Diary Depresiku


Aku berjalan menuju mobil-mobil saat lampu merah menyala.Kupetikkan gitarku untuk mendapatkan rupiah demi rupiah.Hari ini aku mendapatkan 20 ribu dari hasil mengamen dari sore sampai malam.Bagiku ini sudah cukup untuk membeli sebungkus nasi untuk adikku.
          Aku berjalan menyusuri gang-gang kecil ini.Kugenggam gitar di tangan kananku dan sebungkus nasi di tangan kiriku.Kini aku sudah tiba dirumahku dan adikku.Rumahku hanya berukuran 6x5 meter. Hanya cukup untuk tidur kami berdua.Tanpa dapur dan ruang tamu.Untuk mandi kami harus menumpang di rumah tetangga.Kehidupan yang sudah aku lakukan selama 8 tahun setelah ayah dan ibuku pergi meninggalkanku dan dua adikku
          Ayahku, laki-laki yang tak mempunyai rasa simpati sama sekali.Saat aku berumur 8 tahun dia meninggalkanku,ibuku, dan satu orang adikku.Saat itu ibuku sedang mengandung adikku yang termuda sekarang ini.Sejak saat itu aku mulai mengais rejeki demi rejeki.Dari menjadi pemulung hingga akhirnya aku putuskan untuk menjadi pengamen jalanan dengan gitar bekas yang diberikan teman lamaku.Mulai dari aku pulang sekolah hingga larut malam.Terkadang preman-preman tak tau belas kasihan itu mengambil uang hasil mengamenku yang kulakukan dari pagi hingga malam.Sungguh kejam memang ayahku menelantarkanku dan dua orang adikku.
          Ibuku, Beliau yang dulu merawatku dan dua adikku hingga akhirnya meninggal dunia karna penyakit yang dideritanya.Beliau meninggal saat aku berumur 10 tahun dan sejak saat itu aku mulai menghidupi kedua adikku bahkan aku terpaksa putus sekolah.Saat aku mulai mengamen aku menitipkan adikku yang termuda pada pamanku yang berada di dekat rumahku bahkan sekarang pamanku mau mengangkat adikku sebagai anak angkatnya.Dengan ini berkuranglah bebanku untuk mengurusi adikku.
Sedangkan adikku yang pertama adalah seorang perempuan yang tangguh.Dia tak pernah mengeluh padaku.Makan atau tidak makan dia tidak peduli.Dia juga mambantuku dalam meringankan bebanku, yaitu menjadi buruh cuci dan terkadang berjualan bros yang ia buat sendiri dengan barang bekas.Aku sungguh bersyukur dengan adik perempuanku ini.Diapun sangat  alim dan sangat sholeh, terkadang ia mengajarkan anak dibawahnya untuk mengaji di langgar dekat rumahku.Sangat berbeda denganku.
          “Assalamualaikum” jawabku saat masuk kerumah kecil ini.Kulihat ia sedang mengaji dengan mukena yang masih terpasang.Sebenarnya aku enggan untuk menjawab salam tapi jika aku tak menjawab salam adikku akan marah dan kecewa padaku dan aku tak ingin terlihat seperti itu didepannya
          “Walaikum’sallam, sudah sholat Isya kak?” tanya adikku.Aku hanya meangguk berbohong.Adikku kembali membaca Al-Quran.
          “Makan dulu nih” jawabku sambil memberikan sebungkus nasi padanya.Ia melihat bungkusan nasi itu lalu melihat ke arahku.Aku bingung dibuatnya.
          “Memangnya kakak sudah makan?” tanyanya kembali kepadaku.Dan lagi-lagi aku mengangguk berbohong padanya.Jika adikku mengetahui jika aku belum makan maka dia tak akan makan dan akan menyuruhku yang memakan nasi itu.Dia lebih mementingkan diriku dari dirinya sendiri.
          “Ya sudah aku makan dulu ya kak” jawabnya.Kemudian dia menaruh Al-Qurannya di lemari dan merapikan mukenanya.Aku melihat semua kegiatan adikku dan entah mengapa sepertinya aku tidak akan berhasil membimbing adikku menjadi seperti ini jika almarhum ibuku tidak mengajarinya.Adikku memakan nasi bungkus itu dan aku memutuskan untuk duduk dimuka rumahku sambil bermain gitar.
          Saat kupetik gitarku malam itu, entah mengapa semua kenangan yang dulu pernah terjadi dalam keluargaku kembali muncul.Semua kehangatanku didalam sebuah keluarga kecil.Akupun jadi ingat saat aku mengamen didepan cafe, saat aku melihat salah satu pengunjung cafe itu.Aku melihat satu keluarga yang sedang bercanda tawa dalam sebuah kehangatan.Dan saat itu aku sangat merasa iri pada keluarga itu.
          Saat aku sedang melamun, teman satu gangku menghampiriku.
          “Hey bro mau ikut kagak?” tanyanya langsung tanpa basa basi.
          “kemana?” jawabku sambil memperbaiki senar gitarku
          “Sudahlah ikut aja” katanya langsung menarik tanganku.Aku melewati jalan besar yang dipinggirannya terdapat cafe-cafe malam.Dan saat itu aku yang ditarik oleh temanku itu memasuki salah satu cafe malam.Aku sempat meronta tidak ingin tapi ia berhasil membawaku dalam sarang penuh dosa itu.Aku memasuki cafe malam itu dan pertama kali yang kulihat adalah lampu-lampu disco yang bergemalan, music Dj, dan yang terparah adalah banyaknya pasangan muda mudi yang sedang meneguk minuman keras itu.Tanpa panjang lebar temanku menyeretku ke meja bar dan aku mendengar dia memesan sesuatu saat itu juga seorang pelayan membawa dua buah gelas berisi minuman berakohol tinggi ini.Aku menolaknya dengan keras.Tapi sayang temanku berhasil menegukkan minuman itu ke tenggorokanku.Tiba-tiba perasaanku mengahangat karna efek dari minuman ini dan entah mengapa aku menjadi ketagihan akan minuman ini.Temanku tertawa lebar karna berhasil mengahasutku yang mulai mabuk itu.Semua bebanku saakan hilang saat itu juga.Akupun mulai memasuki dunia malam itu.
          Aku pulang jam 2 malam dengan keadaan mabuk setengah sadar.Berkali-kali aku hampir terjatuh karna masih dibawah efek mabuk.Saat tiba dirumah aku tidak langsung masuk kerumah tapi memilih untuk duduk diluar rumah.Perlahan lahan mabukku mulai menghilang dan kembalilah beban beban hidupku.Tuhan, aku mabuk saat beban manghantuiku.Bukankah ini akan menambah bebanku bukan mengurangi bebanku.Tiba tiba aku manjadi depresi berat mengingat hal ini.Berbagai penyesalan mulai muncul,Kenapa tadi aku mau masuk dalam dunia malam yang penuh dosa itu.Kenapa? Aku memegang kepalaku, depresi berat mulai mengahntuiku dan aku melihat kaca di dekatku.Aku mengambil kaca itu dan menimang nimang kaca itu.Rasanya aku ingin sekali menyayatkan kaca itu tepat diurat nadiku.Tapi hal itu terhenti saat melihat adikku yang baru berumur 13 tahun itu.Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana jadinya.
          Aku mulai mengerti, betapa indah dicintai.Rasa yang hilang sejak aku tinggal dijalanan.Yatim piatu, miskin, dan harus melanjutkan hidup bersama adikku.Tapi aku punya tekad dan kerja keras.Aku bisa dengan semangat dan tekadku.Aku bisa dan tidak akan jatuh lagi.Walai kini tak ada lagi yang mencintaiku tapi aku bisa hidup dengan tekadku,kerja kerasku, dan semangatku.Walau terkadang aku tetap iri saat melihat sebuah keluarga dengan kehangatannya.Tapi aku berusaha untuk tegar.Tuhan, aku ingin kembali kejalanmu.
          

Komentar

  1. Ceritanya cukup miris ya :'')

    Aku salut dengan tokoh ini. Karena kemiskinan dan keadaan keluarganya yang cukup buruk, dia jadi ikut-ikut ke kelab-kelab malam gitu. Tapi dia lalu tersadar kalau adiknya masih membutuhkan dia dan bertekad untuk kembali ke jalan yang benar :)

    Oke, dari segi penulisan...
    Ada yang mestinya di spasi nih. Setelah tanda titik. Apa kelupaan atau spasinya nggak jalan? Hehe.

    Terus aku sering ketemu begini:
    “Makan dulu nih” jawabku sambil memberikan sebungkus nasi padanya.

    Mestinya:
    “Makan dulu nih,” jawabku sambil memberikan sebungkus nasi padanya.

    Terus perhatikan EYD aja ya, huruf pertama kapital ^^

    Karena itu cukup vital lho, terutama di kalimat terakhir: Tapi aku berusaha untuk tegar.Tuhan, aku ingin kembali kejalanmu.

    Hehe, mestinya Tapi aku berusaha untuk tegar.Tuhan, aku ingin kembali kejalanMu. Huruf m di 'mu' kapital 'kan? ^^

    Itu aja yah. Maaf sekali lagi kalau terkesan menggurui .__. Hehehe..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer