Like Dementor


Derai langkah kaki menghantui koridor yang sunyi. Bangunan yang menampung ratusan remaja itu kini dalam keadaan hening dan sepi. Suara decitan sepatu kets sesekali terdengar di koridor itu. Kepalanya ditutupi dengan hoodie hitam. Tampak ia memperhatikan kiri dan kanan, mengawasi kedatangan hal yang tak terduga.
            Suara decitan sepatu dan beberapa hentakan terdengar menggema dari sisi lain. Dentuman musik R&B mengisi kesunyian yang dari tadi hinggap di telinga. Dari banyaknya ruangan yang ia lewati, hanya satu ruangan yang menampakkan kehidupan. Ruangan yang bertuliskan “XII S1” itu dipenuhi makhluk-makhluk yang tengah bergerak mengikuti irama.
            Sosok itu muncul didepan pintu, dibukanya penutup kepala dari hoodie-nya dan melongos kesal kepada sekumpulan makhluk yang membuat lingkaran, cypher. Ia tiba-tiba menerobos masuk kedalam lingkaran. Seseorang yang sejak tadi berada di dalam lingkaran berhenti dari gerakkannya dan memperhatikan sosok didepannya.
            Musik R&B telah berpindah menjadi lagu dengan beat cepat. Seketika, gerakan tutting yang sempurna mengawali kedatangan sosok misterius tersebut. Fei, lelaki yang terpaksa berhenti dari gerakan windmill-nya itu memperhatikan dalam-dalam penampilan sosok didepannya. Gerakan tutting berpindah menjadi gerakan locking. Tubuh itu bergerak dengan kelenturan luar biasa. Setelah itu, sosok didepnnya mengakhiri dengan freeze sempurna dan teknik spring deck.
            Fei melipat tangan didada, menilai semua gerakan yang diam-diam luar biasa. Cypher berdecak kagum terhadap kemampuan sosok tersebut. Sebuah bisikan “b-girl” terdengar diantara mereka.
            “Sasya, sudah hebat setelah setahun menghilang,”
***
            Gadis berkepang kuda itu berlari sambil mengunyah permen karet. Melewati dan menyenggol siapa saja yang ada didepannya. Koridor itu tengah ramai, sudah setahun ia tak menginjakkan kaki disini. Tujuan utamanya adalah ruang TU, mengambil buku pelajaran dan berangsur menuju kelasnya. Sebagai siswa American Field Service atau yang disingkat AFS telah membuatnya mengabaikan tanah kelahirannya selama setahun.
            “Bagaimana pengalaman sebagai siswa AFS?” tanya seorang staf TU.
            “Panjang ceritanya.” Sahut Sasya cepat.
            Setelah keluar dari ruang TU, langkahnya semakin lebar menyambangi ruangan bertuliskan “XII S1”. Ia melongos kesal mendapati seorang lelaki duduk semena-mena diatas mejanya.
            “Fei! Minggir!” teriak Sasya begitu saja sehingga membuat lelaki itu terkejut dan terjatuh dari meja yang ia duduki. Teman-temannya sontak tertawa, sedangkan Sasya dengan santainya duduk di kursinya. Fei bengkit dan memukul meja Sasya keras, menimbulkan suara hentakan yang membuat anak-anak terdiam. Kelas hening begitu saja, mereka hapal jika Fei sudah menghentak meja.
            “Sudah hebat setelah setahun menghilang, Sasya?” tanya Fei mengahadap Sasya dengan wajah sangar. Gadis itu bertopang dagu dengan wajah santai, mengunyah permen karet, memuat gelembung, dan meletuskannya tepat dihadapan Fei. Teman-temannya kembali menertawakan penginjakkan Fei oleh Sasya. Tak terima, lelaki itu menggeser meja dan berdiri tepat didepan Sasya. Gadis itu duduk dengan santainya sambil tetap mengunyah permen karet. Tangan kanannya terselip dibelakang bangku.
            Fei semakin mendekat dan melayangkan tangan untuk menarik kerah baju Sasya. Gadis itu spontan menepis tangan Fei dan dengan cepat sudah ada dibelakang Fei. Sasya menggenggam deck ditangan kanannya dan me-fanning-nya. Dilemparkannya dengan cepat satu kartu dari fann deck-nya.
            Fei yang baru saja membalikkan badan terkejut dengan kedatangan kartu yang dilempar Sasya. Temannya bersorak membentuk lingkaran mengelilingi dua makhluk berbakat yang tengah berseteru. Sasya terus menyerang Fei dengan kartu, sedangkan lelaki itu melakuakan gerakan popping seraya menghindari serangan Sasya. Baru saja Fei hendak melakukan windwill untuk menghamburkan kartu dari tangan Sasya dengan kakinya, teriakan yang mengeluarkan kalimat “BK! BK!” membubarkan mereka.
***
            Sasya menunjukkan CD Manipulation pada teman-temannya. Ia merindukan menunjukkan sulap kepada teman-temannya. Compact Disk yang digenggam Sasya menghilang ketika Sasya hendak menggengamnya dengan tangan yang lain dan muncul dibelakang kakinya saat Sasya menghentakkan tangan kekakinya. Sebuah kartu yang telah ia riffle ia sodorkan kepada temannya yang ia bentuk fanning dengan sempurna. Ia minta temannya mengambil salah satu kartu, mengingat jenis kartunya, dan mengembalikan pada tumpukan. Sasya kembali me-riffle-nya dan kembali membuat fanning dengan keadaan kartu terbuka.
            “Apa kau melihat kartumu disini?” tanya Sasya kepada temannya. Temannya hanya menggeleng kebingungan.
            “Apa yang selalu ku katakan? Itu karna kau melihat terlalu dekat. Lalu apa yang aku katakan sebelumnya? Semakin dekat kau melihat, semakin sedikit yang kau lihat.” Deck tersebut Sasya lempar ke atas sehingga memalingkan pendangan teman-temannya menghadap atas. Dan situlah tampak kartu yang menempel pada langit-langi kelas dan kartu itu merupan kartu yang dipilih temannya. Sebuah derai tawa dan tepuk tangan menghiasi ruang kelas. Sasya tersenyum puas. Fei yang memperhatikan dari jauh mendatangi Sasya dan menarik lengannya. Sasya mengekor begitu saja namun merasakan sedikit ketakutan. Fei bisa saja melakukan hal aneh kepadanya.
            “Aku minta maaf Fei!” Teriak Sasya ketika mendapati Fei menariknya kebelakang sekolah.
            “Apa kau pikir aku dengan mudah memaafkanmu? Kau tahu? Aku bisa saja mengadukan ini semua ke orang tuamu mengenai bakat sulapmu,” ancam Fei sambil menghempaskan tubuh Sasya kehadapannya. Gadis itu melotot saat mengetahui rahasia terbesarnya diketahui oleh Fei. Orang tuanya memang tidak pernah merestui bakat Sasya.
            “Apa yang harus kulakukan untuk membungkam mulutmu?” tanya Sasya.
            “Battle dance,”
***
            Sasya berjalan dikoridor sekolah yang sepi. Hoodie hitam membalut tubuhnya agar keberadannya tidak diketahui satpam sekolah yang bisa saja muncul tiba-tiba. Suara dentuman musik terdengar dikelasnya. Sekelompok cypher menutupi pandangannya yang ia yakini adalah Fei yang tengah breakdance ditengah-tengah mereka. Ia melepas hoodie-nya dan melongos kesal. Dilewatinya begitu saja cypher yang mengahalanginya dan langsung battle melawan Fai. Setelah deck ia simburkan dengan gaya freeze sebagai penutup. Fai hanya membisu dari tempatnya.
            “Sejak kapan kau belajar dance?” tanya Fai setelah mereka bubar. Sasya hanya tersenyum penuh rahasia dan menyodorkan deck dalam bentuk fanning. Fai mengambil satu kartu, mengingatnya, dan mengembalikan kartu itu kembali ke deck. Setelah Sasya me-ruffle kartunya. Kembali ia menodorkan pada Fai. Fai yang mengetahui teknik sulap mengarahkan tangannya kebelakang leher Sasya dan mengeluarkan kartu yang entah dari mana, kartu itu adalah kartu yang ia pilih dari deck Sasya.
            “Kau bisa sulap juga?” tanya Sasya sambil merapikan deck-nya.
            “Tentu,”
            “Jadi, kau telah memaafkanku?”
            “Bahkan kita bisa berkerja sama, Sasya. Breakdance dan sulap bisa bersatu seperti yang kau perlihatkan tadi”
            Gadis itu terdiam dan berhenti berjalan. Fai menyodorkan kepalan tangannya pada Sasya, gadis itu tersenyum dan menyatukan kepalan tanganya pada tangan Fei.
            “Kita berdua ini ternyata sosok misterius ya,” guyon Sasya.
            “Seperti Dementor. Sudah hantu, misterius lagi.” mereka berdua tertawa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer