Akankah
Aku kini berjalan lurus meninggalkanmu.
Apa sebenarnya tujuanku bahkan aku tak tau. Otakku terlalu patuh pada
perintahmu. Meninggalkanmu. Pergi dari ranah berbatu sembilu. Kau tau bahkan
kakiku sudah tergores luka karna batu. Dan hatiku, kini mati dalam pelukan
kalbu.
Rumpama bunga layu yang hampir mati.
Begitupun aku dalam belaian harapan. Dan kini aku terjebak dalam ribuan pintu
labirin. Saat aku berhasil keluar, kau kembali membuatku tersesat. Tersesat ke
arah hatimu yang angkuh. Berharap cinta pergi namun dirantai baja yang kasar.
Aku berjalan dipinggir dermaga.
Berharap kau datang dengan kerudungmu yang berayun lembut dibelai angin. Kau
yang tersenyum padaku. Menatapku dalam malu yang mau. Itulah kau yang dulu.
Bukan yang sekarang menghantuiku dalam remuk hati. Bahkan awan putih itu
mentertawakanku. Mereka menyinggungku karna aku lelaki yang berharap cinta
kembali dalam seribu duri.
Aku berharap kau mengerti getaran di
hatiku. Hanya itu, susahkah bagimu? Bahkan cintaku yang tengah terhalang
dinding baja tebal tak kau hiraukan. Lamunan nyata itu bukan sekedar masa lalu
atau pengalaman, tapi juga kepedihan. Kini aku pergi dari hidupmu. Dari ranah
kelahiran yang kini aku tak dianggap. Apa kau tau bahwa aku rela memaut paku
dalam hati demimu.
Surat-suratmu bahkan masih tersimpan
dalam peti hatiku. Aku ingin seperti dulu, kembali. Seolah memainkan mesin
waktu yang tak pernah tercipta. Tuhan hanya diam menatapku dibalik tujuh lapis
langit. Kini aku berdiri disini, sendiri setelah kau minta cinta tuk pergi.
Goresan penaku yang jauh darimu
masih terukir indah diatas kerta usang. Aku menuliskan semua tentangmu disini.
Berharap akan ada merpati untuk menghantarkan pesanku. Namun jangankan merpati,
anginpun tak ingin menyampaikannya padamu. Mereka sangat mendukungmu agar aku
jauh darimu. Seperti permintaanmu, seperti kau usir diriku dari tanah
kelahiranku dengan cara cinta.
Sekarang di ranah lain. Aku masih
memungut lembaran-lembaran kertas dijalan hati yang kau buang dan remukkan. Kau
yang tergambar rupawan dengan kerudungmu masih tertanam jelas dalam ingatanku.
Aku cinta mati? Bodoh! Tapi itulah yang kini tengah terjadi. Bayangkan saja di
ranah orang aku masih bisa mencintaimu. Tak setitik kecilpun aku melupakanmu.
Aku ingin bertanya pada awan, apa kabar kau disana? Awan hanya bisa terdiam
menghembuskan angin yang tak nyaman untuk menyentuh kulit. Angin apa ini? Aku
bisa gila dan mati merasakan aura yang tak jelas. Membuatku ingin menangis, menyesal,
marah, atau bahkan dendam padamu.
Ungkapan aku bahagia melihatmu
bahagia hanyalah untuk orang-orang bodoh yang merelakan cintanya bersanding
dengan orang lain. Aku tak ingin sebodoh mereka, sekeras apapun batu dan seluas
apapun samudra yang memisahkan kita dalam tatapan, aku tetap ingin bahagia
bersamamu. Aku ingin kita sama-sama bahagia, tidak dalam kebahagiaan
masing-masing. Sekarang hanya kau yang bahagia dalam kisah ini. Sedangkan aku,
masih memungut dan mengais cintamu dalam sampah yang bernama kenangan.
Ingin rasanya aku membalas semua
serampah hidupmu padaku. Ingin! Aku yang hampir lupa akan Tuhan hanya karna
cintaku padamu. Aku yang diam-diam ingin membunuh hatiku sendiri agar tak
mencintaimu lagi. Kau terlalu menerbangkanku dalam awan yang cerah. Kemudian
kau menyesatkanku dalam awan kelabu dan menjatuhkanku saat itu juga.
Ini tentang rasa amarahku yang
bercampur pada manisnya cinta. Ini cerita pahit yang mengangankan cerita indah.
Andai engkau tau betapa keras pengorbananku untukmu. Demi kita. Kini, kau hancurkan
dan remukkan perasaanku.
Ada beberapa kata yang ingin
kuucapkan dalam benakku padamu. Aku sedang menunggu karma dari Tuhan untukmu.
***
Kurasakan air yang turun dari
langit. Air itu menambahkan tetesan lainnya di wajahku. Hari itu kau memilih
dengannya daripada aku yang bertahun-tahun mempertahankanmu. Cukup! Kini,
dinding baja itu semakin tebal dan tinggi. Membelah jarak yang semakin nyata
antara kita. Aku ingin melupakanmu.
Namun diam-diam aku masih
memperhatikanmu. Aku bertemu denganmu dengan lelaki yang telah bersanding
denganmu. Aku diam dalam sunyi. Kau berubah. Wajahmu kini telah termolek dengan
balutan bedak tebal. Kau benar-benar berubah. Ingin kutanyakan padamu apa yang
dilakukan lelaki itu padamu.
Wajahmu kini seolah-olah menginjak
wajahku. Kau berhasil meleburkan hatiku. Hancur, pecah, tak kan bisa kembali
seperti semula. Bahkan aku kini ingin membalasmu dengan cara apapun. Namun,
tubuhku kaku, masih seperti saat aku pertama kali melihatmu. Pedang yang kugenggam
sendari tadi bahkan tak juga terhunus tepat dijantungmu. Kehidupanmu lebih dari
sempurna. Aku tak bisa lagi menyentuhmu, bahkan menatapmu. Semua sudah
terlambat.
Aku berharap Tuhan mau mengampuni
dosaku karna do’a dalam dendamku. Do’aku yang ingin kau selalu celaka
bersamanya. Kau selalu menggantungku seolah aku daging yang dibuang jika busuk.
Sepele, tapi aku ini tetaplah seorang manusia yang memiliki hati. Hukum alam
itu tak akan pernah mati, kau akan tetap mendapatkannya walaupun kau
bergelimangan kesempurnaan sekalipun.
Kelak, kau akan bersimpuh padaku. Memohon
padaku untuk kembali kepadamu. Kaulah yang akan mengais-ngais lembaran cirita
kita dulu. Kau yang dulu menggantungku kini akan meletakkanku pada genggamanmu.
Tapi apakah kau tau. Tak sediktpun aku akan memaafkanmu. Tak sedikitpun aku
akan berkutak padamu. Hati ini sudah merasakan keperihan yang luar biasa.
Ingat kata-kataku! Jika aku berhasil
keluar dari labirinmu. Jika aku berhasil melepas rantai baja yang mengikatku.
Jika hatiku telah kembali terisi oleh-Nya. Jika otakku yang akan berhasil
berhenti menyimpan memori tentangmu. Saat itulah aku bangkit dari keterpurukkan
yang namanya cinta.
Kau yang selalu mengangankan bahwa
aku selalu ada untukmu kini hanyalah mimpimu. Mimpi pahitmu yang akan kubuat
menjadi nyata. Aku bersumpah untuk dapat melupakanmu. Ya! Kelak kau yang akan
menggenggam kakiku. Bersimpuh padaku agar aku kembali padamu. Kau yang akan
mengeluarkan air mata agar aku mau memaafkanmu karna kau telah menyakitiku.
Bukannnya aku sekejam itu padamu.
Tapi aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Aku yang nyaris
mati karnamu. Aku yang terlalu mengharapkanmu. Aku yang masih menyimpan namamu
dalam hatiku. Aku yang kau beri jebakan dalam labirin agar aku tak lari darimu.
Aku yang dulu kau jadikan budak cintamu.
Kini kaulah yang merasakan kisah
sampah cintaku padamu. Kaulah yang akan sepertiku saat kau gantung aku. Kaulah
yang akan mengais-ngais sampah yang bernama kenangan itu. Kaulah yang akan
mempertahankanku. Tapi, aku tetap tak akan kembali padamu.
***
Karma itu ternyata telah datang
padamu. Kata-kataku yang kau anggap omong kosong itu kini kau rasakan. Semenjak
ia pergi dari hidupmu dengan cara yang bodoh, kau mengejarku sampai ke ranah
ini. Kau yang akhirnya menyerahkan diri padahal akulah buronanmu. Aku tak
sebodoh dulu yang bisa saja kembali mencintaimu. Kau yang telah berubah
perlahan membuatku semakin berhasil melupakanmu. Kau yang telah terpoles bedak
mahal telah lupa pada Tuhan. Sedangkan aku menjadi korban dari cintamu sehingga
aku juga melupakan Tuhan.
Bahkan ketika kau bersujud
didepanku. Memohon agar aku kembali padamu. Kata-katamu yang memaniskan seperti
dulu pasti kutahu akan membuat perih. Aku tidak menginginkanmu yang sekarang.
Sekali lagi kau telah berubah. Kau bukanlah wanita yang dulu kucintai. Aku
hanya ingin kau yang mengetahui akan keberadaan-Nya.
Aku bisa saja membuatmu kembali ke
ranah kelahiranmu. Aku tak bisa membiarkanmu terjerumus dalam lubang yang
gelap. Aku ingin kau kembali berdiri diatas bukit yang bercahaya. Karna aku
diam-diam cinta dalam dendam. Tapi maaf, aku masih tak bisa menerimamu. Karna
aku sakit karnamu. Biarkan karma ini terus berlanjut, agar kau mengerti cinta
itu apa.
Komentar
Posting Komentar