap gadis itupun mengeluarkan tissu di dalam tasnya dan mengusapkannya pada
wajahnya.Gadis kecil menoleh pada anak laki-laki yang dari tadi ada
disampingnya tanpa sepengetahuannya.
“Siapa kamu ?” tanya Anissa pada anak laki-laki
itu.Anak laki-laki itupun sadar dalam lamunannya yang sedang memikirkan gadis
kecil itu.Ia melihat wajah Anissa yang sudah dibersihkan walaupun matanya agak
sembab karna menahan air mata yang ingin dikeluarkan gadis kecil itu.
“Aku salah satu anggota grup Fotografer Muda
Balikpapan, Emm ... kau tadi belum menjawab pertanyaanku” jawab Anak laki-laki
itu.Anissa hanya terdiam mengingat apa yang anak laki-laki itu tanyakan tadi.Tak
lama ia mengingat pertanyaan anak laki-laki itu
“Tadi aku mencari barang yang sangat berharga dalam
hidupku” jawab Gadis kecil itu pada anak laki-laki itu.
“Barang apa hingga kau tangisi ?” tanya anak
laki-laki itu pada gadis kecil itu.Anissa hanya terdiam sambil sesekali
memainkan kameranya.Sebenarnya ia enggan untuk menceritakan masalahnya pada
orang lain.Anak laki-laki itu terus menunggu jawaban dari Gadis kecil itu
sambil sesekali melihat wajah gadis kecil itu.
“Jika boleh tahu barang apa itu ?” ulang anak
laki-laki itu yang sangat ingin tahu apa yang gadis kecil itu cari.Anissa
langsung melihat wajah anak laki-laki itu sesaat dan kembali melihat matahari
yang mulai tenggelam.Gadis kecil itu menghela nafas panjang dan memfoto
beberapa gambar SunSet, anak laki-laki itu terus menunggu jawaban dari
gadis kecil yang sejak tadi menarik perhatiannya itu.Akhirnya setelah beberapa
saat anak laki-laki itu menunggu, Anissa akhirnya angkat bicara tentang
masalahnya sekarang ini.
“Aku kehilangan cincin pemberian alamarhum kakakku,
itu benda yang sangat berharga bagiku” kata gadis kecil itu mengawali
cerita.Anak laki-laki itu mulai serius mendengarkan cerita gadis itu.
“Kata almarhum kakakku, cincin itu adalah hadiah
dari Gubernur KalTim karna kakakku berhasil menjadi Fotografer Muda KalTim
terbaik yang mewakili KalTim pada saat lomba Fotografer berajang Internasional
pada saat itu.Cincin itu memiliki pasangan karna cincin itu dipesan khusus oleh
Gubernur untuk kakakku.Pasangan cincin itu ada dijari sahabat perempuan kakakku
yang juga seorang Fotografer Muda KalTim Terbaik.Disetiap cincin terdapat
sebuah kata yang berbeda, cincin kakakku bertuliskan ‘Foto’ sedangkan satunya
bertuliskan ‘Grafer’ jadi jika disatukan menjadi sebuah kata yaitu ‘Fotografer’
” Anissa menghentikan ceritanya untuk menarik nafas sedikit.Anak laki-laki itu
makin serius mendengarkan cerita Anissa.
“3 minggu sebelum kakakku memberikan cincin itu
padaku, kakakku dan sahabatnya bertukaran cincin itu untuk aku dan adik sahabat
kakakku sebelum kejadian naas itu terjadi.Jadi,kini aku kehilangan cincin yang
bertuliskan ‘Grafer’.Saat kakakku memberikan cincin itu kakakku berpesan padaku
untuk menjada cincin itu dan melanjutkan karir kakaku dalam dunia fotografer.Kakakku
juga berkata bahwa cincin ini akan mempertemukanku pada sahabat yang akan
selalu ada disisiku seperti persahabatan kakakku dengan sahabat
perempuannya.Setelah kakakku memberikan cincin itu, ajalpun mencabut nyawa
kakakku dan sahabatnya pada sebuah kecelakaan beruntun.Padahal pada saat itu
kakakku baru menjemput sahabatnya yang berasal dari kota Balikpapan yang ingin
mengunjungi kakakku yang berada di Samarinda.Sahabat kakakku itu memang tinggal
di Balikpapan tapi setiap minggu sahabat kakakku itu akan ke Samarinda untuk
berkumpul sesama anggota Grup Fotografer Muda KalTim.Kakakku dan sahabatnya
terpental hingga 20 m dari tempat semula dan membuat nyawa mereka tak
terselamatkan.Itu sebabnya aku sangat menjaga cincin itu dan menjadi fotografer
muda Samarinda seperti permohonan kakakku padaku sebelum kakakku meninggal.”
cerita Anissa pada anak laki-laki itu.Saat bercerita gadis kecil itu tampak
mengeluarkan butir-butir air mata yang membuat anak laki-laki itu menjadi iba
dan merasa bersalah karna telah menanyakan masalahnya.
“ Afwan jika aku membuatmu kembali ke pengalaman
pahitmu” maaf anak laki-laki itu pada Anissa.Anissa hanya menganggukan
permintaan maaf anak laki-laki itu.Susasana kembali sunyi dan tak berapa lama
anak laki-laki itu kembali berkata pada gadis kecil itu.
“Aku juga pernah merasakan hal yang sama dengan
kamu, kehilangan seorang kakak yang kita sayangi memang berat untuk melepasnya”
terang anak laki-laki itu pada gadis kecil itu.Sontak Anissa melihat wajah anak
laki-laki itu yang tengah menunduk sambil sesekali menggerakkan kameranya.Di
dalam pikiran gadis kecil itu tak menyangka bahwa ada orang yang bernasib sama
dengannya.Tak berapa lama anak laki-laki itu kembali bertanya pada Anissa.
“Apakah kau tahu siapa nama sahabat kakakmu itu?” tanya
anak laki-laki itu.Anissa segera mengangguk dan menjawab.
“ Tentu namanya adalah Azi ...” kata-kata gadis
kecil itu terhenti setelah ia mendengar teriakan kakak senior di grupnya untuk
menyuruhnya berkumpul karna grup Fotografernya akan menghadiri Konfersi Pers di
salah satu BallRoom hotel di Balikpapan.Anissa akhirnya meninggalkan anak
laki-laki itu dan berkata pada pada anak
laki-laki itu.
“ Ya Allah .. sudah saatnya untuk pergi tapi aku
belum menemukan cincin kakakku” ucap gadis kecil itu sambil berdiri dan
membersihkan rok panjangnya dari butiran-butiran pasir yang menempel,anak
laki-laki itu juga ikut berdiri.
“Lebih baik kau cepat pergi sebelum ditinggal dan
aku harap kamu mengikhlaskan cincin itu.Lagi pula cincin itu hanya sebuah benda
yang mengingatkan kamu pada kisah hidup kakakmu Tapi kasih sayang kakakmu akan
selalu hadir dihatimu” jawabnya dengan nada bersahabat.
“ Ya, Syukron telah mengingatkan.Selamat tinggal
Assalamualaikum” salamku mengakhiri perjumpaanku.Anak laki-laki itu membalas
salam Anissa.
“Ma’a Syukuri, Walaikumsallam.jangan ucapkan
‘Selamat Tinggal’ Jika kita bisa bertemu lagi” balas anak laki-laki itu
setengah berteriak.gadis kecil itu hanya mengangguk dan mulai berlari
meninggalkan anak laki-laki itu dan menuju kakak-kakak seniornya.
Komentar
Posting Komentar