Hatiku yang Lumpuh

Sinar bulan itu menemaniku malam ini. Kehadiranmu, kini bagaikan embun yang menghilang dengan cepat. Hening dan sunyi, aku menyukai setiap kesenyapan agar suara senduku menggema di kaki langit. Aku menangis di pangkuan ibu alam. Aku tersungkur menahan perih dirangkulan bintang.
            Aku ini bisu, tapi hatiku dapat bersuara. Aku buta, tapi hatiku dapat melihat. Aku tuli, tapi hatiku dapat mendengar. Aku dapat berjalan, tapi kali ini hatiku lah yang lumpuh. Hatiku ini bersuara jika ia terjatuh dalam lubang. Melihat jika ia merasakan perih. Mendengar jika ia tak berkutik dari tempat bernama kesakitan. Tapi hatiku lumpuh, tak dapat berjalan ke sisi dan tempat lain.
            Walau disetiap waktu terdapat sedikit sifat agar aku melenceng dan mencoba untuk bergeser. Tapi nyatanya kebisuan, ketulian, dan kebutaan, membuatku tak dapat berkutik karna kelumpuhan hati. Seperti kendali dalam sebuah pijakan, ini semua berasal dari hati. Tapi, kendali yang jahat selalu ingin membuat pijakan yang berlubang. Membuatku terjatuh, dan kembali menahan perih.
            Aku tau mempertahankanmu layaknya sebuah anak kecil menjaga emas. Tidak dikawal dan dikelilingi para pencuri. Aku anak kecil yang tak bisa menjaga benda berharga yang telah kugenggam. Anak kecil yang selalu merasa bahwa benda yang ada disekitarnya adalah mainan. Sehingga ia bebas mempermainkannya dan direbut oleh para penjahat.
            Bertindaklah hati ketika aku bisu. Ketika hati bersuara bahkan berteriak untuk menjaga emas digenggamanku.
“Jangan kau permainkan, jangan kau biarkan, kau jaga hingga emas itu menjadi milikmu seutuhnya.” Hatiku berteriak ketika aku bisu.
            Aku ini lagi-lagi seperti anak kecil yang dibodohi oleh orang tuanya. Ketika aku ingin memiliki sebuah boneka lucu, orang tua selalu berkata bahwa boneka itu tidak dijual atau lebih parahnya menceritakan cerita seram mengenai boneka agar aku merasa takut dan tak ingin memilikinya.
Itu sama seperti aku percaya padamu tapi kau mengkhianatiku dengan beribu alasan. Akupun buta melihatmu, tapi hatiku melihat ketika aku merasakan perih. Ia mendorongku agar percaya padamu setiap saat walau pengelihatan hatiku membuktikan sebuah keperihan.
Kini aku merasakan bahwa aku bukanlah anak kecil lagi. Tapi seorang remaja yang menahan perih karna sakit ditubuhnya. Seolah-olah ia ingin mati untuk mengakhiri rasa sakit tapi malaikat pencabut nyawa tak kunjung mencabut nyawanya.
Layaknya aku yang merasa sakit karna semua tingkah, sifat, dan bentakkanmu. Aku ini tuli, tapi hati mendengar semua bentakkanmu padaku. Ia tersenyum lalu menunduk, menahan air dari mata yang mulai memanas. Hati mendengar dengan bijak, tapi rasa sakit, tertancap jelas sabagai batu nisan.
Ketika hatiku ini terjatuh, merasakan perih, dan tersakiti. Ketika aku ingin berjalan ke tempat yang lebih indah dan menyenangkan. Ketika aku mencoba untuk berlari dari gundakan-gundakan dalam hati. Saat itulah hatiku memilih lumpuh dan berdiam diri. Berdiri dan tak bergerak hanya di satu tempat. Bertahan walau ia berdarah dan terluka. Hatiku ini lumpuh.
Hatiku lumpuh di satu tempat bernama cinta. Ya, cintaku kepada seseorang yang menjadi pena dalam kertas putihku. Seseorang yang tertawa melihat pipi gembungku. Seseorang yang selalu ingin mencubit pipiku walau aku menghadangnya. Seseorang yang dengan sennag hati menemani langkahku dalam setapak penuh batu berduri. Seseorang yang selalu membuat pelangi setelah hujan. Seseorang yang mampu menciptakan biru kesukaanku.
Aku menyukai hatiku yang lumpuh. Walau ia dapat bersuara, melihat, dan mendengar, aku tetap menyukai hatiku yang lumpuh. Karna ku tahu, sesakit, seperih, dan terjatuh, ia tetap akan berdiam pada satu tempat. Cinta.

Dari kekasih hatimu,

Pipo

Komentar

Postingan Populer