Thinetion


            Sekumpulan ABG berjaket hijau hitam mulai tampak membuat gaduh di depan kelas. Membuat orang-orang yang ada dilingkungan madrasah itu memperhatikan kegaduhan mereka setiap pagi dan setelah pulang sekolah. Kelas sekaligus jurusan yang baru ada di madrasah itu selama 3 tahun, hanya terdapat 33 siswa yang rata-rata tidak jelas. Kelas yang semua penduduk madrasah tau akan keberadaan mereka. Inilah Thinetion
            “Woy! Siapa yang sudah ngerjain PR MTK nah ?” Tanya Raya pagi-pagi ketika ia baru datang kemadrasah. Tiga makhluk yang ditanya malah sibuk melihat-lihat jam tangan yang dijual salah satu olshop1 di Instagram Gesta.
            “Eh Yak, couple jam tangan yok” tawar Maisa kepada Raya yang baru saja mau bertanya PR MTK.
            “Eh, mana mana? Aku mau liat!” Sontak Raya langsung bergabung dengan kerumunan anak-anak gila olshop.
            “Tadi sok-sok rajin nanya PR MTK ujung-ujungnya gila olshop juga ae” Celetuk Rina yang tengah asyik dengan buku Matematikanya. Rina memang paling hobi masalah hitung-hitungan, walaupun dia ini mendapat julukan “Ibu Pendongeng” dari seisi kelas. Sedangkan yang disinggung hanya cengengesan sambil melihat kembali jam tangan di Instagram.
***
            Raya, cewek yang sok polos ini sebenarnya adalah cewek paling Hyperaktif dan autis dikelas. Gak bisa diem, suka nanya alias Kepo, sok-sok manis padahal cakep, dan yang paling parah sok-sok baik walaupun dia yang paling sering traktir bubuhannya makan dikantin.
            Maisa, cewek yang satu ini kurang lebih sama dengan Raya. Hyperaktif dan autis. Namun dia punya satu kelebihan, yaitu GALAU. Apa lagi baru-baru aja dia ditinggal pacarnya umroh. Selain itu cewek ini adalah salah satu makhluk yang hobi menuhin timeline di twitter. Dan salah satu twittnya berisi hal seperti ini “Agoy pulang umroh bawa onta betina buat dinikahinya”
            Gesta, ini makhluk yang berkacamata gede, dengan wajah sok polos padahal gila olshop. Apa aja yang lagi ngetrend dia pasti lebih update. Walau gitu dia ini juga punya kelebihan yang normal banget diantara kalangan pelajar-pelajar. Gesta ini cerdas hingga gak salah kalau dia selalu dapat Ranking 1 dari depan. Gak salah juga kalau dia adalah pusat jawaban semua mata pelajaran.
            Rina, ini dia makhluk paling normal diantara Raya, Maisa, dan Gesta. Makhluk ini juga bisa dibilang cerdas karna masalah pelajaran dia ini nomor satu. Tapi kalau sudah gak ada gurunya masuk ke kelas, kerjaannya main kartu UNO dibelakang kelas sambil lesehan dengan Gesta dan Raya.
            Azhari, cowok satu ini adalah salah satu pusat keonaran dikelas ini. Dia yang diam-diam dijuluki Wendy Cagur ini memang sangat mirip dengan komedian tersebut. Dari cara berjalan, logat bicara, penampilan, bahkan tingkahnya yang kelewat konyol dan gila.
***
            Sebagai pelajar yang agak gak normal. Hal biasa yang dilakukan sebelum bel masuk berbunyi adalah ngumpul dalam satu meja dengan Handphone diatas meja yang menampilkan aplikasi instagram cuma buat melihat foto baju atau jam tangan terbaru.
            “Iih, Lucu nah bajunya” Teriak Gesta setiap kali melihat baju bergambar Dreamcatcher. Raya dan Maisa langsung melongok melihat HP Gesta.
            “Kok kayak lambang perdamaian ya?” Tanya Raya polosnya. Tanpa dosa tanpa akal. Gesta menepuk jidatnya.
            “Eet dah, kenapa gue punya temen kayak lo?” Tanya Gesta.
            “Yah nasibmu Ges” Celetuk Rina yang baru datang. Gesta merengut sambil kembali melihat foto-foto diHPnya. Raya sendiri sibuk dengan notebooknya dan Maisa menggalau riang di Twitternya.
            “Ya, kamu bawa UNO kah?” tanya Rina pada Raya. Yang ditanya diam tak menjawab namun tangannya langsung mengambil tas sekolah dan mengeluarkan 1 kotak berukuran sedang dan 2 kotak kecil. UNO Stacko dan kartu UNO 2 pack. Mereka yang melihat kejadian itu hanya melongok gak jelas.
            “Kamu sudah gila kah?” Tanya Rina sambil mengambil satu pack kartu UNO. Yang ditanya hanya cengengesan.
            “Terus buku pelajaran kamu taruh dimana?” Tanya Gesta angkat bicara, matanya tetap menatap HPnya.
            “Nih!” Jawab Raya sambil mengeluarkan tas gandeng kecil berisis buku-buku dari lacinya. Gesta yang matanya sibuk menatap HP langsung melihat tas kecil itu diikuti dengan Rina. Mereka berdua menepuk jidatnya tanpa dosa. Yang dikeluhkan kembali cengengesan.
            “Kamu sudah cinta banget kah sama UNO?” Tanya Gesta.
            “IYA!” Jawab Raya lantang. Sedangkan Maisa dari tadi menutup matanya seolah-olah melihat hal yang tidak wajar.
            “Ikam2 kenapa Sa?” Tanya Rina.
            “Jauhkan aku dari benda itu!” Teriak Maisa sambil menjauhkan UNO Stacko dan kartu UNO. Mereka bertiga saling pandang.
            “Ikam phobia UNO kah?” Tanya Raya.
            “UNO tuh selingkuhannya Agoy. Aku benci UNO! Phobia banget!” jawabnya seperti cacing kepanasan bubuhan Girlband gak jelas yang ada di TV. Mereka bertiga hanya melongos, sudah biasa melihat keautisan Maisa.
***
            Jam pertama dihari sabtu ditemukan oleh pelajaran favorit Raya, namun tidak bagi teman-temannya. Ilmu Tafsir sangat digilai Raya walau kalau disuruh hapalan ia angkat tangan atau mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Hentakan sepatu The Mom of Tafsir sudah terdengar 100 meter dari kelas. Padahal jarak antara ruangan beliau dengan kelas berkisar 40 meter. Seisi kelas sontak gaduh. Teriakan penjaga pintu mulai menyebut nama The Mom of Tafsir yang mulai mendekati kelas.
            Raya, Gesta, dan Rina yang tadi asik bermain UNO Stacko langsung berhambur gaduh. Sedangkan Raya terburu-buru merapikan UNOnya, takut disita. The Mom of Tafsir memasuki kelas. Sontak saja kelas yang terkenal dengan suara TOAnya ini langsung sepi senyap seperti kuburan Cina. Ada yang tegang, keringat dingin, mimisan, bahkan pura-pura mati. Tapi diantara semua ketegangan itu ada satu makhluk yang gak tau-tau sedang tertidur dengan kepala didalam tas.
            “AZHARI!” Teriakan itu langsung mengisi kelas yang sepi senyap. The Mom of Tafsir memanggil Wendy Cagurnya Thinetion yang tengah tertidur pulas. Yang diteriakipun terbangun dengan kepala yang masih terbungkus tas.
            “Hah! Apa bu?” Tanyanya tanpa dosa tanpa akal pada The Mom of Tafsir.
            “Keluar kamu! Terus catat semua yang kamu liat diluar kelas. SEKARANG!” Perintah The Mom of Tafsir pada Azhari. Azhari yang masing hanyut dengan kantuknya mengambil buku tulis dan berjalan keluar. Kami tertawa terbahak-bahak namun ketika melihat tatapan The Mom of Tafsir kami langsung pura-pura mati. Baru saja Mom Tafsir duduk dimeja guru. Azhari kembali masuk kelas dengan polosnya.
            “Tadi saya disuruh ngapain bu?” Tanyanya tanpa dosa. Sontak kami satu kelas tertawa. Sedangkan Mom Tafsir menggelengkan kepalanya dan kembali mengulang perintahnya. Azhari mangut-mangut dan kembali keluar.
            “Itu ngapain jongkok disana?” Tanya Mom Tafsir pada Azhari yang ternyata sedang berjongkok didepan kelas membelakangi pintu.
            “Loh! Katanya saya disuruh nyatat apa yang saya liat bu” Jawabnya polos sambil membalikkan kepalanya.
            “Tapi kenapa jongkok-jongkokan disana! Kan disuruhnya catat apa yang diluar kelas” Tegur Mom Tafsir.
“Ini kan sudah diluar kelas bu” Jawab Azhari mangut-mangut sambil terus menulis apa yang dia lihat tanpa berpindah posisi. Azhari sudah gila. Mom Tafsir memulai pelajarannya. Seperti biasa, beliau akan menunjuk dua orang untuk menjelaskan kandungan ayat sesuai dengan materi yang dibahas setiap mata pelajarannya. Saudara gila Azhari, Lami, ditunjuk maju olah Mom Tafsir. Dengan kekurang-kurangannya dan kelebihan dosis pintarnya, ia menjelaskan kandungan ayat yang diperintahkan diselingi dengan keonaran yang membuat kami tak dapat menahan ketawa.
“Buka sesi pertanyaan” Kata Mom Tafsir ketika ia selesai menjelaskan.
“Ya, sampai sini ada yang ingin ditanyakan?” Tawarnya dengan cengengesan. Gestapun mengacungkan tangannya.
“Ya, sepertinya tidak ada yang ingin bertanya” Spontan Lami berkata demikian setelah melihat siapa yang bertanya.
“AKU MAU TANYA LAMI!” Teriak Gesta. Anak-anak yang lain tertawa melihat tingkah mereka. Lamipun dengan muka pasrah mempersilahkan Gesta memberikan pertanyaan luar binasanya. Baru saja Gesta hendak bertanya Azhari masuk kekelas dengan polosnya.
            “Bu! Sudah selesai bu!” Teriak Azhari dengan gembira dan autis.
            “Bacakan didepan kelas” Perintah Mom Tafsir.
            “Is, gak usah gin bu!” Tawar Azhari. Namun ia tak bisa mengelak, akhirnya ia membacakan tulisannya.
            “Dari arah barat, awan hitam tampak mulai menunjukan tanda-tanda hujan. Namun dari arah Timur awan dan matahari tampak cerah ...” Baru dua kalimat yang ia bacakan satu kelas sudah mulai gaduh dengan tawa TOAnya. Mom Tafsirpun tampak menahan tawa karna tingkah Azhari yang kelebihan dosis gilanya.
            “Karna angin dari barat, rumput-rumput hijau mulai bergoyang. Sedangkan pohon yang ada didepan mulai mati karna musim kemarau berkepanjangan. Sudah bu, selesai!” Jawab Azhari dengan lantang dan berwibawa wanitanya. Satu kelas sontak tertawa. Apa yang diperintahkan tidak sesuai dengan apa yang ia kerjakan. Yang dimaksud nyatat apa yang dia liat satu persatu. Dia malah membuat karangan.
            “Ya sudah! Duduk kamu” Tanya Mom Tafsir sambil tetap menahan Tawa. Bayangkan guru sekiller Mom Tafsir dapat tertawa hanya karna Azhari. Memang sudah gila orang ini.
***
            Pagi dihari Selasa, Gesta, Rina, dan Maisa sudah ada dikelas dengan tawa yang sudah terdengar ketika Raya berjalan menuju kelas.
            “Ya! Kamu nanti malam pertama dimana?” Tanya Maisa spontan ketika Raya datang. Raya Cuma melongo.
            “Ngomongin perkawinan di pelajaran Fiqh lagi ya?” Tanya Raya yang masih dihantui dengan rasa malas kesekolahnya.
            “Nanti Maisa sama Agoy malam pertamanya sama UNO” Teriak Gesta diiringi dengan gelak tawa mereka.
            “Daripada kamu Ges, malam pertama sama Asyid main basket” Balas Maisa dengan tawa yang masih menggelegar.
            “Ikam Rin, malam pertama ngapain?” Tanya Gesta.
            “Wets! Aku baca Al-Qur’an donk sama suamiku” Balasnya dengan tawa.
            “Tau ae bubuhan Muslimah” balas Raya.
            “Kamu Mus, sama Azir ngapain?” Tanya Raya lagi kepada Pramus, salah satu teman gila mereka.
            “Pramus malam pertamanya main Habsy lah! Jadi orang diluar kamar bingung kenapa ribut betul” Jawab Maisa sambil tertawa.
            “Kamu Ges, sama Asyid masang ring basket dikamar. Dikira mertuamu masang foto pernikahan gak taunya masang ring basket” Balas Pramus.
            “Kamu Ya, sama Mideng ngapain malam pertamanya?” Tanya Maisa. Raya terdiam sambil memasang muka seolah-olah berfikir.
            “Senam kali. Kan dia jurusan Penjas” Jawab Raya sambil tertawa lepas diikuti semua orang yang ikut mendengar sekaligus bercengkrama dengan mereka.
***
            Jam olahraga kali ini adalah voly. Sontak saja bubuhan ceweknya menyorak.
            “Isss gak bisa Pak!” Sorakan bubuhan ceweknya menghiasi lapangan voly sekolah.
            “Gak ada kata gak bisa!” Balas pak Rian. Semua cewek hanya melongos bete. Disisi lain Raya, Gesta, Maisa, dan Rina tengah asik di ujung lapangan sambil berfoto alay. Entah itu bagaimana posisisnya.
            “Eh mulai musim yoyo ya?” Tanya Raya sambil melihat facebooknya yang mulai penuh dengan berita seputar permainan yoyo.
            “Gak urus sih” Jawab Gesta dan Maisa.
            “Teganya pank responnya gitu doang” Ngambek Raya pada mereka.
            “Emang kenapa Ya?” Tanya Maisa yang memang suka penasaran.
            “Katanya sepupuku, anak Tenggarong kalau main yoyo ditangkap” Jawab Raya.
            “Hah? Kok bisa?” Tanya Rina kali ini. Raya hanya tertawa kecil, sedangkan mereka bertiga terdiam sambil berfikir keras.
            “Ya! Kok bisa sih?” Tanya Maisa yang mulai penasaran. Gesta langsung menepuk jidatnya. Maisa dan Rina memperhatikannya.
            “Ya iya lah Ya. Orang main yoyo ya pasti ditangkap yoyonya. Gak mungkin kan habis tuh yoyo turun kebawah pas ditarik dilempar yoyonya?” Jawab Gesta. Maisa dan Rina yang baru sadar langsung menepuk jidatnya. Raya tertawa puas.
            Setelah candaan itu mereka mulai mengambil nilai mata olahraga bola voly. Raya dan Maisa yang mendapat urutan terakhir disoraki oleh bubuhannya.
            “Ea ea ea ea!” Teriak bubuhannya ketika mereka berdua melambungkan bola voly Passing atas. Bola yang Raya pakai terus terjatuh sehingga pasir menempel dibola. Ketika ia melambungkan lagi bola yang berpasir itu. Otomatis pasir yang menempel terjatuh dan masuk kemulutnya.
            “Pueh! Pueh! Pasirnya asin!” Teriak Raya.
            “Yaelah! Pasir aja dirasain” Teriak Gesta.
“Kamu juga Ya, coba mingkem3” Balas Rina. Sontak saja seluruh teman-teman menertawakannya.
***
            Hari Rabu yang dimulai dengan kegerahan yang melanda. Anak-anak Thinetion mulai kembali gaduh karna jam pelajaran kali ini tidak diisi oleh gurunya. Ketika Raya, Maisa, Gesta, dan Rina asik bercengkrama. Tampak kegaduhan dari kelompok cowoknya. Azhari, Riza, Lami, dan Jati tampak gaduh dengan penampilan yang dibuat-buat. Riza memakai slayer dilengannya. Azhari Memakai jaket dan topi sekolah yang dimereng-merengkan. Lami memakai kaos kaki yang hanya sebelah dengan dasi yang diikat sembarangan. Sedangkan Jati tampak santai dengan sendal jepit menghiasi kakinya.
            Shuffel dua lawan dua. Itu yang akan mereka lakukan kali ini. Kami yang melihat penampilan mereka tertawa terbahak-bahak. Merek berempat sudah siap dengan dance mereka. Saat lagu yang diputar berbunyi lagu Oplosan sontak kami semakin gaduh dengan mereka. Ada yang Shuffel dengan gerakan Oplosan. Sandal yang Jati pakai tampak berbunyi nyaring karna gerakan Shuffelnya. Apakah kalian bisa bayangkan Shuffel dengan lagu Oplosan?
            “Eh Za! Tuh slayer bukannya bekas ingus ya?” Teriak Ahman, salah satu geng gilanya. Yang ditegur sontak melepas slayer itu dengan gaya cewek yang jijik akan sesuatu. Sedangkan yang lain tetap joget Shuffel dengan lagu Oplosan.
***
            Bagi sebagian orang, masa SMA itu adalah masa pencarian jati diri! Bukan mencari teman sekelas yang namanya Bayu Jati Sejati. Tapi bagi kami, masa SMA itu adalah masa dimana kita bisa gila-gilaan bikin onar pas Upacara! Atau isengin teman dengan ngelempar bola sepak headshoot kena kepala pas jam olah raga. Yang lebih gokil lagi, kalo ada PR MTK serentak pada nyontek jawaban orang pintar dikelas.
Kami Gila yang Santun, entah kenapa julukan itu pas banget dengan kelas yang baru kami tempatin satu semester. Sudah kelas baru dibuat tiga tahun, penghuninya gila, satu-satunya pula. Kelas yang terkenal dengan ributnya namun juga terkenal dengan isinya yang rata-rata menorehkan prestasi.
Jika biasanya yang tekenal ributnya itu kelas IPS (Ikatan Pelajar Santai). Maka sejarah akan mengubah bahwa Thinetion adalah kelas, jurusan, dan angkatan tergila sepanjang Madrasah ini Berdiri. Semoga kepala madrasah kami gak nyesel masukin 33 orang yang kelewat pinter ini masuk jurusan Agama. Ini baru sebagian kecil kisah gila dari kelas tercinta kami. Banyak waktu yang kami habiskan dengan tertawa bersama. Karna inilah Thinetion yang kebersamaannya ada dimana-mana dan kapan saja
            Salam santun,
            Third Generation of Religion



Catatan Akhir :
[1] Olshop : Singkatan dari “Online Shop”
[2] Ikam : Bahasa Banjar yang berarti “Kamu”
[3] Mingkem : Bahasa Jawa yang berarti “Menutup mulut”

Komentar

Postingan Populer