Venetion Mask

            Derai langkah kaki menghantui koridor yang sunyi. Suara decitan sepatu kets sesekali terdengar di koridor itu. Kepalanya ditutupi dengan hoodie hitam dan wajahnya ditutupi oleh venetion mask. Tampak ia memperhatikan kiri dan kanan, mengawasi kedatangan hal yang tak terduga. Tangannya menggenggam setumpuk kertas yang tampak terisi ratusan bahkan ribuan kata. Entah menjelaskan tentang apa.
            Dihadapannya berdiri seorang lelaki dengan jaket hitam tengah menghisap rokok yang hampir habis. Saat mata mereka bertemu, lelaki itu tersenyum. Sedangakan seseorang dengan hoodie hitamnya langsung menyerahkan kertas-kertas itu. Tanpa sepatah kata yang terucap. Hoodie hitam, masih berada ditempatnya. Menyadari sepasang mata yang mengintainya.
***
            “Andria!” teriakan itu membuat orang yang memiliki nama berbalik menghadap belakang. “Kau dari mana saja? Aku mencarimu di kantin kau tak ada. Apa yang terjadi?”
            “Tak, tidak ada yang terjadi,” Andria menjawab dengan senyum hampa. Sangat tampak bahwa senyumannya tidak mengandung ketulusan. Andria terus berjalan tanpa menoleh ke aras Bela, teman sebangkunya. Pikirannya melayang pada Masa Orientasi Siswa yang sebentar lagi akan terlaksana. Ia sakit hati, tahun ini ia tak terpilih menjadi panitia. Padahal ia sudah tak sabar untuk membentak juniornya.
            Selalu dengan wajah tanpa ekspresi. Andri hanya terdiam akhir-akhir ini, rasa kecewanya sangat mendalam akan pemilihan panitia itu. Ia kurang aktif apa di Organisasi dan kegiatan sekolah? Seminar-seminar selalu ia ikuti, pekerjaan mengurus proposal dan laporan tak pernah lewat dari deadline, absensi tidak penar tertulis kata alpa. Andria sangat menginginkan posisi Koordinator Lapangan MOS yang ia impikan.
            Bela menyerah dengan sikap Andria yang diam akhir-akhir ini. Tak tau harus berbuat apa agar Andrea mau kembali ceria. Bela meninggalkan Andrea, memilih untuk berkumpul dengan teman-temannya. Andria menghembuskan nafas pelan, kenaikan kelas sudah ia rasakan. Kini ia resmi menjadi siswa kelas XII, tak lama lagi ia akan meninggalkan sekolah ini.
            Andria berjalan melewati ruangan organisasi. Melihat teman-teman anggota organisasinya tengah sibuk mempersiapkan MOS. Ia memilih memendam sakit hatinya, ia tak habis pikir dengan semua naskah-naskah Tuhan. Andria berhenti tepat dibalkon depan sekolah. Tempat yang sepi ketika anak-anak yang lain menghabiskan waktu di kantin. Balkon depan memang sepi, bahkan sebenarnya lebih tepat disebut atap dari pada balkon. Atap gerbang, itu lebih tepatnya.
            Dari atas Andria melihat seseorang yang mulai memasuki gerbang. Kemeja krem dan celana coklat kotak-kotak ia gunakan, tampak tak beraturan dan terkesan berandal. Ah, andai Andria menjadi panitia MOS, mungkin anak itu sudah babak belur hanya karna pakaiannya yang tak rapi. Celana botol, baju yang dikeluarkan, rambut cepak, kaos kaki pendek, sepatu warna-warni, sangat tidak beraturan.
            Andria perhatikan lebih ditail lagi mengenai sosok yang mungkin akan menjadi juniornya. Matanya menangkap tulisan yang sangat jelas dibagian lengan kanan bajunya, Sekolah Khusus Olahraga Internasional Kaltim atau disingkat SKOI Kaltim. Andria mengernyitkan alisnya, seorang atlit akan menjadi juniornya dan bersekolah di sekolahnya? Andria benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilihatnya.
            “Pakai topinya dek!” suara teriakan dari Koordinator Lapangan terdengar. Anak-anak yang tak menjadi panitia menyaksikan para calon juniornya yang tengah ditegur keras oleh Korlap. Andria menyaksikan dari lantai dua sekolah. Dilihatnya Bela tengah mengawasi junior yang tengah dihukum push up. Ah, anak SKOI itu pasti tidak keberatan dengan hukuman push up yang diberikan. Andria hanya menggelengkan kepala dan masuk kekelas, mencoba mendinginkan hatinya.
            Jam istirahat bagi peserta MOS, Bela masuk kedalam kelas dan dengan angkuhnya duduk di meja Andria. Andri yang tengah memainkan laptopnya tampak tak acuh dengan kedatangan Bela yang menjadi teman sebangkunya. Ia sudah cukup muak hari ini.
            “Kamu kenapa sih, Ndri? Bete banget kayanya,” Bela menegurnya dengan tangan yang mengipasi wajahnya. Baju lapangannya tampak basah karna keringat. Baunya? Tak usah ditanya. “Masih sakit hati mbak gara-gara gak kepilih jadi panitia?”
            “Menurutmu” jawab Andria dengan nada kesal.
            “Gitu aja marah. Eh, lu liat gak cowok yang gua hukum tadi?” tanya Bela. “Ganteng gak tu cowok? Kalau menurut gue sih ganteng banget. Junior cewek aja pas diminta tulis surat buat orang yang disuka banyak yang ngirim ke tuh cowok,”
            “Terus hubungannya sama gua apa?” Andria masih dengan kekesalannya menjauhi Bela dan berjalan keluar kelas sambil membawa laptopnya. Ia muak dengan cerita Bela yang membuatnya kesal setengah mati. Lelaki SKOI itu, Andria memang melihat wajahnya. Kulit sawo, tinggi, atletis, tapi berandal. Itulah yang ada dibenak Andria. Andria terus berjalan dan menuruni tangga sambil membawa laptopnya. Langkah kakinya menggambarkan kecepatan saat menuruni anak tangga.
            Prak!
            Suara jatuh laptop digenggaman Andria membuat matanya memanas. Hal itu tak akan terjadi jika lelaki berbaju krem dengan bad bertuliskan nama ruangan MOS tidak menabraknya saat menuruni tangga. Andria langsung menghadang lelaki yang terdiam ditempatnya. Dengan emosi memuncak ditariknya kerah baju lelaki itu dan mendorongnya sampai ke dinding tangga. Tak ada yang menyadari kejadian itu, hanya laptop dengan patahan di ujung layar hitam sebagai saksinya.
            “Maaf, gue tak sengaja,” lelaki itu memohon agar Andria melonggari tarikannya pada kerah bajunya. Andria tak bergeming dan tak peduli dengan permintaan maaf lelaki yang membuat leptopnya rusak disaat deadline tinggal sehari. Dengan mata yang berkaca-kaca karna sakit hatinya memuncak, sebuah tamparan melayang tepat di pipi lelaki dihadapannya. Dilepasnya tarikan pada kerahnya dan membiarkan lelaki itu mengusap pipinya dengan ujung bibir yang berdarah.
            “Sudah puas nampar gue?” tanya lelaki itu dengan nada kasar pada Andria. “Akan gue ganti laptop burukmu itu! Berapa yang lo minta akan gue ganti!” teriaknya lagi lebih kasar dari sebelumnya.
            Andria masih dengan kepalan tangannya menatap tajam lelaki yang tang berjongkok dihadapannya. Ingin rasanya Andria menendang lelaki itu hingga jatuh dari tangga dengan kepala berlumuran darah. Emosinya sudah tidak dapat dikendalikan, ditambah saat Andria kembali melihat laptopnya yang rusak parah. Tak ada yang bisa diselamatkan dari laptopnya.
            Dengan emosi memuncak, Andria kembali menarik kerah baju lelaki dihadapannya dan menatap matanya tajam. Lelaki dihadapannya membalas dengan tatapan tajam. Sangat menggambarkan keangkuhan dan kesombongan. Cuih!
            “Dengar junior! Aku tak butuh hartamu, yang aku mau kau minta bersikap lebih sopan pada seniormu. Kau tak tau siapa aku disekolah ini, mentang-mentang kau atlit seenaknya menghamburkan uangmu!” suara tajam Andria hinggap tepat digendang telinga lelaki dihadapannya. Lelaki dihadapannya tersenyum, angkuh.
            “Ternyata lo tau siapa gue. Ya, gue atlit yang sering membawa pulang mendali dalam cabang olahraga bulu tangkis. Sedangkan lo, lo bisa apa? Membentak junior lo dengan keangkuhan yang tak kalah hebat dari gue?” lelaki itu membalas dengan penegasan kata junior dalam kata-katanya.
            Andria mengernyitkan alisnya, meresapi kata-kata yang diucapkan oleh lelaki pembawa sial. Ah, jangan-jangan,
            “Kau siswa pindahan?” suara kasar Andria membuat lelaki dihadapannya tersenyum angkuh. Walau kerah bajunya tengah ditarik oleh perempuan di depannya, keangkuhannya tetap terjaga dengan baik. “Siswa pindahan saja belagu!”
            Lelaki itu tersenyum angkuh, “Setidaknya aku tidak seperti kau yang angkuh dihadapan junior saja.”
            Andri melepaskan tarikan pada kerah bajunya. Matanya menatap tajam arah lelaki yang ada dihadapannya. “Ganti laptopku beserta datanya setelah pulang sekolah!”
***
            Lebam diujung bibirnya masih menyisakan rasa perih. Walau ia sering mendapat tamparan dari ayahnya yang keras, tetap saja rasa sakit ditampar oleh seorang perempuan lebih menusuk hatinya. Ia menggerutu kesal di gerbang sekolah, ini hari pertamanya mengikuti MOS sebagai siswa baru, tapi kesialan sudah ditampakkan.
            Gadis yang ia tunggu sendari tadi akhirnya muncul di hadapannya. Seragam putih abu-abu khas SMA tampak mulai kumal setelah beraktivitas seharian penuh. Baju SKOInya sendiri telah kumal sejak berada di lapangan. Gadis yang menamparnya mendekati dengan langkah angkuh. Mencoba untuk berjalan tegap dengan dagu terangkat. Sungguh, kesombongannya dapat menaklukan siapa saja yang melihatnya.
            Deon, dengan sikapnya yang terlatih, ia membalas perilaku gadis yang berjalan kearahnya. Seolah-olah dia lebih hebat dari gadis yang membawa kesialan baginya. Gadis itu kini berada tepat didepannya, dengan dagu terangkat, angkuh.
            “Cepat! Aku tak punya waktu untuk melihat kau bersikap angkuh,” Andria melongos kesal dengan sikap berbalas dari lelaki dihadapannya, pembawa kesialannya.
            Deon berjalan ke parkiran, mengeluarkan kunci dari sakunya dan menekan remot yang berada di satu gantungan dengan anak kunci. Suara mobil terdengar di ujung parkiran. Deon sekilas melirik ke gadis yang meminta tuntutan akan kerusakan leptopnya, jelas gadis itu terperangah melihat dirinya kesekolah dengan membawa mobil. Hal yang masih asing di kota yang berada di Timur Kalimantan.
            “Cepat! Gue gak punya waktu buat melihat lo terperangah,” suara angkuh Deon terdengar jelas oleh Andria. Gadis itu mengepalkan tangannya, berusaha untuk menahan emosi. Cukup laptopnya yang hari ini jadi korban.
            Andri masuk ke dalam mobil, duduk tepat disamping kursi sopir. Tak ada suara yang keluar kecuali mesin mobil yang berderu di tengah jalanan.
            “Apa tipe laptop lo?” tanya Deon kasar.
            “Asus Vivobook X202E,” jawab Andria angkuh. Tampak Deon mengernyitkan alisnya. Tampak senyum angkuhnya mengembang.
            “Gue ganti dengan yang lebih canggih dari laptop touchscreen lo itu! Beserta data-data dari laptop lo yang rusak,” Deon membalas dengan nada tak kalah angkuh. “Asal lo mau nolong gue untuk satu hal,”
            Kalimat terakhir dari bibir Deon membuat Andria mengernyitkan alisnya. “Apa?”
            Deon mulai tersenyum menang, “Lo tau alasan gue pindah ke sekolah lo? Karna gue mencari seseorang,” jelas Deon. Tangannya membuka bagasi didepan Andria, beberapa buku tampak dihadapan Andria. “Gue yakin lo tau penulis novel itu. Gue tau penulisnya bersekolah di sekolah yang baru gue masuki, gue suka sama tuh orang. Unik, saat tampil ke publik dia selalu memakai venetian mask,”
            Andria menatap Deon dengan beribu pertanyaan. “Kau tau dari mana penulis novel ini bersekolah di sekolahku. Setauku, tak ada yang tau dimana ia tinggal, bersekolah, bahkan posisinya,”
            Deon hanya tersenyum, angkuh. “Gue punya harta yang bisa membeli informasi serahasia apapun,”
            Andria hanya melongos kesal dan diam menatap kaca mobil disampingnya. “Tapi kau harus berjanji satu hal. Jika kau telah mengetahui identitasnya, jangan sebarkan identitasnya ke publik. Melalui apapun, jika tidak kau akan berurusan denganku”
            Deon mengangguk setuju.
***
            Seminggu setelah kejadian rusaknya laptop Andria oleh seorang atlit bulu tangkis bernama Deon. Hari-hari Andria dihantui oleh tagihan Deon berupa penulis novel yang membuatnya rela pindah sekolah saat memasuki bangku kelas XII. Andria diam-diam berlari dari perjanjian namun tak mencoba untuk mengingkari. Ia hanya menunggu waktu yang tepat.
            Terima kasih atas laptop beserta data-datanya. Aku tak mencoba untuk berlari dari janji dan mengingkarinya. Datang ke sekolah pada hari Minggu!
            Sebuah pesan masuk muncul di Android Deon. Ia hanya mengernyitkan alisnya, bertanya-tanya ada apa dengan hari itu.
***
Derai langkah kaki menghantui koridor yang sunyi. Suara decitan sepatu kets sesekali terdengar di koridor itu. Kepalanya ditutupi dengan hoodie hitam dan wajahnya ditutupi oleh venetion mask. Dihadapannya berdiri seorang lelaki dengan jaket hitam tengah menghisap rokok yang hampir habis. Saat mata mereka bertemu, lelaki itu tersenyum. Sedangkan seseorang dengan hoodie hitamnya langsung menyerahkan kertas-kertas itu. Hoodie hitam, masih berada ditempatnya. Menyadari sepasang mata yang mengintainya. Begitu juga lelaki dengan jaket hitam.
Sosok dengan hoodie hitamnya ber-venetion mask mendatangi sang pemilik mata. Sang pengintai merasa gugup saat sosok venetion mask berada didepannya. Mata mereka bertemu. Deon, sang pengintai hanya terdiam sambil menatap dalam-dalam mata yang dibalung topeng pesta berwarna biru dongker.
Tangan pemakai topeng pesta mulai mendekat ke topengnya, menunduk, dan topeng yang menutup setengah wajahnya terlepas. Deon menyaksikan hal itu dan menunggu siapa yang ada dibalik venetian mask. Matanya terbelalak ketika menatap wajah tanpa penghalang yang selama ini ia nanti. Tak menyangka bahwa orang yang membuat sial hari pertama MOSnya yang berada di balik topeng. Andria.
Andria tersenyum penuh kemenangan. “Penulis itu aku, Deon.”
“Mustahil,” satu kata itulah yang mengalir lancar dari bibir Deon.
Andria memanggil lelaki yang baru saja menerima naskah yang selalu disetor disekolah Andria, alasannya klasik. Ia tak ingin ke kantor Redaksi agar ia tak dimintai informasi lebih dalam tentang dirinya oleh pimpinan Redaksi. Sejak naskah pertamanya diterima, Andria hanya berhubungan dengan editornya yang tak lain adalah kakak sepupunya.
“Ini kakak sepupuku sekaligus editorku. Kau tau kenapa aku sangat marah saat kau menghancurkan laptopku? Karna beberapa hari lagi naskahku harus kukirim. Tepat hari ini, dan aku mengirim pesan ke kamu agar melihat yang sesungguhnya,” jelas Andria.

            “Kau benar-benar orang misterius Andria, dan cukup kasar karna telah menamparku,” canda Deon. Andria tertawa, ia tak perlu menjelaskan apa yang membuatnya sebegitu marahnya saat laptopnya rusak. Sudah sangat jelas terjawab.

Komentar

Postingan Populer