A Bitter


Disaat ada waktu ketika hujan turun. Menunggumu disini dengan secangkir kopi panas mungkin adalah sesuatu yang biasa. Ketika kau akhirnya datang dan memesan cappuchino kesukaanmu. Pernahkah kamu berpikir bahwa kamu itu sebenarnya kopi hitamku?
Mentari itu sudah bersembunyi dibalik bumi Kalimantan. Aku terus saja memotret karya Tuhan di sungai Mahakam ini. Tepat pukul tujuh nanti kau memintaku untuk menemuimu di Cafe favoritmu. Mendengarkan curhatanmu entah kali ini tentang apa.
***
            “Elqo!” Teriakan itu membuatku mencari asal suara. Tepat dimeja balkon cafe, aku tau kau sangat menyukai lokasi itu agar kau dapat melihat panorama malam Samarinda yang kau cintai. Short dress biru yang kau kenakan sepadan dengan sepatu kets putih bertilas biru. Sedangkan rambut panjangmu kau urai dihias dengan kupluk putih. Cantik.
            “Abang Elqo! Abang Elqo! I so miss you” Suaramu yang sudah lama tak kudengar kini menghiasi telingaku.
            “Yah, I know” jawabku singkat. Mulutku terlalu sulit untuk jujur padamu. Wajah merajumu itu sangat aku rindukan. Kulihat dimeja sudah ada kopi hitam kesukaanku dan Cappuchino kesukaanmu. Aku tersenyum, kusentuh cangkir kopi hitamku. Masih panas.
            “Abang pikir ade sudah lupa sama kesukaan abang” Jawabku sambil menyeruput kopi hitamku. Yang kuajak berbicara hanya melamun menatap panorama malam sambil menopang dagu. Kuambil kameraku dan kufoto ia diam-diam.
            Ahzar, orang yang kufoto itu langsung menatapku dan merampas kameraku. Ia melihat hasil fotonya, tampak senyumnya mengembang. Aku terdiam, sambil menunggu ia berbicara dengan sendirinya. Aku tau ia tak bisa dipaksa berbicara walau ia yang mengajakku kesini untuk mendengar keluh kesahnya.
            Ahzar, Gadis yang kutemui tiga tahun yang lalu ternyata anak teman ibuku. Akupun menganggapnya sebagai adik karna ia lebih muda tiga tahun dariku. Iapun menganggapku sebagai abangnya. Namun kini, perasaanku telah dibalikkan oleh Tuhan.
            “Ade harus gimana lagi?” Tanyanya begitu saja tanpa menjelaskan yang terjadi antara dia dengan kekasihnya. Aku hanya terdiam sambil menikmati kopi hitamku. Aku memperhatikan wajahnya yang masih menatap panorama malam. Aku mengambil notesnya yang selalu ia bawa dan diletakkan diatas meja. Kubaca semua tulisan yang ada di notesnya. Itulah caranya mencurahkan semua yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini padaku. Kupotret kopi hitamku dan kuperlihatkan padanya. Dia menerima sinyal itu dan segera menuliskan kata-kata dinotesnya.
            Cinta itu seperti kopi. Enak diminum saat panas tapi resikonya cepat habis. Kalau tidak mau cepat habis, diminumnya pelan-pelan tapi resikonya kopi itu keburu dingin.
            Tulisan itu menghiasi notesnya. Aku membacanya dan kembali menatapnya yang memandang panorama malam. Diam dalam lamunannya yang lebih lama dari biasanya.
            “Intinya?” Tanyaku. Ia masih diam tanpa berkutik sedikitpun. Aku membalas diam sambil kembali menunggu jawaban darinya. Tampak jarinya masih memainkan kata-kata dinotesnya dan kembali menyerahkannya padaku. Aku tak berkutik dan menolak notesnya.
            “Bicaralah de, apa gunanya Tuhan memberikanmu mulut jika kau tak berbicara?” Kataku pelan dan hati-hati. Ia adalah tipe orang yang masih berpikir pendek. Ia menghembuskan nafasnya dan kembali dalam lamunannya.
            “Ada waktu ketika ade mencapai titik”
            “Lalu kau membuat kalimat baru” balasku spontan. Ia menatap kearahku tak percaya. Ia paling tidak suka jika kalimat andalannya itu dilanjutkan olehku. Tapi kali ini itulah yang harus aku lakukan. Aku tak bisa melihatnya bersedih terus.
            “Kopi panas enak diminum tapi resikonya cepat habis dan kalau gak mau cepat habis diminumnya pelan-pelan tapi resikonya kopinya keburu dingin. Mana yang kau pilih?” Tanyaku pada Ahzar. Gadis itu kini telah duduk tegap didepanku sambil memainkan sendok dicangkir kopiku dan menyeruput kopi hitamku yang telah dingin. Cappuchinonya telah lama habis.
            “Pahit bang!” Jawabnya setelah meminum sedikit kopiku. Aku memanggil pelayan dan memesan satu cangkir kopi panas. Tak lama kopi itu datang. Akupun menyodorkan kopi panas itu padanya. Ia mulai menyeruput dan menikmati kopi itu.
            “Enak bang tapi lidah ade bisa melepuh nih” Jawabnya dengan polos. Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya. Aku kembali memfoto kedua cangkir kopi hitam itu dengan background dirinya. Akupun memperlihatkannya padanya. Ia tersenyum renyah padaku. Hatiku tiba-tiba merasakan kehangatan ditengah dinginnya malam.
            “De, cinta itu seperti kopi. Kalau kamu ingin merasakan keindahan kau harus cepat mengambil keputusan walau resikonya ada-ada saja. Tapi jika kau mengulur-ngulur waktu, keindahan itu akan menjadi pahit. Sekarang kau pilih! Merasakan Pahit atau baik?” Jelasku.
Aku tau jiwanya, ia dapat dengan gampangnya menulis sebuah kalimat bahkan puisi hanya dengan satu kata yang aku atau orang lain berikan namun ia tak pernah mengerti makna apa yang ia tulis. Itulah yang kuanggap keunikkan dari dirinya.
             Ia terdiam dan akhirnya tersenyum padaku. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia harus sekolah besok dan akupun menyuruhnya pulang. Ia pamit kepadaku dan mencium tanganku. Itulah yang selalu ia lakukan. Namun hati ini tiba-tiba memintaku untuk mencium keningnya. Maka akupun mencium keningnya. Hal yang tak pernah aku lakukan. Aku dan dia sama-sama terdiam.
            Paling tidak malam ini, kopi hitam membawa jawabannya. Padaku, dan Ahzar kekasih dalam kopi hitamku.

Komentar

Postingan Populer