Surat Malam Ini


            Meski malam tak dapat sampaikan betapa sakitnya hatiku. Tapi tak mengapa, asalkan abang bahagia bersama orang yang membenciku dari balik topengnya. Asalkan abang masih bisa bersamaku walau aku harus menahan perih karna curahan hatiku tak dapat lagi abang terima. Bukan abang atau bahkan Tuhan yang salah. Tapi aku yang terlalu egois terhadap diriku sendiri.
            Aku yang selalu menginginkan abang ada disampingku. Aku yang selalu ingin yang terbaik untuk abang. Aku yang begitu cemburu jika abang lebih sayang padanya daripada aku. Adikmu sendiri. Aku yang selalu menangis dibawah pangkuan bulan yang hanya bisa diam tak berkata dan melihat apapun. Aku yang hanya ingin abang tak salah memilih dalam urusan hatimu sendiri.
            Abang lebih dewasa dariku. Kau lebih tua dariku. Kau lebih bijak dariku. Aku yang kini terpuruk dalam lubang yang membuatku bimbang akan pilihanku sendiri. Aku tak bisa memaksamu karna kau lebih baik dariku. Aku ini hanya ampas kopi hitammu.
            Berharap abang dengarkan isi hatiku saja kau sudah menjauh pergi, tak peduli. Aku bingung harus bagaimana. Aku tak ingin kehilangan orang yang kusayang kedua kalinya. Aku tidak mau kehilangan sosok kakak dalam hidupku. Siapa lagi panutan dalam hidupku selain kamu bang?
            Kau tau masalahku dengan kekasihmu. Kau tau tapi kau hanya diam. Membiarkan aku dan dia berseteru tak ada hentinya. Apa itu yang dilakukan seorang kakak kepada adiknya? Kakak yang lebih mementingkan pelarian cinta sementara tanpa mempedulikan adiknya. Aku lelah. Aku ingin kau yang dulu. Yang menasihatiku masalah hati.
            Aku tau aku tak pernah mengerti isi hatimu. Entah itu apapun karna aku selalu merasa bahwa aku tak berhak mengikuti urusan hidupmu. Aku yang selalu berkicau sperti beo dan memiliki sifat labil mungkin sangat pas jika kekasihmu menyebutku beo labil. Aku tak mengapa, sungguh, tapi aku bingung. Secemburu itukah ia padaku?
            Kepada yang di ranah Jawa, Solo. Aku tak pernah merebut kekasihmu, tambatan hatimu, orang yang kau sayang, pergi dari pelukan bahkan pandanganmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa sesungguhnya kita sama-sama tidak ingin kehilangan orang yang kita sayang. Kamu tak ingin kehilangan kekasihmu dan aku tak ingin kehilangan kakakku. Apa kau tau semua tentang aku dan masa laluku. Aku yang kehilangan sosok kakak 3 tahun yang lalu membuatku berfikir bahwa aku ini hanya serpihan kertas kecil yang disobek dan dibuang. Saat aku bertemu dan mengetahui bahwa abang adalah kakak sepupuku. Kertas itupun kembali mengukir lembaran kisah kasih sayang persaudaraan.
            Aku tak pernah melarang abang menyayangimu. Bahkan mencintaimu. Jika aku menulis ini kau sebut lagi aku dengan julukan “beo labil alay” silahkan saja. Karna inilah aku. Hanya dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan isi hatiku. Karna aku tak dapat berbicara sepuasnya dan semaunya kepada orang yang aku segani.
            Ya, aku segan kepadamu kekasih abang. Aku segan bukan hanya kau lebih tua dariku. Tapi karna kau adalah orang yang disayangi oleh kakakku. Orang yang disayang kakakku maka orang itu akan kusegani. Aku tak berani melawanmu oleh sebab itu aku tak pernah mempedulikan sindiranmu yang sebenarnya mencabik hatiku.
            Untuk kekasih abangku, sesungguhnya aku sangat cemburu padamu. Kau cantik, pintar, dan kaya. Lebih baik dan hebat daripada aku yang hidup dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Dengan otak pas-pasan hanya untuk lulus sebagai sarjana sastra yang sangat kuimpikan. Berbeda dengan kau yang lebih hebat dariku. Aku cemburu padamu karna abang kini lebih menomor satukan engkau daripada aku. Aku cemburu padamu. Sungguh! Aku tak main-main. Aku sangat cemburu padamu. Abang memang tepat memilih gadis sepertimu. Aku tak ada bandingannya daripada engkau.
            Kini, aku bisa melihat senyum abang yang sedang kasmaran. Tak pernah aku melihat abang seperti itu sebelumnya. Aku ingin abang bahagia terus. Dan aku tau bahwa sumber kebahagiaan abang adalah kamu. Untuk kekasih abang disana. Aku mohon, jangan buat abang kecewa dan sedih. Karna aku tau, walau abang selalu tampak bahagia, ia banyak menyimpan kesedihan.
Dari adik kekasihmu yang mencemburuimu,

Elqo Fiddatin

Komentar

Postingan Populer