Acclimate
Aku
awalnya hanya manusia biasa. Benar-benar manusia biasa. Ketika aku bertemu
dengan manusia-manusia yang bukan manusia biasa, akupun berubah. Masuk kesekolah
dengan niat belajar namun diganggu oleh makhluk tak kasat mata. Hahaha! Mata? Hanya
orang-orang tertentu yang dapat melihatku. Melihatku yang sesungguhnya.
“De!”
Panggil kak Nadhi.
“Kenapa
kak?” Tanyaku sambil menoleh kebelakang. Mencari asal suara yang sebenarnya tak
terdengar. Ia tiba-tiba ada disampingku. Sambil memberikan kalung berliontin
batu giok hitam. S*it!
“Untuk
apa?” Tanyaku sambil menolak pemberiannya. Ia hanya terkekeh, mencoba
mengujiku.
“Jagakan
saja. Kalau bisa ‘isikan’ aku yang baru” Jawabnya.
Sumpah,
aku gak mau berurusan dengan “makhluk” ini lagi.
***
Aku sudah setahun menyadari kekuatan
ini. Benar-benar tidak enak. Entah itu tubuhku yang “Diinjak”, “Dipukul”, dan
lain-lain. Bahkan terkadang aku harus menahan takut saat ada “Orang” yang
mengikutiku. Aku tahu? Tentu saja! Walau aku tak bisa melihat mereka, aku bisa
merasakan kehadiran mereka.
Kalung ini, kalung yang diberikan
kak Nadhi barusan, apakah harus aku membuangnya. Aku menggenggamnya saja sudah
tak kuat. Tekanannya sangat berat. Tubuhnya sangat besar. Penjaga, ya! Isinya
adalah sosok penjaga tubuh kak Nadhi. Lalu? Kenapa ia berikan padaku? Apa akan
terjadi sesuatu padaku?
“Siapa lagi yang ‘ngikut’ kamu?”
Tanya Rara saat melihatku masuk kedalam kelas.
“Habis dari gedung baru?” Tanyanya
lagi. Aku diam sambi mengangguk. Kini ia yang terdiam. Aku tau dari tadi ada
“orang” yang mengikutiku. Aku tau dia senang denganku karna aku bisa dibilang
sering menemani “mereka”. Terutama saat gedung baru itu baru selesai dibangun.
Manusia biasa melihat gedung itu dengan ungkapan sangat bagus dan elegan. Tapi
bagi kami yang memiliki kekuatan spesial, gedung itu lebih tepatnya bukanlah
sebuah gedung sekolah.
“Anak kecil ini maunya apa sih?”
Kesalku. Terlihat seperti orang gila yang berbicara sendiri. Padahal aku tengah
berbicara pada seseorang yang ada didepan pintu kelasku. “Gadis” cantik itu
adalah alumni sekolahku. Senang berada diperpustakaan. Ia baik kepadaku, sangat
baik. Tapi disekolah ini ada beberapa orang yang tak disukainya.
“Anak itu hanya ingin bermain” Kata Rara
yang memang dapat melihatnya.
“Denganku? Lagi? Setiap hari?”
“Entahlah?” Balas Rara sambil
tertunduk. Aarrrgh! Tuhan! Jauhkan mereka! Jauhkan!
***
Aku duduk ditangga gedung baru
sendirian. Membiarkan “anak kecil” itu bermain sesuka hati didekatku, lalu
membiarkannya disana hingga melupakanku agar aku bisa pulang. Aku tak bisa
membawanya kerumah. Itu sama saja membunuhku secara perlahan. Mati ketakutan.
Hahaha! Aku memang bisa merasakan kehadiran mereka tapi aku tetap saja merasa
ketakutan.
“Main terus!” Teriak seseorang
padaku. Aku mencari asal suara. Aku tahu! Dia ada dibawah tangga, bersembunyi.
Mencoba mengujiku, apakah kekuatanku masih berfungsi.
“Sudah ‘kuisikan’ kok?” Jawabku
sambil melempar kalung yang ia berikan padaku beberapa hari yang lalu.
“Dapat dimana?” Tanya Nadhi.
Tersenyum setelah melihat “isi” kalungnya yang baru.
“Dikamar, didiamin aja beberapa hari
entar teisi sendiri”
“Enaknya” Iri Nadhi padaku. Aku
hanya diam sambil menoleh kebelakang. Mencari “anak kecil” yang tadi kuajak
bermain.
Syukurlah
ia sudah pergi, setelah itu aku mengantar kak Nadhi pulang dan kembali
kesekolah. Aku harus menemani Rara hingga ia dijemput. Hari ini ada yang
mengikutinya sendari tadi dan ia memintaku untuk menemaninya sampai ibunya
menjemput dan membuang “orang” yang dari tadi mengikutinya. Sosok yang
mengikuti Rara bukanlah “orang” jahat. Ia baik, tapi hari ini ia kesepian
hingga harus mengikuti Rara yang selalu tahu keberadaanya. Memang tak ada
masalah jika kita diikuti “orang”. Kita malah bisa mendapat perlindungan khusus
darinya jika yang mengikuti kita memiliki niat baik. Tapi resiko yang didapat
adalah satu, Tubuh kita menjadi berat hingga tak jarang membuat badan sakit.
Sedangkan, aku yang kini menjadi
manusia yang tidak “normal”. Harus mengahadapi kondisi apapun mengenai sisi
lain dunia ini. Apa lagi lokasi sekolahku masih dibilang lingkungan hutan. Tak
jarang makhluk dihutan itu masuk kelingkungan sekolah. Sehingga aku dan
teman-temanku yang sama-sama memiliki kekuatan yang unik selalu was-was jika
“mereka” masuk ketubuh siswa yang lemah.
Kami juga sangat takut kepada
Dementor. Hanya spesies kamilah yang
dapat melihatnya. Bukan! Dementor itu bukan hanya ada didalam film Harry Potter. Tapi juga terjadi didunia
nyata. Dementor akan tampak ketika kami melihat bulan sedang terbakar. Yap!
Hanya aku dan manusia-manusia sepsial lainnya yang hanya dapat melihat itu.
Dementor akan membunuh kami,
membunuh dalam artian membunuh kekuatan kami. Itulah hal paling kami takuti.
Karna jika terbunuh, tubuh manusia bisa sekarat. Nyaris Mati. Aku sendiri
sebenarnya bukan Indigo yang sesungguhnya sehingga tak menjadi incaran.
Hahahah! Ya, kami terkenal dengan sebutan Indigo. Aku adalah manusia dengan
Indigo Aura. Hanya dapat merasakan kehadiran “mereka”. Jika aku dapat melihat,
mungkin aku bisa gila.
Aku baru menyadarinya saat aku masuk
SMA, berteman dengan sesama Indigo. Ini pengalaman? Tidak! Ini kenyataan yang
tidak masuk akal bagiku. Berat untuk menahan rasa takut. Tapi aku tau, mereka
juga ciptaan Tuhan. Tuhan memang sudah menjelaskan itu, dan aku percaya walau
tak sepenuhnya, agar aku tak menduakan Tuhan.
Beradaptasi dengan sisi dunia lain? Kenapa?

Komentar
Posting Komentar