Angel?

“Hai!” sebuah sapaan membuyarkan lamunannya. Senyuman dengan lesung pipi yang cantik menyambutnya. Lelaki yang tengah berhadapan dengan berkas-berkasnya menatap lembut kedatangan seorang malaikat yang mengisi kekosongan hatinya beberapa bulan ini. Perempuan yang selalu memakai pakaian putih itu menghampirinya dan memeluknya erat dari belakang.
            “Sedang apa kau kesini? Malam-malam lagi,” tanya Hans pada perempuan dibelakangnya.
            “Apakah kedatanganku menggangumu?” tanya perempuan itu lembut. Lelaki dihadapnnya menggeleng. Mempererat pelukan perempuan itu dan memanjakannya. Baginya, perempuan yang ada dibelakanganya adalah seorang malaikat tanpa sayap.
***
Mission 1                                                           
            Bendera kuning berkibar disebuah kediaman yang megah. Orang-orang berpakaian hitam datang satu persatu memenuhi bangunan yang kini tengah diliput duka. Tangisan dari wanita tua menggema, ia tak menyangka anaknya mati dengan cara tragis. Pisau yang tertancap tepat dipunggungnya.
            “Anda yakin Bapak Hans tidak bersama siapapun setelah anda mendatanginya semalam?” tanya Kevin, seorang polisi yang mengurus kematian Hans kepada seorang pelayat yang satu-satunya berpakaian putih. Perempuan itu mengusap air matanya dengan sapu tangan dan mengangguk. Hans mati dengan luka tusuk setelah perempuan itu menyambanginya. Perempuan itu menjadi saksi.
            Seminggu setelah kematian Hans, perempuan itu kini menjadi sosok dingin dan misterius. Tak ada yang mengetahui kabarnya, entah dimana dan bagaimana. Perempuan itu kini selalu tampil berbeda, berpakaian putih dari atas sampai bawah tubuhnya dan membawa sebuah boneka teddy bear coklat disetiap kemunculannya.
            Perempuan itu menyambangi seseorang di malam hari, membawa serta boneka teddy bear. Ia muncul dengan gelagat canggung dihadapan seorang lelaki yang tengah merapikan setumpuk map di mejanya. Perempuan itu mendatanginya dan memeluknya tiba-tiba. Jean, sahabat Hans itu terbungkam karna tingkah perempuan yang ia kenal sebagai kekasih Hans.
            “Ada apa dengamu?” tanya Jean sambil melepas pelukan perempuan dihadapannya. Perempuan itu hanya terdiam sambil memamerkan matanya yang sembab. Boneka teddy bear coklat tetap berada digenggamannya bahkan ikut memeluk tubuh Jean. Lelaki itu mendudukan perempuan itu dan menggenggam tangannya.
            “Kau masih berduka disaat Hans disana telah tenang?” tanya lelaki itu cemas dengan keadaan perempuan didepannya. Tubuhnya kurus, lebih kurus sebelum kematian Hans. Lelaki itu mengusap pundak perempuan itu untuk memberikan ketenangan.
***
Mission 2
Sebuah bendera kuning berkibar disebuah pekarangan rumah yang sederhana. Beberapa orang telah mulai memenuhi rumah yang hanya ditinggali 3 orang. Ayah, ibu, dan seorang anak bungsunya, Jean. Setelah kematian Hans, sahabatnya kembali merengut nyawa dengan cara yang sama. Tertusuk sebelah pisau yang tertancap diperutnya.
            Kevin, lelaki yang bertugas sebagai penyelidik kembali menghadapi kasus pembuhunan dengan saksi yang sama. Perempuan itu memberi keterangan dengan mata yang lebih sembab dan suara yang terisak. Kevin memperhatikan tubuh perempuan itu dari atas sampai bawah. Kenapa ia selalu berpakaian putih? Dan teddy bear itu...
            “Kevin, kau sepertinya harus menaruh curiga pada perempuan yang kau anggap saksi itu. Sadarkah kau, Para korban mati setelah perempuan itu muncul kehadapan mereka bukan?” Fera, polisi wanita rekan kerja Kevin mengingatkan lelaki itu sambil menghempaskan map yang berisi semua informasi saksi. Kevin mengangguk dan membaca semua informasi mengenai saksi yang ia selidiki.
            “Ia seorang PHK?” tanya Kevin pada Fera yang berada dihadapannya.
            “Ya, PHK dari kantor yang dipimpin oleh Hans dan sahabatnya Jean.”
            “Kau menuduh perempuan bak malaikat itu membunuh mereka karna sakit hati telah di PHK? Bukankah ia kekasih Hans?” Kevin mendesah lelah dan mengurut keningnya.
            “Aku tak menuduhnya. Bukankah disini tertulis bahwa dia di-PHK karna mengundurkan diri dari kantor?” cegat Fera sambil menunjukkan informasi yang ia ucapkan barusan. Kevin kembali mendesah pelan. Perempuan itu adalah saksi satu-satunya. Kejadian matinya Hans dan jean selalu terjadi di malam hari ketika kondisi kantor telah sepi. Fera melipat tangannya didada, menunggu jawaban dari lelaki dihadapannya.
            “Kevin, Ada yang mencarimu” panggil Elo, salah satu rekan kerjanya yang masuk ke dalam ruangan.
            “Siapa?”
            “Perempuan yang menjadi saksi kasus kematian saudara Hans dan Jean” jawab Elo dan langsung meninggalkan ruangan. Kevin dan Fera saling bertatapan. Dengan lelah, Kevin keluar ruangan sambil memakai topi kepolisiannya. Fera hanya terdiam dan duduk di bangku yang ditinggalkan Kevin. Malam ini, di kantor cabang kepolisian, hanya terdapat tiga orang penjaga. Dirinya, Kevin, dan Elo. Mereka bertiga mendapat tugas piket malam ini.
            “Fera, bisakah kau menggantikanku di meja piket sebentar?” tanya Elo yang masuk tiba-tiba di ruangannya.
            “Mau kemana kau?”
            “Beli obat, perutku melilit dari tadi. Bolak balik WC tak berhenti juga sakitnya” katanya sambil meninggalkan Fera. Perempuan itu tertawa melihat kebodohan Elo. Ia dengan santai duduk di mejanya, membaca kembali informasi saksi yang sebenarnya tidak berguna baginya. Jenuh, perempuan itu keluar ruangan, mendatangi Kevin dan perempuan misterius yang berada di ruangan introgasi.
            “Aaaarrrrrrrrg!” sebuah teriakan dari suara yang tak asing mengalihkan perhatian Fera. Gadis itu mengintip dari sela pintu yang terbuka di ruang introgasi. Perempuan berpakaian putih dengan teddy bear yang selalu dibawanya memeluk kevin, namun tampak jelas bahwa lelaki itu menahan sakit. Tak berapa lama tubuh Kevin terjatuh dan tepat didadanya terdapat bekas tusukan dengan darah yang mengalir. Baju putih perempuan itu berlumuran darah, bahkan boneka teddy bear yang coklat tampak jelas bernoda darah.
            Setelah memastikan lelaki dihadapannya mati. Perempuan itu menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Fera membuka daun pintu dan berdiri dimulut pintu dengan tangan menyilang di dada. Tampak sebuah senyum menghiasi wajah Fera disusul oleh perempuan dengan baju putih yang kini berlumuran darah. Dibiarkannya boneka teddy bear dengan pisau di tangan sang boneka. Seolah-olah, boneka itulah yang membunuh.
            “Misi ketiga sudah selesai, Angel?” Fera mendekat dan merangkul perempuan itu. Angel mengangguk puas dengan semua usahanya. Pelampiasannya telah sempurna.
            “Katakan padaku, jangan bilang kalau Hans dan Jean adalah lelaki yang memperebutkanmu? Lalu kau membunuh mereka berdua sebagai pelampiasan karna Kevin dulu menyelingkuhimu. Lalu akhirnya kau membunuh Kevin karna ternyata mereka bertiga adalah sahabat yang sama-sama mencoba untuk mempermainkanmu karna kau dianggap anak kecil yang senang bermain boneka teddy bear?” tanya Fera, Angel mengangguk penuh kepuasan. Dihadapannya telah mati lelaki yang pertama kali mempermainkan hatinya.
            “Persahabatan seperti mereka pantas untuk dimusnahkan. Thank’s atas bantuanmu untuk memberikan jalan ini Fera,” tukas Angel dengan muka yang kembali berseri setelah ia menghapus make up mata sembabnya. Fera hanya tertawa kecil sambil memperkuat rangkulannya.

            “Kau tahu? Kau itu malaikat berbayangan iblis,” kata-kata Fera membuat Angel tertawa.

Komentar

Postingan Populer