Idiot Dreamcatcher
Elqo bukanlah manusia. Elqo juga bukan
makhluk yang menghisap darah manusia ataupun merasuki tubuh manusia. Namun,
Elqo punya kelebihan yang tak biasa. Menangkap mimpi, masuk kedalam mimpi,
semua ada didalam mimpi. Mimpi adalah makanannya. Dia tak bisa hidup tanpa
mimpi yang dihasilkan oleh alam bawah sadar tersebut.
Namun ia tak bisa mengingat siapa
yang melahirkannya. Elqo sebatang kara? Hahaha, sangat tepat. Elqo hanya ingat
saat ia bertemu dengan Tyos, kakak angkatnya. Saat itu sedang bulan purnama
dimana Dreamcatcher sedang mengalami fase kebebasan. Bebas untuk melakukan apa
saja.
Saat itu seekor serigala putih
mengelilingi hutan dengan gerakan yang tak terlihat oleh mata. Saat itu ia
melihat tubuh yang hampir kehilangan nyawa sedang terbujur ditengah hutan. Ia
mendekat dan mendapati ada bekas sayatan di jari manisnya. Orang ini terkena
sayatan kuku sang Dreamcatcher. Serigala putih itupun berubah menjadi sosok
laki-laki berpostur tubuh sempurna. Tyos, manusia serigala itu menghampiri
tubuh yang hampir kehilangan nyawa dan membawa tubuh itu ketempat
persembunyiannya.
Saat itu Tyos belum berani
menampakkan dirinya. Ia masih tinggal dihutan sendirian. Namun setelah
mendapati Elqo yang baru berubah menjadi Dreamcatcher, akhirnya ia memutuskan
untuk hidup selayaknya manusia walau dengan kemampuan lebih yang mereka coba
tutupi. Mereka berdua akhirnya memutuskan tinggal di Paris. Kota menara Eiffel
itu telah memberikan mereka satu mahkluk yang sama dengan mereka. Ferisa, gadis
Dreamcatcher itu menjadi adik angkat Elqo dan Tyos karna usianya yang terbilang
muda.
Elqo dan Tyos adalah makhluk yang
paling diincar oleh kaum hawa. Bayangkan saja wajah mereka yang rupawan, postur
tubuh yang ideal, suara yang bass. Benar-benar perfect.
“Tyos, Apa yang akan kau lakukan
malam ini?” Tanya Elqo dari dalam kamarnya tanpa suara. Tanpa suara?! Hahaha!
Ini kemampuan mereka. Bertelepati dengan pikiran masing-masing.
“Menangkap mimpi idiot! Kau pikir
tugas kita di dunia ini apa?” Jawab Tyos yang sudah berada dalam kamar Elqo
dalam sekali kedipan mata. Elqo hanya diam dengan wajah datarnya. Tak lama
Ferisa datang sambil membawa yogurt kesukaan mereka dalam sekali kedipan mata.
“Bukannya kau sudah tidur?” Tanya
Elqo pada Ferisa. Ferisa hanya menggeleng. Tyos mengambil yogurt sedangakan
Elqo hanya bersantai sambil memainkan kalung Dreamcatchernya.
“Aku tak bisa tidur karna telepati
kalian mengganggu radarku” Jawab Ferisa sambi duduk disamping Elqo. Elqo
mengacak rambur Ferisa pelan.
“Kau
tau apa alasan kita bisa menjadi Dreamcatcher?” Tanya Tyos. Elqo hanya diam
sambil tetap menatap kalungnya. Terkadang ia tertawa bagaimana bisa ia begitu
bodoh bisa menjadi seorang dreamcatcher. Hanya gara-gara ia bertemu perempuan
yang menyentuh kulitnya, membuatnya sekarat, dan merubah dirinya menjadi
dreamcatcher. Ia sendiri menjadi siswa yang begitu ceroboh disekolahnya. Entah
berapa siswi yang hampir sekarat karna ulahnya.
Elqo dan Tyos harus berpindah tempat
sekaligus sekolah sehingga mereka terbebas dari tragedi membunuh anak orang
dengan ketidaksengajaan mereka. Elqo sering kali jatuh cinta pada anak
perempuan biasa, yang bukan dreamcatcher, sehingga membuat Tyos bersusah payah
menjauhkan adiknya itu dari manusia yang bernama “Perempuan”.
Senior
High School Tereliye Paris, SMA ini entah menjadi sekolah keberapa untuk
Elqo menuntut ilmu walau ilmu tak bersalah. Ia sekolah hanya agar terlihat
seperti manusia normal. Jika kalian berfikir bahwa Elqo adalah siswa baik-baik
maka jawaban kalian adalah salah besar!
“Elqo, ayo kekantin!” Ajak Dida.
“Kau mau membunuhku?” Balas Elqo.
“Aku ini laki-laki bodoh! Jika kau
menyentuhku, aku tak akan sekarat! Kau pikir aku ini banci!” Teriak Dida yang
menjadi pusat pandangan siswa dikelasnya. Elqo mencubit Dida kuat sehingga
laki-laki itu meringis.
“Bukan hanya itu maksudku tolol!”
Balas Elqo setengah berbisik.
“Kau tahu bagaimana jika siswi kelas
X yang baru berada di sekolah ini melihatku? Jatuh cinta padaku, dan
menyentuhku dari belakang tanpa sepengetahuanku, mereka sekarat, dan aku harus
pindah dari Paris” Jelas Elqo tanpa titik. Dida hanya tertawa memperhatikan
sahabatnya itu. Ia tahu jika Elqo adalah dreamcatcher, ia tahu saat ia belajar
kelompok dirumah Elqo dan memperhatikan kehidupan orang-orang yang ada dirumah Elqo.
Aneh. Membingungkan. Mustahil. Dan akhirnya Elqo membongkar semuanya setelah
mendapat izin dari Tyos bahwa ia, Tyos, dan Ferisa adalah seorang dreamcatcher
dengan pantangan hidup yang harus mereka lalui.
“Ok!
Lagipula kau ini kepedean sekali ya! Belum tentu juga siswi itu jatuh cinta
padamu dalam sekali kedipan mata seperti kau berpindah tempat” Balas Dida tak
mau kalah.
“Yah! Aku sangat yakin jika mereka
akan jatuh cinta padaku karna ini!” Balasnya sambil menunjuk wajahnya sendiri
yang memang tak bisa dibohongi kegagahannya.
“Rubah wajahmu”
“Bodoh!”
Balas Elqo sambil menjitak kepala Dida. Mereka berdua tertawa lepas didalam
kelas yang kosong karna jam istrahat itu.
“Miss,
boleh saya izin ke toilet?” Tanya Dida sopan pada Miss Angel. Miss Angel mengangguk
dan mempersilahkan Dida keluar kelas. Dida tampak berjalan santai. Ia
sepertinya tak ada niat yang baik. Ia hanya ingin kabur dari jam pelajaran
sejarah yang membosankan. Mendengarkan dongeng layaknya anak TK.
Saat ia di toilet sendirian, ia mendengar
suara kaca pecah. Padahal kaca yang berada didepannya tak ada retak sedikitpun.
Ia mencari asal suara, memastikan itu adalah “orang” yang hanya mengerjainya.
Namun bulu kuduknya sudah terlanjur berdiri ditambah keran air wartafel yang
menyala dengan sendirinya. Shit!
Sumpah serampahnya keluar begitu saja dari mulutnya. Ia segera keluar dari
toilet namun pintu toilet itu tiba-tiba terkunci begitu saja.
Ia tersekap, sedangkan air dari
wastafel itu terus mengalir dan mulai membanjiri toilet. Dida mencoba mencari
permukaan yang tinggi, sedangkan toilet itu mulai banjir. Entah kenapa air itu
malah bertambah tinggi hingga hampir menenggelamkannya. Tak ada pilihan lagi.
“TOLONG!” Teriakan Dida membuat
seisi kelas memperhatikannya. Sedangkan Elqo dari tadi cekikikan melihat Dida
yang tertidur dalam kelas. Awas kau Elqo!
Gerutu Dida dalam hati melihat sahabatnya menertawakannya. Miss Angel
menghampirinya, dan seketika menjewer telinganya. Satu kelas riuh dengan gelak
tawa, memperhatikan Miss Angel menjewer kuat telinga Dida yang terkenal konyol
itu.
“Tolong apa hah?! Tolong ambilkan
bantal?!” Jawab Miss Angel sambil tetap menjewer Dida.
“I’m
sorry Miss!” Pekik Dida tak tahan karna pedasnya jeweran Miss Angel.
Setelah puas menjewer, Miss Angel melanjutkan pelajarannya.
“Awas lo Qo! Mimpi buruk gue gak lo
sambil!” Ketus Dida berbisik pada Elqo yang masih tertawa.
“Lah?! Orang gue yang ngasih tu
mimpi!” Jawab Elqo santainya sambil tetap tertawa terkekeh-kekeh.
“Elqo! Dida! Silahkan keluar dari
kelas saya!” Teriak Miss Angel begitu saja. Mampus
gue, sesal mereka bersamaan sambil menepuk jidat. Seisi kelas kembali riuh
dengan tawa yang ditahan, takut jika akhirnya satu kelas disuruh untuk lari
keliling lapangan. Elqo dan Dida akhirnya keluar kelas dan duduk di bangku
panjang depan kelas.
“Siapa suruh duduk?! Berdiri kalian
tepat didepan pintu kelas” Perintah Miss Angel. Mereka langsung menurut dan
berdiri didepan kelas.
“Angkat satu kaki kalian” Perintah
Miss Angel. Mereka menurut.
“Jewer kedua telinga kalian
berbalasan” Perintahnya lagi. Hahaha! Hal itu sama saja membuat mereka seperti
pasangan homo yang dihukum karna ribut didalam kelas. Terdengar tawa dari
seantero isi kelas yang mengintip mereka dari jendela. Tatapan Miss Angel
semakin menyeramkan, hingga terpaksa mereka menjewer telinga berbalasan. Elqo
menjewer telinga Dida dan Dida menjewer telinga Elqo. Mereka bertatapan,
benar-benar terlihat seperti pasangan homo.
“Ok!
Kalian seperti itu sampai jam pelajaran saya habis” Jawab Miss Angel yang kembali
mengajar dalam kelas.
“APA?!” Teriak kami berbarengan
membuat seisi kelas semakin gaduh. Terdengar satu hentakan penggaris kayu
panjang yang keras. Seisi kelaspun kembali tenang di meja masing-masing.
“Sialan lo Qo!” Timpal Dida.
“Lah elunya juga tidur. Sekalian aja
gue kerjain” Jawan Elqo santai.
“Gue aduin ke Ferisa lu!” Ancam
Dida.
“Lah! Dia adik gue. Ya masih menang
gue lah. Kecuali lo ngadu sama ...” Kata-kata Elqo terhenti ketika mendapati
Tyos sudah ada disamping mereka.
“Sama siapa Qo?” Tanya Tyos datar
menahan kejengkelannya.
“Sama kak Tyos!” Jawab Dida
bersemangat melihat penolongnya datang. Dida sempat dimintai tolong oleh kak Tyos.
Salah satunya memberitahu Tyos jika Elqo memanfaatkan kekuatannya untuk hal
yang salah.
“Sudah berapa kali diberi tahu Qo?”
Tanya Tyos datar. Elqo menunduk diam. Dia tau kakaknya tengah marah padanya.
“Jawah Qo?” Tanya Tyos dengan nada
tegas namun pelan. Ia tak ingin kehadirannya diketahui sekalin dua orang yang
tengah menjewer telinga mereka secara berbalasan.
“Kau tahu Dreamcatcher tak boleh
mempermainkan kekuatannya kecuali untuk tugasnya?” Tanya Tyos pada Elqo. Ia
hanya diam sambil tetap tertunduk.
“Iya kak, aku tahu” Jawab Elqo tanpa
suara. Bertelepati dengan kakaknya. Ia tak mau Dida ikut campur dalam urusan
mereka.
“Kalau tahu kenapa dilakukan?” Tanya
Tyos pelan. Amarahnya mulai hilang melihat adiknya yang selalu tak berdaya jika
tahu Tyos marah.
“Iseng kak, lagi pula yang kukerjai
itu Dida kak. Bukan orang lain” Jawa Elqo bertelepati lagi. Tyos menghembuskan
nafasnya pelan. Lalu mengacak rambut adiknya lembut.
“Jika kau ada diposisi Dida, apa
yang kau rasakan? Kau tahu kan perasaannya? Jangan diulangi lagi” Balas Tyos
bertelepati. Lalu menghilang begitu saja dalam sekali kedipan mata dari
pandangan Elqo dan Dida. Dida tersenyum melihat sahabatnya itu. Mereka sahabat
sejati walau berbeda.
***
“Sejak kapan kau ikut club Photography?” Tanya Elqo pada Dida
yang tengah membersihkan kameranya.
“Setahun yang lalu bodoh!” Jawab
Dida.
“Oh iya kah tolol?!” Balas Elqo tak
mau kalah. Mereka berdua tertawa.
“Qo, apakah kau sayang padaku?”
Tanya Dida seketika. Ok! Kau mulai aneh Dida, sergah Elqo dalam
hati.
“Jangan salah paham dulu Qo. Aku
sebelumnya tak pernah bersahabat seperti ini. Aku gak mau kehilangan sahabat
sepertimu” Jawab Dida sambil tertawa. Elqo bernafas lega. Ia pikir Dida
sungguh-sungguh tidak normal.
“Aku tak akan meninggalkanmu kalau
kau tak memaksaku menyentuh perempuan Da” Jawab Elqo.
“Seberat itukah menjadi dreamcatcher
Qo?” Tanya Dida yang mulai kembali ke jaman kebodohannya.
“Dreamcatcher itu berat Da. Tak
boleh menyentuh manusia biasa yang berjenis kelamin perempuan. Kau pikir itu
mudah? Belum lagi harus melakukan tugas yaitu menangkap mimpi buruk manusia.
Saat menangkap mimpi kau tak boleh memperlihatkan sosokmu, kau harus
sembunyi-sembunyi” Jelas Elqo.
“Tapi kau dengan frontalnya
memberiku mimpi buruk seperti tadi” Jelas Dida yang selalu tak mau kalah.
“Apa didalam mimpimu kau melihatku?”
Tanya Elqo. Dida menggeleng namun mengerti.
“Tapi sepertinya menjadi
dreamcatcher itu enak. Bisa membaca pikiran orang, berpindah tempat dalam
sekali kedipan mata, berubah menjadi serigala, dapat mengatur mimpi manusia
...” Kata-kata Dida terhenti saat Elqo menjitak kepalanya kuat.
“Sakit Bodoh!” Balas Dida menjitak
kepala Elqo.
“Tolol! Begitu juga jadi
Dreamcatcher. Ada enak enggaknya lah!” Balas Elqo sambil tertawa.
“Eh kenapa sih kamu suka manggil aku
dengan sebutan ‘Bodoh’?” Tanya Elqo penasaran. Karna ia baru sadar bahwa Dida
sering memanggilnya dengan sebutan itu.
“Itu panggilan sayangku tau! Sama
seperti kamu manggil aku ‘Tolol’!” Balas Dida. Ia tertawa tapi Elqo malah
bergidik ngeri.
“Kenapa gue punya sahabat homo kaya
lo?” Tanya Elqo menjauh.
“Lah?! Karna kita sahabat tapi
berbeda kemampuan toh?” Jawab Dida sambil mengejar Elqo. Elqo yang mengetahui
ia tengah dikejar berhenti seketika. Membalikan badan dan bersiam menerima
rangkulan Dida. Namun saat Dida hendak merangkulnya, Elqo langsung memanfaatkan
kekuatannya berpindah tempat. Alhasil, Dida terjatuh tepat dikolam ikan dimana
Elqo tadi berdiri dipinggir kolam itu.
“Hahaha! Ada Dida Duyung!” Tawa Elqo
menggelegar.
“Awas lu Qo! Gue aduin lu!” Teriak
Dida sambil keluar dari kolam dan mengejar Elqo.
“Ngadu sama siapa hah?!” ejek Elqo sambil
berlari dari kejaran Dida. Hingga ia akhirnya menabrak seseorang.
“Ngadu sama kak Tyos?” Jawab kak
Tyos yang lagi-lagi hadir tepat saat Elqo berlari kearahnya. Sedangkan Ferisa
yang ikut datang memberikan handuk pada Dida. Elqo kembali menunduk, siap kena
semprot Tyos. Sedangkan Dida dan Ferisa tertawa melihat Elqo yang tengah
dimarahi Tyos.
Persahabatan itu gak pandang rupa,
jenis, harta, keturunan, bahkan agama. Walau Elqo seorang dreamcatcher dan Dida
seorang manusia biasa, mereka tetap bersahabat. Erat dan dekat walau lebih
tampak seperti pasangan homo.
Kapan kita bisa menerima kenyataan
bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan dua sisi yang berbeda? Ghaib dan Nyata.
Elqo memang manusia, tapi bukan manusia biasa. Dapat bersahabat walau tak bisa
menyentuh perempuan, itu memang tak biasa. Tapi, persahabatan itu tetap indah
jika ada apanya, bukan ada apanya. Walau berbeda.
Komentar
Posting Komentar