Dibalik Cadar
Sebelumnya ...
“Ya, agar aku tahu. Apakah anti ini Asya Rasya atau Annisa el-Shirazy” Jawabnya tersenyum bagaikan
makhluk tanpa dosa. Asya dan Taqin dibuat terkejut oleh kata-katanya .
“Sebenarnya
apa yang kau mau?!”
“Aku
hanya ingin tau sebenarnya dia itu siapa”
“Apa kau
akan membungkam mulutmu setelah kuberi tau?”
“Ya!”
“Dia ...”
***
Wanita bercadar itu
berjalan masuk kedalam auditorium dengan pengawalan ketat. Paduan warna islam
membalut tubuhnya. Ia sangat tampak anggun untuk seorang penulis bercadar.
Bedah buku sekaligus laungching buku yang ia minta pada
panitia untuk dilaksanakan dalam satu waktu akhirnya dipenuhi. Annisa
el-Shirazy. Nama itu membumi setelah karyanya mendapat penghargaan Novel Best Seller dalam waktu 2 minggu. Furqon
memperhatikan wanita itu dari jauh. Walau tertutup cadar, tampak jelas raut
wajah Annisa bahwa ia sudah mewanti-wanti kedatangan Furqon. Tunggu! Bagaimana
Annisa tau mengenai Furqon? Padahal ia adalah sosok yang sangat menjaga jarak
dengan laki-laki.
Sejam, dua jam berlalu. Semua
acara hari itu telah selesai. Namun Annisa lebih memilih bersembunyi dibelakang
panggung dan meminta adiknya untuk menggantikannya melakukan tanda tangan
bukunya. Kemiripan mereka ditambah dengan cadar yang menutupi wajah tak akan
ada yang tau jika ia bukanlah Annisa el-Shirazy.
Ditemani editornya, ia
lebih membahas tentang isi buku yang akan ia terbitkan tak lama lagi. Hingga tanpa
sengaja, ia melihat sebuah surat yang diselipkan dinotesnya yang saat acara ia taruh diatas meja belakang panggung. Ia
membukanya dan membacanya. Tampak dari raut mata bahwa kini ia tengah gelisah. Diberikannya
surat itu kepada editornya.
“Temui saja” jawab
editornya setelah membaca surat itu.
“La’a! Tidak mungkin, ia bisa membongkar semuanya!”
“Coba saja. Jangan su’udzon dulu”
Wanita itu hanya terdiam. Menatap
tajam wajah editornya. Ia melihat ada rahasia diwajahnya. Sebuah rahasia yang
benar-benar membuat matanya berkaca-kaca. Sedangakan editor itu, menunduk. Menyembunyikan
semua rahasia dan tak akan membongkarnya. Itu sama saja akan membuat wanita ini
semakin lemah dan menangis.
“Furqon adalah sahabatku. Aku
cukup terkejut dengan tindakkannya kemarin. Melakukan drama seolah-olah aku dan
dia baru berkenalan. Aku yang terbengong kemarin hanya diam mengikuti dramanya.
Agar kau berfikir bahwa ia tak akan tau kau lebih dalam” ungkap editornya.
Tubuh Annisa teruncang, kini kepalanya terasa berat. Apa yang terjadi hari ini
adalah peristiwa yang mematikan.
“Apa yang sebenarnya kau mau?
Kenapa kau bongkar rahasiaku?” tanya Annisa pada editornya dengan nada lemah
menahan tangis.
“Karna aku memaksanya
untuk berbicara tentangmu!” Suara tegas itu tiba-tiba menggangu perbincangan
dua manusia dibalik panggung. Lelaki mata coklat itu kini ada dihadapan mereka,
Furqon mendekati mereka.
“Aku ingin tau kau ini
Asya Rasya atau Annisa el-Shirazy” jawabnya dan menatap kearah sang editor,
Taqin.
“Tadi malam aku menelpon
Furqin. Menanyakan apa yang ia mau padamu. Dan dia hanya ingin tau siapa kau
sesungguhnya. Ia berjanji akan membungkam mulutnya setelah kuberi tau” jelas
Taqin. Kini mata Annisa saling bergantian menatap manusia yang dikepalanya tak
memiliki hati.
“Dan kau membohongiku
selama ini?” tanya Annisa pada Taqin.
“Aku tidak bermaksud ...”
“Kan sudah kubilang kalau
aku memaksanya!” potong Furqon ketika Taqin belum selesai berbicara. Annisa
kini menatapnya dari balik cadar.
“Limadza?” tanya Annisa.
“Karna aku mencintaimu. Aku
ingin kau menjadi halal bagiku. Aku ingin menjadi imam dalam sholatmu. Aku ingin
menjadi orang yang mengecup keningmu sebelum kau terpejam!” pengakuan Furqon.
“Dan aku hanya ingin
bersanding dengan Annisa el-Shirazy, bukan Asya Rasya yang tak menutup auratnya
dengan begitu sempurna”
Annisa kini hanya diam
dibalik cadarnya.
Komentar
Posting Komentar